
Sang bentala menarik napas panjang. Elliot bukan orang yang pandai menjabarkan semuanya dalam kisah rinci, namun sebisa mungkin ia tak akan melewatkannya.
"Seperti yang saya bilang di pertemuan awal kita, saya adalah Neptunus." jeda sejenak sebelum menambahkan. "Yang jika di bumi adalah dewa penguasa perairan. Kurang lebih saya datang ke bumi ini pada abad ke 5 atau 6 sebelum masehi."
Ini bukan basa-basi, tapi Elliot merasa perlu menceritakannya.
"Sayangnya, kalian manusia bumi tidak menerima kehadiran entitas seperti kami di sini. Lalu, bencana besar datang. Menghancurkan kota itu beserta peradabannya. Tenggelam ke dalam dasar laut. Akibat kekuatan saya yang meluap." terdengar lolosan ekshalasi dari celah ranum.
"Semua pengejawantahan planet dan bulan memiliki kemampuan mengendalikan alam. Tak terkecuali saya. Itu yang diceritakan oleh Possy—maksud saya Poseidon. Karena saya tidak memiliki ingatan sebelum abad ke 15 masehi."
Setelah ini bagian yang paling penting dari ceritanya.
"Menurut Poseidon, setelah tenggelamnya Atlantis. Saya membagi dua diri saya. Satu sebagai diri saya dan satu lagi adalah Poseidon. Poseidon bilang, selama jiwa saya ada dalam dirinya... Ada satu kutukan yang tak akan pernah bisa disembuhkan dengan cara apapun." ia menutup ceritanya sembari menghela napas.
"Singkatnya, tubuh ini menjadi selongsong kosong tanpa adanya jiwa. Selama beratus-ratus... Bahkan ribuan tahun, saya hanya mampu mengingat tujuan utama saya datang ke bumi. Tanpa mampu mengingat dosa di masa lalu, tanpa mampu mengingat apapun yang saya lakukan kala itu. Hingga Poseidon datang menemui saya dan menceritakan semua itu. Termasuk apa yang ia lakukan pada Medusa." Elliot nampak lelah.
"Saya tak pantas bilang begini, tapi... Apapun yang ia lakukan pada Medusa, itu merupakan tanggung jawab saya juga. Andaikan saat itu saya tidak membagi dua diri saya, kejadian itu tak akan—" ucapannya terhenti karena terdengar bunyi patah dari tangan kirinya.
Elliot meringis. Kenapa kutukannya selalu datang tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu?
"—punya obat penahan sakit?" tanyanya sambil menunjuk lengan kirinya yang terpelintir entah oleh apa dan mulai mengalirkan darah. Tiga kutukan aktif bersamaan. Bagus sekali.
Ryan mendengarkan dengan seksama cerita dari sang planet biru. Untuk pertama kalinya Ryan merasakan perasaan ganjil ... yaitu simpati.
Bagi dirinya yang sudah membuang sifat kemanusiaannya merasa perasaan aneh ini sungguh menyesakkan. Ia tidak suka ini, karena akan membuatnya merasa lemah.
__ADS_1
Mengenyampingkan jauh-jauh rasa simpati tersebut, ia hanya merasa mereka berdua mirip. Mirip karena sisi lain dari mereka. Elliot dengan Poseidon, sementara ia dengan Medusa. Hanya itu saja, tidak lebih.
Namun, sebelum Elliot menyelesaikan kalimatnya, Ryan mendengar suara ... tulang patah.
Matanya tertuju pada tangan kiri sang Neptunus yang tiba-tiba mengeluarkan darah.
"Tunggu sebentar, aku akan ke tempat Guru untuk meminta obat!"
Ryan bergegas kembali ke gedung lama tersebut, meminta beberapa obat herbal untuk mengobati tangan patah Elliot.
Elliot meringis pelan tatkala rasa sakit mulai menjalar dari tangannya yang mengalami fraktur. Pasalnya, ia bukan seorang yang mudah sembuh dari luka. Otomatis kutukan ini merugikannya.
"Maaf merepotkan, Ryan."
Tidak membutuhkan waktu lama hingga Ryan kembali membawa obat, patahan kayu dan perban.
"Aku akan memakai sihirku, tahan sebentar."
Meski dibilang bisa sihir penyembuhan, namun sihir tersebut hanyalah untuk menyembuhkan luka luar yang tidak terlalu parah. Dari lengan Ryan, sesuatu yang seperti bergaris hijau muda, sirkuit sihir. Ia memegangi tangan Elliot, dan menyihir agar darah tersebut berhenti keluar, lalu menggunakan patahan kayu dan perban untuk tangan patahnya.
"Aku hanya bisa pertolongan pertama seperti ini." ucap Ryan dengan raut aneh. Menunjukkan sedikit rasa sesal, tapi sejujurnya Ryan bersyukur jika kejadian ini membuat pikirannya teralih.
Saat Ryan kembali dan membawa obat-obatan, buana bernetra unik ini pun hanya menurut. Ia tidak ingin menambah sulit gadis (akhirnya ia tahu gender asli Ryan) itu untuk memberikan pertolongan pertama.
Entah sampai kapan Ryan bisa menahan gejolak sifatnya. Terutama dendam. Ryan tahu jika Elliot tidak sepenuhnya bersalah, karena ia hanya berurusan dengan Medusa. Bukan dirinya, jika Elliot mengetahui tentang pemuja Gorgon yang memasang mata pada dirinya, mungkin saat ini ia sudah bukan dirinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ryan. Setidaknya darahnya tidak menetes terus dan lukanya semakin parah," meringis pelan karena sekarang lengan kirinya harus diperban dan ditahan dengan kayu.
Akhirnya ia memilih untuk memanggil gadis dalam samaran laki-laki itu dengan nama samarannya. Elliot tahu bahwa mungkin saja di sekitar mereka ada seseorang yang menguping dan akhirnya akan membahayakan Ryan.
"Kadangkala, saat tengah melakukan pekerjaan ataupun tengah bercakap-cakap seperti ini... Tiba-tiba saja tulang saya patah. Disusul darahnya tidak kunjung berhenti, dan akhirnya esensi jiwa saya hilang (soul drain)."
Kutukan-kutukan ini benar-benar mengesalkan. Akan merepotkan jika dirinya harus terus-menerus mengalami hal begini tanpa disangka-sangka.
"Kita selesaikan saja dulu masalah kutukanmu, urusan dewa-dewi Yunani kita kesampingkan dulu." Ryan membuka kertas kutukan dan membaca ulang, "Kita hilangkan dulu kutukanmu yang tidak bisa tidur di waktu tertentu, Soul Drain, lalu tidak bisa memakai kekuatan supranatural..."
"Itu berarti, Hide and Seek level Hell, Devil Mirrors dan Charlotte's Web. Kita mulai dari Charlotte's Web dulu, bagaimana?" tatapan Ryan kini tertuju pada Elliot.
Mendengar ucapan Ryan, Elliot segera mengecek kertas yang ia tulis.
"Charlotte's Web? Berarti yang dihilangkan lebih dulu kutukannya patah tulang saya, kan?" ia mengoreksi.
"Tidak apa-apa, ayo lakukan. Pertama-tama harus siapkan mainan dulu untuknya." ranumnya meloloskan ekshalasi. "Roh merepotkan, marah sedikit membuat semua kelimpungan." rutuknya.
Elliot mengeluarkan setumpuk kartu tarot dari sakunya dan meletakkannya di tanah. Lalu mengambil salah satunya secara acak.
"Four of Swords dalam keadaan terbalik," gumamnya pelan. "Bukan peruntungan yang begitu bagus, tapi tetap harus dicoba."
Ia memasukkan kembali kartunya ke dalam saku. Lalu tatapannya tertuju pada Ryan.
"Berikan dia puzzle blocks, Ryan. Selagi dia teralih dengan itu, kau bisa ambil kesempatan."
__ADS_1