
Langit telah menampakan kekelamannya, banyaknya hamparan kartika kini tampak elok tatkala ditengok, Aylwen cukup menyukainya, tergambar sebagaimana dia melangkah dalam lompatan ringan, jua lengkungan berhias pada paras. Tatkala kembar ain menangkap satu sosok figur yang familiar, Aylwen mendekatinya, melenyapkan jarak hingga kedua raga insan itu tepat saling berdampingan.
"Sudah lama menunggu?" Dengan sedikit jahil, dua jemari Aylwen mengudara, menghimpit sebagian bongkah pipi jejaka tersebut.
Buana berhelai kebiruan ini merasakan belakangan ini kondisi hatinya tidak terlalu baik. Elliot kerap melakukan berbagai kesalahan yang tak semestinya ia lakukan.
Karena itulah di waktu senggangnya ini, Elliot mengajak seseorang. Berharap ia bisa merasa sedikit nyaman dan melupakan risau hatinya.
Tatkala deriji dara jelita itu menghimpit pipinya, ranumnya meliuk membentuk seulas senyuman.
"Tidak, saya baru sampai," responsnya dengan segera.
Nada suaranya tetap tenang seperti biasa. Menyembunyikan segala kekalutan yang tengah melanda.
"Maaf mengajakmu ke mari, tidak apa-apa?" tanyanya pada Aylwen.
Khawatir kirana berhelai kelam itu tengah sibuk dan Elliot menghambat kesibukannya.
Dalam bingkai kembar kelopak bola mata dirimu, terdapat getaran ringan manakala Aylwen menatapnya, sejumput penerkaan kini melintasi akal dengan berbagai ragam yang tak dapat dia raih satu diantaranya. Walakin dia turut sembunyi, tiada bahana melontarkan ⠀
pertanyaan di atas rasa penasaran, pun bongkah pipi dirimu Aylwen bebaskan dalam belenggu himpitan jemari.
"Tidak apa, kebetulan saya pun sudah sejak lama ingin mengajakmu keluar bersama." Kurva pada paras membentuk ukiran lembut, satu tungkai hendak mengambil langkah lebih awal tanpa adanya destinasi. "Hari ini kita akan pergi ke mana? Ingin minum segelas dua gelas, hm?"
Seolah tahu kebiasaan Elliot yang selalu minum minuman keras tatkala gulana merebak di sanubari, Aylwen pun berinisiatif untuk mengajak galih beranak empat belas itu ke sebuah tempat di mana mereka berdua bisa mereguk alkohol.
Sang bentala meloloskan ekshalasi tatkala silabel demi silabel terluntak dari celah ranum sang kirana berhelai kelam itu. Aylwen tak pernah gagal membuatnya merasa lebih tenang tatkala durja meraja benak.
"Cafe atau bar terdekat," yang lanang lantas mengambil langkah terlebih dulu, memandu sang dara jelita. "Saya tak keberatan. Mungkin ditambah sedikit penganan ringan untuk menemani minum."
Kembali terdengar tambahan kalimat dari buana berhelai kebiruan itu. Lantas Elliot membuat gestur agar kirana berwajah oriental itu mengikutinya.
"Mari?" suaranya terdengar, bermaksud mengajak Aylwen menuju ke arah yang ia sebutkan beberapa saat lalu.
⠀
Barangkali pemilihan destinasi kedua adalah tempat yang menarik, Aylwen sedikit menaruh harapan meski enggan tuk di perlisankan, biarkan lengkungan kurva menjadi sebuah perutusan di atas keinginan tak tersampaikan.
"Ahㅡmari~" Kembar tungkai itu turut mengimbangi tiap langkah dirimu, tak mendahului; jua tak tertinggal, sepasang bola obsidian terfokus pada banyaknya kepala memadati jalanan dengan sesekali dia akan memutar jenjang tongkat berkepalanya mengarah pada dirimu.
"Tentu, saya selalu menyukai jika ingin didampingi saat minum, hanya saja," Terdapat jeda tuk per sekian sekon sebelum dinding pertahan bongkah bibir kembali terbuka. ". . . Kau tau, berat badan saya bertambah hingga tiga kilo."
Izin dari si empunya paras cantik telah dikantongi. Kini tungkai kembarnya melangkah membawa diri menuju ke bar yang sebelumnya telah Elliot sebutkan dalam pilihan yang diberi.
Sempat mengabaikan sekitarnya, kerumunan manusia yang berlalu lalang karena ingin fokus menuju ke satu tempat. Namun atensinya terdistraksi tatkala bilah ranum kirana berhelai kelam itu melantunkan untaian kata.
"Ah," tentu saja Elliot sadar benar. Berat badan. Dua silabel itu teramat sensitif bagi dara jelita.
Maka dari itu, pengejawantahan dari Neptunus ini terdiam selama beberapa sekon. Memikirkan solusi bagi Aylwen.
"Baiklah, kau temani minum saja. Penganannya tidak usah, bagaimana?" tanyanya pada Aylwen.
Sejenak, sepenuhnya atensi jatuh mengarah pada dirimu, diperlihatkan jua kembar kelopak mengerjap cepat di atas pemahaman penuturan terpenuhi perhatianmu. Tak terlintas dalam akal Aylwen beberapa saat lalu, jika dirimu akan mencetuskan pemecahan yang akan menitikberatkan pencetus itu sendiri, apa itu sungguh tidak apa?
Kala serangkaian kata hendak bervokalisasi kembali, Aylwen dengan punggung tangan menutupi bongkah bibir; terkekeh ringan di balik dinding tersebut.
"Saya jadi ingin makan makanan berat, bagaimana ini?"
__ADS_1
Entah bagaimana rongga di bawah dada itu berkeinginan, pemiliknya pun tak memahami itu.
"Bukankah dekat sini ada sebuah bar yang cukup terkenal, bagaimana jika kita ke sana?"
Sejujurnya, sang bentala tak pernah bisa memahami apa yang terbetik di relung cerebral milik dara jelita ini. Begitu mudahnya berbagai keinginan ataupun ide tercetus begitu saja tanpa dipikirkan masak-masak.
Setelah segala keinginan itu terpenuhi, mereka akan menyesal kemudian. Termasuk perihal yang belum lama diutarakan oleh Aylwen. Namun tentu saja Elliot tidak akan mencetuskan apa yang terbetik dalam benak tanpa disaring terlebih dahulu.
Elliot akan berpikir bagaimana semestinya ia menanggapi untai silabel yang dilontarkan oleh sang dara jelita.
"Tak apa, mungkin bila nanti kita beruntung, kita bisa memakan makanan tersebut sepulang dari bar," guraunya usai berpikir cepat tadi.
"Baiklah, ayo lekas ke sana," ajaknya pada Aylwen untuk bergegas menuju ke bar yang dimaksud.
Tanpa banyak kata, kembar tungkai indah milik Aylwen pun melangkah beriringan dengan sang bentala. Kala ia melakukannya, sekelebatan komentar mampir ke rungu dara cantik ini.
「Lihat mereka berdua! Pasangan yang serasi, ya?」⠀
「Aduh, seperti lukisan!」
「Mesra sekali!」
⠀
Tanpa sadar kuasa Aylwen menggenggam ujung fabrik pakaian yang dikenakan oleh Elliot. Membuat sang bentala menoleh ke arah kirana dengan mata gemintangnya itu.
"Ada apa, Aylwen?"
Suara bass milik sang adam menyentakkan Aylwen, sehingga kuasanya pun terlepas.
"Tidak apa-apa, El. Tanpa sadar saya memegangi ujung bajumu."
"Ayo?" kuasanya terulur, mengisyaratkan pada Aylwen untuk menerima tangannya dan berjalan bergandengan.
"Tidak apa?" Aylwen nampak meragu.
"Tak apa, toh kita tidak sering-sering begini, benar?" kekehan halus mengudara.
⠀
Rona merah menghiasi bongkah pipi dara jelita berjenamakan Aylwen ini. Untai kata sang jejaka sungguh menenangkan hati, pun selalu menyenangkan bila didengar. Itulah yang membuat rasa suka bersemi dalam hatinya.
Namun untuk yang ke sekian kalinya, Aylwen harus berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Ia tak mau nantinya menyesal dengan keputusan yang diambil akibat terlalu gegabah.
Bagaimanapun, Aylwen masih tidak ingin mengorbankan pertemanannya dengan Elliot. Secinta apapun dirinya pada sosok ini.
Hening menemani perjalanan mereka berdua. Tanpa ada percakapan yang biasanya terjadi di antara mereka. Aylwen sendiri merasa bingung, apa yang hendak ia perbincangkan kala tengah berjalan seperti ini?
"Kita sudah sampai," lagi-lagi suara bass Elliot menyentakkan Aylwen ke alam sadar.
Ah, sepertinya hari ini ia terlalu banyak melamun. Bahkan Aylwen tidak sadar bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.
Elliot mengambil tempat di depan konter, memesan absinthe pada bartender yang tengah berjaga.
"Kau ingin minum apa, Aylwen?" tanya Elliot sembari menoleh ke arah dara jelita di sampingnya.
"Champagne saja," jawaban singkat pun diberikan.
__ADS_1
Dua gelas minuman berbeda warna itu pun segera terhidang di atas meja. Elliot tanpa ragu meminumnya langsung.
"Hei, pelan-pelan minumnya, El!" Aylwen menegur sang adam yang nampak seperti kehausan itu.
Alkohol bukanlah solusi tepat untuk meredakan haus. Itulah yang Aylwen ketahui. Namun nampaknya hal tersebut tidak diindahkan oleh Elliot.
"El, ada apa? Kau terlihat seperti orang yang stress tadi," Aylwen mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Elliot. Berbisik.
"Bisa dikatakan demikian, Aylwen." Elliot pun membalas dengan berbisik.
"Ada sesuatu?"
Elliot tidak segera menjawab. Tangannya menggoyangkan gelasnya sejenak. Membuat es batu di dalam gelas membentur dinding gelas dan menciptakan suara berdenting.
"Belakangan ini saya selalu melakukan kesalahan," bongkah bibir bergerak dan melantunkan untai kata. "Ketika mengantarkan pesanan, ketika menghitung jumlah uang, ataupun ketika bercakap dengan seseorang. Rasanya saya selalu menyinggung mereka, ataupun melakukan keteledoran."
Sepanjang jejaka dengan ain unik itu berceritera, Aylwen tidak banyak berkomentar. Namun Elliot tahu bahwasanya Aylwen tengah mendengarkan ceritanya dengan baik.
"Terkadang, saya berpikir untuk berhenti dari pekerjaan saya dan menghabiskan waktu di rumah. Namun jika saya melakukan itu, tubuh ini nantinya akan getas karena terlalu lama diam tanpa daya dan upaya."
Bisa-bisanya canda terselip dalam pembicaraan serius ini. Aylwen memejamkan matanya. Menghindari mengeluarkan komentar yang mungkin saja akan menyinggung perasaan Elliot.
"Semuanya akan baik-baik saja, El. Percayalah. Dari pengamatanku, kamu mengalami kelelahan mental dan butuh istirahat." Aylwen pun berkomentar usai Elliot menutup ceritanya. "Tidak perlu terlalu memforsir diri, kau sudah berusaha dengan baik."
Entah apa yang ia lakukan ini adalah benar ataukah tidak, yang jelas Aylwen hanya melakukan apa yang menurutnya benar. Ia juga tidak ingin kalimatnya menjadi toxic positivy bagi Elliot. Namun Aylwen tidak pandai merangkai kata.
Bagi Elliot sendiri, masalahnya bukanlah masalah yang ringan. Tak mudah baginya merasa terhibur hanya dengan satu atau dua kalimat penyemangat.
Karena itulah, sang bentala hanya terdiam sepanjang Aylwen berkhotbah tentang masalah mentalnya. Elliot meneguk kembali minumannya. Ranum meloloskan ekshalasi sesaat.
"Menurutmu begitu, ya?"
Elliot bukanlah Figgy yang mampu menyembunyikan berbagai perasaan dari wajahnya. Meski demikian, Elliot bukanlah orang yang mampu dengan gamblang menceritakan persoalan dirinya pada siapapun. Ia begitu selektif dalam hal ini.
Jangankan pada teman-temannya, pada saudara-saudaranya sendiri pun Elliot begitu tertutup. Entah apa yang dipikirkan oleh Elliot, tidak ada yang tahu. Tidak ada, kecuali sang bentala sendiri yang berceritera.
Aylwen pun merasakannya selama menjalin hubungan dengan Elliot. Jejaka ini memang begitu ramah dan baik hati, namun entah mengapa Aylwen merasakan ada sesuatu di balik semua itu. Apa mungkin Elliot adalah tipe orang yang menyembunyikan segala kepahitan di balik senyum jenaka?
Bila benar demikian, berapa banyak duka lara yang harus ditanggung oleh Elliot seorang diri?
Tubuh tinggi itu bergerak, menyodorkan lembaran uang pada kasir di konter. Kembali mengulurkan tangannya pada Aylwen.
"Ayo, kita cari makan, Aylwen."
Lagi-lagi begini. Elliot selalu dan selalu mengalihkan pembicaraan dan beralih ke hal lain. Seolah ingin kabur dari segala hal yang membebaninya. Aylwen sedikit merasa gagal menghibur pria yang disukainya ini.
"Baik," akhirnya Aylwen memutuskan untuk mengikuti Elliot keluar dari bar. Minumannya hanya ia sesap sedikit. Tak berniat untuk menghabiskannya.
Melihat Elliot berjalan memunggunginya, secara spontan membuat dara jelita ini mengalungkan lengannya ke leher sang adam. Menariknya dalam dekap erat, berharap memberikan kehangatan dan mampu mengusir kesedihan Elliot.
"Aylwen?"
"El, jangan memendamnya sendirian. Bila kau bersedih, kau tidak harus menahannya. Kau bisa bercerita padaku ataupun orang yang kau percaya. Aku tahu bahwa kau menanggung beban lebih banyak dari yang terlihat..."
Terdengar helaan napas dari celah ranum Elliot. Tangannya meraih tangan Aylwen yang masih merengkuhnya dan membalas dekapan itu.
"Saya sudah tidak apa-apa, Aylwen. Maaf membuatmu mengkhawatirkan saya."
__ADS_1
Aylwen menenggelamkan wajahnya dalam dekap sang adam. Benaknya kini bertanya-tanya. Apakah ia telah berhasil menghibur sang bentala?
—Bersambung