
Ketika Elliot mengorek memorinya beberapa waktu lalu, ia teringat kembali akan percakapannya dengan Avisa, wanita yang merupakan atasannya di Everium. Belakangan ini, dengan tujuan melindungi ingatan berharganya dari kutukan yang makin lama menggerogoti dirinya, Elliot menuangkan semua memori berharga ke dalam sebuah wadah berbentuk celestial globe.
Benda tersebut terletak di meja kerjanya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Neptunus sendiri. Diintipnya kembali memori itu dan seketika pemandangannya berubah hitam putih layaknya film zaman dahulu.
-Flashback
Putih yang pekat di luar bangunan, penuhi jalan pedestrian. Menutup ranting pohon yang nyaris gundul digerogoti suhu rendah bulan Februari. Manusia-manusia lain berbondong temukan hangat.
ㅤ
Dari selembar selimut, coklat panas di dalam gelas, sup dan api unggun di dalam rumah, atau penghangat ruangan di toko - toko pinggir jalan. Pakaian tebal ini terus dirapatkan setiap kali melonggar. Biasanya Avisa akan mengenakan baju agak terbuka, tapi di musim dingin, lengan panjang adalah kesehariannya.
Sehabis melayani pembeli dan masuk ke jam istirahat, Avisa menentukan isi perut oleh hidangan di dalam tokonya sendiri. Di samping untuk mendukung kesejahteraan internal, kemalasan jadi alasan lain. Sehingga dia duduk didampingi bersama satu roti isi daging dan teh jahe.
‶ Tidak apa kalau ingin makan di luar. Tak usah hiraukan aku. ʺ kata Avisa pada siapa saja yang ada di situ.
Sang planet tengah kebingungan. Sungguh. Setelah Elliot tinggal di bumi cukup lama, baru sebentar sekali seatap dengan anak-anak kandungnya.
Entah karena alasan apa, mereka semua meninggalkan rumah besar di Hunawihr—yang sengaja Elliot beli untuk tempat tinggal mereka, dan membuatnya harus tinggal lagi seorang diri di sebuah apartemen. Kehadiran tiga anak angkatnya pun tak mampu mengusir sepi sang planet.
Makanya kali ini Elliot sengaja datang ke toko sembari membawa kantong kertas berisikan barang-barang yang ia beli. (Semuanya merupakan makanan kesukaan anak-anaknya)
Ketika Elliot melintas, tak sengaja netranya bersirobok dengan sang empunya toko. Kernyitan alis pun nampak.
"Ah, bukan, Nyonya Avisa... Uh," demi alam semesta emas, Elliot bingung hendak memulainya bagaimana.
Kehadiran Elliot sedikit banyak mengejutkan dirinya. Tidak benar-benar menyadari kapan presensi pria ini ada disitu. Terlampau seru dan berkonsentrasi pada makan siang.
‶ Maaf Elliot, aku tak tahu kau ada di sini. ʺ kata Avisa, meski bukan benar-benar menyesal.
Semakin tua umurnya, apa yang dilakukan terkadang seperti mode otomatis. Meminta maaf, tolong, berbasa-basi. Sehingga beberapa diantaranya terucap tanpa makna berarti.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya memakluminya," tangan Elliot bergerak membentuk isyarat bahwasanya ia tidak berkeberatan dengan apa yang diucapkan oleh sang kirana beberapa sekon lalu. "...apakah saya mengganggu acara minum teh Nyonya? Kebetulan saya hendak membicarakan sesuatu bila Nyonya tidak keberatan." akhirnya Neptune, atau yang dikenal Avisa sebagai Elliot ini mengutarakan apa yang terbetik dalam benak.
‶ Sekarang ? Tidak apa kalau aku sembari makan? ʺ diluruskan sekali lagi, supaya rasa tidak enak hati hempas dari dada Avisa.
"Oui, sekarang. Tidak masalah, Nyonya. Saya bisa sekalian menemani nyonya makan," Elliot menunjuk kantong kertas besar dalam dekapan.
‶ Kalau begitu, mari makan bersama. ʺ
Dirujuk kursi di hadapan, mempersilakan pria dewasa itu untuk merebahkan bokongnya. Seperangkat pisau - garpu jadi alat bantu Avisa dalam melahap makan siang. Punggungnya tegap, menunjukan sikap layak dan berkelas.
Siapapun bisa melihat itu dan menebak secara tepat bahwa dia bukan wanita yang datang dari kelas bawah hanya dari caranya makan.
"Oui, merci beaucoup, Madame."
Tungkai kembar melangkah membawa diri menuju ke kursi yang tak jauh dari sang puan dan mengajak duduk tubuh tingginya di kursi tersebut. Elliot mengeluarkan setangkup sandwich dari dalam kantong kertas.
"Sebelumnya maaf bila ini menyinggung Nyonya, tapi apakah Nyonya pernah berkeluarga?" Elliot memulai percakapan dengan amat hati-hati. "Jika ya, bagaimana rasanya merawat anak?" ia menatap lurus ke arah Avisa.
Oh ─── topik keluarga jadi sajian utama kali ini ya.
‶ Apa definisi berkeluarga dalam sudut pandangmu? Menikah kemudian memiliki anak, begitu? Jika demikian, tidak… aku tidak pernah. Tetapi aku memiliki anak, dan juga pernah menikah. ʺ Apakah penjelasannya dapat dimengerti ya?
‶ Rasanya merawat anak ya…ʺ Bibir terkulum, butir kelabunya menerawang ke sudut atas seperti berusaha menggali ingatan.
‶ Melelahkan dan menyenangkan di saat yang sama. Mengalami kesulitan dalam merawat anak ─── tuan Elliot? ʺ Tatap Avisa tidak membelot dari laki-laki itu selagi tangan mengiris roti di atas piring.
Lantas bentala berhelai kebiruan ini mulai memakan pelan sandwich-nya. Mengunyahnya perlahan-lahan sebelum menelannya. Netranya yang unik memperhatikan bagaimana kirana berhelai merah jambu ini makan.
Terlihat seperti wanita ningrat. Itu kesan yang terpancar dari ratna berasmakan Avisa ini.
"Bagaimana jika belum pernah sama sekali menikah, namun memiliki anak?" Neptune yang kini menggunakan asma manusianya yakni Elliot menukas halus ucapan Avisa. "Umm, itu kondisi saya. Maksudnya, saya belum pernah menikah namun... Saya memiliki 14 anak kandung. Jika ditanya bagaimana caranya, akan sulit dijelaskan."
__ADS_1
Sangat panjang dan rumit, Elliot khawatir penjelasannya tak akan bisa dinalar akal sehat. Ia lantas mendengar bahwa sang ratna pernah menikah dan memiliki anak, mungkin itu definisi yang tepat?
"Kurang lebih, saya merasakan hal yang sama dengan Madame. Agak melelahkan karena kebanyakan masih kecil-kecil dan sukar diatur, namun di sisi lain menyenangkan." mengambil jeda untuk menggigit sandwich-nya beberapa kali. Mengunyahnya perlahan-lahan dan menelannya.
"Sementara yang dewasa mulai mengalami kehidupan yang rumit. Bagaimana menjelaskannya, ya? Seusai lulus pendidikan, bekerja, dan mengalami kerasnya kehidupan istilahnya? Mereka tidak lagi tinggal bersama saya, jadi saya merawat anak-anak saya yang masih kecil. Tapi jujur, saya agak kesulitan kadang memahami mereka," ranum meloloskan ekshalasi. "Ternyata susah ya mengambil peran ayah dan ibu secara bersamaan," ujarnya pada Avisa dengan ekspresi yang sukar diartikan.
Dewasa ini, banyak sekali cara orang-orang untuk menghasilkan keturunan dan sebagian darinya tidak perlu memiliki tata cara struktur seperti menikah. Walau rasanya sistem pada sisi Elliot berbeda dari sudut pandang manusia ─── Avisa pun tidak mempunyai pengetahuan mengenai si pria dengan begitu runut.
Namun perkataannya tidaklah terdengar asing. Kadangkala, sepanjang bercerita… Avisa menyempatkan memandang Elliot. Nampak raut kelelahan tanpa pamrih pada durja. Semua orang tua memiliki guratan khas pada wajah mereka. Ketulusan namun penat.
—bersambung
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
__ADS_1
ㅤ