Planetes

Planetes
3. j. Charlotte's Web (2)


__ADS_3

Peruntungan ya? Ryan menghela nafas kesal, masa bodo dengan peruntungan. Yang penting sekarang melawan roh-roh ini.


Seperti yang dibilang Elliot tadi, mereka harus menyiapkan puzzle block dulu. Yang berarti mereka harus membeli dulu beberapa mainan. Ryan menoleh kiri-kanan untuk mencari toko mainan.


Harusnya di dekat sini masih ada toko mainan terdekat, karena mereka ada di tengah kota. Namun, ada satu masalah lagi. Di mana mereka akan melakukan ritual ini?


"Kita beli dulu mainan, dan mencari tempat berjarak 1-2km dari sini," ujar Ryan, setelah melihat sekeliling.


Tadinya ia mau di gedung kosong dekat kantor gurunya, namun yang ada roh-roh itu tidak mau mendekat karena barrier dari gurunya.


Sang bentala sendiri terpaksa mengorbankan peruntungannya ketika berhadapan dengan Charlotte. Memang gadis cilik itu mengalami hal tragis di masa lalu, tapi—


"Kita tidak boleh tegang di awal, ia tak akan mau muncul jika ada ketegangan." ia memperingatkan sebelum mereka berangkat mencari mainan untuk hantu gadis kecil itu.


Setelah menarik pelan Elliot ke motornya, Ryan mulai mencari toko mainan juga. Langit sudah agak gelap, sebentar lagi tirai senja akan diberangus oleh kelamnya malam. Mereka tidak punya banyak waktu karena sudah jam tutup toko.


Tidak berapa lama, Ryan menghentikan motor tersebut. Meninggalkan Elliot karena akan membeli beberapa mainan anak-anak. Tidak membutuhkan waktu lama, karena selain puzzle block, ia hanya mengambil asal.


Menjauh dari tempat ini untuk mencari gedung kosong, ya? Agak merepotkan memang. Namun mau bagaimana lagi?


Selagi Ryan mencari mainan untuk ritual, ia mempersiapkan senter untuk jaga-jaga jika mereka kekurangan pencahayaan. Lagi-lagi ia merasakan esensi jiwanya menghilang.


"Sampai kapan kalian mau memakan esensi jiwa saya?" tanyanya entah pada siapa.


Karena ia immortal, ia tidak akan mati. Namun jika esensi jiwanya terus-menerus dimakan, ia akan kehilangan kemanusiaannya. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin tragedi ratusan tahun lalu terulang lagi. Ayolah, ia tidak mau menambah panjang daftar kutukannya saat ini. 13 kutukan saja sudah sangat memberatkan baginya.


"Aku sekalian menanyai gedung kosong sekitar sini. Kurasa di sana bisa menjadi pilihan."


Ryan yang baru kembali belanja, memberitahukan informasi tersebut. Mereka segera ke sana, guna tidak membuang-buang waktu.


Rungunya menangkap suara Ryan dan memberitahunya menggenai lokasi di mana


mereka akan melakukan ritual itu. Elliot tersenyum dan berujar.


"Pastikan lokasinya tidak akan didatangi orang. Terakhir kali ritual itu dijalankan, ada earthlings memergoki dan—"


Elliot meloloskan ekshalasi. Ia tak mau mengingat peristiwa yang ia sebut sebagai slaughter house itu.


"Ayo," setengah bergegas, ia mengikuti langkah kaki Ryan.

__ADS_1


Setelah sampai di sana, Ryan memeriksa keliling kembali. Untuk mencari perlengkapan terakhir mereka, cermin dan dua buah kursi. Serta ruangan yang tidak ada jendelanya.


Setelah agak lama mencari, akhirnya perlengkapan dan ruang ritual sudah mereka temukan.


Di bangunan usang tak bertuan yang mereka kunjungi, ada aroma yang Elliot bisa kenali sebagai aroma makhluk gaib. Sejujurnya itu tak akan mengusiknya jua, apalagi saat ini ia tidak memungkinkan menggunakan kekuatannya.


"Berarti ... jika dikatakan disini, kursi ditengah ruangan, meja dan cermin sudah di depan kursi, lalu beserta mainannya."


Kalau ruangan gelap, disini memang sudah gelap sedari matahari terbenam. Ryan sudah duduk di kursi tersebut, penerangan mereka hanya lampu senter ponselnya. Dan Ryan letakkan di dekat kakinya serta mengarah ke cermin agar mereka jelas melihat.


Segalanya telah siap, dan ia pun menyalakan senter yang ia ambil dari sakunya. Duduk berdampingan dengan gadis berambut kelam yang masih memakai samaran sebagai lelaki itu di kursi dan netranya tertuju lurus ke arah cermin.


Menarik nafas sebentar, Ryan mencoba tenang. Tinggal membaca kalimat 'itu' secara bersamaan agar ritual jalan.


"We want to play Charlotte's Web." Dan menunggu anak kecil tersebut.


'Jangan menoleh, jangan menatap ke arah Charlotte langsung. Tetap fokus melihat ke arah cermin...' berulang kali Elliot meneriaki dirinya sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang menyebabkan mereka terancam bahaya.


Waktu berlalu. Belum ada tanda-tanda kedatangan Charlotte hingga 15 menit.


"We want to play Charlotte's Web" Elliot kembali mengulang kalimat itu dan di luar dugaan, bayangan gadis kecil itu muncul.


Ryan terus menunggu dengan sabar, ia mencoba agar tidak merasa tegang atau apapun. Menarik napas pelan, lalu menghembuskannya. 15 menit pertama tidak terjadi apapun, apa mungkin karena dirinya masih tegang?


Mencoba rileks lagi, kini Ryan menyamankan posisinya. Mata tetap memandang ke arah cermin.


"We want to play Charlotte's Web."


Lagi. Ia mengucapkan kalimat tersebut berbarengan dengan Elliot.


Kini keheningan melanda mereka, namun tidak membutuhkan waktu lama. Ryan mendengar ada suara grasak-grusuk di belakangnya.


Ia memerhatikan cermin tersebut. Gadis cilik itu ーCharlotteー sedang melihat mainan-mainan yang telah ia persiapkan. Cukup lama gadis melihat-lihat mainan tersebut. Hingga ia berhenti pada mainan puzzle blocks.


'Sekarang!'


Ryan mengetahui jika ini adalah saatnya, dengan cepat ia menarik diri dari kursi tersebut lalu menghadap ke arah Charlotte. Dijelaskan tidak boleh berhadapan langsung dengan makhluk tersebut, namun Ryan menggunakan hal ini sebagai kesempatan.


Sebelum ia menatap makhluk itu, ia telah mengaktifkan Mystic Eyes-nya. Mata Ryan yang tadi semula berwarna kuning, berubah menjadi ungu terang.

__ADS_1


Di satu sisi, lengkingan hantu gadis cilik itu memekakkan telinga, jika yang mendengar saat ini adalah manusia biasa. Mungkin manusia itu bisa mati ditempat.


Namun lain halnya dengan Ryan, ia sudah belajar banyak dari gurunya. Terutama self-defense, sugesti. Ryan meng-sugesti-kan dirinya agar ia tidak terhisap kekuatan supernatural makhluk-makhluk tersebut.


Charlotte, yang merasa jika usahanya tidak ada gunanya. Langsung menyerbu Ryan dengan wajah menakutkan. Ia menubruk Ryan hingga jatuh terjerembab ke belakang. Charlotte dengan kuat mencekik leher Ryan, sementara Ryan berusaha agar dirinya tidak terlalu tercekik.


'Sial, ternyata dia cukup kuat.'


"CLARISSA!!" Elliot beranjak dari tempatnya duduk, ia hendak menolong sang gadis. Namun Clarissa—atau saat ini dalam samarannya, Ryan, memberikan isyarat pada Elliot agar tidak ikut campur.


Ryan mencoba lagi, menggunakan kekuatan matanya lagi. Beruntung, di mulai dari kaki hingga merembet ke badan Charlotte, telah


berubah menjadi batu.


Ryan yang masih terlentang langsung menendang Charlotte yang hampir sepenuhnya berubah menjadi batu.


"Fehu, Uruz, Thurisaz!"


Ryan mengaktifkan sihir yang ia miliki, Blue Fire. Api biru yang ada di jarinya membentuk huruf Celtic, lalu mantera tersebut membakar Charlotte yang mau menyerang lagi namun sudah tidak bisa bergerak karena telah menjadi batu. Sekarang di hadapan mereka hanya terlihat seperti gadis kecil yang terbakar api biru.


Apa sudah berakhir? Ritual itu berjalan dengan seharusnya, seperti yang dulu pernah dijalankan oleh rekan sang bentala di masa lalu. Namun, kini tujuannya berbeda.


Begitu Charlotte mengambil mainan yang menjadi penanda, Ryan langsung bergerak dan


membuat roh itu melengking. Suara jeritannya mirip mandoragora. Dikatakan bila seseorang mendengar jeritannya, akan mati mengenaskan.


Namun Elliot bukanlah manusia, karena itu jeritan makhluk tersebut bukanlah apa-apa baginya. Netranya menangkap jelas bagaimana Ryan menangani makhluk tersebut.


Seperti yang dikatakan legenda, mata medusa terbukti membuat 𝓪𝓹𝓪𝓹𝓾𝓷 yang ditatapnya menjadi 𝐛𝐚𝐭𝐮. Ini kali pertama pengejawantahan dari Neptunus itu melihatnya secara langsung.


Adegan berikutnya bagaikan film aksi berbalut fantasi dimana seorang penyihir menggunakan kekuatan magisnya untuk menghancurkan roh tersebut. Yang tersisa kini hanya lengkingan menyedihkan.


Charlotte hanya tinggal sejarah. Elliot memercikkan air suci yang dibawanya dan memusnahkan sisa-sisa dari kejahatan tersebut. Usai melakukannya, ia melepaskan balutan pada tangan kirinya.


"Tidak buruk," ranumnya meloloskan ekshalasi. "Tapi butuh waktu untuk benar-benar sembuh." ucapnya saat mencoba menggerakkan tangan kirinya.


Masih terasa sakit, namun setidaknya ia tak akan mengalami patah tulang secara tiba-tiba lagi.


"Claris, kau mau mengistirahatkan diri dulu atau langsung lanjut?" tanyanya dengan raut cemas pada Ryan. Namun ia memanggilnya dengan nama asli sang gadis. "Kau menggunakan energi sihir cukup banyak, kan? Tidak apa?"

__ADS_1


__ADS_2