Planetes

Planetes
1.j. Mom, how are you today?


__ADS_3

Entah apa yang dipikirkan oleh sang bentala hari ini hingga mendatangi sang bunda. Padahal kakak-kakaknya sudah melarang keras dirinya untuk bertemu dengan pusat tata surya itu. Namun entah mengapa Elliot seolah tak mengindahkan peringatan dari saudara-saudaranya.


Di sinilah ia sekarang, di rumah besar entah berada di sebelah mananya bumi. Rumah yang ditempati oleh Mentari, bunda tercintanya.


"Saya sesungguhnya bingung," Elliot mulai melontar kalimat pada sang bunda. "Dengan sebutan apa saya harus memanggil Anda? Bunda? Ataukah Ayah?"


Mentari tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, netra semerah rubi miliknya menatap lurus sosok putra ke delapannya.


"Apapun yang menurutmu nyaman, Nak. Aku tidak mempermasalahkan sebutan apapun untukku, selama engkau masih menunjukkan rasa hormat."


Kendati sosok Mentari terlihat seperti seorang wanita, namun fisiknya tidak terlihat seperti selayaknya wanita. Pun tidak terlihat seperti seorang pria. Bisa dikatakan, Mentari adalah sosok Non-Binary yang sesungguhnya.


"Saya selalu menghormati Anda, tentu saja," ranum Elliot melengkungkan senyum.


Seperti biasa, Elliot selalu menghindari segala sesuatu yang berujung pada pertikaian atau semacamnya. Ia lebih suka bernegosiasi, seperti ini contohnya. Melakukan obrolan kecil dengan musuh besar para planet dan benda langit lainnya di galaksi bima sakti.


"Jadi, apakah Yang Mulia keberatan bila saya memanggil Anda dengan sebutan 'Bunda'?" Elliot bertanya, tentu saja untuk sekedar konfirmasi.


Entah mengapa percakapan antara ibu dan anak ini berlangsung cukup canggung. Namun bisa dimaklumi, karena kejadian itu sudah sangat lama dan wajar bila percakapan di antara mereka sangatlah kaku.


Keraguan seketika terbetik dalam benak Mentari. Bukan karena Mentari menunjukkannya pada ekspresi, melainkan dari sikap. Mentari tahu, bahwasanya anak-anaknya telah kehilangan kepercayaan dan rasa hormat terhadapnya. Mentari sendiri tak akan menyalahkan, itu sudah alami.


Namun di tengah-tengah perseteruan ini, Mentari tidak percaya bahwa masih ada anaknya yang percaya dan menaruh rasa hormat padanya. Neptunusโ€”Elliot merupakan salah satunya. Meski demikian, sulit bagi Mentari untuk menerima hal tersebut saat ini usai berpisah dengan anak-anaknya dalam kurun waktu ratusan bahkan jutaan tahun lalu.


"Aku pikir, aku sudah mengatakannya dengan jelas, Nak. Mengapa kau masih harus memastikan seperti itu?"


Elliot tertawa hambar selama beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan sang bunda. Bagaimanapun, Mentari adalah bunda tercintanya. Entitas yang memberikannya kehidupan serta tubuh kasat mata.


"Maafkan saya, Bunda. Saya tak bermaksud demikian," netra uniknya menatap ain sang bunda dalam-dalam. "Apakah saya membuat Bunda tersinggung?"


Kepala Elliot pun miring. Menantikan jawaban sang bunda.


"Seperti yang Bunda tahu, sudah lama sekali kita tidak berbincang seperti ini. Saya merasa canggung."


Memang benar. Untuk sesaat, Elliot bingung hendak memulai percakapan dari mana. Di satu sisi, ia ingin bercengkerama akrab dengan sang bunda seperti yang ia lakukan dulu. Namun di sisi lain, Elliot tak dapat melakukan itu karena satu-dua hal.


Entah Mentari mengetahuinya atau tidak, Elliot bukan lagi seperti yang dulu. Tubuhnya hanya selongsong kosong tanpa jiwa.


Helaan napas kecil lolos dari celah ranum Mentari. Selama beberapa saat, Mentari memejamkan ain kembarnya sebelum menatap lurus putra bungsunya.


"Kamu tidak menyinggungku, Nak. Tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Menurut Mentari pribadi, itu hanya kesalahan kecil yang konyol. Seharusnya ia tak tersinggung seperti apa yang ditanyakan oleh Elliot.


"Aku mengerti. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tidak lagi merasa canggung seperti sekarang, Nak?"


Mentari tidak paham bagaimana cara manusia normal berinteraksi. Karena itulah, ia bingung bagaimana caranya membuat sebuah percakapan terasa santai tanpa ada yang merasa terintimidasi.


"Puji Tuhan," Elliot menghela napas pelan setelah mendengar jawaban Mentari. "Saya senang mendengarnya, Bunda."


Elliot hanya ingin berbicara dengan pusat dari tata surya ini setelah waktu berlalu lama sekali. Tanpa merasa canggung ataupun takut atau apapun itu. Sebenarnya ia bingung karena kakak-kakaknya selalu mengatakan sesuatu yang buruk tentang bunda mereka. Elliot tidak mau mengikuti hal yang sama seperti saudara-saudaranya.


"Terkadang, saya merasa bingung, Bunda." ada jeda selama beberapa sekon di antara mereka sebelum Elliot melanjutkan kalimatnya. "Mengapa mereka membenci Bunda dan selalu mengatakan hal buruk tentang Bunda? Saya merasa tidak enak dan tidak nyaman saat mendengarnya."


Mentari membiarkan keheningan berjaya sekali lagi; bahkan jauh lebih lama dibandingkan sebelumnya. Netra rubi miliknya tengah mengamati wujud manusia dari planet kebiruan dengan hujan berlian yang senantiasa terjadi di atmosfer planet itu. Mencoba menemukan petunjuk dari pertanyaan yang diajukan oleh pengejawantahan Neptunus yang dianggapnya lelucon.


"Apakah kau benar-benar penasaran, Neptunus-ku sayang?"


Untuk beberapa alasan, Mentari selalu membiarkan jawabannya menggantung. Membiarkan anak-anaknya mengetahui alasannya sendiri.


Mata Elliot membulat sempurna dalam beberapa saat sebelum kembali normal. Tidak seperti Figgyโ€”kembaran manusianya, Elliot tidak pandai mengendalikan dirinya sendiri. Apapun akan terbaca di wajahnya.


"Nom de Dieu (Ya Tuhanku)," ain kembar milik Elliot terpejam selama beberapa saat sebelum membukanya kembali dan menjawab pertanyaan Mentari.


"Saya tak pernah menanyakan sesuatu untuk bercanda, Bunda." Elliot menatap Mentari dalam-dalam. "Saya serius menanyakannya."


"Aku ingin setiap dari kalian bergabung; untuk dilebur menjadi satu denganku, sebagaimana aku telah memberikan kehidupan pada kalian semua."


Itulah kenyataan yang Mentari katakan, bahwa sang pusat tata surya ingin apa yang ada kembali ke ketiadaan.


"Apakah jawabannya memenuhi rasa penasaranmu, Nak?" kuasa sang bintang induk terulur dan mengusap helai kebiruan milik Elliot.


Sungguh, Elliot tidak terkejut mendengar jawaban bundanya. Ia sudah tahu benar bahwa itu adalah jawaban final nan mutlak yang tak akan berubah sampai kapanpun.


"Saya tidak kaget saat mendengar jawaban Bunda," Elliot melengkungkan bibirnya membentuk senyuman hangat. "Setiap kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian, jika pada akhirnya semua saudara saya akhirnya melebur.... Bukankah itu artinya sudah waktunya hidup kita berakhir?"


Selama ini Elliot terus menyaksikan kematian orang-orang terdekatnya. Kehidupannya yang nyaris abadi. Karenanya bila ia dan saudara-saudaranya meninggal nantinya, itu bukanlah hal yang aneh lagi.


"Tidak apa-apa, Bunda. Saya mengerti. Terima kasih atas jawabannya."


Mentari mungkin memang musuh. Ibu yang kejam di mata anak-anaknya, dan seorang yang berkeinginan untuk memusnahkan mereka semua.


Terlepas dari semua fakta tersebut, Mentari masih memiliki kasih sayang terhadap anak-anaknya. Mentari masih memiliki perasaan cinta, dan ia ingin merawat planet serta bulannya dengan penuh kasih.

__ADS_1


Karena itu, Mentari menunjukkannya pada merekaโ€”para planet dan bulan. Tanpa sepatah kata pun, Mentari menarik Elliot ke dalam pelukan hangat. Tangan Mentari mengusap helaian rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.


Andaikan Mentari berjumpa dengan mereka, Mentari ingin memberitahu anak-anaknya bahwa Mentari tidak selalu menjadi orang tua pembunuh dengan perilaku egois.


Elliot memejamkan matanya ketika bundanya memeluk dan membelai rambutnya. Elliot merasa nyaman. Terlepas dari kesan buruk yang diberikan pada bundanya untuk waktu yang lama.


Terkadang, Elliot ingin memeluk dan menenggelamkan wajahnya di pelukan sang bunda. Seperti anak kecil yang ingin dimanjakan oleh bundanya.


"Bunda, apakah Bunda tahu? Saya suka sekali ketika Bunda melakukan ini pada saya ataupun pada saudara-saudara saya yang lain." mengusal-ngusal di pelukan Mentari.


"Apakah sekarang kau merasa nyaman, Nak?" Mentari tersenyum saat menatap pengejawantahan Neptunus ini.


Elliot menganggukkan kepalanya. Untuk sesaat, ia merasa tak apa jika dirinya kembali ke ketiadaan. Kehidupannya di bumi amat carut marut, penuh kesedihan, dan membuatnya merasa lelah.


"Sangat, Bunda." jawab Elliot pelan. "Maafkan, Bunda. Saya tidak tahu saya harus mengatakan apalagi setelah mengalami berbagai hal."


Mentari memahaminya, meski Elliot tidak mengatakan secara gamblang. Namun Mentari tahu jelas apa yang disembunyikan oleh anaknya.


"Ke mana jiwamu, Nak?"


Pertanyaan Mentari membuat Elliot merandek. Bagaimana ibunya bisa tahu?


"...." Elliot tidak bisa menjawabnya.


Bukannya tidak mau, namun ia tidak bisa. Ingatannya akan kejadian itu tidak ada.


Seolah mafhum dengan apa yang terjadi dengan anaknya, Mentari memutuskan untuk tidak bertanya dan memeluk erat Elliot.


"Ya sudah, Bunda tidak akan menanyakannya lebih lanjut, Neptunus."


"Bunda," lidah Elliot sesaat terasa kelu, ia ingin mengucapkan sesuatu. Namun semuanya hilang saat dalam perjalanan menuju muara mulutnya.


"Ssh, sudah, Nak. Aku memahaminya," Mentari menahan Elliot untuk bercerita. "Tenangkan dirimu di sini. Hari ini, Bunda akan menemanimu."


Tubuh tinggi Elliot pun digendong tanpa susah payah oleh Mentari. Layaknya seorang ibu menggendong anaknya.


ใ€Œ๐Š๐š๐ค๐š๐ฌ๐š๐ฆ๐š ๐ฆ๐ฎ๐ค๐š๐ž ๐ง๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ง๐š๐ซ๐š๐›๐š


๐€๐ฌ๐š ๐ ๐š ๐ค๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐ฆ๐š๐๐ž ๐ฒ๐ฎ๐ฆ๐ž ๐ง๐จ ๐ง๐š๐ค๐š...


๐๐ž๐ง๐ง๐ž๐ค๐จ ๐ฒ๐š, ๐ง๐ž๐ง๐ง๐ž๐ค๐จ ๐ฒ๐š๐ญ๐ญ๐จ ๐ฒ๐ฎ๐ฆ๐ž ๐ง๐จ ๐ง๐š๐ค๐š....ใ€

__ADS_1


โ™ช ๐’ฅ๐’พ๐“€๐’ถ โ„ฌ๐“Š๐“ƒ๐’น๐’ถ ๐’น๐’ถ๐“‰๐’ถ๐“ƒ๐‘” ๐“‚๐‘’๐“ƒ๐’ฟ๐‘’๐“‚๐“…๐“Š๐“‰๐“‚๐“Š.... ๐’ฏ๐‘’๐“‡๐’ท๐“Š๐’ถ๐’พ๐“๐’ถ๐’ฝ ๐’น๐’ถ๐“๐’ถ๐“‚ ๐“‚๐’พ๐“‚๐“…๐’พ ๐’ฝ๐’พ๐“ƒ๐‘”๐‘”๐’ถ ๐“…๐’ถ๐‘”๐’พ ๐’น๐’ถ๐“‰๐’ถ๐“ƒ๐‘”. ๐’œ๐’น๐’พ๐“€ ๐“€๐‘’๐’ธ๐’พ๐“, ๐’ถ๐“€๐’ฝ๐’พ๐“‡๐“ƒ๐“Ž๐’ถ ๐“€๐’ถ๐“Š ๐“‰๐‘’๐“‡๐’ท๐“Š๐“€๐’ถ ๐’น๐’ถ๐“๐’ถ๐“‚ ๐“‚๐’พ๐“‚๐“…๐’พ....โ™ฌ


โ€”Bersambung


__ADS_2