Planetes

Planetes
3. g. The Fact behind Ryan Identity


__ADS_3

Di luar dugaan, kemampuan berkendara lanang ini memang tidak perlu diragukan. Setali tiga uang dengan dirinya yang biasa mengarungi berbagai tempat dengan berbagai kendaraan. Meski Elliot lebih prefer mengendarai motor dari pada kendaraan lainnya.


Terbukti dengan itu, mereka sampai lokasi lebih cepat. Elliot meloloskan ekshalasi. Tidak salah ia memilih motor berjenis trail yang memang kuat melalui berbagai medan.


"Sampai! Sudah lama tidak naik motor!"


"Kau memang hebat, Monsieur." pujinya seraya mengikuti Ryan memasuki bangunan yang terkesan usang itu.


Ketika ia sudah selesai dengan mengendarai motornya, Ryan mendapat pujian dari Elliot. Lagi-lagi Ryan hanya menggaruk pipi dengan wajah sedikit memerah, ia jarang mendapat pujian. Kalaupun dapat, rasanya hanya berupa basa-basi tak mengenakkan hati.


Pada dasarnya Elliot memuji seseorang bukan karena atas dasar basa-basi. Ia memang tulus memuji seseorang. Seperti yang biasa ia lakukan pada rekan-rekan sejawatnya ataupun pada anak-anaknya.


Menurutnya, mereka pantas mendapatkan apresiasi. Seperti itulah yang selalu tertanam dalam benak sang bentala.


Puas dengan kemampuan berkendaranya, mereka tiba lebih cepat dari yang seharusnya. Mereka pun segera masuk kedalam, untuk mendapati seorang pria berambut kelam dengan rahang tegas yang sepertinya baru saja selesai mandi dan sedang mau merokok.


『Cepat sekali kalian ke sini. Aku tidak menyangka akan secepat ini juga.』


Komentar pria tersebut sambil menghisap rokok, ia kemudian melirik ke arah sang planet biru dengan tatapan tajam miliknya.


『Tidak biasanya kau membawa orang bersamamu.』


"Untuk satu dua hal aku menerima permintaannya ..." Ryan berpikir apakah ia harus menjelaskannya ataukah tidak, "... dia terkena kutukan maka dari itu aku membantunya."


Tidak lama tawa dari pria itu meledak,『Ahahahaha! Kau? Membantunya? Kurang bisa dipercaya jika kau tidak meminta harga sepadan. Yah, baiklah, aku tidak akan bertanya lebih. Itu bisnis kalian.』


Kazuto lantas mendekati Elliot, dan mengulurkan tangannya.


『Sepertinya belum terlambat untuk berkenalan. Namaku Muraki Kazuto. Guru dari Ryan.』


Sesaat, sang buana terkesiap. Bukan apa-apa, suasana di dalam ruangan ini begitu singup. Ada aura tertentu yang tidak bisa Elliot jabarkan dengan kata-kata. Lalu merasa agak rikuh mendengar percakapan antara Ryan dengan pria berambut kelam berkacamata itu.


Elliot merandek tatkala mendengar langkah kaki mendekat dan ia lantas menyambut uluran tangan Kazuto. Tak lupa menggurat senyum khas miliknya.


"Elliot Alexis Bouvard Urbaine Le Verrier, Monsieur Muraki. Senang berkenalan dengan Anda. Anda bisa memanggil saya Elli untuk singkatnya."

__ADS_1


『Baiklah, kalian bisa ikut ke workshop-ku. Karena di situ aku akan memberitahumu sesuatu.』


Kazuto menuntun mereka berdua hingga sampai ke ruang kerjanya, atau biasa disebut ruang penelitiannya. Di sana terdapat banyak boneka berbentuk manusia asli, dan ruangan itu agak gelap dengan remang kemerahan.


Lalu, sang adam berambut kelam itu mengeluarkan kotak berwarna hitam besar.


『Ini adalah hal yang mau kuberitahukan kepadamu. Namun sebelumnya aku menanyai dulu perihal kedatanganmu.』ucap Kazuto seraya menghisap rokoknya lagi. Ia menatap tajam ke arah Ryan.


Ryan agak tidak nyaman dengan tatapan tersebut, padahal ia juga mempunyai 'sisi' tersebut.


"Jadi, Elliot terkena kutukan dari ritual manusia. Lalu, kutukan tersebut membebaninya. Aku ingin menghilangkan kutukan tersebut, tapi Guru tahu sendiri aku kurang paham dengan konsep kutukan." jelas Ryan, seraya menyerahkan kertas berisi daftar kutukan yang dialami Elliot.


Kazuto membaca kertas itu dengan seksama, mulanya ia kaget dan justru sekarang menatap tajam ke arah Elliot. Seolah sedang mencari tahu siapa sebenarnya sosok pria berambut kebiruan tersebut.


"Aku menceritakannya dengan jelas nanti. Identitas tentang Elliot." Ryan mengerti arti tatapan tersebut, "Namun untuk sekarang bisa kah membantu kami dulu, Guru?"


Kazuto menghisap rokoknya dalam-dalam, sebelum menghembuskan asapnya.


『Baiklah...』


Lantas di sinilah Elliot sekarang, di sebuah tempat lain dari kediaman sang galih yang disebut sebagai 〔workshop〕tadi. Netranya menerawang ke sekelilingnya. Tempat ini sangat aneh menurutnya. Membuatnya bergidik.


Setelahnya ia mendengarkan Ryan menceritakan hal ihwal kedatangan mereka ke tempat ini. Raut wajah jejaka itu berubah tatkala Ryan menyodorkan kertas yang ia tuliskan. Ah, tatapan itu kini tertuju pada dirinya. Membuatnya tersenyum rikuh.


"Apapun yang kalian ingin tanyakan nanti, akan saya jawab dengan jujur. Tenang, saya tak akan menyembunyikan apapun." Elliot pun mulai bersuara setelah terdiam cukup lama. "Omong-omong, mohon bantuannya, Monsieur Muraki." ia merundukkan tubuhnya pada sang adam dengan sopan.


『Kazuto saja boleh.』Kazuto menanggapi ucapan Elliot sebelum ia menjauh, kini ia menyender di meja kerjanya.


"Baiklah, Kazuto-san." agak aneh baginya yang biasa memakai bahasa Prancis ketika mengubah dialeknya.


Namun ia tak bisa menanggalkan sopan santunnya. Begitulah sisi jelek sang bentala. Ia agak keras kepala dalam soal ini.


『Sebelumnya Ryan, ada yang ingin kutanyakan. Menurutmu apa dari persamaan semua kutukan ini?』Kazuto langsung menanyainya, rasanya benar-benar seperti guru yang menanyai ketika muridnya sekolah.


Ryan mencoba mengingat-ingat, "Mereka semua ... Roh?"

__ADS_1


Meski agak ragu, namun hanya itu yang bisa ia ambil kesimpulan.


『Benar. Meski ritual-ritual ini banyak jenisnya. Namun mereka satu, yaitu Roh. Dan roh sama seperti jiwa, mereka hanyalah jiwa-jiwa yang mencari wadah.』Kazuto tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. 『Tentu saja jiwa berbeda dengan tubuh. Tubuh hanyalah wadah, mereka tidak mempunyai tujuan. Berbeda dengan roh, mereka masih ada tujuan. Tinggal manfaatkan saja tujuan mereka.』


"Memanfaatkan tujuan mereka..." Ryan kali ini mencoba berpikir lagi, tujuan dari mereka itu apa. "... apa mungkin. Membunuh manusia yang melakukan hal tersebut?"


Setelahnya, ia mendengarkan guru dan murid itu saling tanya-jawab. Berdiskusi menggenai permasalahan yang tengah dialaminya. Untuk sesaat, Elliot meringis.


Apakah Elliot kini merepotkan earthling lagi untuk masalah ini? Sejujurnya ia tak mau ada korban lagi dalam hal ini. Meskipun Elliot ingin terbebas dari kutukan, tidak berarti ia meminta seseorang menggantikan posisinya.


『Benar sekali. Jika ritual mereka berhasil, maka tidak terjadi apa-apa. Namun jika gagal? Mereka akan mengincar hidupmu. Kau hanya tinggal memanfaatkan lagi kegiatan ritual tersebut lalu membunuh mereka.』


"Tunggu! Maksud Guru aku harus melawan mereka?!"


Ryan tidak mempercayai apa yang ia dengar, melawan roh? Sudah gila kali gurunya. Sementara Kazuto hanya menatap Ryan heran.


『Memang kenapa jika kau melawan mereka? Jangan bilang kau tidak tahu maksudku apa?』


"Memangnya apa?" Menatap kesal sang guru, "Aku tidak punya apa-apa untuk melawan. Kecuali Rune yang Guru ajarkan."


『Ya ampun, aku tidak menyangka kau merendahkan dirimu sampai seperti ini. Yang kumaksud adalah matamu itu. Jangan bilang kau lupa kalau kau mempunyai mata tersebut Ryan!』


Kini gurunya berteriak sebal. Ryan mengerjapkan matanya, ia sama sekali lupa jika mempunyai Mata Mistik. Mau bagaimana lagi, ia jarang memakainya.


『Mata milik Gorgon, atau lebih tepatnya Medusa. Adalah kunci melawan kutukan ini.』


Atensi Ryan lantas beralih ke Elliot. Sejujurnya ia agak melupakan sang planet biru tersebut, namun sekarang Elliot sudah mengetahui rahasia terbesarnya.


'Aku sungguh ceroboh.'


Ryan menepuk mukanya.


Diskusi semakin rumit tatkala pemecahan dari semua masalah itu adalah Ryan diharuskan melawan roh-roh tersebut. Bahkan ia dikejutkan dengan satu hal.


Mata milik lanang berasmakan Ryan ini adalah mata mistik. Terlebih lagi mata milik Medusa. Gorgon yang pernah berurusan dengan Poseidon.

__ADS_1


Takdir memang selucu itu. Elliot mengakuinya. Bagaimana bisa ia bertemu dengan sesuatu yang dicampakkan dirinya yang lain di masa lalu di era ini?


Rasanya pengejawantahan dari Neptunus ini ingin menangis. Ia tentu tak dapat menutupi rasa terkejut yang membalur di peroman. Karena itulah, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak berani bertemu pandang dengan Ryan.


__ADS_2