Planetes

Planetes
3. c. Yes or No?


__ADS_3

Ryan menatap Elliot dengan tidak percaya. Pria ini, ia memperkenalkan diri sebagai apa? Neptunus katanya tadi? Ryan tidaklah bodoh. Dari pada menyuruhnya percaya atau tidak kepada sosok di depannya adalah Planet, namun yang ia tidak percayai adalah bertemu langsung.


Semudah ini. Tempat Ryan diperbudak adalah Lore Department yang berada di Menara Suci. Departemen yang langsung di komandoi oleh Direktur pendiri Asosiasi Sihir Hitam, dan yang paling Herectic disana.


Berbeda dengan Archaeology Department yang masih meneliti barang-barang seputar bumi, Lore membahas sesuatu yang lebih dalam yaitu Artifact yang bukan berasal dari dunia ini.


Contohnya adalah Ultimate One. Bukan mengenai Gaia (bumi) atau pun Alaya, yang merupakan bahasan 'umum' di tempatnya. Melainkan Ultimate One, salah satu dari jenis Type.


Dari informasi yang Ryan dapatkan, salah satu Ultimate One yang pernah terdeteksi di Bumi adalah Type-Mercury. Yang kabarnya mendarat di Amerika Selatan pada tahun 5000 SM.


Ryan sendiri pernah kesana, dan mengkonfirmasi sendiri bahwa informasi tersebut benar adanya. Ia telah melihat sesuatu yang luar biasa pada waktu itu. Namun sekarang?


Ada seseorang yang mengaku sebagai Neptunus. Apa bisa ia kategorikan, Ultimate One? Type-Neptune? Ryan punya berkasan tentang hal itu di apartemennya.


"Aha..."


Ryan menepuk wajahnya, menutupi wajah tersebut, mencoba mencerna hal yang terjadi.


"Ahahahahahahaha!"


Setelah memahami kondisi dan situasinya, Ryan hanya tertawa sebagai respon dari perkataan Elliot.


Tertawa. Reaksi umum para earthlings yang Elliot tahu ketika ia memperkenalkan diri sebagai Neptunus. Planet ke delapan dalam sistem tata surya di galaksi Bima Sakti.


Sejauh yang bentala ini ketahui, rata-rata dari mereka akan menganggapnya sebagai pembual ataupun berhalusinasi.


Siapa juga sih yang akan percaya bahwa ia adalah avatar dari planet yang terkenal akan hujan berlian dan badainya yang gila-gilaan itu? Orang yang hanya berpedoman pada logika pasti akan berkata 'Non-Sense' dengan keras.


Meskipun demikian, Elliot tidaklah berhalusinasi pun membual. Untuk apa? Tiada faedahnya bagi dirinya yang terkungkung dalam kehidupan abadi saat ini. Ralat. Nyaris abadi.


Di tangan Mentari ataupun makhluk celestial lainnya, kehidupannya bisa berakhir. Itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.


Kesampingkan hal tersebut. Kini Elliot harus bisa menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh galih berhelai kelam tersebut. (Ya, Elliot hanya tahu bahwa Ryan adalah pria. Bukan seorang gadis yang menyamar sebagai pria.)


"Saya tahu itu akan sulit dipercaya, namun saya tidak akan memaksakan pandangan saya pada earthlings sepertimu."


Nada suaranya tidak sedikitpun mengalami perubahan. Kehidupannya yang melewati waktu di luar batas kewajaran membuatnya lebih mampu mengontrol emosi pun ekspresi.


"Tapi jika kau mempercayainya, apa yang akan kau lakukan pada saya? Membunuh saya seperti yang kamu lakukan kepada orang-orang itu?" Ia pun bertanya pada Ryan tanpa basa-basi ataupun menunjukkan rasa panik di wajahnya.


Ryan menghentikan tawanya, ia telah mendengar seluruh penuturan sang wira di depannya. Memang benar, apa yang di ucapkan olehnya sungguh tak masuk akal.


Dan apa itu tadi, earthlings? Panggilan manusia bumi, kah?


Ryan mengatur napasnya sebelum menatap dengan tatapan tajam. Saat ini ia memakai topeng yang lain. Suaranya juga lebih berat dan dingin dibanding tadi.


"Aku tidak mentertawakanmu karena ucapanmu. Tetapi karena aku tidak percaya bertemu langsung dengan Planet."


Ryan mulai menyeringai. Sudah lama juga ia tidak memakai topeng yang ini, biasanya ia hanya memakai sebagai manusia baik hati yang lemah lembut.


"Perkenalkan namaku Ryan Mycenae. Maafkan perkenalan yang terlambat. Aku adalah seorang magus dan juga...."

__ADS_1


Menimbang-nimbang perkataan selanjutnya, apa Ryan harus mengatakannya? Keputusannya bulat. Karena kapan lagi kejadian langka ini akan datang kedua kalinya.


"....menyelidiki tentang kalian. Katakanlah, kalian sebagai objek penelitianku."


Menyematkan senyuman dingin di wajahnya untuk Elliot.


Oh tidak. Senyuman itu dan silabel yang terluntak dari ranum wira berhelai kelam ini sama sekali tidak ia harapkan untuk lihat ataupun dengar. Bentala berasmakan Elliot ini benci segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian.


Samar-samar, Elliot masih ingat penyebab utama dirinya menderita hemofilia hingga sekarang. Perwujudan planet seperti dirinya, menderita penyakit yang menyebabkan ia terus-menerus berdarah atau lebam setiap kali mengalami luka ataupun terkena pukulan.


"Saya bingung, mengapa saya harus mendengar kalimat seperti objek penelitian atau semacamnya. Apakah para magus juga akan melakukan penyiksaan seperti di abad pertengahan demi memenuhi rasa ingin tahu mereka?" alisnya menghenyit.


"Baiklah, Ryan. Saya tahu bahwa keberadaan saya mungkin sebuah ancaman bagi kaummu. Kaum kalian. Para earthlings. Namun, bukan tujuan saya untuk menjadi sebuah ancaman di bumi. Saya ingin melindungi kalian."


Sedari awal Elliot memiliki wujud ini, itu yang menjadi tujuannya, kan? Apa lagi?


"....saat ini tolong berikan saya waktu sebentar. Saya butuh memanggil seseorang." meski kecil kemungkinannya, ia akan tetap berusaha untuk melakukannya.


"Atau kau bisa membantu saya?" ia menatap lurus Ryan .


Kutukan-kutukan ini menyiksa. Elliot jadi benar-benar kesulitan menjalani harinya dengan normal sekarang.


Mendengar hal itu terucap, Ryan menaikkan sebelah alisnya. Perkataannya seperti dia ーElliotー sudah pernah menjadi objek penelitian sebelumnya.


Ryan jadi merasa... bersalah? Ryan tahu rasanya menjadi objek penelitian, karena ia juga mengalami hal serupa. Baiklah, ini salahnya karena tidak menyaring dulu omongannya.


Menundukkan kepala, sebelum menghela napas berat. Dan Ryan kembali mendongak, tapi kali ini dengan wajah sedikit ramah dibanding tadi. Karena Ryan memutuskan untuk memakai topeng wajah 'ramah'-nya kembali.


Kalimat setelahnya Ryan ucapkan dengan nada kecil, bermonolog ria seraya berharap jika Elliot tidak mendengarnya. Asosiasi Sihir Hitam sangat kental akan para magus yang selalu meneliti guna mencapai apa yang mereka sebut sebagai eternity. Dan penelitian mereka kebanyakan tidak manusiawi, Ryan kembali teringat dimana ada magus yang menggunakan manusia menjadi makanan makhluk yang ia ciptakan.


Alas ーatau mungkin beruntungー magus itu tertangkap karena hampir mengungkapkan aktivitas sihir.


"Ngomong-ngomong apa katamu tadi? Membantumu?" Kembali alis gadis yang tengah menyamar sebagai lelaki ini menyerit, melihat Elliot dengan tatapan bertanya-tanya.


"Tidak apa-apa, saya memakluminya, Ryan," Elliot mengibaskan tangannya di depan wajahnya dengan santai. "Lagipula itu terjadi ratusan tahun lalu."


Kalimatnya mengindikasikan bahwa usianya lebih tua dari yang terlihat. Lagipula semua benda langit tidak ada yang berusia muda, kan? Meski di luar galaksi Bima Sakti sekalipun, yang ia ketahui jarang ada atau bahkan hampir mustahil benda langit berusia ratusan atau ribuan tahun. Paling muda adalah jutaan tahun.


"Saya tidak keberatan bila kau ingin menanyai saya apapun," seulas senyum terbetik di ranum. Merasa lega bahwa dirinya tidak perlu lagi ditusuk-tusuk jarum ataupun dipaksa berkeringat—yang sialnya bukan berupa air, melainkan berupa butiran berlian asli.


"Saya dengan senang hati akan menjawabnya." Elliot meletakkan tangan kanan di dada kirinya. Kendati ia tidak tahu apa yang dilakukan para magus demi penelitian mereka, setidaknya ia bisa mempercayai Ryan saat ini. Percaya bahwa ia tidak akan merasakan sakit atau apapun.


"Ah, itu..." mulai dari mana, ya? "Apakah kau bisa menghancurkan kutukan?"


Sang bentala menatap ke arah Ryan dalam-dalam. Seolah penuh pengharapan.


"Ada... Sekitar 12 kutukan yang saya terima akibat ritual gaib. Saya binggung mulai menceritakannya dari mana, tapi yang jelas karena hal itu.... Saya jadi kesulitan hidup normal sekarang."


Banyak pertanyaan yang ada di otak Ryan saat ini, ia sendiri tidak tahu harus darimana memulainya. Sosok di depannya, bisa terbilang ramah. Dan apa katanya tadi? Ratusan tahun? Penelitian terhadap sosok itu?


Tapi Ryan tidak pernah menemukan hal seperti itu selama ini. Atau mungkin memang benar-benar disembunyikan, entahlah.

__ADS_1


Jari-jari yang masih terbalut sarung tangan putih ーwalau telah kotorー mengusap dagunya perlahan, juga mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Untuk sesaat Ryan lupa dengan keadaan dirinya yang jauh dari kata baik. Matanya juga sakit.


Tunggu.


Apa yang dibenaknya barusan? Matanya sakit?


Sial. Mana yang sebagian besar untuk menyegel matanya semakin sedikit, pantas saja jadi sakit karena sudah melemah.


Ryan menutup matanya dulu, ia tidak mau matanya diketahui oleh siapapun. Termasuk yang bernama Elliot ini, tidak sekarang.


"Aku mendengarkan."


Ryan melipat lengannya, matanya sudah menutup, sekarang hanya mengandalkan indra pendengarannya.


"Jadi intinya kau terkena 12 kutukan akibat ritual gaib dan menginginkan diriku untuk mencabut satu-persatu benar?"


Meski hal itu ーsangatー membuat kaget dirinya karena sesosok Planet itu bilang melakukan ritual gaib. Bukan masalah bagi Ryan karena ia pernah mempelajarinya, namun bedanya ia tidak mendalami cara kerja kutukan. Harus bertanya pada yang lebih ahli daripada dirinya.


Di samping itu Ryan juga berpikir jika ini bisa menjadi langkah yang bagus untuk memulai, ia membantu Elliot dan Elliot akan membantu penelitiannya. Vice versa.


"Namun sebelum itu, bisa aku menginap dirumahmu? Jika tidak keberatan."


Ada yang aneh dari anak muda bernama Ryan ini. Tapi, untuk menanyakannya Elliot rasa tidak sopan. Apalagi mereka belum lama mengenal.


Lebih baik sang bentala menyimpan pertanyaannya dalam diam. Untuk penelitian itu sendiri, memang dilakukan sangat rahasia.


Apalagi Elliot adalah objek maha berharga yang pastinya akan mendatangkan keuntungan bagi mereka. Tetapi yang ia ingat, fasilitas itu sudah lama hancur demi menyembunyikan hasil penelitian mereka. Meski hal ini ia dengar dari Laurens.


Tidak ada lagi yang tersisa dari tempat mengerikan itu. Buana berasmakan Elliot ini memejamkan matanya sejenak. Mengenyahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu jauh-jauh. Enggan tersulut emosi kembali meski ia kini tersegel kekuatannya karena kutukan.


"Bukan saya yang melakukan ritual gaib tersebut, melainkan orang-orang terdekat saya." sedikit menggegat gigi ketika mengingat semua itu. "Mereka meninggal dalam ritual, sementara saya yang tidak bisa mati terkena dampaknya."


Ironisnya ketika kutukan itu adalah kutukan yang mencabut nyawa, Elliot tidak bisa mati. Sebagai gantinya kutukan itu mengganggu kehidupannya.


"Benar, saya ingin kau mencabutnya satu persatu dari saya." Elliot berharap banyak pada pemuda bernama Ryan ini.


Setidaknya, Elliot ingin kehidupannya kembali normal. Akan sangat merepotkan bila kutukan itu menghambat kehidupan sehari-harinya.


"Boleh, rumah saya tidak jauh dari sini. Saya tidak keberatan jika kau ingin menginap." ia menganggukkan kepalanya dan menatap ke arah Ryan .


"Bisa berjalan?" tanyanya. Jika kondisinya mendesak, Elliot akan menggendong anak muda ini ke rumahnya nanti.


Mendengarkan penuturan dengan seksama. Jadi, Ryan menangkap dua hal. Pertama, Elliot pernah punya keluarga. Kedua, keluarganya ini (ya, Ryan menganggap bahwa Elliot telah menikah dan istri serta anak-anaknya dikira manusia) bermain ritual dan menyebabkan mereka dibunuh.


Otak Ryan lagi-lagi pusing dibuatnya, sepertinya memang ia harus menyusun daftar pertanyaan. Tidak menyangka makhluk di depannya ini bisa mengerti konsep cinta.


Meski ia pernah menyelidiki tentang Type-Venus yang sudah terkena serpihan Humanoid jadi tahu akan konsep cinta. Bahkan jadi mempunya prinsip, "Jatuh cinta dengan cinta."


Oke, pikirannya sudah kacau. Ia butuh tidur.


"Aku akan memikirkan caranya, namunー" Ryan mulai berdiri saat sang planet tersebut menanyai ia bisa berjalan atau tidak. "ーaku akan pikirkan dengan tenang sehabis istirahat."

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2