Planetes

Planetes
1.h. Please Tell About My Future, Oracle (1) (edited)


__ADS_3

Hari itu Elliot membuka stand ramalan dengan menggunakan kartu tarot tak jauh dari tempat kerja part-time nya. Sungguh ironis, karena sebelumnya ia pernah berkata bahwa ia tak percaya pada ramalan ketika acara hatsumode bersama Shion dulu.


Kini, Elliot seolah menjilat ludahnya sendiri. Memanfaatkan bakatnya untuk sekedar membantu orang lain. Jua untuk mencari sebutir tiga butir makanan manis demi mempertahankan sosoknya saat ini.


- ๐๐ž๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ญ๐š๐ฆ๐š, ๐‹๐ข๐ฅ๐ข๐š๐ง


Dara ayu berambut cokelat lurus lembut ini menoleh ke arah stand yang digelar oleh Elliot. Tergelitik untuk mengetahui apa yang akan dikatakan oleh sang peramal mengenai dirinya.


Tungkai kembar membawa diri mendekati jejaka dengan netra unik itu. Sang penjaga stand memiliki mata berwana abu-abu dengan pupil berbentuk wajik berwarna hijau muda.


Elliot yang tengah menata barang kerajinan di standnya, mendengar bunyi langkah mendekat. Segera saja ia menyambut tamunya dengan ramah.


"Selamat siang, Mademoiselle~ Anda ingin mencoba peruntungan Anda?" tanya sang bentala sembari mengulas senyum.


Peruntungan bukanlah sesuatu yang bisa sang puan andalkan, tapi ia tetap menganggukkan kepala lalu duduk.


"Iya, mohon bantuannya. . ."


Selagi duduk menunggu respons sang penjaga stand, puan berjenama Lilian White ini menelan ludah kasar. Gugup. Itu yang ia rasakan. Apa yang akan dikatakan oleh kartu tarot Elliot tentang dirinya?


Kuasa Elliot menjangkau setumpuk kartu dan mengocoknya. Lantas netranya tertuju pada sang puan.


"Silakan pilih 6 angka acak dari 1 sampai 22, Mademoiselle."


Six Spread Cards. Metode paling umum yang Elliot gunakan. Sekaligus paling rumit karena yang ia gunakan hanya kartu Arcana Mayor.


Lilian bertopang dagu untuk sesaat, mempertimbangkan angka yang akan dipilih. Niat awalnya iseng, tapi entah mengapa menjadi lumayan serius di akhir.


"13, 1, 3, 5, 7, dan 21." pilihan angka yang benar-benar terbetik dalam benak.


Baiklah, mari kita baca satu per satu potongan nasib dari earthling satu ini. Elliot menjajarkan kartu demi kartu di meja yang ada di hadapan Lilian. Sang bentala lantas membuka kartu pertamanya dan tanpa melunturkan sedikitpun senyum ia berkata.


"Kartu pertama adalah kartu yang menunjukkan apa yang kau rasakan saat ini. The Empress." Elliot siap menuturkan makna dari kartu yang ia tunjukkan. "Saat ini adalah waktu untuk mengasuh, materi, dan kenyamanan rumah tangga, perasaan berkelimpahan, harmoni, kegembiraan dan cinta. Kartu ini adalah pertanda bagus bagimu jika kamu merasa terinspirasi secara kreatif saat ini."


Saat Elliot membacakan makna kartu tersebut, entah mengapa Lilian menahan napasnya. Entah mengapa wanita molek ini merasakan adanya aura tak biasa dalam interpretasi kartu sang penjaga stand tarot.


"Kartu yang kedua adalah yang kamu inginkan saat ini. The World. Yakni kesuksesan pada hasil kerjamu selama ini. Penyelesaian dan kepuasan, itulah yang ingin kau capai saat ini."


Kartu kedua yang dibacakan oleh Elliot membuat Lilian mendadak kalut. Ia tak pernah beruntung dalam segala hal. Tapiโ€”mengapa pria berambut biru ini dapat mengetahuinya?


Elliot lantas beralih pada kartu ketiga. Tidak terlalu peka terhadap perubahan air muka sang juwita.


"Ini adalah apa yang kau takutkan. The Emperor. Kau merasakan kesuksesan sudah dekat tetapi terasa sulit dipahami, di luar jangkauan. Kau mungkin khawatir bahwa dukungan dan bantuan berasal dari orang terdekatmu, tapi seharusnya kau percaya mereka dan kesuksesan akan menjadi milikmu."


Kartu berikutnya adalah.... Lilian seketika merasa takut untuk mendengarnya.


"The Fourth Card is what's going for you. Temperance. Anda akan memasuki masa kedamaian dan harmoni dalam hubungan, karier, atau kehidupan secara umum. Kau akan menemukan jalan untuk menghandle segala kesulitan dengan caramu sendiri. Jadi santai saja."


Elliot meneruskan interpretasinya pada kartunya. Tidak sempat memperhatikan ekspresi wanita yang ia baca tarotnya.


"Kartu kelima adalah apa yang ingin kau lawan. The Fool. Hati-hati terhadap keputusan yang terburu-buru dan impulsif, bisa sangat merugikan Anda. Menarik dari pengetahuanmu dan pengalamanmu, jadikan itu pelajaran. Jangan sampai terjatuh kepada kesalahan yang sama."


Hawa yang tidak enak pun kian menyebar, kendati pembacaan kartunya tinggal selembar lagi.

__ADS_1


"Kartu terakhir adalah hasilnya. The Moon. Sementara Anda bingung dan takut dan membiarkan kecemasan menahan Anda, percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Kartu ini pertanda bagus buatmu untuk membuka pikiranmu tentang kemungkinan yang tak terduga."


"Nah, Mademoiselle. Bagaimana hasilnya? Apakah memuaskan mu?" tanya Elliot pada sang puan. Senyum secerah mataharinya tak lekang dari ranum.


Lilian tetap duduk diam selama mendengarkan. Meski rasa skeptis terhadap pembacaan seperti ini tidak akan mudah untuk dihilangkan, penjabaran yang disampaikan oleh sang adam tetap mendorongnya untuk mengulik segala tentang dirinya sendiri, yang tak pernah terlalu dipikirkan pada kehidupan sehari-hari.


Apa yang ia inginkan, takutkan, atau ingin lawan. Rasanya Lilian masih tidak bisa menerima hal-hal yang begitu penting dalam hidupnya hanya teringkas dalam enam buah kartu. Akan tetapi pembacaan kartu yang terakhir mengubah sorot matanya menjadi teduh, mungkin, tidak dalam artian yang begitu bagus.


"Semuanya. . . Semuanya akan baik-baik saja, ya. . ." gumamnya.


Kemudian Lilian menegakkan punggungnya lagi dan memulas sebuah senyuman untuk mencerahkan durja.


"Terima kasih, pembacaan tarotnya menyenangkan sekali. . . Sudah berapa lama kamu melakukan ini. . . ?"


Lilian tidak mengenal nama pria ini, namun entah mengapa pria ini mampu membaca hampir seluruh hidupnya yang penuh ketidakberuntungan. Apakah pria ini sudah lama mendalami tarot? Ataukah hanya main-main?


Hidup lama dengan tubuh manusia membuatnya memiliki kemampuan membaca ekspresi seseorang melalui peroman dan nada suara. Meskipun Elliot katakan semuanya akan baik-baik saja, rasanya itu mengganggu pikiran kirana jelita ini, kan?


"Oui, sama-sama Mademoiselle." Elliot merundukkan sedikit kepalanya untuk penghormatan. "Sudah... Sangat lama. Semenjak saya sudah bisa mengingat, saya melakukan ini, Mademoiselle." jawabnya jujur.


Benar-benar jujur tanpa menutup-nutupi. Meski Elliot tak menjelaskan mulai dari kapannya.


"Begitu, ya. Apakah menyenangkan bisa membaca kehidupan seseorang melalui kartu, Tuanโ€”?" oh, Lilian tidak tahu nama pria ini.


"Elliot. Nama saya Elliot Le Verrier." sang bentala memperkenalkan dirinya pada sang puan. "Panggil saya Ellie untuk singkatnya, Nona."


Ah, nama pria ini sangat sulit ia ingat. Alhasil Lilian hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Saya Lilian White, panggil saya Lilian, Tuan." juwita jelita ini memperkenalkan dirinya.


"Jadi, begitu...." kini Lilian nampak rikuh. "...terima kasih atas pembacaan kartunya, Tuan. Anu, berapa yang harus kubayar?"


"Saya tidak meminta uang sebagai bayaran, Nona." tolak Elliot halus. "Sebagai gantinya, berikan saya manisan atau permen. Tidak perlu banyak. Berapapun yang Nona miliki, akan saya terima."


Ragu menyerbu benak Lilian. Namun, ia tak mau membuang banyak waktu demi membiarkan dirinya terhanyut bimbang. Dirogohnya saku pakaiannya dan memberikan sepuluh butir karamel pada Elliot.


"Ini bayaran untuk Tuan Elliot. Terima kasih sudah membacakan tarot untukku." Lilian memohon diri sebelum beranjak dari stand itu. "Sampai jumpa."


- ๐๐ž๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ ๐š๐ง ๐Š๐ž๐๐ฎ๐š, ๐‚๐ก๐ซ๐ข๐ฌ๐ญ๐š


Kali ini yang datang adalah teman Elliot ketika sang bentala masuk ke sebuah kursus, Christa. Elliot mengenal gadis ini tatkala mereka berkenalan satu sama lain berikut menceritakan singkat diri mereka.


"Lama tidak jumpa, Tuan Elliot. Kau nampaknya sehat-sehat saja, ya?" ujar sang empunya rambut ungu metalik itu seraya duduk di hadapan Elliot.


"Kau pun sepertinya sehat-sehat saja ya, Mademoiselle Christa. Omong-omong, tahu dari mana bila saya membuka stand di sini?" tanya Elliot seraya mengambil kotak kartunya.


"Aku bertanya pada kawan-kawanmu, sebab kau tidak ada di apartemenmu." jawab Christa tanpa ragu. "Aku ingin tahu peruntunganku. Bisa kau coba ramalkan?"


"Dengan senang hati, Mademoiselle." Elliot lantas mengeluarkan setumpuk kartu dari dalam kotak. Mengocoknya sebelum ia hamparkan di hadapan Christa. "Silakan Mademoiselle pilih 6 angka acak dari satu sampai dua puluh dua."


Mendengar instruksi itu, Christa segera mengalihkan pandangan pada pemilik suara. Mengangguk dengan cepat, lalu termenung sejenak.


โ€œUmmm.... 2, 6, 7, 13, 18, 20.โ€

__ADS_1


Kepala pun ia anggukkan usai mendengarkan angka apa saja yang disebutkan oleh sang dara jelita. Sang bentala pun menghamparkan kartunya di hadapan Christa dan mengguratkan senyum di peroman sebelum berujar.


"Kita mulai dengan kartu pertama, ya? Ini adalah kartu yang menunjukkan apa yang kau rasakan saat ini. Strength. Anda merasa bahwa terlepas dari tantangan yang Anda hadapi di masa lalu, sekarang atau masa depan, Anda akan menemukan kekuatan dan keberanian untuk berhasil. Jika Anda ingin menghentikan kebiasaan buruk, inilah saat yang tepat untuk melakukannya." Elliot beranjak ke kartu berikutnya.


"Kartu kedua adalah apa yang paling kau inginkan saat ini. The Sun. Matahari menyarankan bahwa yang paling Anda inginkan saat ini adalah kegembiraan dan kesenangan dalam hidup Anda, mungkin liburan yang telah lama dibutuhkan di bawah sinar matahari untuk mengisi ulang baterai Anda. Intinya jangan terlalu memaksakan diri pada sesuatu, beristirahat itu penting, lho."


"Kartu ketiga adalah apa yang kau takutkan. The Hermit. Ini adalah peringatan agar kau tidak membuat keputusan yang gegabah. Anda khawatir akan kesendirian dan takut kesepian, dan Anda tidak tahu harus berbuat apa. Luangkan waktu untuk bersantai dan akhirnya Anda akan mendapatkan jawabannya."


"The Fourth Card is what's going for you. The Fool. Ini adalah waktu yang menyenangkan dengan banyak potensi untuk kesenangan dan pengalaman yang luar biasa. Keyakinan Anda harus tinggi, ini saat yang tepat untuk kemungkinan baru. Keinginan yang tidak terduga akan terpenuhi, bahkan sebelum Anda mengungkapkannya!"


"Kartu kelima adalah apa yang harus kau lawan. The Tower. Betapapun kerasnya Anda mencoba mengendalikan peristiwa, mereka tidak akan berjalan sesuai keinginan Anda. Tantangan tak terduga, pergolakan dan kekecewaan akan mengakhiri harapan. Gunakan periode perubahan ini sebagai peluang untuk awal yang baru. Jika Anda berencana untuk pindah rumah, Anda akan mengalami kemunduran."


"Kartu terakhir adalah hasilnya. The High Priestess. Kekuatan intuitif Anda berada pada puncaknya pada saat ini; hanya dengan mendengarkan dengan cermat dan memercayai mereka sepenuhnya, Anda dapat merangkul kekuatan itu. Memungkinkan fleksibilitas dan mengharapkan hasil yang menjanjikan." Elliot menutup interpretasinya dengan senyuman sehangat mentari.


"Bagaimana menurutmu, Mademoiselle? Apakah hasilnya memuaskan?" tanyanya pada Christa.


โ€œ..........โ€


Sang gadis mencoba memperhatikan pembacaan kartu tarot oleh lawan bicaranya. Otaknya mungkin belum bisa menerima hal rumit, namun Christa mencoba mencerna penjelasan itu sebisa mungkin.


Entah kenapa, Christa dapat merasakan sesuatu dalam batinnya. Sesuatu yang membuatnya lega sekaligus mendesak dirinya untuk berbuat sesuatu.


Penjelasan seperti itu mungkin cukup generik, namun terasa cocok dengan situasi pribadinya.


โ€œAh, iya, ini cukup memuaskan.... Rasanya seperti aku diberikan jalan yang baru.โ€ Bibir melengkungkan senyuman tipis yang diberikan pada sang pemuda. Walaupun malu-malu, tetapi terlihat tulus.


โ€œTerima kasih banyak, tuan Elliot! Eh, apakah aku harus membayar? Penjelasan anda sangat rinci, aku jadi tak enak.โ€


"Syukurlah jika demikian, Mademoiselle," Elliot merasa lega karena ia dapat membantu kirana jelita ini melalui masukannya.


Meski banyak yang mengatakan bahwa tarot readingnya tepat, Elliot tidak lantas menjadi tinggi hati. Elliot sadar benar bahwa masih banyak yang harus ia perbaiki.


"Eh? Non (tidak), Mademoiselle tidak harus membayar saya dengan uang," Elliot mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajahnya.


"Mademoiselle cukup membayar saya dengan manisan. Itu saja saya rasa tidak masalah."


Yang penting sama-sama enak dan tidak membebani juga.


Bagi Christa, tarot reading itu cukup berarti untuk membantu dirinya menentukan jalan hidup. Gadis yang selama ini tak punya mimpi sedang berusaha mencari arti dari kehidupan itu.


โ€œHawawa, begitu, ya? Tunggu sebentar, aku ada sesuatu....โ€


Satu tangan Christa merogoh ke dalam tas kecil yang dibawa, mengeluarkan sekantung kue kering yang diikat dengan sebuah pita.


โ€œIni, untuk Anda! Sebagai bayaran....โ€



Ah, kuenya lucu sekali! Sang bentala langsung semangat melihatnya.


"Merci beaucoup, Mademoiselle~ saya sangat senang sekali~" Elliot menerima kuenya dengan takzim.


"Semoga kehidupanmu lancar selalu, Mademoiselle Christa. Berkah Tuhan bersamamu." ia merundukkan kepalanya dan meletakkan tangan di dada kirinya.

__ADS_1


โ€” bersambung


__ADS_2