
Dalam sebuah perbincangan di salah satu kamar apartemen, Albertelli dan beberapa kawannya membahas tentang rencana bepergian saat musim semi tiba. Tanpa dinyana, saat Elliot menanyakan mengenai rumah serta garasi lewat telepon pada agen real estate, Albertelli bertanya pada Elliot.
"Pak Elliot, kau ingin pindah?"
Elliot tidak segera menjawab karena masih sibuk bercakap-cakap dengan agen real estate via ponsel. Barulah ketika sang bentala selesai dengan urusannya, ia menjawab.
"Oui, supaya lebih dekat dengan kantor saya."
Tidak salah, namun tidak sepenuhnya tepat jua. Bagaimanapun lokasi yang dipilih Elliot sebagai tempatnya tinggal tak jauh dari laut.
"Lalu, kau akan ke sana naik mobil atau motor?" Albertelli bertanya kembali.
"Motor."
“Nggak nyangka, Pak—saya kira kamu bakal lebih milih mobil.” Albertelli berkomentar.
"Motor lebih keren. Bisa jadi raja jalanan." jawab Elliot santai.
“HAH—?? Kamu suka balap liar? Man, that’s dangerous. Saya tidak menyangka ternyata kamu balap liar.” Albertelli menggelengkan kepalanya. “Oh well, nothing’s wrong with that.”
"Tidak juga, sih. Tapi motor itu bisa off-road. Mobil memang ada, tapi terbatas."
Setahunya seperti itu. Lagipula kalau buru-buru, Elliot bisa nyelip di antara mobil-mobil di jalan.
"Singkatnya, motor lebih efisien." Elliot menambahkan.
"That's true—" Albertelli mengangguk pelan, menyetujui perkataan Elliot.
"Memangnya kamu punya motor tipe apa, Pak?"
Albertelli penasaran. Dan dari deskripsi Elliot, sepertinya motornya sama dengan milik Albertelli: motor touring.
"Gazgas GE 250," sang planet langsung menjawab dengan tenang. "Pernah dengar?"
Motor yang Elliot miliki semenjak berganti profesi menjadi fotografer lepas. Ia mungkin lebih nyaman menggunakannya ketimbang harus memakai mobil.
Albertelli menggeleng pasti, yakin tidak pernah mendengarnya sebelumnya.
"Tidak pernah. If I gotta be honest, saya tidak begitu familiar dengan brand yang kurang populer di US. Motornya seperti apa? Saya boleh lihat fotonya?"
"Wajar kalau kau tidak pernah dengar, motor itu bukan keluaran Amerika." Elliot lantas mengeluarkan potret motornya dari gawai miliknya. "Ini, motor keluaran Spanyol. Bisa dipakai off-road, ataupun jalan biasa juga."
"Man, you weren't joking—" Albertelli memperhatikan foto motor itu lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk dan kembali memfokuskan perhatiannya kepada lawan bicaranya. "Sering trail ya?"
__ADS_1
"Oui, karena harus mencari view yang bagus sebagai objek foto," jawab Elliot segera dengan senyum bungah terpampang di ranum.
"Saya butuh motor yang bisa menerabas segala medan. Jadi, saya memilih motor berjenis itu."
Belum lagi kalau harus melewati jalan yang sulit. Mau tidak mau, Elliot harus menggunakan motor yang bandel.
“Oh yeah, I getcha. Ngomong-ngomong, Pak. Kamu kerja sebagai apa? Dan waktu ketemu sama kamu di gunung es itu... Were you taking photos?” Albertelli pun tidak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
Gunung es? Maafkan kapasitas daya ingat planet ini yang setara dengan orang jompo di bumi. Butuh waktu sekitar 30 sekon bagi Elliot untuk menjawab pertanyaan sang wira.
"Saya pensiunan dokter yang bekerja sebagai fotografer dan penulis esai dan ya, saya ke sana untuk mengambil foto."
Sempat panik saat Elliot hanya diam saja. Pikirannya sudah ngadi-ngadi mikir kalau yang Albertelli temui bersama Fuusetsu itu adalah hantu Elliot.
Untung saja dijawab oleh sang empunya rambut biru ikal itu.
"Dapat apa di sana? Man, padahal kalau badainya tidak datang, saya mau berkeliling gunung dulu." tanya Albertelli.
Bukan hantu, sih. Planet satu ini hanya butuh waktu untuk mengingat. Berhubung Elliot sudah tua.
"Dapat pemandangan gunung salju dengan hewan-hewan eksotis! ✨ ✨" matanya nampak berbinar-binar. Elliot antusias sekali menceritakannya pada Albertelli.
"Mon dieu, sayang sekali. Badai salju datang seusai saya selesai mengambil gambar pemandangan tersebut. Yah, mungkin belum rezekimu untuk melakukan itu." terdengar nada kecewa dalam suara sang planet.
“Yeah, dan kamu belum puas berfoto juga belum rezekimu, ya...”
“Kira-kira ada hal menarik nggak ya di gunung kalau musim semi? Kalau ada, rencananya saya mau mendaki lagi.” Albertelli mengutarakan rencananya pada Elliot.
Jika dipikir-pikir, inilah yang tadi Albertelli bahas bersama Fuusetsu dan Fadhil.
Elliot tertawa kecil. Sebenarnya bisa saja ia mengendalikan badai salju itu hingga sedikit mereda dengan kekuatannya walaupun Elliot hanya bisa mengeluarkan 50% nya saja.
"Tidak apa-apa, nanti saat musim semi biasanya banyak hal-hal menarik, kok." ranum melengkung membentuk seulas senyuman. "Bunga-bunga bermekaran, dan hewan-hewan akan lebih banyak muncul. Bukankah itu menarik?"
Albertelli diam sebentar untuk menimbang saran tersebut. Dagunya ia elus, sedang matanya melihat ke atas, pertanda ia sedang memikirkan sesuatu.
“Dan pasti orang-orang akan banyak berdatangan ya..." Albertelli terdiam sejenak sebelum melanjutkan konversasi. "Kamu ada rencana datang lagi saat musim semi, Pak?”
"Oui, tentu saja," jawab sang planet dengan cepat.
Ada bintang-bintang meletus dalam netra uniknya. Pertanda bahwa Elliot sangat gembira saat ini.
"Pemandangan musim semi tentunya sangat indah, bukan? Saya akan sangat menantikannya." kini tatapannya tertuju pada Albertelli. "Kau sendiri bagaimana, Vinny? Ada rencana ke suatu tempat saat musim semi tiba?"
“Dari yang kamu ceritakan tadi, saya mau coba pergi ke gunung lagi. Tapi yang jadi prioritas saya untuk musim semi nanti ya pasti piknik!” Senyum lebar merekah di wajahnya Albertelli. Seperti anak kecil yang sudah sangat menanti musim semi.
__ADS_1
“Saya dengar piknik di bawah pohon sakura itu sensasinya sangat berbeda lho!” Tangannya Albertelli lipat di depan dada dan senyumnya tergantikan oleh ekspresi yang lebih serius..
“But even though I’m excited, saya akui saya belum menyiapkan apa-apa sama sekali. Seperti orang untuk diundang, atau makanan yang akan dibawa—bahkan karpet dan keranjang saja belum punya—.”
Tawa pun pecah seketika tatkala mendengarkan ucapan Albertelli tentang kesiapan menghadapi musim semi. Memang itu semua penting, sih. Tapi bukan itu saja sebenarnya.
"Umm, saya rasa hal-hal seperti itu bisa disiapkan pelan-pelan saja, Vinny. Yang penting semangatnya dulu." Elliot bermaksud memberikan semangat pada temannya ini.
"Piknik di bawah pohon sakura, ya? Terdengar menarik. Nanti saya akan siapkan karpet serta makanannya bila demikian. Jadi, kita bisa piknik bersama-sama."
Sepertinya setelah Elliot menyelesaikan urusan pindah rumahnya, ia akan sibuk lagi untuk mengurusi piknik.
Tiga kata yang diucapkan Elliot membuat wajah Albertelli terlihat semakin bersemangat.
“THAT’S A GREAT IDEA!” seru Albertelli sambil menjentikkan jari. “Ayo pergi piknik bersama dan mengajak yang lain juga! Saya rasa kalau banyak orang akan semakin seru.”
Albertelli mengangguk kepada dirinya sendiri. “Mhm. Kalau ada banyak orang, kita bisa mengadakan permainan juga - dan mungkin pergi ke tempat lain setelahnya! Ya kan??”
"Kau benar," Elliot mengiyakan perkataan kawannya itu. "Mungkin kita bisa pergi setelah urusan saya selesai. Kau tahu, Vinny? Kepindahan saya kali ini cukup merepotkan."
"Merepotkan kenapa, Pak?" Albertelli pun bertanya.
"Anak-anak saya meminta rumah yang cukup besar untuk ditempati, agak sulit mencari rumah seperti itu. Walau akhirnya berhasil menemukannya, sih." Elliot mengutarakan jawabannya pada Albertelli.
"Lho, bukannya anakmu sudah ada yang dewasa, Pak?" alis Albertelli mengerut heran.
"Memang ada, tapi ada kalanya mereka ingin tinggal bersama saya."
Albertelli mengangguk-angguk paham. Orang yang sudah berumah tangga memang repot, ya. Ia berpikir bagaimana jika ia nantinya menikah dengan Yuna, ya?
"Pak, apakah mereka belum berkeluarga?" tanya Albertelli hati-hati. Takut menyinggung Elliot.
"Belum, mereka semua masih lajang, kok." jawab Elliot tanpa ragu.
Kadang Elliot pun merasa bingung, apa salahnya bertanya tentang hal itu? Tidak melanggar aturan juga, kan? Earthlings memang sulit dipahami.
"Ah, begitu rupanya, ya?" Albertelli menganggukkan kepalanya.
Suara deruman mobil terdengar di luar, Elliot pun segera beranjak. Tatapannya kini tertuju pada kawannya itu.
"Karena jemputan saya sudah datang, saya permisi dulu, Vinny. Besok kerjaan saya menumpuk."
Elliot harus beberes begitu sesampainya di rumah baru nanti.
"Ah, benar juga. Hati-hati, Pak."
__ADS_1
— bersambung