Planetes

Planetes
1.o. April Mop!


__ADS_3

April Fools day, bukan hari yang Elliot sukai sebenarnya. Namun entah mengapa pengejawantahan Neptunus ini ingin melepas penat dari segala hal di hari tersebut.


Menjahili seseorang, ya? Apakah Elliot sanggup? Hm, mari tengok apa yang ia perlukan.


Menjadi perempuan atau anak kecil? Yang manapun tidak masalah baginya, karena Elliot bisa memanipulasi bentuknya. Toh struktur tubuhnya bisa ia utak-atik sesukanya. Lupakan ketidakstabilan sosoknya karena kutukan dari White Death, Elliot benar-benar ingin bersenang-senang kali ini.


Maka dari itu, Elliot pun mengubah sosoknya menjadi seorang perempuan jelita dengan cara berpakaian yang berbeda dari sosok laki-lakinya.


Elliot berputar di depan cermin dan mematut-matut dirinya sejenak. Memastikan bahwa ia sudah melakukan semuanya dengan benar.


"Sempurna." kemam lolos dari celah ranum. "Nah, mari kita mulai."


Dengan penuh percaya diri, Elliot—ralat, Elliana jika dalam sosok perempuannya, berjalan ke tengah kota. Mencari siapa saja yang bisa dijadikan sasaran keisengannya.


Netra Elliana pun menangkap sesosok berambut orange panjang di taman. Siapa gadis ini? Tatap intens gadis itu dari tempatnya berdiri. Aura-auranya mirip dengan Kakaknya, Saturnus. Jangan-jangan—


Elliana berjingkat-jingkat mendekati sosok itu dan—SELENGKAT!


Di tempat sang gadis, sosok bulan dari Saturnus bernama Helene—atau dalam wujud manusianya bernama Theodosia, sedang bersantai menikmati minuman dinginnya. Lalu tiba-tiba ia jatuh—


Segera bangun dan menatap minumannya yang tumpah, ❝Ah—KAU INI KENAPA, HUH?!!❞ Theodosia tidak mengenali siapa yang ada di depan. Familiar namun tidak kenal.


"Ah, maaf. Kaki saya licin," kilah sang pengejawantahan Neptunus sembari tertawa puas melihat hasil kejahilannya.


Tidak ada larangan menjahili keponakan, kan? Makanya langsung saja Elliana lakukan.


Mendengar tawa itu perempatan imajiner muncul di dahi sang putri Saturnus. ❝Kau harus membayar untuk minumanku!❞ lalu Theodosia menyelengkat balik dengan cepat.


Siapa sih tante-tante ini?! Ini belum jam sepuluh pagi dan sudah ada yang mencari masalah saja. 💢


"Oops!" kaki pengejawantahan Neptunus ini terselengkat dan nyaris membuatnya jatuh.


Elliana lantas bertumpu dengan sebelah tangannya guna menghindari jatuh terjerembab dan salto.

__ADS_1


"Lhoo? Minumanmu, ya? Tuh ada di sana," tunjuknya ke arah bangku yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Minuman yang sama dengan milik Theodosia yang tentunya sudah ia siapkan tadi. "Atau mau lanjut?"


Lupakan minuman. Sekarang Theodosia terlanjur kesal. Sudah diselengkat tidak jatuh juga puan ini. Boleh juga saltonya.


❝Ingin pemanasan sebentar, aunty?❞


Theodosia berlari lalu melompat, berputar di udara, dan mengarahkan tendangannya ke Elliana.


Ternyata keponakannya yang ini sama dengan keponakannya yang itu.


"Yare, yare, Kak Saturnus. Ternyata anak-anakmu bersumbu pendek juga, ya?" gumam Elliana sembari menggelengkan kepalanya.


"Yah, kemarilah, Nak. Perlihatkan kemampuanmu."


Elliot dalam sosok Elliana menahan tendangan itu dengan dua tangan. Ia sampai bergeser dari tempatnya. Elliana lantas mengibaskan tangannya dan menjilatinya singkat.


"Lumayan juga." senyum merebak di ranum sosok berambut ombak berwarna biru muda ini.


Kembali mengikis jarak, Theodosia menyiapkan kepalan tangan. Tidak berniat memukul, hanya ingin menyentuh saja untuk mendeklarasi kemenangan.


"Ah," Elliana lupa bahwa anak-anaknya kakaknya memiliki kemampuan untuk memanipulasi sesuatu yang berhubungan dengan sifat Saturnus.


Sudah pastinya Elliana tidak akan mungkin menghindar dari genggaman keponakannya ini. Terbukti dengan ia yang tidak bisa menggerakkan kakinya.


"Saya akui anak-anaknya Kak Saturnus memang hebat," Elliana masih mengulum senyum sehangat mentari.


Lalu mengubah sosoknya menjadi ke semula. Kembali ke sosok Elliot.


"Kerja bagus di April Mop, Nak." Elliot menguarkan senyum di peroman.


Begitu sosok sang wanita berubah menjadi sosok lain dia segera membatalkan kemampuannya. Lalu mundur satu langkah ke belakang. Pria ini mengenal ayah.


❝A-april mop?❞ Theodosia pernah dengar. Itu salah satu hari dimana para earthlings bebas melempar candaan. Jadi artinya—

__ADS_1


❝Ini, ini hanya candaan? Dan kamu siapa?❞ maaf saja, Theodosia tak begitu tahu bagaimana bentuk saudara ayahnya yang lain.


"Pfft—" reaksi yang lucu sekali dari gadis ini membuat sang bentala tidak kuasa menahan tawa. "Astaga, maaf. Maaf. Tapi kau memang lucu sekali, Nak."


Setelah beberapa menit, tawanya pun mereda dan berkata.


"Planet ke delapan dari tata surya, sekaligus penguasa lautan. Neptunus."


Elliot lantas menepuk-nepuk pakaiannya dan berujar.


"Maafkan atas candaan saya yang berlebihan, ya? Semoga kita bisa bertemu lagi." Elliot kembali mengedipkan sebelah matanya.


Sang bulan kecil,Helene—atau dalam nama manusianya Theodosia, menutup wajahnya setelah mendengar dan mengetahui siapa yang sedari tadi Theodosia pukul-pukul—meski tidak kena. Baru sekali ini dia melihat wujud manusia sang planet biru. Astaga. Semoga tidak diadukan pada sang ayah. Mengingat ayahnya sangat tegas dalam segala hal.


❝Pa-paman Neptunus?❞ nadanya ragu kala memanggil, ❝Tidak masalah. Aku yang minta maaf karena tidak mengenalimu! Ah, omong-omong namaku Helene.❞ baru pertama bertemu dan Theodosia sudah membuat kesan yang buruk. Ugh—


Ini salah sang paman, kan. Kenapa muncul dalam bentuk yang tak dia kenali—dalam wujud sebenarnya pun Theodosia juga tak akan mengenali pada awalnya. ❝Tidak masalah! Senang bisa bertemu Paman Neptunus di sini!❞ serunya. Lain waktu mereka bertemu lagi, dia tidak akan gagal mengenali. Tidak akan.


Namun Theodosia masih khawatir, bagaimana kalau-kalau pamannya itu mengadu pada ayahnya? Ah, tapi ayah kan selalu sibuk, jadi tidak mungkin. Mengangkat bahunya sejenak, Theodosia pun meninggalkan taman itu.


Selama seharian ini, Elliot banyak belajar tentang hal-hal baru. Tentang tradisi earthling yang unik dan lekat pula dengan dirinya.


"Ternyata, sejauh apapun saya berusaha untuk menjauh tetap tidak bisa, ya?"


Bingung. Mungkin itu yang lebih tepat. Tapi ia cukup banyak belajar. Artinya Elliot tak boleh sembarangan mempercayai seseorang pun bertindak.


Nah, waktunya kembali ke rumah dan menyelesaikan esainya. Despoina dan Medeia pasti sudah menunggunya di rumah.


"Kali ini saya akan memasak apa untuk mereka, ya?" gumam Elliot sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah swalayan.


Perasaannya lebih ringan kini. Sekaligus ia akan memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Terutama mengenai kutukan yang ia terima beberapa waktu lalu. Kutukan yang menyebabkan dirinya silih berganti mengalami ketidakberuntungan.


—bersambung

__ADS_1


__ADS_2