
Saat Elliot mengalihkan pandangannya atau lebih tepatnya membuang muka dari Ryan, membuat gadis berambut hitam yang tengah menyamar menjadi lanang itu merasa ... sakit.
Ryan tidak tahu darimana namun rasanya sakit juga ketika seseorang seolah merasa enggan setelah mengetahui rahasia terdalam dirinya. Namun Ryan mencoba memaklumi hal tersebut, lagipula ia juga bersikap sama tadi. Tidak mau bertemu pandang dengan Elliot. Dan lagipula ia seharusnya sudah biasa hal tersebut. Jika bukan orang akan mengincar matanya pasti ia akan menghindar.
Ada alasan tersendiri mengapa Elliot melakukan hal tersebut. Berkenaan dengan dosa yang ia—atau lebih tepatnya, dirinya yang lain lakukan di masa lalu. Poseidon sudah melakukan hal yang tidak pantas.
Apakah Elliot sanggup bila nantinya pemuda ini murka padanya? Bila kekuatannya tidak terhalang kutukan, tidak masalah. Tapi untuk saat ini? Sang bentala menghela napas.
Pandangan Ryan langsung ke gurunya lagi, "Lalu, Guru bilang aku harus menggunakan mataku? Bukankah agak ... berbahaya?"
Ryan memberi kode bahwasanya berbahaya jika sampai berlebihan menggunakan matanya tersebut. Apalagi tak lain dan tak bukan jika sampai alter egonya yang keluar. Seandainya hal itu terjadi ketika ia sedang membasmi roh kutukan tersebut, maka akan banyak korban jiwa.
Kazuto menghabiskan rokoknya, sambil tersenyum ia memandangi Ryan.『Fuhm, karena itulah aku dengan berani menggunakan matamu, karena ada barang menarik khusus untukmu.』
"Khusus untukku? Jangan-jangan dalam kotak itu?"
『Aa!』
Kotak hitam yang sedari tadi berada di samping Kazuto, sekarang akan ia buka. Setelah membukanya, terpampang penutup mata berwarna ungu. Terlihat sederhana namun kompleks.
『Inilah barang yang mau aku perlihatkan padamu. Gorgon Breaker.』
Mendengar namanya Ryan sangat terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika yang di depanmu sekarang adalah barang atau artefak yang berasal dari jaman para dewa. Terlebih lagi dari Yunani Kuno.
"Guru! Ini benar-benar barang peninggalan Medusa, 'kan? Maksudnya bukan palsu?"
『Kau bisa memeriksa sendiri jika ragu, itu spesialisasimu, bukan?』
Mendengar hal tersebut, Ryan mengeluarkan sarung tangan putih cadangannya. Dan mencoba memeriksa keaslian barang barang tersebut.
『Dengan ini, kalian bisa membuat rencana untuk melawan roh itu. Bagaimana? Kau lega mendengarnya?』
Kini Kazuto beralih pada Elliot, pemuda berambut biru tersebut menarik perhatian Kazuto sedari tadi. Dan kini Kazuto sedang menganalisis bagaimana reaksi pemuda tersebut.
Percakapan yang rumit antara guru dan murid terjadi lagi di depannya. Tentu ia paham sebagian, dan tidak heran jua bila ada barang keramat itu.
"Saya bingung harus bereaksi apa," akhirnya Elliot membuka suara setelah sekian lama. Kini ia menatap lurus ke arah Ryan.
"Meski demikian, saya akan berterima kasih karena kalian ingin membantu saya." ada rasa perih menggurat di dada selama ia bersuara. Lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
Ryan telah selesai memeriksa benda yang disebut gurunya Gorgon Breaker, tidak disangka jika itu adalah benda asli. Sudah pasti sangat berharga, dan yang terpenting benda itu memang bisa menekan matanya.
"Guru, bagaimana guru mendapat benda ini?" tanya Ryan penasaran, seingatnya sang guru tidak begitu tertarik dengan masalah ini. Memang sih Gorgon Breaker sangat berpengaruh dalam penelitiannya tentang Mata Mistik Pembunuh, tapi menemukan benda ini pasti susah.
『Ada pelangganku yang memberikannya untukku pelajari. Katanya ucapan terima kasih untukku karena sudah membantu dia. Itu buatmu saja, kau lebih membutuhkannya.』
'Hadiah yang mewah.' pikir Ryan kemudian, namun tidak menaruh curiga. Soalnya gurunya yang satu ini memang sesuatu.
"Tapi, apa tidak apaー"
Baru saja Ryan mau menanyakan lebih lanjut, namun suara Elliot tiba-tiba menginterupsi. Dan seketika atensi jadi ke arah Elliot, belum lagi dengan ucapannya barusan.
"Ryan, saya tahu ini bukan ditujukan padamu, tapi saya akan meminta maaf dulu pada kedua matamu. Jika nantinya kau ingin melampiaskan kemarahan mu pada saya, saya tidak akan melawan." pada akhirnya ia mengatakan hal tersebut.
Minta maaf? Kepadanya? Memang Elliot salah apa? Dia bukan orang-orang menanamkan mata Medusa ke dirinya, 'kan?
Karena masih bingung, Ryan memutuskan mendengarkan hingga selesai.
"Sebelumnya saya mengatakan bahwa saya ini immortal, kan? Benar, tapi dengan kondisi jika saya dibunuh oleh pihak selain keluarga celestial saya." ada jeda di sana sebelum ia melanjutkan.
"Lalu, tubuh ini kosong tanpa jiwa. Kau tahu alasan saya mendatangi pantai waktu itu? Saya bilang, saya ingin menemui seseorang, kan? Karena di laut lah jiwa saya berada." ia meloloskan ekshalasi yang cukup berat.
"Tiada yang namanya kebetulan di dunia ini, adanya adalah sebuah keharusan. Sesuatu yang sudah ditakdirkan. Ryan, kau sudah ditakdirkan bertemu dengan saya dan..." ia merasa berat melanjutkan kalimat ini. "...diri saya yang seorang lagi. Penguasa lautan. Ada hubungannya dengan mata yang bersemayam pada dirimu."
Elliot menanti reaksi Ryan selanjutnya. Apapun yang terjadi, biarlah. Ia tidak berbohong sejak awal, kan? Namun ia tidak tahu lagi harus berkata apalagi sekarang.
"Kau boleh marah pada saya, ini tanggung jawab saya juga." ada rasa sakit tercurah di senyuman milik Elliot. Senyum penuh rasa bersalah.
Kata demi kata, kalimat demi kalimat keluar dari mulut sang planet biru tersebut. Membuatnya membelalakan matanya.
Penguasa lautan. Berhubungan dengan matanya ーlebih tepatnya Medusa. Jiwa berada di laut. Petunjuk tersebut sudah pasti mengarah ke satu titik.
Poseidon.
Ryan mengusak rambutnya—maksudnya wignya, hingga berantakan. Takdir sepertinya suka sekali mempermainkan dirinya. Ia ingin tertawa saat ini juga.
「Clarissa, biarkan aku keluar. Si brengsek ini ternyata berhubungan dengan dia.」
Ryan—maksudnya Clarissa, mendengar suara itu, namun ia masih terdiam. Mencoba berpikir dingin dan mencerna segala informasi.
__ADS_1
Keheningan berlangsung cukup lama, sang Guru juga tidak berbuat apa-apa. Seakan tahu jika Ryan sedang tidak stabil.
"Guru ... aku bawa Gorgon Breaker-nya."
Setelah berkata seperti itu, Ryan langsung mengambil kotak hitam yang berisi Gorgon Breaker. Ryan juga dengan cepat menarik Elliot agar cepat keluar dari sini.
『Oi, Clarisー ya ampun.』
Bahkan panggilan gurunya tak diindahkan dirinya. Setelah ia menarik Elliot dari sana hingga mereka menuju parkiran motor Elliot berada.
"Kita butuh bicara ..."
Suara Ryan kini berat, dan terlihat berbahaya. Ya, ia menggunakan sisi sifat satu lagi.
Elliot melihat gelagat Ryan berbeda seusai ia menceritakan hal tersebut. Bahkan mengambil benda keramat itu dan menulikan telinga dari panggilan Kazuto.
Sudah Elliot duga. Kartu tarot dia hari ini adalah Queen of Pentacles dalam posisi terbalik. Artinya ia akan mengalami hal buruk. Tadinya ia berpikir, ini akan berakhir dengan biasa atau bisa dinegosiasikan.
Namun entah mengapa Elliot merasa bahwa kemampuan negosiasinya tidak berguna saat ini. Ia melihat adanya perubahan sikap pada Ryan.
Entah pria itu merasa shock atau apa, Elliot tidak tahu. Sebab, kini ia dibawa keluar dari tempat itu dan di sinilah mereka sekarang. Di hadapan Elliot, Ryan nampak berbeda dengan sebelumnya.
Ada aura penuh dendam menyelubunginya. Ia tahu jelas karena pernah menghadapi ini sebelumnya. Dan lagi, mengapa tadi Kazuto memanggil Ryan dengan 'Claris'?
"Saya akan mendengarkan," sang bentala memejamkan matanya sejenak. "Tanyakan apa saja yang ingin kau tahu."
"Saya akan menjawabnya, Ryan." tatapannya tertuju lurus pada Ryan, tanpa sedikitpun berkedip.
"Ceritakan semuanya tentang dirimu. Dan siapa yang kau maksud dengan jiwa itu???"
Yang Ryan maksud tentulah Poseidon, tapi ia ingin mendengar dari mulut Elliot langsung. Ryan menghela nafas. Lelah. Rasanya ia lebih lelah sekarang. Lelah dengan hidupnya lebih tepatnya.
Ryan benci keadaan ini. Namun di satu sisi, mungkin bisa menjadi jawaban yang ia cari selama ini.
"Aku akan menceritakan diriku." suara Ryan berangsur berubah, tidak seperti beberapa saat lalu. Ia masih ada kewarasan untuk tidak jatuh ke dalam lubang alter egonya.
Tidak untuk saat ini. Susah payah agar Chylara tidak keluar dan seenaknya menggunakan badannya. Kembali, ia mengusak wignya.
"Clarissa adalah nama asliku. Ada alasannya aku menyamar begini." Perempuan muda dalam samaran laki-laki itu memulai ceritanya. "Seperti yang kau dengar tadi, aku mempunyai mata mistik. Mystic Eyes of Petrification. Mata milik Medusa. Namun aku tidak bisa mengendalikan mata ini ..."
__ADS_1
Ryan mengambil nafas dalam-dalam, berat rasanya menceritakan rahasia terbesarmu terhadap orang asing. Namun orang asing itu justru bisa dibilang menyimpan kunci dari semua masalahmu.
"... aku mempunyai Alter Ego yang bernama Chylara, yang berasal dari Stheno. Lalu bisa menjadi monster, dan bisa dibilang bagian Euryale. Bisa dibilang aku adalah penjelmaan Gorgon itu sendiri. Hanya ini yang bisa kukatakan." Ryan menyudahi penjelasannya, lidahnya sekarang kelu. Mereka berdiam untuk waktu yang lama. "Aku akan tetap membantumu, dengan kutukanmu. Tapi aku meminta bayaran yang sepadan, Elliot. Mengenai dirimu dan jiwamu itu."