Planetes

Planetes
3. u. Happy Birthday Elliot!!


__ADS_3

Elliot menghela napas pelan. Setelah ia mengantarkan Ryan ke rumah gurunya, ia harus menelan ceramah bertubi-tubi dari Kazuto. Bisa ia pahami bahwasanya Kazuto mengkhawatirkan Ryan.


Beruntunglah Elliot tidak sampai di banned oleh Kazuto. Kalau sampai itu terjadi, entah bagaimana nasibnya nanti.


"Setelah ini, apa yang harus saya lakukan?" tatapan Elliot menerawang ke penjuru laut.


Ia tengah duduk di bibir pantai. Membiarkan ombak laut membelai kakinya yang telanjang.


Hari ini adalah Lectisternium. Namun, Elliot sedang tidak dalam kondisi senang untuk melakukannya.


"Kau ingin hadiah apa?" suara seorang puan menyapa gendang telinga Elliot. "Hari ini ulang tahunmu, kan?"


Ryan kali ini tidak lagi menyamar sebagai pria dan menampakkan dirinya sebagai Clarissa, lalu berjalan mendekati Elliot yang tengah duduk di tepian pantai. Namun tentu saja Elliot akan merasa asing karena belum pernah melihat sosoknya begini.


Benar saja. Netra Elliot mengerjap. Siapa ini? Auranya terasa tidak asing.


"Ah," tersadar karena menggantungkan tawaran sang gadis. "Peta bintang, jika tidak merepotkan."


Bisa jadi, itulah yang Elliot butuhkan saat ini. Namun, ia tak mau merepotkan bila barang itu sulit didapatkan.


Clarissa tersenyum melihat ekspresi kebingungan Elliot. Sudah pasti Elliot tidak tahu siapa dirinya dalam sosok begini. Biarlah, begini lebih baik.


"Peta bintang, ya ..." Clarissa mengusap dagunya sebentar. Di mana ia bisa mendapatkan peta bintang?


Seketika Elliot merasa, apa permintaannya terlalu susah, ya? Seketika keringat dingin menitik di pelipis dan bergulir menjadi butiran berlian.


"Anooo, kalau tidak... minuman keras saja tidak apa-apa."


Semoga saja nona ini tidak mabuk. Ia hanya asal sebut tadi.


Clarissa lantas mengerjap. Padahal dia tidak bilang tidak bisa.


"Kalau begitu, ayo kita ke bar saja. Aku tahu bar yang bagus."


Clarissa menjawab dengan senyuman, tangannya meraih ponsel dan mulai mengetik sesuatu.


Bukan itu masalah sebenarnya. Elliot hanya tidak ingin mempersulit. Elliot makin salah tingkah.


"Ah, benarkah? Terima kasih banyak—errr?" duh, nama wanita ini siapa, ya? Tidak enak kalau tidak tahu namanya, kan? "Nona bisa memanggil saya Ellie saja."


"Hahahahaha~"


Tawa kecil keluar dari mulut Clarissa, tentu saja sang puan ini tahu siapa pria di hadapannya kini.


"Aku sudah tahu kok siapa namamu, El."


Clarissa tersenyum penuh arti, "Sudahlah lupakan, kita segera pergi jika tidak ingin penuh tempat barnya."


Kok dia malah ditertawakan? Alis Elliot seketika keriting. Apa ada yang salah dengan kata-katanya?


"Baiklah," ia menganggukkan kepalanya dan mengikuti ke mana kembar tungkai milik sang puan melangkah. "Apakah tempatnya dekat?"


"Tidak juga." Clarissa dengan cepat menjawab, namun seketika menunjuk dengan ibu jarinya. Motor dengan warna orange menyala, terparkir tidak jauh dari situ.


Jawaban itu membuat Elliot berpikir bila tempatnya cukup jauh. Kalau bisa, ia ingin terbang saja. Tapi, sudah pasti akan sangat mencolok.



"Ayo cepat naik." tangannya menyerahkan helm untuk Elliot.


Kata-kata sang puan membuat Elliot tersadar dari lamunan.


"Baik," diambilnya helm yang disodorkan dan menaiki motornya. Rasanya ada yang salah.


Ketika Elliot sudah menaiki motor, maka Clarissa pun segera naik dan melaju dengan kecepatan penuh. Seperti biasa, membawa motor seakan membawa orang menemui ajalnya.


Begitu motor dilajukan. Barulah Elliot sadar apa yang salah. Cara gadis ini mengemudi seperti—

__ADS_1


Namun berkat itu, mereka sudah sampai dengan cepat ke sebuah bar terbuka.



"Sampai~" Clarissa bernapas lega seraya membuka helm miliknya. Rasanya senang sekali ia bisa sampai dengan cepat.


Lamunannya buyar ketika kembali suara perempuan ini memecah keheningan.


"Syukurlah," Elliot pun membuka helmnya. "Seleramu bagus juga ya, Clarissa." pujinya akan tempat yang gadis itu pilih.


Bagaimana ia bisa tahu? Elliot baru saja teringat bahwasanya Clarissa menyamar sebagai laki-laki di kesehariannya dan sudah tentu Elliot tidak terbiasa melihat Clarissa memakai dandanan layaknya gadis pada umumnya.


Ketika dipanggil nama aslinya, seketika dirinya membeku. Secepat itu diketahui? Cih, rasanya tidak seru juga.


"Aahh, kau bisa langsung mengetahui identitasku. Padahal lucu juga melihatmu kebingungan."


Clarissa menggembungkan pipinya tanda ia sedikit kesal. Astaga, rasanya dia sudah seperti anak gadis pada umumnya saja.


Mendengar ucapan Clarissa, Elliot pun tak bisa menahan tawanya. Rasanya impas juga.


"Soalnya tidak ada yang mengemudikan kendaraan sepertimu," jawab Elliot dengan yakin. "Walaupun tadi saya sempat berpikir tentang auramu yang tidak asing."


Aura, ya... Jika mengingat kemampuan Elliot rasanya tidak heran jika cepat atau lambat akan diketahui identitasnya. Selain karena dirinya berkendara.


"Sudahlah kita minum saja, Master aku pesan Vodka 2 gelas."


Clarissa mengangkat tangannya dan membentuk jari dua untuk minuman mereka. Yang langsung di anggukan oleh bartender, kembali lagi kini ia sudah duduk di tempat duduk terdekat.


Beruntunglah segera ada pengalihan jika tidak, Elliot sudah pasti akan membercandai Clarissa.


"Oui," sang bentala pun segera mengambil tempat duduk tak jauh dari Clarissa. "Sudah lama juga tidak minum di luar seperti ini."


"Harus kuakui kemampuanmu sedikit demi sedikit pulih. Toh, selama ini tidak ada yang tahu ini aku, kecuali kuberitahu."


Elliot tertegun sejenak. Lantas ia mendongakkan kepalanya seolah ada sesuatu di atas sana.


Meski demikian, masih ada satu kutukan yang membuatnya kerap merinding. Penglihatan akan kematian. Jika ia sudah melihatnya, tidak ada cara untuk bisa melindungi orang dalam penglihatan tersebut.


Istilahnya lolos dari sarang macan, masuk kandang buaya. Tidak lama setelah mengucapkan itu, datanglah minuman yang mereka tunggu.


[Ini minuman untuk Tuan dan Nona muda ini, saya tambahkan lemon dan es supaya segar.]


Ucap seorang bartender dan menyerahkan minuman ke arah mereka.


"Minumlah El, benar-benar aku yang traktir hari ini."



"Terima kasih banyak, Clarissa." Elliot lantas menyesap minumannya. "Biasanya di hari ini, saya hanya berada di pantai seharian bersama Possy. Transfer ingatan dia bilang. Akan tetapi, tetap saja ada yang rumpang." Elliot meneguk minumannya lagi. "Akhirnya saya menyuruhnya berhenti melakukan itu."


Possy?


Ah iya, maksudnya Poseidon. Kadang Elliot bisa memberikan nama yang lucu, Clarissa jadi menutup mulut dengan tangannya untuk menyembunyikan dirinya tengah tertawa. Namun getaran tubuh karena tertawa tentu tidak bisa ia sembunyikan.


Elliot mengernyitkan alis tatkala sang interlokutor tubuhnya berguncang. Apakah nama pemberiannya untuk Poseidon selucu itu? Tapi, belahan dirinya itu memang selalu protes saat ia menyebutnya begitu.


"Kutukan memang menakutkan, tapi aku sudah berjanji akan menghilangkannya, bukan? Karena itu jangan cemas lagi." Clarissa kembali berkata sembari menyesap perlahan vodkanya.


Sebagai sesama yang mempunyai kutukan, Clarissa sangat paham ketakutan yang dialami oleh Elliot. Ia sendiri tengah berjuang mencari cara menangani kutukannya.


"Terima kasih, saya merasa nyaman mendengarnya, Clarissa," ranum Elliot meliuk membentuk lengkungan bulan sabit.


Clarissa membalas dengan senyuman juga, rasanya ia agak tenang mempunyai teman senasib. Agak kasar memikirkan hal seperti itu, tapi memang itu yang dirasakannya.


"Benar juga, sekarang kau ketemu Poseidon ya... Sejujurnya aku juga mau ikut karena mungkin ada sesuatu yang bisa kucari tahu di sana." Clarissa meminum lagi vodkanya sebelum menyambung ucapannya. "Seperti yang kau lihat, bisa dibilang aku sedang berada dalam keadaan terlemahku. Chylara tidak akan keluar dalam kondisi ini."


Terdiam sejenak, Clarissa menghela napas berat. Ia tidak menduga ada kejadian seperti kemarin, sehingga membuatnya seperti ini. Kehilangan Mana secara drastis, dan juga ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi usai menghisap Mana dari Elliot.

__ADS_1


"Ah, benar. Kebetulan saya sudah membawa daun oak, dan wine untuknya."


Kuasanya menunjukkan mahkota dari daun oak yang dianyam olehnya dan dua botol wine dari tas yang dibawanya. Seperti sebuah keharusan, ia membawa benda-benda itu.


Tidak lama netra Clarissa melihat ke arah sesuatu yang dibawa Elliot, berupa mahkota oak dan wine. Setelah mendengar penjelasan dari Elliot barulah ia paham, jika benda-benda itu lah yang di butuhkan untuk memanggil Poseidon.


"Kalau kau mau ikut, akan saya antarkan. Kebetulan Possy juga ingin bertemu denganmu. Well, kau tahu saya dan dia berkomunikasi dengan telepati." Elliot menunjuk-nunjuk kepalanya.


Clarissa termenung sejenak, apa ia ikut saja ya?


Ain kembar Elliot mengerjap beberapa kali dan Elliot kembali meneguk minumannya.


"Aku rasa aku tidak bisa ikut dulu. Aku belum tahu apa yang akan terjadi..."


Clarissa memilih menolak akhirnya. Meski ia penasaran juga karena Elliot sampai bilang jika Poseidon juga ingin menemuinya.


Ia merasa ... terhormat?


"Aku belum siap dan soal tubuhku ..."


"Oh, benar juga. Saya penasaran bagaimana kau bisa selemah sekarang? Kau memakai kekuatan sihir berlebihan, kah?" tanya sang bentala pada Clarissa.


Clarissa melihat dirinya kembali. "... Aku masih bingung jika boleh jujur. Biasanya Chylara keluar dulu baru aku berada di state ini. Namun ia tidak keluar sama sekali." ia menghela napas berat lagi, Clarissa langsung menghabiskan vodkanya. "Lagipula, setelah ini aku menghilang dulu hingga kekuatanku kembali."


Elliot menghabiskan vodkanya dan ain kembarnya kembali menerawang entah ke mana. Termenung lagi. Kalau dipikir-pikir, baik dirinya maupun Clarissa banyak kesamaan.


Meski demikian, ia bukanlah makhluk fana seperti Clarissa. Meski suatu saat nanti ia akan menemui ajal, tapi selama ia berada di bumi ia akan tetap abadi.


"Begitu, ya? Saya tidak akan memaksa bila memang kau tidak bisa saat ini," diletakkan gelas minumannya dan menatap lurus ke arah Clarissa.


"Aneh juga, ya? Kalau merunut dari ceritamu, harusnya Chylara keluar dulu, tubuhmu berubah menjadi monster dan akhirnya kau melemah, kan? Tapi..." Elliot merasakan ada yang aneh, aliran Mana milik Clarissa terasa sedikit kacau. "...ada yang aneh dengan aura sihirmu. Mungkin itu juga penyebab anomali ini."


Bisa saja Elliot salah, karena itu hanya dugaannya saja. Tapi entah kalau memang benar.


Apalagi Elliot berlaku seolah-olah tidak pernah bertemu dengan Chylara dan wujud monsternya Clarissa. Ia sengaja menyembunyikannya, karena sepertinya Clarissa tidak ingat apa-apa tentang kejadian itu.


"Semoga tubuhmu lekas pulih, ya. Akan sulit bagimu jika Mana-mu habis saat bertugas, kan?" tanya Elliot lagi pada Clarissa.


Clarissa bersyukur Elliot tidak memaksanya itu, karena ia benar-benar tidak siap sama sekali. Hingga sampai pada Elliot bilang pada diri Clarissa, jika ada anomali di tubuhnya. Anomali seperti apa lagi? Ia benar-benar capek dengan keadaan tubuhnya sendiri.


Mendengar itu raut wajah Clarissa jadi mengeras. Ia harus menyelidiki dari awal lagi sepertinya.


Elliot tidak pernah memaksa seseorang untuk sependapat dengannya, makanya ia tidak mengharuskan Clarissa yang kondisinya tidak dalam keadaan baik ini untuk ikut dengannya. Melihat ekspresi Clarissa, ia merasa seperti salah bicara.


Apakah harusnya tadi ia diam saja? Tapi, siapa tahu Clarissa memerlukan informasi itu, kan?


"Tenang saja, aku biasanya menyembunyikan diri ketika berada dalam state ini. 'Mereka' tidak pernah tahu akan penampilanku yang ini." jawab Clarissa tenang, yang ia maksud 'mereka' tentu Magus tertinggi di Asosiasi Sihir Hitam. Untuk yang satu itu Clarissa masih merahasiakannya.


"Syukurlah jika demikian, semoga saja kamu tetap aman, Clarissa." ia berharap bisa berjumpa dengan gadis ini lagi tentunya.


"Kalau begitu aku pergi dulu El, seperti yang aku bilang tadi. Aku akan menghilang dulu. Sepertinya 'mereka' mulai mencariku karena aku menggunakan sihir di depan umum." Clarissa menepuk bahu Elliot, lalu menyerahkan kunci motor ke Elliot. "Semoga kita bisa ketemu lagi nanti."


"Oui, sampai jumpa lagi, Clarissa. Semoga kita bisa bertemu lagi. Kau tahu bagaimana cara menemukan saya tentunya, kan?" ia menerima kunci motor dari anak muda itu dan menyimpannya.


"Akan saya kembalikan padamu nanti, hati-hatilah, Clarissa." ucapnya seraya melambaikan tangannya pada Clarissa.


Clarissa sudah melenggang pergi menjauhi tempat Elliot di bar tersebut berada. Hiruk pikuk keramaian bar masih ia dengar, karena sudah semakin malam tentu saja pengunjung semakin banyak.


Baru saja ia hampir sampai di gerbang bar tersebut, tapi tiba-tiba Clarissa berhenti berjalan. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah Elliot lagi.


Tatapannya yang ia tunjukkan ke arah Elliot berasa kosong. Clarissa tidak tahu apa yang terjadi, ia merasa tubuhnya bergerak sendiri.


Dalam tatapan tersebut, bibirnya melengkung hingga menyeringai. Matanya seolah menunjukkan kemarahan, raut mukanya berubah menjadi orang lain.



Raut wajah itu masih menatap Elliot, hingga ia menyudahi tatapan tersebut. Dan kali ini menghilang di tengah lautan manusia.

__ADS_1


__ADS_2