Planetes

Planetes
2. n. Mirror-Mirror on The Wall


__ADS_3

Seharusnya Elliot tahu, bahwa ia tidak boleh mengacaukan segala sesuatu yang beresiko tinggi. Namun pemikiran bahwa ia adalah immortal dan tidak akan mati bila terkena serangan fatal adalah sesuatu yang salah.


Dampak buruknya, Elliot semakin menumpuk kutukan demi kutukan selagi berusaha untuk menolong orang-orang yang memainkan game sesat itu. Alhasil membuat kakak-kakaknya cemas dan mengadakan pertemuan secara dadakan. Seperti sekarang ini....


(Si bego ini....) Kakak keempat Elliot, Mars—atau nama manusianya, Shigeo, melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya nampak sangar karena marah besar. (KAMU PERNAH DIBERITAHU TIDAK, SIH?! KALAU BERURUSAN DENGAN MAKHLUK GAIB AKAN MENGURANGI KEKUATAN SUPRANATURALMU, HAAAH??!!)


Pagi-pagi dapat semburan hujan lokal dari Shigeo itu adalah sesuatu yang mengesalkan. Alih-alih membuat semangat, pria itu malah membuat Elliot makin ciut. Padahal beberapa waktu lalu, Elliot kena omelan serupa dari Jupiter juga.


Bedanya, Jupiter tidak akan menggunakan kalimat kasar untuk memarahi Elliot. Sementara Shigeo tak akan segan menggunakan kata-kata yang cukup tidak etis untuk memarahi adik bungsunya itu.


"Saya minta maaf sekali lagi, Kak..." agak capek mendengar omelan Shigeo yang bertalu-talu. "...saya sendiri sedang mencari cara untuk memunahkan kutukan ini."


(Dengan cara apa? Kalau kau meminta kami yang melakukannya, sama saja kamu menyuruh kami jadi boneka pengganti!)


[Uh, benar juga, sih...] Elliot membatin.


Ia tidak bisa mengelak kata-kata Shigeo. Kalau sudah begini, mau tak mau Elliot harus menelan pil pahit yang ia produksi sendiri.


(Haaah, padahal sudah berkali-kali diberitahu agar tidak sembarangan menolong earthling. Sekarang kau tahu kan akibatnya? Menghancurkan entitas yang mengutukmu itu bukan hal yang mudah, idiot!) Shigeo memijat pelan pelipisnya.


"Maaf...." Elliot menunduk lesu di pembaringannya. "Apakah Kak Shigeo ada jalan?"


(Ada, tapi beresiko. Salah-salah, kau yang akan terbunuh,) jawab Shigeo dengan setengah hati.


"Kakak menggunakan cara apa?"


(Kalau tidak salah dirimu yang satu lagi itu ada masalah dengan si pembenci cermin, kan? Gunakan saja dia!)


Kata-kata Shigeo membuat Elliot mendadak terkejut. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh Shigeo, namun tiada salahnya bila Elliot memastikannya terlebih dahulu.


"Maksud Kakak?"


(Medusa. Cuma matanya yang bisa menghancurkan entitas yang mengutukmu!)


Sudah diduga. Meskipun demikian, Elliot tidak ingin memanfaatkan Medusa meskipun ia jua ingin terlepas dari kutukan.


"Bukannya Medusa telah mati? Bagaimana...."


(Medusa memang sudah mati, tapi matanya tidak.)


"Apa—"


(Aku dengar ada sekte penyembah monster itu dan berniat membangkitkan monster tersebut ke dunia ini....) Shigeo mulai bercerita. (Kau bisa memanfaatkannya untuk melepas kutukanmu.)

__ADS_1


"Kak, tapi—"


(El, sadar! Kau bukan manusia! Berhentilah bersikap layaknya manusia! Kau mengerti?!) Shigeo membentak adiknya.


Elliot terdiam dan meremas fabrik yang menyelimuti kakinya.


"Saya mengerti, Kak. Maaf...."


Inilah yang Elliot tidak sukai dari kakak-kakaknya. Mereka terus-menerus mengingatkan bahwa Elliot bukanlah manusia dan tidak seharusnya bersikap manusiawi. Kata-kata Shigeo mau tidak mau membuat Elliot gelisah.


Mencari Medusa di masa sekarang? Memangnya akan ketemu? Lalu kalau sudah ketemu, mau apa?


Mari kilas balik sejenak penyebab bertambahnya kutukan Elliot setelah menghalau Alice Game. Waktu itu teman seprofesinya mengajak untuk bertanya pada Deeky Dama di cermin dan meminta dikabulkan permintaannya.


Kesalahan fatal terjadi karena Elliot bukanlah perempuan dan Deeky Dama membenci laki-laki. Alhasil, Elliot mempertahankan dirinya dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Deeky Dama dengan menggunakan uap air suci.


Elliot berhasil selamat, tetapi siapa sangka sebelum menghilang Deeky Dama mengutuknya. Di lain waktu, Elliot akan mengalami nasib buruk tiada habis.


Berlanjut ke berikutnya, teman seprofesinya itu bermain petak umpet dengan iblis dalam cermin. Memang Elliot tidak ikut dalam permainan, namun mendengar suara teriakan minta tolong dari temannya membuat Elliot menyeruak masuk dan membekukan iblis itu dengan air suci yang bercampur dengan kekuatannya. Lagi-lagi ia mendapatkan kutukan karena melanggar aturan permainan. Sehingga ia pun tidak bisa lagi menggunakan kekuatan supranaturalnya.


Kejadian demi kejadian pun menghampiri, dan ujung-ujungnya Elliot yang kena batunya akibat rasa penasaran earthlings akan permainan sesat itu. Elliot menghela napas, semuanya berhubungan dengan cermin. Sementara penyelamatnya kelak, membenci cermin.


Untuk menghibur diri, Elliot membuka kartu tarotnya dan mencoba melihat enam kartu yang mewakili jawaban atas semua pertanyaannya. Tidak buruk, juga tidak bagus.


{Kamu masih menggunakan tarot sebagai mediamu meramal, El?}


"Kak Jupiter?" Elliot tersentak dengan kehadiran Jupiter yang tiba-tiba di belakangnya. "Iya, aku agak penasaran dengan seseorang yang dimaksudkan oleh Kak Shigeo...."


Jupiter meloloskan ekshalasi dan duduk di samping Elliot. {Aku tidak setuju dengannya. Menggunakan mata Medusa sebagai penetralisir kutukanmu itu terlalu beresiko.}


Ucapan Jupiter memang benar. Apalagi Medusa akan membuat siapa saja yang menatap matanya menjadi batu, kan? Elliot mengerti akan kecemasan Jupiter.


"Ugh!" reaksi ini, Elliot kembali merasakan jiwanya seperti dibetot dari tubuhnya.


Ain kembarnya melihat serupa benang-benang biru berkilauan terbang dari tubuhnya. Jupiter mengernyitkan alis.


{El, apa itu?}


"Esensi jiwa saya, Kak." setengah terengah-engah, Elliot menjawab tanya sang kakak. "Hantu-hantu di permainan Hell Level Hide and Seek, mereka berusaha untuk membunuh saya. Namun gagal, jadi inilah yang mereka lakukan. Mengambil esensi jiwa saya secara terus-menerus."


Jupiter menggeplak dahinya dan menghela napas kembali. Memakan esensi jiwa akan membuat Elliot lambat laun kehilangan kemanusiaannya. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin bencana dahsyat akan timbul nantinya.


Kutukan satu itu benar-benar....

__ADS_1


{El! Dengarkan aku!} Jupiter memegangi kedua pundak adiknya. {Apapun yang terjadi, kau tidak boleh pasrah! Meski mereka mengambil sesuatu darimu, kau harus menggantinya dengan yang baru. Paham? Esensi jiwamu memang terambil, tapi kau bisa memulihkannya kembali!}


"Caranya?" Elliot memiringkan kepalanya dan menantikan Jupiter menjabarkan hal-hal yang harus ia lakukan.


Jupiter melepaskan tangannya dan beranjak dari tempat itu. Ia lantas kembali dengan membawa sekarung kecil peralatan yang entah apa isinya.


{Gunakan ini setiap kali kamu merasakan tanda-tanda kutukan itu aktif. Mengerti?} Jupiter menyerahkan karung itu pada Elliot dengan ekspresi kesungguhan tergambar di paras.


"Saya mengerti, Kak. Akan saya gunakan."


Meski bingung, Elliot tetap menerima barang pemberian Jupiter. Namun ada yang mengganggunya. Penampakan gadis jelita dalam penerawangannya, apakah benar ia akan bertemu dengannya?


{El? Ada apa?} Jupiter nampak penasaran karena adiknya terdiam cukup lama. {Wajahmu nampak pucat. Kutukannya bereaksi?}


"Tidak, Kak. Saya sedang berpikir," ada jeda dalam ucapannya. Kuasanya meraih cermin tangan dengan lambang Neptunus di belakangnya. "Lihat, Kak. Ini sosok gadis yang akan memusnahkan kutukan saya. Apa saya harus mencarinya sekarang?"


Jupiter mencondongkan tubuhnya dan melihat pantulan di cermin milik adiknya. Sosok gadis itu, wajahnya tidak terlihat. Namun dari perawakannya, seperti gadis anggun.


{Tidak perlu tergesa-gesa, El. Kelak, gadis itu akan muncul dengan sendirinya ke hadapanmu.} Jupiter menjawab dengan bijak.


"Saya mengerti," Elliot menganggukkan kepalanya. "Kak, terima kasih banyak atas bantuannya."


{Tidak perlu berterimakasih. Kita ini saudara, sudah semestinya saling membantu, kan?}


"Kakak benar," Elliot menundukkan sedikit kepalanya. Gundah menyergap sanubari.


{Apa yang membuatmu cemas, El?} melihat ekspresi adiknya, Jupiter tidak dapat membendung kuriositasnya.


"Andaikan gadis ini membalaskan dendamnya pada saya, kira-kira saya harus apa?"


Perkataan Elliot itu membuat Jupiter tersadar bahwa Medusa memiliki dendam dengan Poseidon di masa lalu. Belahan dirinya Elliot.


{Aku tidak tahu, Elliot,} pria bertubuh tinggi besar itu meloloskan ekshalasi. {Tapi, kau lakukan apa yang menurutmu benar. Bila kau membiarkan Medusa melampiaskan dendamnya padamu, terima saja. Dengan demikian, kau akan terbebas dari rasa bersalah yang membelenggumu.}


Elliot menengadah. Memandangi kakaknya dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah itu, Kak?"


Jupiter menganggukkan kepalanya. Satu tangannya mengusak rambut ikal pendek Elliot dengan gemas.


{Berbeda dengan Shigeo, maksudku Mars. Aku tidak akan menyuruhmu untuk memanfaatkan dirinya. Kau lakukan apa yang menurutmu benar dan tidak terbebani dengan semua itu. Mengerti?}


Elliot menganggukkan kepalanya. Hari itu, ia merasa semua beban yang menghimpit dadanya terlepas. Mengesampingkan semua kutukan yang menumpuk pada dirinya, Elliot akan berusaha mencari cara agar tidak memberatkan semua pihak.


—bersambung

__ADS_1


__ADS_2