Planetes

Planetes
1.k. Please Tell about Future, Oracle (2) (edited)


__ADS_3

Selepas makan siang, sang bentala kembali ke standnya dan mendapati antrean cukup panjang di stand nya.


"Mon Dieu," desisnya menyiratkan kekagetan.


Ia tak mungkin menggunakan metode yang sama untuk orang-orang ini, kan? Elliot kini harus memutar otak agar dirinya bisa membacakan tarot untuk orang-orang ini.


- ๐•ป๐–Š๐–‘๐–†๐–“๐–Œ๐–Œ๐–†๐–“ ๐•ถ๐–Š๐–™๐–Ž๐–Œ๐–†, ๐•ฌ๐–‘๐–๐–†๐–—๐–˜๐–†


Tiba-tiba seorang pria berambut merah muda berdiri didepan sang wira. Sedikitnya membuat Elliot terkejut karena ada laki-laki yang ikut berbaris tadi. Sepertinya ia selalu mudah teralihkan perhatiannya, ya? Contohnya seperti sekarang.


Pelanggan kali ini namanya Alkarsa. Meski Alkarsa 'tak terlalu mempercayai yang namanya tarot. Tapiโ€” apa salahnya kalau kali ini dia mencoba, lagian dia juga penasaran.


โ Oi. โž Menyapa dengan 'tak sopan, meskipun dia berniat ramah.ใ…ค


Seketika saja Elliot merasa tidak nyaman. Ia tidak menyukai orang-orang yang tidak memiliki sopan santun. Contohnya saja Alkarsa.


"Oui?" ia menanggapi sapaan itu dengan amat sangat santai. "Silakan duduk, Monsieur. Saya akan meramalkan Anda."


Senyum tak lekang dari peroman. Elliot mengabaikan rasa tak nyaman yang sempat meraja.


"Ah, silakan pilih 6 angka acak dari 1 sampai 22, ya?" kembali Elliot bersuara usai menghamparkan kartunya di hadapan sang wira.


Dihamparkan? Tidak, kartu itu tidak dilempar begitu saja. Melainkan ditata dengan sedemikian rupa dan bercitarasa tinggi.


Alkarsa menilai bahwa Elliot pastilah orang yang menjunjung estetika dan juga sopan santun. Ia melihatnya dari gerak-gerik Elliot sepanjang bertugas di stand ini.


Alkarsa langsung saja duduk, 'tak sabar baru kali ini dia merasa ingin diramal padahal sebelumnya dirinya ogah-ogahan.ใ…ค


ใ…คใ…ค


โ Saya pilih 3, 7, 19, 10, 14, dan 2. โž ucapnya benar-benar memilih secara acak.ใ…ค


Melihat tamunya duduk dan merasa tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan ia jabarkan, Elliot mengalihkan pandangannya pada kartu-kartu yang ia hamparkan tadi. Bersiap membacakan makna dari tiap kartu yang dipilih oleh Alkarsa.


"Kartu pertama adalah apa yang kamu rasakan saat ini. Death. Mungkin yang kau rasakan saat ini adalah perpisahan dengan segala hal. Sesuatu yang tidak terduga, pekerjaan yang tidak berjalan lancar, ataupun hubungan yang berakhir. Namun tidak perlu khawatir terlalu dalam. Ini adalah titik balikmu dalam menghadapi perubahan besar."


Alkarsa membelalakkan matanya saat mendengar ucapan sang peramal. Astaga. Sesungguhnya ia tidak mempercayai tarot, namun entah mengapa Alkarsa merasa bahwa Elliot mampu menembus apa yang ada dalam benaknya.


Tapi, itu baru kartu pertama, kan? Bagaimana dengan kartu kedua?


"Kartu kedua adalah apa yang kau inginkan saat ini. Temperance. Kau menginginkan adanya kedamaian dan keharmonisan. Mungkin selama ini kau berusaha sangat keras dalam berbagai hal, namun tidak perlu terlalu dipaksakan. Seiring berjalannya waktu, semuanya akan normal kembali."


Apakah ini hanya perasaan Alkarsa saja? Setiap kartu yang dibacakan membuatnya merasa ditelanjangi satu demi satu.


"Kartu ketiga adalah apa yang kau takutkan. The Magician. Akan ada orang baru dalam hidupmu yang membuatmu bertanya-tanya, apakah ia bisa dipercaya ataukah tidak. Mungkin juga orang ini nantinya berpengaruh dalam hidupmu. Tapi lebih baik kau percaya apa kata hatimu, agar semuanya berjalan dengan baik."


Alkarsa menggeretakkan gigi pelan. Peramal ini, bagaimana bisa tahu?


"The Fourth Card is what's going for you. The World. Pencapaian dan kesuksesan sudah di tangan. artinya segala usaha kerasmu kini telah membuahkan hasil. Saatnya bagimu untuk mempertahankannya."


Beralih ke kartu berikutnya yang harus Elliot baca. Elliot hanya berfokus pada kartu tarotnya dan bukan pada yang lain. Termasuk dari apa yang dirasakan oleh pelanggannya.


"Kartu kelima adalah apa yang harus kamu lawan. The Fool. Ini berkaitan dengan keterburu-buruan dan pengambilan keputusan secara gegabah. Kau harus melihat dari pengalaman dan kilas balikmu. Jangan sampai hal yang sama terulang kembali."


"Lalu kartu terakhir adalah hasilnya, The High Priestess. Kekuatan intuisimu sedang tinggi di sini, jika kau memanfaatkannya dengan baik. Maka sesuatu yang menjanjikan akan datang secara tidak terduga." Elliot menutup interpretasinya dengan senyum.


"Bagaimana, Monsieur? Apakah hasilnya memuaskan?" bertanya pada Alkarsa atas hasil pembacaan tarotnya.

__ADS_1


ใ…ค


Entah sejak kapan Alkarsa menahan napasnya. Ia segera meloloskan ekshalasi. Menatap Elliot dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kemudian Alkarsa mengangguk paham, dia puas dengan hasil yang diberikan benar-benar di luar dugaan. Meski merasa ditelanjangi habis-habisan oleh Elliot, ia jadi tahu bahwa ternyata begini rasanya peruntungan tarot.ใ…ค


ใ…คใ…ค


โ Terimakasih, anda mahir sekali. โž Puji Alkarsa. Sebenarnya dia jarang memuji, tapi kali ini pemuda didepannya patut diapresiasi.ใ…ค


"Terima kasih kembali, Monsieur." Elliot tersenyum hangat sembari menyusun kembali kartunya. "Senang bisa membantumu, jika kelak kita berjumpa lagi... Jangan sungkan-sungkan untuk menghampiri saya, Oui?"


Tersenyum lega, akhirnya dia bertemu dengan orang yang normal. โ Terimakasih, tuan juga jangan sungkan-sungkan dengan saya. Oh, ini bayaran Anda, terimalah. โžใ…ค


Alkarsa memberikan sekaleng permen untuk Elliot sebagai pembayarannya sebelum beranjak dari tempatnya.


- ๐•ป๐–Š๐–‘๐–†๐–“๐–Œ๐–Œ๐–†๐–“ ๐•ถ๐–Š๐–Š๐–’๐–•๐–†๐–™, ๐•ฎ๐–†๐–—๐–†๐–‘๐–ž๐–“


Kali ini Elliot mendapati pelanggannya memiliki aura tidak biasa. Mungkin sama halnya saat ia berjumpa dengan Figgy dulu.


Namun sepenasaran apapun Elliot terhadap pelanggannya, ia tetaplah harus bersikap profesional. Apalagi sang hawa berhenti di depan standnya saat antrean sudah tak lagi ada.


"Selamat datang, Mademoiselle." Elliot menyambut dengan hangat puan yang datang. "Ingin diramalkan tentang apa?"


โ› Hm, tentang apa ya? Aku tidak tahu. Dapatkah aku menyerahkannya padamu? Atau, aku ingin diramalkan seperti kebanyakan orang. โœ


Puan bernama Caralyn ini mengedikkan bahu, sejujurnya dia benar-benar bingung. Meski ia seorang penyihir, ramalan adalah cabang sihir yang paling ia hindari.


Meski demikian, kuriositas meraja tatkala mendengar reputasi Elliot sebagai seorang tarot reader. Caralyn menebak bahwa kemungkinan besar, Elliot bukan peramal biasa. Laki-laki itu adalah Oracle.


"Baiklah, bagaimana bila saya bacakan kehidupan, kesehatan, dan keuanganmu? Bayaran saya cukup tiga butir permen saja," lengkungan bulan sabit terpatri di ranum lanang berhelai kebiruan ini.


Caralyn menjentikkan jari merasa puas atas pilihan yang diajukan. Senyuman mengembang menghiasi paras pucatnya.


โ› Tentu saja, aku akan membayarkannya juga untukmu. Jadi, tunggu apalagi? Ayo bacakan sekarang. โœ


Astaga, perempuan satu ini bossy juga ternyata. Seketika rasa dongkol menyerbu benak.


"Dengan senang hati, Nonaโ€”" oh, ia belum mengenal nama juwita satu ini. Namun dari penampilannya, bisa dipastikan salah seorang dari kaum borjuis?


"Maaf, saya tidak tahu nama Anda. Tapi, panggil saja nama saya Elliot." ia memperkenalkan dirinya dengan sopan.


โ› Caralyn, panggil aku begitu. Aku merupakan penghuni rumah mewah yang ada di samping apartemenmu. โœ


Tunggu, rumah perempuan ini di samping apartemen yang Elliot tempati bersama kawan-kawannya yang lain? Apa itu artinya perempuan ini bukan orang biasa?


"Baiklah," Elliot memejamkan matanya dan menarik tiga kartu secara acak. "Maafkan saya bila sebelumnya saya berlaku tidak sopan. Mademoiselle Caralyn, benar? Salam kenal."


Sembari mengangguk, tiga jari terlipat menyisakan telunjuk dan ibu jari yang kini terarah padamu membentuk sebuah tembakan. Seulas senyum turut hadir menyertai.


โ› Tepat sekali, begitu pun denganku, senang bertemu denganmu, Tuan baik hati. Yah, setidaknya saat ini. โœ


Wajar jika julukan tersebut disematkan untuknya, seseorang yang dengan suka rela meluangkan waktu dan membuang kemalasan dengan membacakan tarot untuk orang lain.


Meringis, tak mampu dia melakukannya, pergerakan seolah dibatasi dengan rasa malas jika tanpa adanya bayaran.


"Kartu pertama yang menunjukkan kehidupan mu adalah Judgement, menunjukkan peluang yang tidak boleh diabaikan. Ini adalah peluang yang telah Anda tunggu. Saat ini adalah ketika Anda dihargai atas upaya yang telah Anda lakukan di masa lalu. Prospek baru akan hadir dan mengubah hidupmu menjadi lebih baik. Karena hakim harus adil, kau mungkin harus menghadapi beban dosa-dosamu di masa lalu. Tapi pada akhirnya akan ada happy end dalam apapun yang kau lakukan saat ini."

__ADS_1


Mulai dengan membaca kartu tarot pertama, kedua telinga Caralyn dibuka selebar mungkin, menepis semua hal yang datang untuk menghalangi.


Sebuah peluang yang tak boleh diabaikan. Dan peluang yang ditunggu? Caralyn mengangguk-angguk kepala, mencerna setiap ucapan yang terlontar.


โ› Hm, baiklah. โœ


"Kartu kedua, Knight of Pentacles. Pelayanan sosial merupakan kegiatan yang positif jika seseorang tidak mencoba mengambil keuntungan yang tidak semestinya darimu dan kau harus menyadari hal itu. Kau akan merasa cemas dan gelisah karena Ini, namun kau bisa mengambil langkah berani. Kau akan mencoba untuk tetap aktif dari pada duduk diam karena dapat mencegahmu memikirkan hal-hal yang tidak kamu inginkan." Elliot membacakan kartu-kartunya dengan tenang. Seolah sudah terbiasa melakukan hal-hal semacam ini.


Selang beberapa detik, kartu kedua dibacakan. Lagi, Caralyn memilih untuk diam, menutup mulutnya dengan rapat. Dan mempersilahkan sang wira untuk menjelaskan lebih detail padanya.


"Kartu terakhir yang menunjukkan keuanganmu adalah Ten of Swords. Kau tengah menghadapi masalah keuangan saat ini, namun tak perlu khawatir karena masalahmu akan segera terselesaikan. Ada kemungkinan juga kau akan terkejut mendapatkan keuntungan di tempat kerja dari usaha lama yang akan membuatmu menyambutnya dengan suka cita," tatapannya kini tertuju pada Caralyn. "Bagaimana, Mademoiselle?"


Berlanjut dengan kartu ketiga. Lagi, Caralyn mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Dan tak terasa sesi membaca kartu tarot telah berakhir.


Senyuman diberi padanya. Mengeluarkan tiga buah permen dari dalam saku celana. Permen yang didapat melalui telekinesis, karena tak mengira jika hal kecil itu yang diminta sebagai bayaran.


โ› Aku tak akan berkomentar lebih. Kemarikan salah satu tanganmu. โœ


Ah, benar juga. Kembali lagi pada hasil interpretasi dirinya akan kartu tarot yang telah Elliot buka ketiganya. Dilihatnya kembali peroman sang juwita yang nampaknya mencermati setiap silabel yang terluntak dari celah ranumnya.


Sesungguhnya Elliot hanya membacakan apa yang terefleksikan pada kartunya. Jadi, Elliot memahami bahwasanya apa yang termaktub di kartu mencerminkan kehidupan Caralyn secara garis besar. Meski tidak semuanya.


"Eh?" Elliot lantas menadahkan tangannya sesuai dengan pinta Caralyn padanya dengan bertanya-tanya.


Telapak tangan yang semula kosong kini terdapat tiga buah permen, sebagai bayaran atas jasanya, seperti yang diminta, bukan?


โ› Itu adalah permen yang kubawa khusus dari negara asalku. Kupikir cukup, karena harganya tak bisa dikatakan murah. โœ


Benda kecil sebagai pengganti teman, kala rokok tak bisa dikonsumsi. Caralyn menatap puas sang bentala.


โ› Terima kasih sudah membacakan tarot untukku, Oracle. Kuharap kita berjumpa lagi. โœ


Panggilan itu sontak membuat Elliot membelalakkan matanya. Tunggu, mengapa perempuan itu memanggilnya demikian? Jangan-janganโ€”


"Tunggu, Mademoiโ€”"


Sosok Caralyn sudah tak lagi ada di hadapannya. Meninggalkan Elliot dalam kebingungan.


โ€”bersambungใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…คใ…ค


ใ…ค


ใ…คใ…ค

__ADS_1


ใ…ค


ใ…ค


__ADS_2