
Sosok bertubuh tinggi itu tengah merapikan berkas-berkas penelitian yang harus diberikan pada petinggi organisasi. Clarissa Arthur Mycenae, atau jika dalam samaran laki-lakinya bernama Ryan, menghela napas pelan. Setidaknya dua sampai tiga berkas yang ia periksa, semuanya memuat hal yang sama.
Penelitian tentang pengejawantahan benda langit. Entah dia mendapatkannya dari mana, yang jelas semua hasil penyelidikannya membuahkan tiga berkas.
"Bumi, Uranus, Venus...." Ryan bergumam ketika memeriksa berkas. "Seharusnya ada Neptunus, tetapi catatannya tidak lengkap."
Belum ada perintah dari Meliora, pemimpin organisasi sihir yang mempekerjakan dirinya. Ryan mengetuk-ngetuk dagunya sejenak. Ain kembarnya membaca kembali laporan tersebut.
Dering telepon menyentak Ryan dan membuatnya menyumpah serapah karena terganggu. Dengan gusar, disambarnya gagang telepon dan menjawab.
"Mycenae di sini."
「Oh, di luar dugaan kau sudah bangun, murid bodohku? Bagaimana pekerjaanmu sejauh ini?」suara manis nan mengejek terdengar dari seberang sana.
"Guru," Ryan memijat pelipisnya sejenak. Meski Kazuto dengan dirinya adalah guru dengan murid, namun Kazuto lebih sering menggunakan gaya bahasa yang cukup menyebalkan. "Ada apa meneleponku pagi-pagi begini? Aku sedang ada pekerjaan."
「Oh, muridku sudah mulai sok sibuk sekarang, ya? Bagus. Pertahankan! Mungkin kau akan jadi penyihir besar dan segera melampaui gurumu.」
Ryan memijat pelipis lagi. Jika Kazuto sudah berbicara begitu, pastilah apa yang akan disampaikan sangatlah penting.
"Aku minta maaf. Tolong, jangan marah lagi. Aku akan mendengarkan." dengan merendah, Ryan mencoba membujuk pria itu agar tidak mendiamkan dirinya.
「Baiklah, dengarkan.」Ryan bersiap untuk menelinga. 「Barang langka nan menarik tiba di tempatku dini hari tadi. Aku ingin kau memeriksanya.」
"Sekarang?" Ryan melirik jam di dekatnya. Pukul 07.30 pagi.
「Tahun depan. YA SEKARANG LAH. BUAT APA KAMU BERTANYA?!」
Mampus. Gurunya sudah naik pitam. Ryan mendadak migrain lagi.
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Guru jangan marah lagi." ia segera menutup teleponnya dan menyambar jaket kulit yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Sebelum mengambil kunci motor, tanpa sengaja ia tertegun di depan cermin besar yang ada di dekat pintu masuk. Sosoknya benar-benar seperti laki-laki macho sekarang. Bahkan tidak nampak sosok asli dirinya yang seorang wanita bernama Clarissa Arthur Mycenae.
Mungkin ia harus bersyukur dengan pelatihan dirinya selama ini. Walau kadang orang-orang mencurigai Ryan karena nampak manis dan suaranya yang agak serak. Menimbulkan kesan imut. Namun dugaan itu terbantah saat Ryan menggunakan senapan ataupun senjata berat yang notabenenya akan sulit digunakan perempuan.
Ryan sendiri terkadang lupa akan kodratnya sebagai wanita, jika saja ia tidak mendapatkan tamu bulanan. Di luar itu, penyamarannya sebagai pria sukses besar.
Motor besarnya kini melaju di jalanan dengan kecepatan tinggi. Ryan mengaturnya sedemikian rupa agar ia bisa sampai secepat mungkin di tempat Kazuto.
Sesampainya di tempat Kazuto, Ryan pun bergegas menemui sang guru. Dilihatnya pria berambut kelam dengan rahang tegas itu tengah melipat tangan, seolah tahu bahwa dirinya akan datang.
"Cepat juga kau datang, Clarissa." senyum mengejek Kazuto terpampang.
"Guru, aku kan sudah bilang. Kalau aku dalam penampilan begini, panggil aku 'Ryan'!" gadis dalam sosok laki-laki itu menukas.
"Kau khawatir ada orang yang memata-mataimu? Jangan cemas, di sini hanya ada kau dan aku." Kazuto dengan santainya mematahkan semua kekhawatiran Ryan. "Lagipula, siapa yang bisa menghancurkan barrier yang kubuat?"
Benar juga. Ryan baru menyadari hal tersebut. Barrier yang dipasang oleh Kazuto memungkinkan siapa saja yang Kazuto undang untuk bisa masuk ke dalam. Artinya jika bukan Kazuto yang mengundang masuk, tiada yang bisa menembusnya.
"Jadi, apa yang ingin Guru bicarakan?" tanya Ryan tidak sabar.
"Ini..."
"Alat Rune yang membentuk pelindung bila ditancapkan ke ruangan dengan mana yang cukup besar." jelas Kazuto sembari menatap muridnya. "Patung itu bisa berguna dalam aksimu. Meski tidak bisa menyegel matamu, sih."
"Lalu kapan saya harus memperbaiki segel mata saya lagi?" Ryan bertanya dengan tidak sabar.
"Tunggu hingga barang berikutnya sampai ke mari. Aku cukup kesulitan untuk mendapatkannya, tahu." jawab Kazuto acuh tak acuh.
Ryan nampak ragu saat hendak menanyakan hal yang ia temukan di situs penggalian pada gurunya. Namun siapa tahu pria itu mengetahuinya.
"Guru, apakah Guru mengetahui sesuatu tentang penelitian perwujudan benda langit?" tanya Ryan tanpa menunggu waktu lagi.
__ADS_1
"Aku pernah dengar. Itu adalah penelitian tertutup dan juga informasi yang mereka kelola sangatlah rahasia. Tidak sembarangan orang bisa mengaksesnya." Kazuto menghela napas. "Bahkan akupun tak bisa mengaksesnya."
Itu artinya keamanan data-data menyangkut penelitiannya tingkat tinggi. Hacker professional saja tidak bisa akses, apalagi hacker biasa. Ryan mencurigai sesuatu.
"Mungkin Guru pernah dapat bocoran?" sekali lagi Ryan berusaha mengorek informasi dari gurunya.
"Yah, yang aku tahu dari penelitian itu adalah... mereka mencoba untuk meneliti struktur tubuh para perwujudan benda langit itu. Lalu mereka akan memeras mana yang dimiliki oleh para perwujudan itu hingga habis." jeda sejenak tercipta, Kazuto menyelipkan sebatang rokok dan menyulut ujungnya. "Tapi, jika eksplotasi itu berlanjut... bukan tidak mungkin jika bumi dan seluruh alam semesta akan menemui kehancuran sebelum waktunya. Kiamat dini. Apakah kau sanggup?"
Ternyata segawat itu, ya? Ryan membatin.
"Dari pada kau mengejar penelitian itu, kenapa kau tidak melanjutkan penggalian terhadap barang-barang purbakala? Kau kan arkeolog?" pertanyaan Kazuto membuat Ryan seketika berjengit saking kagetnya.
Sebenarnya untuk beberapa alasan, Ryan menunda penggalian dan beralih ke penelitian mengenai benda-benda langit yang mewujud menjadi manusia. Namun sepertinya gurunya ini lebih peka.
"Aku..." ragu seketika menyergap. Sebenarnya, ia juga bingung mengapa terobsesi dengan penelitian yang dikomandoi oleh Meliora itu. "...hanya menjalankan apa yang diperintahkan Meliora padaku."
Kazuto berdecak. Rautnya terlihat begitu kesal ketika mendengar nama itu disebut.
"Clarissa, kau itu bukan boneka mereka! Jangan menuruti begitu saja apa perintah mereka!" nada bicara Kazuto pun naik 3 oktaf.
"Tapi!" Ryan segera menukas ucapan gurunya. "...hanya mereka yang tahu ke mana kakak angkatku pergi, dan cara melepaskan kutukan ini, Guru!"
Kazuto seketika terhenyak. Pada leher Ryan terdapat semacam tato berbentuk aneh. Kazuto mengenalinya sebagai segel yang diberikan oleh organisasi itu pada orang-orang tertentu dengan kemampuan berbahaya. Ryan alias Clarissa adalah salah satunya.
Kutukan yang dimaksud.... Ah, mungkin terlalu cepat bagi Kazuto untuk mengetahui lebih lanjut.
"Aku mengerti, maaf bila aku sedikit keterlaluan tadi," Kazuto pun menghela napas pelan.
Percuma juga mencegah Ryan, gadis berpenampilan laki-laki itu tak akan mengurungkan niatnya. Meskipun nantinya akan ada bahaya besar yang ditemui Ryan pun, Ryan pasti tak akan peduli.
"Guru..."
__ADS_1
"Aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Kazuto seraya masuk ke dalam ruangan gelap. Meninggalkan Ryan termenung seorang diri di ruang tamu tersebut.
—bersambung