Planetes

Planetes
4. b. Seal


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Elliot keluar dari kediaman Kazuto dan berdiri di pinggir jalan. Bersandar pada pagar pembatas, sementara netranya menatap lurus ke ujung horizon.


Ia kehilangan hitungan waktu bila ditanya sudah berapa lama ia ada di bumi. Pun sama halnya bila ditanyakan berapa usia pasti dirinya. Pada kenyataannya, baik Elliot maupun Poseidon hadir di bumi sudah sangat lama. Bahkan sebelum masuk tahun masehi.


Ribuan kata 'seandainya' menyerbu benak. Berulang kali ia mengatakan 'seandainya' dan menyalahkan dirinya yang datang ke bumi. Memulai segala kekacauan, meruntuhkan peradaban suatu kaum, sampai membuat perselisihan yang belum jua berakhir hingga kini dengan Medusa serta sesiapa yang terlibat di dalamnya.


Elliot bukanlah anak baik bila ditinjau oleh manusia bumi. Ia hanyalah anak baik versi ibunya. Selalu dan selalu seperti itu. Neptunus yang agung. Berdiri di depan empat belas bulan yang setia bersamanya. Menggantikan posisi Pluto sebagai anak terakhir Mentari.


Otaknya yang bendul itu terus berpikir. Apa saja yang telah ia lakukan? Ingatan yang tersisa dalam dirinya secara terus-menerus tergerus. Hanya ingatan 2 tahun terakhir yang mampu ia pertahankan. Sisanya harus ia amankan di dalam wadah sebelum tergerus kembali oleh kutukan.


Omong-omong soal kutukan, Elliot teringat pada sosok yang jua menanggung hal yang sama dengannya. Segel di leher gadis itu adalah tandanya.


Elliot menghela napas. Baik ia maupun gadis itu sama-sama guinea pig bagi Asosiasi. Tidak memiliki kebebasan. Padahal ia adalah laut. Namun laut yang terkekang.


Elliot tidak paham, apalagi yang mesti ia perbuat kini. Segel yang ada di bawah dada kirinya terkadang terasa panas. Namun saat dicek, tidak ada perubahan apapun.


Kakaknya berkata bahwa bisa jadi itu adalah peringatan untuk dirinya agar berhati-hati. Namun tak pernah jua ia hiraukan. Sangkaannya, ia hanya mengalami keletihan atau mungkin terlalu memaksakan diri saat menggunakan kekuatannya.


Memang aneh. Namun ia memutuskan untuk tidak memberitahukannya pada siapapun. Mencegah orang lain cemas akan dirinya, dan juga mencegah musuhnya tahu apa yang terjadi pada dirinya.


『Pagi sekali kau terbangun, Elliot.』suara yang tak asing di telinga sang bentala pun menyapa telinga.


Elliot menoleh dan melihat sosok Kazuto berjalan ke arahnya. Pria itu nampaknya hendak merokok di pagi hari ini di luar.


"Kazuto-san." ia menganggukkan kepalanya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke ujung horizon. "Saya sedang berpikir tentang banyak hal."

__ADS_1


『Kau boleh cerita apa saja padaku kalau kau mau, Elliot. Aku akan mendengarkannya.』Kazuto menyelipkan sebatang rokok dan meyulutnya.


"Dulu waktu tinggal di Amerika, saya bekerja sebagai dokter kandungan di sebuah rumah sakit. Lalu suatu ketika, salah satu pasien saya meminta saya merawat anaknya," Elliot mulai bercerita. "Kami hidup bahagia saat itu. Menyaksikan gadis itu tumbuh sehat dan cantik. Namanya Alice."


Kazuto mengerutkan alis saat mendengar nama itu, dan ia pun bertanya. 『Lalu, di mana Alice sekarang?』


Seolah menyadari alur pembicaraan ini, tentulah Kazuto penasaran dengan nasib anak perempuan itu. Bila Elliot pernah merawat seorang anak manusia, seharusnya anak itu tetap bersama Elliot, kan? Tapi....


"Alice sudah lama meninggal, dibunuh oleh kekasihnya dalam bath tub. Saat itu, saya sedang tidak ada di rumah karena bekerja di rumah sakit." jawab Elliot tanpa merasa curiga sedikit pun akan pertanyaan Kazuto.


『El, jangan bilang bahwa hantu dalam salah satu kutukanmu itu adalah putri angkatmu dan yang membuatmu terkena kutukannya adalah hantu pembunuhnya?』Kazuto pun tak mampu menahan rasa penasarannya lagi.


"Eh, memang benar demikian, Kazuto-san. Ada apakah?" alis Elliot mengernyit tidak mengerti.


Kazuto menghela napas kasar. Hantu yang modelannya begitu akan sulit ditumpas. Setidaknya menurut kacamata gaibnya.


『Roh dengan kekuatan psikis, akan sulit untuk ditaklukkan. Ya kurang lebih karena roh itu memiliki ikatan kuat dengan dendam dan masih tertinggal di bumi. Akan sulit untuk menghancurkannya.』Kazuto memijat pelipisnya. 『Terlebih lagi, kau adalah ayah angkatnya. Makin sulit untukmu memusnahkannya, kan?』


"Tapi, yang harus dimusnahkan bukannya hantu pembunuhnya? Alice tak perlu—"


『Kau belum tahu jika memusnahkan hantu pembunuh anak angkatmu, artinya hantu anak angkatmu juga musnah? Mereka satu kesatuan, El.』


Pernyataan dari Kazuto itu membuat Elliot membulatkan matanya. Apakah ia bisa membiarkan putri yang ia cintai itu musnah? Tapi, kutukannya....


Melihat kebimbangan di mata dan raut wajah Elliot, Kazuto tidak berkomentar. Ia tahu bahwa sulit bagi Elliot untuk melakukan hal-hal kejam. Kazuto tidak tahu, bahwasanya dulu Elliot pernah menghancurkan satu peradaban dan bahkan menenggelamkannya. Ia hanya tahu bila pengejawantahan Neptunus itu seorang yang lembut dan tak berani mengusik semut.

__ADS_1


Elliot sendiri merasa dilema. Di satu sisi, ia ingin terbebas dari kutukan itu. Namun, ia belum sanggup kehilangan putri angkatnya. Meski kini sosok itu bukanlah manusia hidup.


"Apa yang harus saya lakukan, Kazuto-san?" meski tak yakin akan jawaban pria itu, Elliot memutuskan untuk bertanya. "Apakah saya memang harus merelakan Alice?"


Merelakan. Sejak kapan ia mampu melakukannya? Sejak dulu, ia tak pernah tahu bagaimana cara merelakan. Melepas seseorang yang pernah hidup di dunianya tak pernah mampu bisa ia lepas.


Kazuto menimbang-nimbang. Memilih kalimat yang tepat untuk merespons kalimat Elliot.


『Aku tidak memaksamu untuk merelakan, Elliot. Karena aku tahu merelakan adalah hal tersulit untuk kau lakukan.』ada jeda dalam kalimat Kazuto sebelum ia melanjutkan. 『Aku akan membiarkanmu menghadapinya dengan mengalir saja. Nantinya kau akan tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menghadapi takdirmu sendiri. Ingat bahwa kau seorang ayah, kaupun punya empat belas anak. Maka berlakulah selayaknya seorang ayah yang tengah menghadapi kenakalan putra-putrinya. Mengerti, kan?』


Ini masalah berat bagi Elliot, pun segel di bawah dadanya yang kadang memanas serta dada kirinya yang terus-menerus terbakar tanpa adanya pemberitahuan lebih dulu. Sekali lagi, Elliot kesulitan bertindak dengan logis. Pun otak bendulnya itu tak mampu memproses informasi terlampau sulit terkait penyelesaian masalah.


Kazuto menghela napas. Ia paham benar bahwasanya butuh waktu bagi Elliot untuk bangkit. Tak mungkin juga 1-2 kalimat semangat dapat memulihkan sang bentala.


Hidup ini bukanlah manga ataupun anime dengan cerita yang disusun serba sempurna. Wajar bila ada persoalan pelik yang bahkan Elliot kesulitan mengatasinya.


Kazuto membuang puntung rokoknya. Ia menepuk pundak Elliot dan berujar.


『Aku akan siapkan sarapan dulu. Kau tetap butuh energi, kan? Clarissa sebentar lagi bangun, jadi tetap pasang wajah ceriamu meski hatimu sedang tidak enak.』


"Baik, Kazuto-san."


Kazuto melangkah masuk ke dalam kediamannya. Tatapan Elliot kembali terarah ke ujung horizon. Lagi-lagi, ia dilemparkan sebuah tanggung jawab berat. Meskipun Kazuto tak mengatakannya, ia tahu benar bahwa ia diminta menyelesaikan masalah yang ia buat.


Tidak sekarang. Namun, sampai kapan Elliot akan menundanya? Elliot menggelengkan kepalanya perlahan dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kediaman milik Kazuto.

__ADS_1


__ADS_2