Planetes

Planetes
1.n. Small Happiness


__ADS_3

Medeia si gadis cilik, ( oh, apa dia masih bisa dibilang cilik meskipun sudah hidup ratusan tahun ?) tiba-tiba memiliki ide untuk memberikan setangkai bunga kepada sosok papanya itu.ㅤ


ㅤㅤ


Medeia sebelumnya bingung, bunga apa yang cocok diberikan kepada sang papa, ia masih belum tahu banyak tentang papanya itu.


Semenjak datang ke rumah ini bersama kakaknya—Despoina, ia lebih sering melihat sang papa sibuk berkutat dengan pekerjaan. Jarang Medeia melihat papanya bermain dengannya.


ㅤㅤ


Oh, dan sebenarnya Medeia sudah memiliki beberapa pilihan bunga tetapi mungkin, bunga hydrangea cocok dengan papanya?ㅤ


Benar, menurutnya bunga itu sudah cocok untuk diberikan terutama warnanya mirip dengan rambut sang jajaka. Pun setelah memikirkan dan yakin, si cilik sekarang sedang membawa bunga hydrangea; tentu, dengan sengaja disembunyikan, di belakang badannya, ia hampiri sang jajaka sembari tersenyum dengan lebar.ㅤ


ㅤㅤ


❛ Papa——!❜ panggil si cilik sambil tersenyum lebar, ke pada sosok papanya itu.



ㅤㅤ


Pengejawantahan dari Neptunus ini tengah duduk di kursi kerjanya. Ada semburat kelelahan terlukis di peroman pria berambut kebiruan ini. Di luar dugaan, bulan ini pekerjaannya begitu banyak dan Elliot bahkan sampai lupa mencarikan hadiah untuk keponakannya kemarin.


Rungu menangkap suara langkah kaki kecil yang ia tahu adalah milik putri mungilnya. Segera Elliot mengalihkan atensinya ke sosok menggemaskan yang baru saja memanggilnya itu.


"Ya, ada apa, Sayang?"


Tanpa banyak berpikir lagi, ia segera menghampiri Medeia. Sosok yang memanggilnya tadi.


"Medeia ingin bermain bersama Papa?" tanyanya pada Medeia.


Dengan cepat gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Medeia tahu akhir-akhir ini papanya sedang sibuk, jadi ia 'tak mungkin mengajaknya bermain.ㅤ


ㅤㅤ


Dan gadis kecil itu langsung berujar, ❝Medeia punya hadiah untuk Papa.❞ katanya, dengan hadiah yang sudah di siapkan di belakang badannya.ㅤ


ㅤㅤ


Oh, dirinya lupa bertanya! ㅤ


ㅤㅤ


❝Papa, apa Medeia mengganggu?❞ tanya si cilik, sedikit telat tapi 'tak apa, kan? Padahal sebelumnya ia tahu kalau papanya sedang sibuk. Tapi, malah tiba-tiba ia datang. Medeia lupa, tapi semoga saja papanya 'tak merasa terganggu.ㅤ


ㅤㅤ


Dan semoga saja hadiah yang dibawa Medeia membuat rasa lelah papanya menjadi hilang juga.ㅤ


Sang bentala pun tertawa tatkala mendengar ucapan putri kecilnya yang menggemaskan ini. Mana mungkin ia merasa terganggu, benar?


Kuasanya terulur dan mengusap lembut pucuk kepala Medeia.


"Tentu saja tidak, Sayang. Kamulah obat lelah bagi Papa." dipeluknya tubuh mungil itu lembut dan penuh kasih.


"Selama ada kalian, Papa tidak akan merasa terganggu apalagi lelah." ranumnya meliuk membentuk seulas senyum hangat.


Selama ini, Elliot melakukan apapun seorang diri. Hingga anak-anaknya, rekan-rekannya, dan keluarganya datang satu per satu ke kehidupannya yang monokrom. Membuatnya bahagia.


"Omong-omong, hadiah apa, Sayang?" tanya Elliot pada Medeia.


Mendengar ucapan papanya itu, gadis cilik berambut biru 'tak dapat menahan senyum lebarnya, sembari membalas pelukan papanya dengan satu tangan.ㅤ

__ADS_1


ㅤㅤ


Pun setelahnya, Medeia melepaskan pelukan dan sedikit mundur beberapa langkah.


❛Medeia punya—❜ kalimatnya sengaja Medeia gantungkan, kemudian, ia perlihatkan tangkai bunga yang sebelumnya ia sembunyikan.ㅤ


ㅤㅤ


❛Bunga untuk Papa!❜ jawab Medeia, sambil kembali melangkah maju mendekati papanya itu.



Diberikannya setangkai bunga, sambil memperlihatkan kembali senyuman manis sang puan. Medeia sangat menyayangi papanya. Gadis cilik ini beruntung bisa kembali bertemu dengan papanya ini, orang yang memberikan Medeia kasih sayang yang besar.ㅤ


Ketika pelukannya terlepas dari puan ciliknya ini, Elliot menatap dengan penuh tanda tanya. Kira-kira apa yang akan diberikan oleh Medeia padanya?


Netranya membola tatkala melihat setangkai bunga hydrangea terulur dan diberikan padanya. Kuasanya terulur untuk menerima bunga itu dan tangan lainnya meengusap-usap pucuk kepala putri kecilnya.


"Terima kasih banyak, Sayang. Papa sangat senang," seulas senyum tergurat di peroman. "Medeia mau Papa buatkan apa?" tanya Elliot pada putri kecilnya. "Carbonara atau pasta?"


ㅤㅤ


Pun saat melihat respon tulus dari sang papa, Medeia 'tak dapat menahan rasanya dengan tercurah nya senyum manis yang ia tampilkan. Pun saat dirinya mendapatkan tawaran juga, Medeia langsung menjawab.



❛Medeia mau pasta buatan Papa!❜ jawabnya, yang sesudahnya tersenyum kembali ke arah sang papa.


"Kalau begitu," tangan Elliot mengacak pelan rambut putri kecilnya dan berkata. "Medeia duduk manis, ya? Papa akan membuatnya."


Usai berujar demikian, sang bentala segera berdiri dan beranjak menuju ke arah dapur. Beruntunglah Elliot seorang yang pandai memasak, sehingga ia mampu mengolah bahan makanan dengan tepat dan cermat.


Setelah beberapa saat, Elliot menghampiri putrinya dengan nampan berisikan dua piring pasta yang lucu secara tampilan. Soal rasa? Sudah pasti enak, dong.


"Sudah jadi, yuk makan, Sayang."



ㅤㅤ


Pun 'tak menunggu lama, si cilik langsung disuguhi dengan masakan buatan papanya yang begitu menggiurkan. Melihatnya saja, membuat perut gadis cilik yang satu ini langsung berbunyi.ㅤ


ㅤㅤ


Medeia menganggukan kepalanya dengan semangat, ❛Ayo, kita makan dan selamat makan Papa!❜ ujar si cilik sebelum menyantap masakan papanya itu.


Benar, kalau soal rasa masakan papanya paling juara. Lihat saja, Medeia sekarang makan dengan lahap.ㅤ


Elliot memperhatikan putri kecilnya yang sedang makan sembari tersenyum. Sungguh, kebahagiaan kecilnya kini bertambah. Elliot pikir, ia akan terus berada di rumah ini sendirian. Untunglah dugaannya meleset.



❛Papa? Kok melamun?❜ dengan polosnya, Medeia pun bertanya. ❛Papa sedang sakit?❜



Pertanyaan Medeia membuat Elliot tersentak ke alam sadar. Digelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak, Nak. Papa sedang berpikir. Jika rumah ini dihuni olehmu, Despoina, dan anak-anak Papa yang lain, pasti akan menyenangkan. Kau tahu, selama ini Papa selalu tinggal sendirian."


❛Papa tidak mengajak Kak Triton ataupun Kak Nereid untuk tinggal?❜ Medeia kembali bertanya.


__ADS_1


Elliot terdiam selama beberapa sekon. Pastanya ia diamkan begitu saja. Usai meloloskan ekshalasi, barulah ia menjawab.


"Mereka punya urusan, Nak. Tak ingin Papa mengetahuinya karena takut Papa ikut campur."



❛Kenapa?❜


"Karena urusan mereka lebih penting."


❛Apakah urusan mereka berbahaya?❜ㅤ


Lagi-lagi Elliot terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Medeia.


"Habiskan dulu makanmu, Medeia. Nanti akan Papa jawab, ya?" senyum merebak lagi di ranum.


Si kecil pun hanya menganggukkan kepala dan memakan pastanya. Tidak ingin mengecewakan sang papa.


Elliot menghabiskan pastanya susah payah. Ia tidak terlalu bergantung pada makanan, namun beberapa waktu ia butuh itu untuk mempertahankan wujudnya. Andai saja entitas White Death tidak mengutuknya, ia tak akan begitu bergantung pada makanan bumi.


❛Papa, Medeia sudah selesai makan.❜ si cilik menunjukkan piringnya yang kosong. ❛Papa ikut Medeia, yuk?❜


"Mau ke mana, Sayang?" alis Elliot mengkerut.


❛Kalau Medeia kasih tahu, nanti bukan kejutan, dong.❜ Medeia mengembungkan pipinya.


Tawa kecil Elliot pun lolos. Kuasanya terulur dan menepuk-nepuk pucuk kepala putrinya.


"Baiklah, Sayang. Maaf ya kalau Papa merepotkan Medeia."


Medeia menggelengkan kepalanya. Ia sangat sayang papanya, jadi apapun akan ia lakukan agar sang papa kembali ceria.


❛Ayo, Papa!❜


ㅤㅤ


Tangan kecil Medeia segera menjangkau tangan Elliot dan menariknya ke arah yang akan mereka tuju. Pengejawantahan Neptunus ini pun mengikuti langkah kecil putrinya. Mau ke mana mereka sebenarnya?ㅤ


Langkah mungil si cilik membawa keduanya ke tepian pantai. Ah, rupanya Medeia tahu bahwa rumah yang Elliot beli berdekatan dengan laut, ya?


❛Papa, kita sudah sampai!❜ seru Medeia riang. ❛Papa suka?❜



Elliot lagi-lagi tidak menjawab. Netranya sibuk meniti deburan ombak dan—apa itu? Sosok berambut panjang dengan netra semerah rubi.... Poseidon?


Ah, Elliot sampai lupa jika tadi putri kecilnya bertanya padanya. Diangkatnya tubuh mungil Medeia dan menggendongnya.


"Suka, sangat." diciuminya pipi putri kecilnya lembut. "Terima kasih, Sayang. Maaf membuat Medeia khawatir."


❛Papa jangan bersedih lagi. Medeia dan Kak Despoina di sini untuk Papa.❜ lengan mungil Medeia memeluk lembut papanya. ❛Kakak-kakak dan saudara Medeia yang lain pasti akan datang dan menemani Papa. Papa jangan khawatir, ya? Papa tidak sendirian.❜


Tangan mungil itu membelai lembut pipi papanya. Jika sang papa selalu mencurahkan kasih sayang padanya, maka ia pun kini harus melakukan hal yang sama.


❛Papa kuat, jadi Medeia yakin Papa bisa melaluinya. Medeia yakin itu.❜


Ah, entah siapa yang mengajari gadis ciliknya hingga bisa berkata demikian. Namun Elliot paham, anak-anaknya tidak ada yang seumuran anak-anak di bumi. Meski Medeia berwujud gadis cilik, nyatanya usianya pun melebihi perawakannya.


"Papa tidak apa-apa, Sayang. Maaf membuat cemas." meskipun penghiburan itu tidaklah cukup bagi Elliot, namun Elliot tidak mau mengecewakan Medeia yang sudah bersusah payah untuk menghiburnya. "Medeia jangan cemas lagi, ya? Papa baik-baik saja."


Sekali lagi, Elliot bukanlah Figgy yang mampu menyembunyikan segala hal dengan baik. Namun kali ini ia benar-benar ingin agar anak-anaknya tidak mengetahui apa yang ia pikirkan ataupun apa yang ia alami. Egois? Benar, Elliot sangat egois.


Namun, keegoisannya itu bukan tanpa sebab. Entah kapan Elliot bisa menceriterakannya pada saudara ataupun pada anak-anaknya. Yang jelas, bukan sekarang waktunya.

__ADS_1


Medeia tersenyum riang, dan memeluk lembut leher papanya. Berharap agar apapun yang membuat papanya gundah bisa menghilang segera.


—Bersambung


__ADS_2