Planetes

Planetes
3. y. Door Mind (1)


__ADS_3

Elliot meletakkan kartu-kartu tarotnya di atas meja dan mencoba membaca peruntungannya hari ini. Celah birainya meloloskan ekshalasi. Tidak bagus.


Bahkan ada peringatan akan bahaya yang mengintai. Ia cukup memahami bahwasanya memang banyak yang mengancamnya, namun siapa sangka di ramalannya mengatakan bahwa ia diharuskan mewaspadai orang-orang yang dekat dengannya.


"Hhh, bencana apalagi yang akan timbul," keluh pun lolos dari celah birai pengejawantahan Neptunus ini.


『Kau ahli di bidang ini, ya?』Kazuto menghampiri Elliot sembari menyediakan tiga cangkir kopi.


"Kazuto-san," Elliot menjangkau cangkirnya dan menyesap pelan kopinya sejenak. "Bisa dikatakan bahwa ini bakat alami saya."


『Bakat alami, ya?』Kazuto terdiam sejenak sembari menyesap perlahan kopinya. 『Kalau tidak salah Neptunus adalah simbol pemberi mimpi, ilusi, adiksi, misteri, inspirasi dan juga kekuatan magis selain simbol laut dan samudra. Apakah itu benar?』


"Iya, memang benar, Kazuto-san." Elliot menganggukkan kepalanya. "Tapi, untuk beberapa alasan.... untuk membuat ilusi dan mimpi tidak bisa saya lakukan."


『Apakah itu berkaitan dengan kutukanmu?』Kazuto kembali bertanya. Elliot menganggukkan kepalanya sekali lagi. 『Kekuatan spiritualmu sangat besar, namun sayangnya kau tak dapat memanfaatkannya dengan baik.』Kazuto menghela napas. 『Bahkan kau membagi dua dirimu, ini lebih kacau dari yang kuduga.』


Elliot terdiam. Ia sendiri bingung bagaimana merespons kata-kata Kazuto.


"Saya tidak terlalu ingat dengan apa yang terjadi sebelum abad ke lima belas, Kazuto-san. Bahkan ingatan-ingatan setelahnya terus-menerus tergerus meski Poseidon bersusah payah mentransfernya pada saya." Elliot menjelaskannya pada Kazuto.


Kazuto mendengarkan semua itu dengan seksama. Rasanya memang benar bila Elliot sudah dikutuk semenjak itu. Namun ia tidak tahu apa yang akan terjadi bila Elliot memunahkan semua kutukan itu. Apakah mungkin....


『Elliot, dengarkan aku! Usahakan agar kau tetap terpecah menjadi dua, jangan pernah ada pikiran untuk menyatukan dirimu kembali!』Kazuto memegangi kedua bahu Elliot.


"Eh, kenapa?"


『Asosiasi mengincar itu. Saat kekuatanmu terkumpul semua, Asosiasi akan bergerak untuk menangkapmu!』


Kazuto sadar mengapa ada yang aneh dengan Clarissa. Tujuan akhir Asosiasi adalah membawa Elliot ke laboratorium. Apakah mungkin Clarissa memakai topeng untuk mengelabuinya? Tapi, kenapa?


"Apakah artinya saat ini Clarissa sudah bersatu dengan Chylara?" tanya Elliot dengan serius pada gurunya Clarissa ini.

__ADS_1


『Tidak salah lagi, jika ditilik dari segel di lehernya.』


Kata-kata dari Kazuto itu membuat Elliot membelalakkan kedua matanya. Namun, Kazuto melanjutkan kalimatnya.


『Sejak semula, ia pun sudah dijebak oleh Asosiasi. Namun, mau bagaimana lagi? Ia pun berkeinginan mencari Arcturus meski harus mengorbankan segalanya.』tatapan Kazuto lantas tertuju lurus pada Elliot. 『Tetaplah bersikap seolah kau tak tahu apa-apa, oke? Jangan sampai Clarissa tahu bahwa kau sudah sadar jika dia berbeda dari sebelumnya.』


Melihat ekspresi serius Kazuto, Elliot pun menganggukkan kepalanya. Ia tak bisa komentar apa-apa jika sudah seperti itu. Andaikan ia memaksa untuk menolong Clarissa dari situasi buruk tersebut, yang ada dirinya hanya berakhir menjadi tangkapan Asosiasi.


Kazuto menyadari presensi Clarissa sudah semakin mendekat. Dengan cepat, ia membuka topik baru.


『Kutukan mana lagi yang ingin kau hilangkan?』


"Ah, kalau bisa yang tidak bisa tidur di waktu tertentu, pandangan kematian, dan nasib buruk." Elliot menghela napas pelan. "Tapi, berhadapan dengan Deeky Dama membuat saya pening."


『Kenapa mesti berhadapan dengan makhluk itu, sih? Kau tahu kalau dia benci laki-laki, kan?』Kazuto pun menepuk dahinya.


"Kalian sedang membicarakan kutukan?" suara Clarissa mengejutkan keduanya.


"Ah, kami memang sedang membicarakan pemecahannya. Apalagi yang bad luck." Elliot segera menyahut ucapan sang gadis.


"Kau mau menyuruh saya menyamar, kah?" alis Elliot mengerut.


"Siapa juga yang menyuruhmu menyamar? Kau siap-siaplah untuk menjadi umpan." kalimat Clarissa itu membuatnya membatu seketika.


"Hei, kau ini bagaimana? Waktu itu kan pernah saya ceritakan bahwa Deeky Dama nyaris membunuh saya, kan? Kok saya dijadikan umpan?"


[Tidak beres nih perempuan....] Elliot membatin.


"Kalau cuma aku saja, dia tidak akan menyerang, kan? Makanya harus dipancing," Clarissa merespons dengan santai.


'Agaknya aku memang harus mengawasi Clarissa,' Kazuto ikut membatin.

__ADS_1


『Sebentar, kita kan mau mengatasi masalah tidak bisa tidurnya Elliot. Kok jadi ke masalah bad luck?』Kazuto yang bingung pun menginterupsi.


Clarissa tertegun sesaat dan berkata sembari menyengir. "Oh, iya ya. Maaf, aku terlalu bersemangat."


Kazuto mencebikkan wajahnya karena jengkel, sementara Elliot menghela napas lega. Setidaknya ia tak perlu berurusan dengan Deeky Dama dalam waktu dekat.


"Oh, iya. Tapi, artinya aku harus masuk ke dalam alam bawah sadarmu, kan?" Clarissa bertanya.


"Iya, dan berhati-hati dengan nenek yang ada di salah satu pintu. Walau saya berhasil kabur darinya, dia mengambil kemampuan tidur saya," Elliot menghela napas.


'Itu sih bukan kemampuan, kan?' Kazuto dan Clarissa pun membatin.


"Kalau begitu, aku tidak bisa ikut tidur denganmu. Aku hanya akan masuk setelah kau bertemu dengan sosok yang mencabut daya tidurmu." Clarissa melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tidak masalah, sih. Tapi, bagaimana caramu mengetahui apa saja yang ada dalam mimpi saya?" Elliot pun bertanya.


『Kalian ini melupakan keberadaanku, kah? Kalian kan bisa minta tolong padaku! 💢』Kazuto nampak jengkel karena baik Elliot dan Clarissa sibuk berdiskusi sendiri.


"Eh, maaf, Guru!" Clarissa segera mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Kazuto menghela napas. 『Elliot, kau bisa memakai alat yang ada di laboratoriumku. Clarissa, kamu sediakan aromaterapi, dan bantal.』


"Baik, Guru." gadis itu segera beranjak untuk mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan.


『Elliot, ayo ikut aku ke laboratorium.』Kazuto memberikan isyarat pada Elliot untuk mengikutinya.


"Ah, iya." setengah berlari, ia mengikuti langkah kaki pria berwajah tegas itu.


Doors to The Mind. Permainan untuk mengintip pintu pikiran seseorang. Waktu itu Elliot dengan ceroboh memasuki pikiran rekannya untuk menyelamatkannya dan berujung ia sendiri yang terkena dampaknya.


Pintu dalam pikiran temannya itu sungguh mengerikan. Seperti sebuah bangunan yang terlantar. Elliot sendiri tidak paham kenapa isi pikiran temannya demikian.

__ADS_1


Nampaknya kali ini ia harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam permainan yang level bahayanya rendah ini. Karena salah langkah, semua yang terlibat akan kena dampaknya.



__ADS_2