
Pantai di musim dingin bukanlah destinasi tepat untuk dikunjungi. Namun bagi planet ke delapan dari tata surya ini tidak ada masalah dengan cuaca dingin.
Untunglah saat ini laut tidak sedang mengamuk, sehingga Elliot bisa datangi untuk diambil sebagai objek foto. Saat jerijinya hendak menekan tombol kameranya, ada objek aneh tertangkap kameranya.
"Eh?"
Netranya mencoba melihat fokus ke arah objek yang tertangkap lensanya tadi. Sosok itu memiliki rambut dengan warna dan model yang sama sepertinya.
Sedang apa di sana? Karena penasaran, Elliot pun mendekatinya.
Sementara itu di tempat sosok yang tadi dilihat oleh Elliot, berdirilah seorang pria yang tengah menikmati embusan angin laut yang menurutnya sangat sejuk. Terlahir di negeri yang diselimuti salju setiap saatnya membawa Figgy—nama pria itu, mengunjungi pantai meski cuaca terasa sangat dingin.
Untuk manusia biasa, mungkin mereka akan mengenakan pakaian super hangat. Berbeda dengan pria ini, pakaian kasual yang selalu ia kenakan sudah cukup.
Duduk di pesisir pantai, memandang cerahnya langit sore, seakan menanti matahari tenggelam. Sekali lagi Figgy berpikir untuk melalui laut agar bisa mencapai bulan. Akan tetapi, lamunan tersebut buyar tatkala langkah kaki terdengar. Kepala ditoleh, sedikit didongak. Melihat sosok lain datang menghampiri.
"Bahkan ada pengunjung pantai di cuaca sedingin ini?" kemam pun lolos dari celah ranum Figgy.
ㅤ
Angin dingin yang berhembus di pantai saat ini bukanlah sesuatu yang menghambat baginya. Tubuh manusianya Elliot sudah diatur sedemikian rupa oleh sang bunda agar memiliki karakteristik hampir sama dengan tubuh aslinya di luar angkasa sana.
Itu sebabnya Elliot hanya memakai pakaian yang tipis dan cukup membuat orang lain berpikir bahwa galih satu ini lumayan sinting untuk berada di cuaca ekstrim.
Langkahnya semakin mendekat pada sosok yang Elliot lihat melalui lensa kamera tadi. Netranya seketika membola saat melihat sosok tersebut.
Tunggu, yang ada di hadapannya ini.... Tanpa sadar Elliot memegangi wajahnya sendiri. Bagaikan bercermin, ia melihat sosok Figgy serupa dengannya.
"Qui êtes-vous? (Anda siapa?)" spontan Elliot bertanya dalam bahasa Prancis. "Ah, maksudnya 'Anda Siapa?'"
"Hm?"
Begitu yang mendekat memperkecil jarak, tersadar pria ini akan wajah mereka yang nampak .... Serupa. Bukan main, kedua mata Figgy melebar sebagai bentuk ekspresi kejut yang sangat jelas.
Penyihir lain yang menyamar menjadi dirinya? Namun, ada yang aneh. Figgy rasa dunia ini tak memiliki banyak penyihir, berbeda dengan dunianya. Selain itu benda di tangan pria itu—Elliot maksudnya, seperti hanya ada di sini. Sementara kepala digunakan untuk mencerna situasi, itu mendorong Figgy masuk ke lamunan kembali yang sangat dalam.
Suara itu memecah segalanya, segala kemungkinan yang sedang Figgy coba cari berhamburan menjadi kepingan.
"... Oh—" Akhirnya Figgy berinisiatif untuk berdiri. Entah situasi menarik ini mengundang prakarsa. "Aku? Seorang dokter yang sedang menikmati pemandangan laut." Lalu Figgy memberi jeda di antara kalimatnya, tersenyum. "Bagaimana denganmu?"
Figgy tak merasakan bahaya dari figur itu, namun waspada tetap dilakukan. Meski ia menghindari pertempuran yang tidak perlu.
Demi Bunda Mentari dan alam semesta emas. Bumi yang ia kunjungi ratusan tahun lalu ini kadang menyediakan leluconnya tersendiri. Begitu yang Neptunus—atau yang kita kenal dengan nama manusianya yakni Elliot, tahu.
Terpekur sesaat untuk menelaah situasi yang berlangsung saat ini. Sosok di hadapannya ini benar-benar seperti pinang dibelah dua dengannya.
Oh, bedanya hanya suaranya dan tinggi badan mereka saja. Itu yang Elliot tahu setelah mendengar penjelasan dari pria ini.
"Dokter?" alisnya mengkerut.
Elliot lantas melihat ke arah lain. Tidak salah bila pria ini berkata demikian.
"Saya seorang fotografer lepas," jelas Elliot seraya menunjuk kamera dalam genggaman. "Saya pikir, mengabadikan momen seperti sekarang dengan lensa kamera saya."
"Nama Saya Elliot Alexis Le Verrier, panggil saja saya Ellie atau Neptune." ia memperkenalkan dirinya pada Figgy. "Kalau Anda?"
"Benar. Ya, dari apa yang ada di sini..." Figgy mengayunkan stetoskop yang menggantung di leher menggunakan jemarinya, sekilas. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok di hadapan. "Sudah dipastikan sebagai bukti bukan?"
Dengan suatu alasan Figgy dapat memahami, bagaimana alat itu tidak diperhatikan. Pasti lawan bicara merasakan hal yang sama dengan Figgy, akibat sebuah persamaan di antara mereka.
"Cukup panggil Figgy. Senang bertemu denganmu disini, Ellie. Mm... Fotografer? " Kalau tidak salah Tuan Pertapa pernah memberitahu istilah mengenai fotografer. Di dunia tempat Figgy singgah, sebuah kamera tak terjumpa. Namun, beruntung ada seseorang yang selalu mengenalkan dunianya sehingga Figgy tahu sebagian dasarnya.
"Ah〜 Tempat ini memang bagus untuk diabadikan pemandangannya. Aku tidak menghalangi pekerjaanmu, kan?"
"Ah," benar juga. Elliot tidak melihat benda tersebut tadi. Sepertinya ia terlalu fokus pada hal lain dan tidak benar-benar memperhatikan sosok di depannya ini.
"Anda benar. Maafkan saya yang meleng tadi."
Kadangkala ibunya itu tidak bisa ditebak, layaknya lonjakan lidah api yang kadang membuat saudara-saudaranya ketakutan setengah mati. Saat memberikannya tubuh manusia ini pun, Elliot tak tahu apa yang dipikirkan oleh pusat tata surya itu sehingga membuatnya sama persis dengan pria berasmakan Figgy ini.
"Non," menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Anda tidak mengganggu pekerjaan saya, Monsieur Figgy." senyum gulanya merebak.
Elliot tidak dibatasi deadline juga. Jadi, ia bebas menentukan pemandangan apa yang akan ia ambil dengan kameranya itu.
"Apakah Anda langsung ke sini sehabis bekerja, Monsieur?" tanyanya pada Figgy karena rasanya agak aneh masih pakai /pakaian dinas/ ke tempat ini.
Arah mata Figgy mengikuti setiap gerak-gerik Elliot, sebelum menjawab pertanyaan melalui kata— Figgy menanggapi dengan anggukan ringan.
"Mhm. Aku berniat untuk mencari angin segar setelah bekerja dan justru berakhir datang ke tempat ini, ahaha. Butuh relaksasi sejenak sebelum kembali pulang. Jadi... sudah berapa gambar yang kau ambil malam ini?"
__ADS_1
"Mm," alih-alih menjawab jumlah foto yang diambil, Elliot memperlihatkan foto-foto yang ia tangkap dengan lensa kameranya termasuk gambar Figgy yang sempat mampir di objek yang ia foto. "Jika Anda ingin, nanti saya akan mencetakkan fotonya untuk Anda."
Gelombang laut pun Elliot foto tadi. Siapa tahu ia benar-benar bertemu dewa laut yang merupakan pecahan dirinya. Netranya mengerjap beberapa kali. Berusaha untuk memahami silabel demi silabel yang terluntak.
"Tapi, pantai serta lautnya bagus untuk menyegarkan pikiran, kok. Siapa tahu juga bisa bertemu dengan dewa laut, kan?" Elliot berkelakar.
Tapi tidak bisa dibayangkan juga akan seperti apa jadinya bila Elliot bertemu dengan Poseidon saat ini. Pecahan dirinya itu tak pernah suka bila dipanggil di luar sesuatu yang penting. Seingat Elliot begitu.
ㅤ
Tubuh Figgy sedikit condong ke samping untuk melihat lebih jelas gambar-gambar terambil oleh kamera yang ada di tangan Elliot. Tidak paham betul bagaimana cara kamera bekerja, namun hasil yang ada di layar itu terbilang bernilai.
Mengabadikan momentum yang belum tentu bisa dilihat untuk kedua kalinya, meninggalkan kenangan di dalam objek itu. Bibir sang pria membentuk lingkaran kecil atas reaksi sebelum mengalirkan beberapa kata dari mulutnya.
"Oohh〜 Kau berbakat! Boleh juga, alat bernama kamera ini." Mungkin si penyihir bernama Yule itu bisa menciptakan benda ini. Tapi, yakin tidak akan semudah itu.
"Dicetak? Aku tak akan menolaknya. Lumayan untuk disimpan sebagai kenang-kenangan, ahaha."
Pergantian topik itu disambut ekspresi heran oleh Figgy, kepala dimiringkan dengan kelopak mata yang dikerjapkan secara bersamaan.
"Dewa laut?" Kali pertama Figgy mendengarnya, pertanyaan langsung dituai oleh penyihir ini.
Sang planet membiarkan pria yang memiliki rupa sama dengannya itu memperhatikan gambar-gambar yang ia perlihatkan dari kamera di tangannya. Sepertinya Figgy nampak begitu mengagumi potret yang ada di sana. Itu yang ia tangkap dari matanya, sih.
Elliot sering memenjarakan berbagai reminisensi dalam tangkapan lensanya. Memastikan bahwa semua itu tidak akan lari ke mana-mana. Bukan dalam artian buruk. Elliot melakukan itu agar bisa mengenang masa lalu.
Kutukan menyedihkan itu membuat ingatan-ingatannya akan kejadian lampau memburam dengan cepat. Sialnya, kutukan itu tak mampu disembuhkan.
"Merci beaucoup, Monsieur. (Terima kasih banyak, Tuan) Saya merasa tersanjung."
Kadang Elliot tak menyadari bahwa konversasi yang ia rasa ringan, menimbulkan tanda tanya bagi sang interlokutor. Seperti sekarang ini.
"Sosok yang berkuasa penuh atas kehidupan di laut," netra Elliot mengarah pada ombak yang menari-nari di hamparan warna biru tak jauh dari tempatnya berada saat ini.
"Konon bila ia muncul, artinya akan ada pertanda buruk. Karena biasanya ia muncul di laut ketika terjadinya badai dan gelombang laut yang mengamuk."
Elliot menggambarkan Poseidon berdasarkan cerita yang ia dengar dari earthling yang ia temui tentunya. Cerita-cerita yang disajikan sungguh menarik perhatiannya dan kadang tanpa sadar terluntak begitu saja.
"Ngg, sejauh ini saya belum pernah bertemu dengannya, sih. Meski seringkali saya mengunjungi pantai dan berharap lensa saya menangkap sosoknya tanpa sengaja." ungkapnya dengan apa adanya pada Figgy.
Nampaknya Elliot lupa bahwasanya ia sering berjumpa dengan Poseidon. Namun sepertinya ingatannya terhapus seiring dengan bertambahnya jumlah kutukan yang harus ia tanggung.
Menyimak baik-baik kisah yang dibawakan Elliot, lembar ingatan yang terselip entah di mana dalam kepala Figgy seketika ditemukan. Hanya sekilas Figgy melirik Elliot sebelum memusatkan pandangan pada pemandangan di hadapan lagi. Sebelum sempat menjawab, tawa kecil Figgy mengalir dari celah bibirnya.
"Sekarang aku ingat pernah mendengar cerita itu dari seseorang. Dewa laut itu ... Terdengar mengagumkan dan mengerikan disaat yang bersamaan, bukan?" Beropini terang-terangan, senyum tipis Figgy sudah serupa dengan sejuknya angin malam di pantai yang sepi ini.
"Seseorang itu berkata, mungkin hanyalah mitos karena hal tersebut adalah bagian dari kepercayaan beberapa orang. Tapi, di dunia ini rasanya apapun bisa terjadi. Dari yang masuk akal menjadi yang sangat tidak masuk akal." Figgy menghela napas pelan.
"Hei, Ellie." Kepala ditolehkan pada Elliot kemudian. "Jika kau bertemu dewa laut, dan kau tahu bahwa dia berbahaya ... Mengambil gambar bukankah beresiko untuk keselamatanmu? Kenapa kau masih ingin melakukannya?"
Rungu menyimak baik-baik apa saja yang dikatakan oleh Figgy. Tatapannya lantas teralih pada ujung horizon di mana garis laut dan bulan bertemu. Merenung sejenak.
Elliot merasa, kali ini ia berhadapan dengan dirinya sendiri. Dewa Laut Poseidon atau Neptunus, adalah bagian dari dirinya. Hanya saja, bagaimana caranya agar Elliot bisa menjelaskan hal tersebut pada pria yang notabenenya baru ia kenal?
"Saya tidak menyangkal pernyataan tersebut, Dewa Laut memang mengagumkan sekaligus mengerikan," Elliot kembali ke alam sadarnya dan membuka suara. Memberikan opininya.
"Meski Poseidon berbahaya, ada banyak cara untuk bertemu dengannya tanpa menyulut emosinya. Hanya saja harus menunggu waktu yang tepat." hari spesial bagi sang Dewa tentunya, yakni Lectisternium. Elliot harus melakukannya di hari tersebut.
"Tadi Monsieur bertanya mengapa saya tetap melakukannya walau itu berbahaya, kan? Saya selalu totalitas dalam pekerjaan saya, termasuk mencari foto itu. Bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk khalayak umum." jelasnya pada Figgy tanpa ragu.
Jika Figgy berkesempatan untuk bertemu Dewa Laut ini, kira-kira apa yang akan ia perbuat? Jika Dewa Laut ini bisa dengan mudahnya diajak bercengkerama, kira-kira apa yang akan Figgy katakan?
Ini akan terdengar jauh lebih konyol, namun mungkin Figgy berharap beliau bisa membawanya mengarungi lautan agar sampai ke bulan. Karena ... Statusnya adalah Dewa, bukan? Sebab Figgy pernah hampir mati kedinginan ketika mencoba melewati jalan menuju bulan melalui laut. Ia percaya, keluarga yang telah punah dari tempat lahirnya sekarang hidup bahagia di sana.
Figgy perlu menemui mereka agar tidak mati sendirian. Entah cara apa yang bisa Dewa itu pakai— Kalau Figgy bisa sampai ke sana, kenapa tidak? Setiap lawan bicara membalas, Figgy selalu menyimak. Meskipun suaranya dicampur oleh suara ombak kecil, dan hembusan angin malam yang halus. Lalu, dengan nada bicara seakan tertarik diloloskan.
"Wah, benarkah? Kau bisa membantuku kalau suatu saat nanti bertemu dengannya." Tawanya terdengar jenaka, namun ada sedikit keseriusan dalam dirinya.
Benar atau tidaknya Figgy akan melakukan 'pengandaian' itu.
"Totalitas ... Ahaha, kau benar. Pasti mengerjakan sesuatu dengan sempurna akan memuaskan pribadi kita sendiri. Hanya saja, diperlukan kehati-hatian ekstra agar kau tidak terluka, Ellie."
Sosok bentala berhelai biru ini pun mencoba merangkai kata dalam benak. Apa yang akan ia katakan pada Poseidon nantinya? Setelah ia membagi dua dirinya (yang ini tentu berdasarkan cerita dari Poseidon sendiri, karena nyatanya ia mengidap amnesia), Elliot hampir-hampir tak pernah lagi menemui Poseidon. Hanya sekali dalam setahun, itupun tidak setiap tahun Elliot menemui Poseidon di hari ulang tahunnya.
"Oui, tentu saja, Monsieur," menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Jika Monsieur tidak ada halangan, tanggal 23 Juli nanti kita bisa menemuinya bersama-sama."
Elliot bukan sedang membual, namun itulah waktu yang tepat untuk menemui sang Dewa.
Mendengar nasihat dari Figgy, ia menganggukkan kepalanya mantap.
__ADS_1
"Tenang saja, saya akan berhati-hati. Sebab akan sulit menyembuhkan luka saya nantinya karena saya mengidap hemofili," ini bukan candaan, lukanya sangat sulit sembuh setiap kali Elliot terluka. Butuh waktu sangat lama dari yang seharusnya dan itu sangat merepotkan.
ㅤ
Ah, betapa menariknya legenda tersimpan di beberapa bagian dunia ini. Figgy senang membaca buku, mempelajari sesuatu; terutama yang sangat terbaru. Oleh karena itu pengetahuan milik Figgy terbilang sangat luas akibat rajin meluangkan waktu untuk mencari buku-buku yang menurutnya berguna untuk kepentingan dirinya, juga kepentingan lain.
Berujar kenalannya itu; Figgy mengerjap. Benar ada keinginan untuk bertemu secara langsung dengan sosok bernama Poseidon itu, tapi waktunya akan tiba juga, eh?
"Woah, kau bersungguh-sungguh? Sebuah kehormatan jika betul aku bisa menemuinya secara langsung. Dengan senang hati, akan kuluangkan waktu bersua dengannya." Telapak tangan di dada, Figgy menunjukkan rasa suka citanya melalui gestur barusan.
"Akan aku ingat itu, Ellie. Apakah ia bisa muncul di tempat ini?"
Itu bukan legenda sebenarnya. Tapi bagaimana mengatakannya, ya? Ingatan Elliot saat membagi dirinya menjadi dua terhapus sebagian. Ia tidak lagi mampu mengingat pastinya kapan ia datang ke bumi.
Hanya bisa ingat bahwa pertama kali ia datang pada abad ke 15. Itu satu-satunya momen yang bisa Elliot ingat secara pasti.
Kembali ke masa kini, seseorang dengan perangai sopan dan halus hadir penuh pengharapan. Meski Elliot tidak paham dengan tujuan pria ini, ia tetap menghormati keinginan earthling ini untuk bertemu dengan Poseidon.
"Saya bersungguh-sungguh, Monsieur. Adakah kontak yang bisa saya hubungi darimu agar kita bisa berangkat bersama-sama?" ia memberikan jeda sejenak sebelum menambahkan kalimatnya. "Ataukah kita ingin langsung bertemu di sini saja?"
"Sayangnya, aku tidak punya kontak yang kau inginkan, Ellie," ranum meloloskan ekshalasi. "Namun, aku akan menemuimu lagi di sini. Tanggal 23 Juli, kan?"
Elliot menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Figgy. Nampak senyum sumringah di paras sang penyihir.
"Kalau begitu, aku akan datang ke sini pagi-pagi supaya tidak ketinggalan~"
ㅤ
Baru saja Elliot hendak membalas perkataan Figgy, ponselnya berdering. Rupanya Despoina meneleponnya.
"Sebentar, Monsieur."
Setelahnya terdengarlah percakapan dalam bahasa Prancis yang sudah pasti Figgy tidak ketahui maknanya apa. Namun Figgy hanya dapat menebak-nebak, mungkin saja Elliot mendapatkan telepon dari keluarganya?
"Maaf, Monsieur Figgy. Saya harus pulang sekarang," ucap Elliot dengan nada penuh penyesalan.
Ah, sayang sekali. Padahal Figgy masih ingin bercengkrama dengan sosok Elliot. Tapi ia tidak menunjukkan kekecewaannya di sana.
"Tidak apa, Ellie. Bagaimana pun yang menunggumu jauh lebih penting." sekilas ada rasa iri terpancar dalam matanya.
"Sekali lagi, saya minta maaf," Elliot melangkahkan tungkai kembarnya menjauh dari lokasi itu. "Sampai jumpa."
Di pantai itu, Figgy menatap lurus-lurus ke arah laut di mana jalan membentang menuju ke bulan terlihat jelas. Ranumnya meliuk membentuk senyuman.
"Nah, apakah Anda nanti bisa mengabulkan pintaku, wahai Poseidon?"
— Bersambungㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
__ADS_1
ㅤ
ㅤ