
Despoina menunggui Ryan yang tengah tertidur dengan tatapan tajam. Tentu saja ia mengetahui identitas gadis itu sejak awal, makanya ia waktu itu menatap tajam Ryan sebelum pergi bersama papanya.
Ketika mereka tiba di rumah Triton—maksudnya William, Despoina melarang Elliot masuk ke dalam kamar.
「Papa kan laki-laki. Tidak boleh masuk ke kamar perempuan!」Despoina menegaskan.
"Eh, tapi kan waktu itu...."
「Ini dan itu berbeda. Sudah, Papa tunggu saja di luar bersama Kakak.」setelah berkata demikian, Despoina mendorong Elliot keluar kamar.
Despoina lantas menggantikan pakaian Ryan dengan gaun tidur dan melepaskan wig yang gadis itu kenakan. Sejenak, Despoina agak iri karena Ryan—maksudnya Clarissa, memiliki rambut panjang yang halus dan terawat.
「Kenapa Papa bisa tertarik dengan gadis ini?」gumamnya pelan.
Despoina tidak keberatan jika ayahnya menyukai wanita manapun, asalkan jangan wanita satu ini. Firasatnya mengatakan bahwa hubungan wanita ini dengan ayahnya tak akan berakhir baik.
Tiga hari berlalu dan perlahan, netra kuning milik Clarissa pun terbuka. Lagi, ia merasa pusing ketika terbangun dan menatap sekelilingnya.
「Kau sudah bangun, Mademoiselle Clarissa?」suara yang cukup familiar membuat wanita yang baru saja terbangun dari pingsannya itu berjengit.
"Bagaimana..."
「Aku tak mungkin memanggilmu Ryan dengan sosok begitu, kan?」Despoina mengulurkan cermin pada sang puan.
Melihat pantulan dirinya, Clarissa sedikit gugup karena ia tak biasa melihat sosoknya sendiri saat ini. Despoina menghela napas.
「Harusnya kamu bersyukur, karena memiliki penampilan yang manis dan juga menarik, Mademoiselle. Kenapa malah nampak kaget dan gugup begitu?」ucapan Despoina terdengar seperti keluhan. 「Ini, minum dulu. Tertidur tiga hari pasti membuat suaramu serak.」gadis berambut merah itu menyodorkan jus elderberry pada Clarissa.
Clarissa menerima gelas jus dengan canggung. Senyum tipis pun terulas di ranum.
"Terima kasih, Despoina." ia lantas meneguk jusnya hingga tandas. "Anu, apakah kau yang menggantikan bajuku?"
「Tentu saja. Mana mungkin Papa yang melakukannya. Meski kau menyamar sebagai laki-laki, kau tetaplah seorang Wanita.」Despoina menekankan kata wanita. 「Karena kesadaranmu telah pulih, aku akan memanggilkan Papa.」
Clarissa mendadak panik. Tidak mungkin ia menemui Elliot dalam sosok seperti sekarang. Despoina menghela napas.
__ADS_1
「Nih.」Ia memberikan kembali wig dan pakaian laki-laki Clarissa. 「Aku tahu kalau kau tak akan mau menemui Papa dengan sosok begitu.」
"Terima kasih, Despoina." Clarissa segera mengganti pakaiannya dan tak lupa memakai kembali wignya. Kini ia kembali menjadi Ryan.
「Tunggu di sini, aku akan panggilkan Papa.」Despoina lantas melenggang keluar kamar untuk memanggil Elliot.
Ryan menghela napas pelan. Dua kutukan telah ia musnahkan, sisanya masih ada 10 lagi. Tapi, bagaimana ia bisa memusnahkannya? Dua saja sudah membuatnya ambruk begini. Belum lagi Chylara berusaha mendobrak keluar.
'Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup melakukan Hell Level Hide and Seek atau tidak.' Ryan pun membatin.
"Clarissa?" suara yang familiar di telinga Ryan membuat gadis dalam samaran laki-laki itu merandek. "Syukurlah, kau sudah sadar."
Tanpa menunggu reaksi dari Ryan, Elliot sudah menghambur ke arah Ryan dan memeluknya erat. Ryan merasa rikuh dan canggung karena sebelumnya Elliot tidak melakukan ini padanya. Setelah Elliot tahu dirinya adalah wanita, perlakuan Elliot padanya berubah.
"Elliot, bisa tolong lepaskan aku? Rasanya tidak nyaman," pipi Ryan sudah sangat merah saat ini, dan ia tak mau Elliot melihatnya. "Lalu tolong jika kita tidak sedang berdua saja, jangan panggil aku dengan nama asliku."
"Baiklah," meski sedikit kecewa karena baru sejenak memeluk sang gadis, namun ia senang karena Ryan baik-baik saja. Elliot pun melepaskan pelukannya dan menyunggingkan senyumnya. "Jika itu tetap membuatmu aman, saya akan melakukannya."
Melihat Elliot secepat itu menuruti dirinya, Ryan pun kebingungan. Biasanya orang-orang akan marah begitu mendapatkan penolakan darinya. Tapi pria ini....
"Eh? Tapi, apa saya tidak boleh melakukan sesuatu untuk orang yang saya sukai?"
"EL! JANGAN BERCANDA! INI TIDAK LUCU!" Ryan pun membentak Elliot. Wajahnya sudah sangat merah karena malu.
"Saya serius, kok. Sama sekali tidak bercanda," jawab Elliot yang entah mengapa tetap terlihat tenang dan santai, bahkan di situasi begini.
Ryan pun melunak dan nampak sedih. Meskipun nada defensif telah ia keluarkan, tidak sedikitpun ada perubahan pada raut wajah Elliot. Entah pria itu benar-benar lugu ataukah bodoh natural.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, El. Kau tahu, bagi diriku yang membuang rasa kemanusiaan. Sulit bagiku untuk memahami perasaan cinta." lirih nada bicara sang gadis. Menandakan ia belum bisa menerima pernyataan sang planet.
"Tidak apa-apa, saya tidak akan memaksamu, Clarissa. Saya hanya ingin menyatakannya saja." lagi, raut wajah Elliot tidak menampakkan perubahan. Membuat Ryan semakin bingung dan kalut.
"Kau terlihat lebih manusia dari pada aku, apakah karena kau hidup lama?"
"Entah?" Elliot menjawab dengan tenang. "Meski dibilang demikian, tapi tubuh ini kosong tanpa adanya jiwa. Mana bisa dibilang manusia?"
"El, kau selalu bilang begitu." Ryan menghela napas. "Padahal kau memang terlihat lebih 'manusia' ketimbang aku." Ryan menyandarkan kepalanya di bahu Elliot.
__ADS_1
"Clarissa?"
"Diam! Biarkan aku begini dulu!" ucap Ryan ketus.
"Baiklah," tangan Elliot lantas menepuk-nepuk pelan punggung sang gadis.
Kesal, Ryan pun menggigit bahu Elliot. Tidak peduli yang bersangkutan akan berteriak kesakitan ataupun terdapat bekas di bahu pria itu.
Elliot hanya menahan rasa sakit yang menjalar di bahunya. Ia berpikir, apakah ia sudah menyinggung perasaan gadis ini, ya?
"Mau saya bawakan makanan?" tawarnya pada Ryan saat mendengar suara perut yang memecah keheningan.
"Be, berisik!" Ryan memalingkan wajahnya. Warna merah terlihat jelas dari telinganya.
"Baiklah, tunggu di sini, ya." Elliot beranjak dari tempat tidur sang gadis dan melenggang menuju ke arah dapur.
Setelah sosok Elliot tak lagi nampak di matanya, Ryan menghela napas. Dadanya berdebar-debar dan merasakan wajahnya memanas.
'Tidak boleh, aku tidak boleh jatuh cinta pada Elliot. Lagipula, dia kan duda beranak banyak!' pemikiran itulah yang mencegah Ryan untuk menerima pernyataan tulus dari Elliot. (Meskipun sebenarnya tidak tepat bila Elliot dikatakan duda, karena Elliot tidak pernah menikah seumur hidupnya.)
Ryan merogoh saku celananya dan mengeluarkan liontin berisikan foto keluarganya. Di sana terdapat foto seorang pemuda berambut merah dengan mata hijau tengah menggandeng anak perempuan.
"Kakak...." desisnya pelan sembari mendekap liontin itu.
"Clarissa, makanannya sudah siap," suara bass Elliot mengejutkan Ryan.
"BISA TIDAK SIH KALAU MAU MASUK TUH KETUK PINTU?!" Ryan pun menggelegar karena merasa Elliot mengusik privasinya.
"Eh? Tapi, tadi saya sudah mengetuk pintu berulang-ulang, lho. Kalau tidak percaya, William dan Despoina bisa jadi saksi." ia menunjuk orang di belakangnya. "Err, termasuk maid dan butler di rumah ini juga...."
"Oh, maafkan aku kalau begitu," Ryan mendadak salah tingkah dan memasukkan liontinnya ke dalam saku celana. "Apa menu sarapan hari ini?" setengah berharap yang dihidangkan adalah makanan kesukaannya.
"Chicken Cordon Bleu, pasta tomat, dan susu madu," Elliot menyodorkan nampan berisikan makanan yang ia sebutkan. "Ayo, sarapan dulu."
Tanpa banyak bicara, Ryan pun mengambil piring makanan dan menyantapnya dengan lahap. Elliot menghela napas lega dan mengambil piringnya sendiri.
[Tak apa, Clarissa. Selama kau merasa senang, apapun akan saya lakukan. Bahkan jika yang kau inginkan adalah kematian saya pun, saya dengan senang hati melakukannya.] pikir Elliot. [Sampai saat itu tiba, biarkan begini dulu....]
__ADS_1