Planetes

Planetes
1.b. Memories in Firework Festival (edited)


__ADS_3

Tahun baru telah tiba dan Elliot baru selesai dengan segala pekerjaan yang membuat penat. Ini adalah hari ketiga di bulan Januari, otomatis terhitung agak terlambat untuk melakukan Hatsumode dan semacamnya.


"Apakah masih sempat?" ia menggumam.


Tungkai kembar ia langkahkan menuju ke kuil terdekat. Siapa tahu sang bentala masih bisa melakukan acara wajib tahun baru.


Netranya menangkap adanya sosok yang tidak asing baginya. Meski Elliot jarang mengajak pria ini berbicara, namun ia mengenalnya.


"Bonjour, Monsieur Shion. Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini," ia menyapa pria itu, Shion. "Apakah kau ingin berkunjung ke kuil juga?"


Shion yang lagi-lagi menginjakkan kaki ke mari. Terpuruk masa lalu, kenangan terlalu sulit terlupa. Sang jejaka sibuk terdiam memandangi deret anak tangga yang terus dipijak oleh para pengunjung.


Sampai namanya disebut membuat pria berkacamata hitam tersebut menoleh. Sepertinya ia terlalu larut dengan lamunannya hingga tidak sadar dirinya dipanggil, eh?


Tentu saja Shion mengenal Elliot karena mereka berada di apartemen yang sama. Malahan mereka bersebelahan tinggalnya.


"Saya tidak yakin." entah mengapa Elliot menangkap adanya kegelisahan dalam nada suara wira satu ini. "Sedari tadi hanya melihat orang lalu-lalang. Bagaimana dengan Anda?"


Shion mengangkat beberapa inci kacamatanya yang sedikit menurun dari tempatnya bertengger.


"Oh, saya jua menunggu acara bunga api." responsnya begitu terlambat terhadap pertanyaan Elliot beberapa waktu lalu.


Planet ke delapan dari tata surya ini tertegun sesaat. Ia hanya ingin melakukan agenda wajib di tahun baru.


Walau Elliot tak yakin apakah urutannya sudah benar ataukah belum.


"Saya hendak mengetahui peruntungan saya di tahun ini," apa ya, namanya? "Omikuji atau apalah itu saya tak tahu sebutannya."


Hidup lama ternyata tak menjamin dirinya tahu segala hal. Ini contohnya.


"Kembang api?" Elliot melirik ke arah langit. "Saya rasa waktunya masih cukup lama, Monsieur. Bagaimana jika kita menarik peruntungan dahulu?"


Bukan sekedar basa-basi, namun ia memang ingin mengajak Shion untuk mengetahui peruntungan lewat ramalan. Meski ia sendiri mampu melakukannya, sih. Hanya saja ia menggunakan kartu tarot sebagai media.


Omikuji. Tentu saja Shion pernah mengunjunginya dan itu benar-benar masih melekat pada pikiran.


"Benar. Namanya Omikuji."


Sahut Shion membenarkan ujaran pria satu ini lalu terlihat menarik lengan mantel hitamnya di bagian kiri sesaat; memperlihatkan waktu menunjukkan pukul 11.45 waktu setempat.


"Ya, saya rasa masih lama."


Ajakkan itu awalnya ditanggapi ragu oleh si jejaka berpakaian serba hitam itu—Shion. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya menganggukan kepala sebagai persetujuan.


"Ya sudah. Meski saya sendiri tidak yakin akan keberuntungan tersebut."


Shion mengendikkan bahu; agaknya kurang percaya perihal tersebut mengingat... dirinya bukan manusia namun seorang malaikat maut. Ujaran tersebut membuat kening Elliot berkerut. Apakah ada yang salah dalam kalimat ajakannya tadi?


Tanpa sadar ia menelisik penampilannya sendiri saat ini. Kalau dipikir-pikir, pakaian yang dikenakan olehnya tidak seperti orang kebanyakan di musim dingin. Mana ada orang yang hanya mengenakan kemeja dan celana panjang tanpa memakai mantel atau sejenisnya di udara sedingin ini?


Tapi karena Elliot bukan manusia, ia merasa tak membutuhkan semua itu. Terlebih lagi naturnya adalah planet dengan cuaca ekstrim.


"Kalau tidak salah," Elliot menebar pandangannya ke sekitar tempat itu. Bermaksud mencari lokasi di mana orang-orang biasanya menarik Omikuji. "...di sebelah sana."


Deriji milik Elliot menunjuk sebuah tempat. Bisa dibilang tempatnya lebih kecil dari pada kuil utama. Namun, tempat itu entah mengapa ramai sekali oleh pengunjung.


Kebanyakan dari mereka adalah wanita. Neptunus—atau yang biasa dikenal di dunia manusia sebagai Elliot ini, tidak memedulikan tatapan aneh orang-orang terhadapnya. Toh ia sebenarnya bukan manusia, melainkan jelmaan planet.


"Jangan begitu, siapa tahu Monsieur dapat peruntungan yang bagus kan?"


Pemikirannya sungguh positif. Entah apa yang mendasari dirinya berkata demikian.


Selagi mereka berbincang, antrian makin lama makin berkurang. Sehingga ia dan Shion pun semakin dekat dengan Omikuji.


"Mau saya dulu atau Monsieur dulu?" tanyanya pada Shion.

__ADS_1


Tepat di atas tangga di bagian sisi kanan kuil utama. Ujaran pria satu ini hanya dibalas oleh Shion dengan manggut sesaat. Kemudian keduanya menaiki anak tangga sembari Elliot terus berceloteh dan akhirnya antrian semakin memendek. Giliran mereka akan segera tiba.


"Anda duluan saja." Shion memberikan jawabannya.


Peruntungan bagus? Shion sama sekali tak mengharapkannya. Atau tepatnya, tidak terlalu percaya. Hal itu... semuanya telah diatur. Takdir memutuskan dan manusia menentukan ke depannya.


Sebenarnya Elliot bukan tipe yang banyak bicara. Namun, situasi ini cukup membuatnya merasa nyaman untuk mengajak seseorang untuk bercakap-cakap. Dalam hal ini, Elliot mengajak Shion untuk berbicara.


Ia pun tidak keberatan dengan respon Shion yang berupa anggukkan kepala. Setidaknya perkataannya masih didengarkan.


"Baiklah," Elliot lantas mengambil kertas Omikujinya dan melihatnya. "Oh."


Di sana tertulis 'blessing'. Apakah ini akan menjadi awal yang bagus untuk tahun ini?


"Blessing." ia menunjukkan kertasnya pada Shion.


Blessing. Keberuntungan yang bagus untuk sebuah undian seperti itu menurut Shion.


Kali ini gilirannya yang mencoba menguji keberuntungan diri. Setelah cukup lama terdiam memandangi tiap lipatan kertas. Salah satunya pun ditarik dan Shion segera saja membuka kertas tersebut.


Sue-sho-kichi; keberuntungan kecil di masa depan. Ia hanya memperlihatkan lembar kertas tersebut pada jejaka di sampingnya.


"Satu langkah kurang beruntung."


Sebenarnya Elliot tidak mengerti mengapa bisa mendapatkan peruntungan yang menurutnya lumayan. Namun, Elliot bukanlah seorang yang begitu percaya dengan ramalan atau sejenisnya.


Abaikan dirinya yang merupakan seorang tarot reader. Ia melakukan hal ini atas dasar 'melakukan agenda wajib tahun baru'. Tapi, Elliot tak akan memaksakan pandangannya pada orang lain.


"Mon dieu," kebiasaannya saat terkejut pun mencuat ke permukaan. "Menurut saya itu masih termasuk beruntung, kok."


Elliot bermaksud untuk menyemangati pria tersebut.


"Nde, mau berdoa dulu?" deriji sang bentala menunjuk ke arah kuil utama.


Mengendikkan bahu dan segera saja melipat kembali kertas yang Shion pegang ke dalam saku celana.


Shion menukas dan melihat kearah deret pengunjung yang mengantri sembari menghela napas kecil; cukup ramai.


"Mari."


Ya, sepertinya butuh sepuluh menit. Kemudian menunggu sesi kembang api akan dimulai.


Planet ke delapan dari tata surya ini meloloskan kekehan kecil. Ia tidak mengelak. Perkataan Shion memang ada benarnya.


"Semoga saja tahun ini menjadi tahun yang baik untukmu, Monsieur."


Elliot menepuk pundak pria tersebut akrab. Lantas netra merahnya kembali menyisir lokasi di mana mereka berada saat ini. Tungkai kembar lantas membawa diri menuju ke arah kuil utama dan berdiri di altarnya.


Elliot bukan penganut Shinto, pun agama lainnya di bumi ini. Ia pun bukan seorang atheis.


Karena itu ia menerima segala jenis kepercayaan. Apapun itu.


Tangannya lantas meraih tali besar yang terhubung dengan lonceng di altar, menggoyangkannya sesaat sebelum menepukkan tangannya 2 kali.


Barulah berdoa pada siapapun yang ada di kuil ini untuk memberkahi dirinya.


Elliot lantas melirik ke arah Shion. Apakah pria itu ikut berdoa?


Antrian yang kian lama terkikis membawa keduanya sampai di depan altar. Ujaran sebelumnya hanya dibalas ketenangan seorang Shion.


"Ya, semoga saja."


Satu tangan terarah masuk ke dalam saku celana, kala keduanya telah dihadapkan altar dimana orang-orang kerap kali membunyikannya dulu baru berdoa, namun Shion tak melakukannya dan terlihat mengeluarkan makrame perak dalam telapak tangan. Menatap benda tersebut sendu kemudian mengenggamnya erat.


"Ήθελα απλώς να σε γνωρίσω, 爱.''

__ADS_1


Ungkapnya berbisik kemudian terlihat merunduk dalam di depan altar sejenak dan menunggu Elliot selesai berdoa.


Dalam keheningan, telinga sang planet mendengar bisik sang galih dengan jelas. Bahasa asing. Elliot tidak mengetahuinya karena daya ingatnya akan hal-hal semacam itu terkikis seiring berjalannya waktu.


Kalau peristiwa dan semacamnya, masih dapat Elliot ingat hingga kini. Waktu pun berlalu dan planet ke delapan ini menegakkan kepalanya kembali.


Lantas Elliot menolehkan kepalanya ke arah wira yang sedari tadi bersamanya ini.


"Apakah sudah waktunya kembang api?" Elliot pun bertanya dengan antusiasme menguar.


Mendengar antusiasnya sang tuan berambut panjang disisinya, Shion segera menyingkir dari antrian terlebih dahulu dan melihat arloji yang mengalung apik di pergelangan tangan kirinya.


"Hampir. Lima menit lagi, mari kita turun dan pergi ke lapangan di sekitar sini. Anda ingin ikut?" tanya Shion sembari menyelipkan kembali makrame perak dalam saku celananya; satu-satunya benda keberuntungan baginya. Ya, itu menurutnya.


Omong-omong soal rambut panjang, Elliot tidak pernah memanjangkan rambutnya semenjak lama. Ia hanya mengganti sosoknya dengan sosok 'dirinya yang lain' karena ingin kabur dari masa lalu.


Melakukan hal itu tidaklah sulit karena Elliot hanya tinggal menyesuaikan dengan perubahan pada tubuh utamanya. Simpel.


"Oui, tentu saja, Monsieur," ia segera menganggukkan kepalanya.


Tak ingin membuang waktu lagi untuk menyaksikan indahnya percikan bunga api berwarna-warni di langit sana. Toh memang itu tujuannya, kan?


"Saya juga sekalian ingin mengabadikannya dengan foto." Elliot menunjuk kamera di genggaman tangannya.


Kamera di genggaman pria berambut panjang itu jua penjelasan yang ada hanya dianugerahi anggukan pelan dari Shion.


"Begitu."


Sudah berapa lama Shion tidak memotret ya? Setelah waktu itu. Kamera sudah jarang sekali menemaninya pergi ke beberapa spot terbaik yang kerap kali dibicarakan orang-orang. Dirinya memilih fokus pada pekerjaan setelah kejadian itu. Mimpi indah yang memunculkan cengkraman perihnya perpisahan dan membunuh perasaan yang ada.


"Mari..." tukasnya kemudian melangkah terlebih dahulu untuk turun.


Semenjak Elliot meninggalkan rumah sakit dan mengganti penampilannya menjadi sosok berambut panjang ini, ia hampir tak pernah lepas dari kameranya. Entah itu kamera digital, kamera DSLR, atau apapun sejenisnya. Mendalami bidang yang jauh dari peminatannya.


Tidak berarti Elliot sudah lupa akan tempat yang membuatnya begitu mencintai earthling. Hanya saja, trauma akan kematian earthling membayang dan Elliot sering merasa takut untuk kembali ke sana.


Bahkan untuk kembali ke wujudnya sebelum ini saja Elliot tidak berani. Sepengecut itu dirinya hingga berusaha kabur dari kenyataan.


Perkataan Shion menyentaknya ke alam sadar. Ah, rupanya Elliot tadi terlalu lama melamun.


"Oui," tungkai kembarnya membawa diri mengikuti Shion.


Netranya mencari-cari tempat yang bagus untuk mengambil foto. Syukur-syukur Elliot bisa mendapatkan banyak foto.


"Indahnya," Elliot melihat banyaknya bunga api bermekaran di langit lewat lensa kameranya.


Satu foto. Dua foto. Hingga 20 foto pun ia ambil dari festival tersebut. Tak lupa foto kawannya ini—Shion, pun ia ambil.


Shion dan Elliot pun segera menjejakkan kaki menyusuri jalanan; tidak butuh waktu lama. Keduanya dalam keheningan pun sampai ke tempat tujuan, dan terlihat pria tersebut segera mengambil foto bunga api bercahaya di langit tanpa henti dengan kameranya kala jam telah menunjukkan waktu pergantian tahun. Shion pun segera meraih makrame peraknya tuk ikut memandang acara tahun baru malam itu.


"Anda menyukainya, 爱?" gumam Shion berbisik sembari tersenyum pada makrame perak dalam genggaman, hingga tak sadar pria yang ikut memeriahkan acara tahun bersamanya, tengah mengabadikan fotonya diam-diam.


Tahun telah berganti, dan bunga api masih bermekaran di langit malam. Pemandangan yang tidak akan Elliot lihat di tubuh aslinya. Planet yang masih berrevolusi di tata surya dengan langit yang senantiasa meneteskan hujan berlian.


Elliot meletakkan tangan di dada kirinya. Tubuh manusia ini Elliot peroleh saat menginjakkan kaki ke bumi. Namun wujudnya sekarang bukanlah wujud aslinya. Elliot hanya mengganti wujudnya menjadi pria berambut panjang berwarna biru dongker karena ingin kabur dari masa lalu.


"Mon Dieu," ucapnya tanpa suara.


Sebagaimana tahun yang sudah berganti, Elliot pun harus melakukan sesuatu untuk bisa berdamai dengan masa lalunya. Keputusan sudah ia ambil.


Ditatapnya galih berhelai kelam di sampingnya dan berujar.


"Monsieur, terima kasih sudah menemani saya mengunjungi kuil dan menyaksikan kembang api. Saya harus segera kembali ke tempat saya sekarang."


Ada yang harus Elliot lakukan setelah ini. Karena itu ia harus segera bergegas.

__ADS_1


"Au revoir, Monsieur. (Sampai jumpa, Tuan.)" usai berujar demikian, Elliot segera beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Shion yang masih terpekur di bawah cahaya warna-warni kembang api.


— bersambung


__ADS_2