Planetes

Planetes
4. c. We Wish You Merry Christmas


__ADS_3

Tidak biasanya Clarissa mengirimkan pesan pada Elliot pagi itu. Kira-kira sudah 3 bulan sejak Clarissa bilang akan pergi ke Irlandia dan tinggal cukup lama di sana untuk suatu penelitian.


Memikirkan kira-kira apa yang akan ia kirim, akhirnya Clarissa pun mengetikkan kalimat seperti ini.


[Text to: Elliot]


> Kau ada waktu hari ini?


> Tahu kan hari ini hari apa?


Di sisi lain, Elliot terbangun dan mengusap matanya saat mendengar bunyi ponsel.


"Waduh, Clarissa." desisnya saat melihat siapa yang mengirimkan pesan itu. Lantas ia segera mengirimkan pesan pada gadis itu.


[Text : Clarissa ]


> Tentu saja ada.


> Mana mungkin saya lupa. Hari ini kau ulang tahun, kan?


> Mau sekalian merayakan Natal?


Clarissa mendesah lega. Ternyata pria itu ingat, hatinya jadi merasa senang sedikit.


[Text: Elliot]


> Boleh.


> Mau ketemuan di London saja?


> Atau terserah deh.


Mana mungkin Elliot lupa? Ia tak boleh melupakannya, kan?


[Text : Clarissa ]


> Kalau begitu, saya akan siap-siap terbang ke London.


> Kamu mau saya bawakan apa?


> Tinggal bilang saja. 😊


Clarissa tertawa kecil saat membaca pesan itu. Artinya saatnya ia bersiap ke London.


[Text: Elliot]


> Hmmm


> Bawakan saja hadiah ulang tahunku.


> Lagipula aku cuman ada perlu sebentar.


Yak, mampus. Dibilang begitu, Elliot pun bingung. Apa yang hendak ia siapkan?


[Text : Clarissa ]


> Baiklah jika demikian 😊


> Lho, kamu buru-buru? 😮


> Mau ketemu di depan Big Ben? 😊


Di seberang sana, Clarissa sibuk menyiapkan beberapa patah kata yang akan diucapkannya nanti pada Elliot.


[Text: Elliot]


> Anggap saja begitu.


> Aku ada pekerjaan lain, di London nanti.


> Argh, intinya ayo ketemuan dulu!


Elliot tertawa membaca balasan dari Clarissa. Ia pun segera membalasnya.


[Text : Clarissa ]


> Oui, oui, saya akan segera ke sana.


> Saya tunggu di Big Ben jika demikian.


> Oh, tenang saja soal hadiahmu.

__ADS_1


> Sudah saya siapkan.


Usai membalas pesan itu, Elliot segera beranjak menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Berantakan sekali ia sehabis bangun tadi dan segera berpakaian.


Diaturnya rambut birunya serapi mungkin dan menyambar bungkusan kado yang ia siapkan untuk Clarissa.


Ia memasukkannya ke dalam tas dan menjentikkan jemarinya. Lantas terbentuklah portal yang menghubungkan tempatnya saat ini dengan tempat yang ia kehendaki.


"Nah, saya datang." ia melangkah masuk dan seketika tiba di depan Big Ben.


"Wow!" decak kagum meluncur dari celah birai. "Tinggal menunggu Clarissa saja."


Berhubung Elliot tidak ingin membuat orang lain menunggu, jadi biarlah ia saja yang menunggu. Toh, ia tidak berkeberatan juga untuk menunggu.


Diletakkan tas di dekat kakinya dan Elliot pun menggulirkan derijinya di atas layar ponsel pintar. Sudah agak lama sejak ia bertemu dengan Clarissa.


Di tempatnya, Clarissa mendengus pelan saat membaca pesan dari Elliot. Paling tidak sekarang memang sudah berjanjian.


Dan Clarissa tentu memesan tiket pesawat secara online dari jauh-jauh hari. Setelah mengecek pemesanannya, ia langsung pergi begitu saja. Tidak berkemas dahulu karena beberapa barang pribadi masih ada di penginapan di London sana.


Sampai di bandara, Clarissa segera menuju pesawat keberangkatan utamanya ke London.


Untung dari Irlandia ke Inggris sudah tidak begitu lama, hanya dalam 1 jam 5 menit sudah sampai. Tapi menemui Elliot sepertinya lebih dari waktu tersebut.


Kira-kira 2 jam, Clarissa sampai ke tempat janjiannya dengan Elliot di Big Ben. Karena sekarang sedang Natal, hiruk pikuk kota London terasa sekali.


Untung rambut Elliot begitu mencolok, sehingga tidak susah dikenali.


"Lama menunggu, El?" tanya Clarissa sembari menghampiri sang bentala.


Baru saja Elliot meletakkan kembali ponselnya di dalam sakunya. Ia mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya.


"Saya baru sampai, kok." jawabnya dengan senyum riang.


"Oh, iya. Selamat ulang tahun!" ia memberikan kotak besar yang ia keluarkan dari tasnya. "Semoga kau menyukainya, ya! Tenang, isinya pasti kau suka."


Meski curiga beberapa lama, namun Clarissa seolah tidak mau mempermasalahkan hal tersebut.


Dan sewaktu ia mendapatkan hadiah, rasa bahagia menyesakkan dadanya.


Rasa yang selama ini tidak pernah ia temui lagi, kini hadir kembali. Tanpa terasa senyumnya mengembang di wajahnya.


"Terima kasih Elliot, kau selalu bisa membuatku tersenyum."


Elliot sendiri tidak mempermasalahkan senyum Clarissa. Toh ia sudah tahu bahwasanya gadis ini kadang memakai topeng.


Tapi rasanya senyum ini.... Asli. Mau tak mau Elliot pun agak kikuk dibuatnya.


"Ngomong-ngomong, mau jalan-jalan atau makan dulu?"


Mengingat ada kue, mungkin mereka bisa membeli beberapa makanan mini market dan makan bersama kuenya.


"Makan dulu, ya? Saya lapar, hehe." menyengir tanpa dosa karena Elliot belum sempat makan tadi.


"Habis makan, kita baru jalan-jalan." dengan riangnya Elliot berkata seolah tengah berwisata. "Tak apa, kan?"


Clarissa menggeleng pelan, "Tidak apa-apa."


Toh pada dasarnya ia duluan yang mengajak makan. Jadi, sambil jalan-jalan nantinya tentu tidak masalah.


"Syukurlah," Elliot tadi sempat khawatir akan merepotkan Clarissa.


Elliot lantas mengambil tasnya dan mengiyakan ajakan Clarissa. Kapan lagi ia akan menghabiskan malam Natal bersama seseorang di luar keluarganya?


Clarissa berjalan bersisian dengan Elliot dengan rasa canggung. Meski berwisata di tempat ia sering berlalu-lalang agaknya terasa aneh.


"Ayo, aku mau membeli Sandwich dulu."


Clarissa menarik Elliot untuk ke mini market terdekat. Membeli beberapa Sandwich mungkin.


"Atau mungkin nanti kita ke kedai teh saja?"


"Tentu," ia mengikuti Clarissa yang menarik tangannya ke minimarket. "Ah, kedai teh juga tidak buruk."


Otaknya yang bendul itu terlalu berpikiran lurus. Andaikan Elliot diberi permen oleh orang asing pun, ia akan mengambilnya tanpa pikir panjang lagi.


Kayaknya tahu akan kebiasaan (buruk kalau boleh dibilang) dari Elliot. Tapi Clarissa tidak mau berkomentar lebih lanjut, ia tidak mau merusak momen saat ini.


Elliot bisa dibilang jarang (atau mungkin tak pernah?) sadar bahwa kebiasaan buruknya itu kadang membuat orang lain kesal. Atau mungkin bingung mengapa ia bisa berlaku demikian.


Akhirnya Clarissa dengan menggandeng Elliot, pergi dulu ke minimarket untuk membeli beberapa Sandwich. Dan segera ke kedai teh untuk bersantap makanan yang mereka punya saat ini.

__ADS_1


Elliot malah terlihat begitu bahagia digandeng oleh Clarissa ke minimarket dan membeli beberapa sandwich dan diajak ke kedai teh.



Untung teh merupakan hal yang biasa di Inggris, jadi banyak kedai teh di sana. Clarissa segera memesan teh untuk mereka dan untuk menghangatkan diri.


Setelah pesanan teh untuk mereka sampai, Clarissa pun membuka pembicaraan untuk mereka.



"Kau ... pasti tahu kan aku mengajakmu untuk membicarakan sesuatu?"


"Hm?" sembari memakan sandwich-nya, Elliot mendengarkan tanya Clarissa. "Ah, saya sudah tahu kalau kau mengajak saya ke sini pasti ada sesuatu, kan? Jadi, saya boleh tahu tentang apa?"


Senyumnya merekah lebar. Sepertinya Elliot menghadapi sesuatu tanpa beban. Meski pada kenyataannya tidak demikian. Apapun itu, ia sudah persiapkan diri.


Ketika sudah sampai pada tahap ini, lidahnya kelu. Padahal beberapa saat yang lalu Clarissa sudah tahu ia ingin mengucapkan apa.


"Jadi ... itu ..."


Mengambil nafas dalam.


1 ... 2 ... 3 ...


Keheningan melanda.


GAK, GAK BISA BEGINI!


Tiba-tiba Clarissa menggebrak mejanya. Lalu menatap lurus ke arah Elliot.


"ELLIOT, AKU MAU KAU MENJADI KEKASIHKU!"


Kok seperti melamar? Masa bodo, ah.Hatinya mau masuk ke lubang terdekat saja. Malu.


Tunggu. Tunggu. Biarpun otaknya bendul, namun ia masih mampu untuk memproses apa yang dikatakan oleh Clarissa.


"Ha?" pipinya memerah sempurna dan Elliot pun merasa otaknya tak mampu berpikir cepat. "Sebentar, Clarissa. Tenang dulu."


Kaget karena sampai gebrak meja begitu. Ia juga sulit berpikir cepat. Tarik napas, buang napas.


Elliot, berpikirlah. Ia tak boleh menggantungkan pertanyaan itu begitu saja di udara.


"Clarissa, saya...." ia membuka suara. "...waktu pertama kali bertemu denganmu, saya merasa bahwa saya tertarik padamu. Namun, saya khawatir perasaan ini bertepuk sebelah tangan."


Ia menatap lembut gadis di depannya dan berujar.


"Clarissa Arthur Mycenae, saya menerima pernyataanmu dan mau menjadi kekasihmu."


Clarissa jatuh terduduk dengan mata terbebelak, tidak, ia tidak sama sekali tidak memperdulikan sekitarnya yang kini menatap kedua insan dengan sumringah.


Oke, ini memang salahnya membuat keributan.


Tapi sungguh, Clarissa tidak tahu bagaimana menyatakan cinta. Heck, jatuh cinta saja rasanya seperti ia masuk ke dalam dongeng.


Dan nyatanya memang iya, Clarissa hanya mengikuti cara menyatakan cinta yang terdapat dibuku (entah buku apa) lalu mempraktekannya ke Elliot.


"Eh? Beneran nih?"


Hanya itu yang keluar setelah Clarissa berdiam diri mencerna balasan dari Elliot.


"Tentu saja benar, Clarissa," senyum lembut tetap terpatri di ranum sang bentala yang tak kunjung luntur.


"Saya menerima perasaanmu dan bersedia menjadi kekasihmu," Elliot menegaskan kembali kalimatnya beberapa waktu lalu.


Tetap tenang meskipun sebelumnya detak jantungnya berpacu tiga kali lebih cepat. Untungnya kali ini sudah sangat tenang.


"Saya tak menyangka bila akan dapat kado malam Natal seindah ini."


Kali ini jantungnya berdegup lebih kencang. Tapi daripada malu, Clarissa benar-benar 𝑐𝑙𝑢𝑒𝑙𝑒𝑠𝑠 dengan sikapnya saat ini.


Padahal ia duluan yang mengungkapkan perasaannya, tapi sekarang malah kebingungan. Entah, tapi rasanya ia hanya takut.


Takut jika kebahagiaan yang ia rasakan kali ini hanya berubah menjadi mimpi buruk. Sama seperti saat keluarganya mengkhianatinya dulu.


"Aku ... yang seharusnya berterima kasih. Karena telah menerima perasaanku."


Meski lidahnya kelu, namun terucap juga. Jika ... ini mimpi pada malam Natal, ia rela tidak bangun. Tanpa sadar, ada air mengalir dari matanya.


"Ahh ..."


Clarissa menyadarinya ia sedang menangis, "Kado Natal dan ulang tahun terindah ..."

__ADS_1


Clarissa mengucapkan sisanya seraya menghapus air matanya, tubuhnya juga bergetar sedikit. "Selanjutnya ... tolong bantuannya."


Dan senyumnya terpatri kembali di wajahnya.


__ADS_2