Planetes

Planetes
2. l. Paranormal Game (1)


__ADS_3

Sebenarnya Laurens meminta Elliot untuk tetap tinggal bersamanya, pikir-pikir sambil membantu di klinik kecil itu sebagai dokter. Namun planet ke delapan dari tata surya itu menolak permintaan Laurens.


"Saya ingin mengobati orang-orang tak hanya di satu tempat, Monsieur. Jadi, tolong maafkan saya yang menolak permintaanmu itu." ulasnya pada Laurens saat menolak permintaan planet yang tubuh aslinya lebih besar darinya itu.


{Tidak apa-apa, aku maklum. Asalkan kau bisa menjaga dirimu, Elliot. Mentari bisa meleburku kalau gagal memastikanmu tetap selamat.}


"Aduh, saya kan bukan anak kecil lagi. Mengapa Bunda sampai sebegitu cemasnya pada saya?"


{Entahlah, yang jelas.... aku pun tidak rela melihatmu dianiaya oleh earthlings hina seperti beberapa waktu lalu.}


Laurens mendengus pelan. Rupanya ia masih nampak jengkel dengan apa yang diperbuat oleh para manusia itu pada Elliot. Elliot memakluminya, sebab pada dasarnya makhluk-makhluk celestial tidak suka bila diusik sedemikian rupa. Wajar bila Laurens murka.


{Lantas, kau mau ke mana sekarang?} Laurens bertanya. Tak mungkin Elliot tidak punya tujuan saat ini, kan?


"Inggris, saya ingin mengabdikan diri saya di sana," kata-kata Elliot membuat Laurens menepuk dahi.


Apa bedanya dengan bekerja di klinikku?! Laurens membatin. "Oke, kalau memang itu pilihanmu, semoga lancar dan kau baik-baik saja di sana."


Elliot menganggukkan kepalanya. Ia pun melambaikan tangannya sebelum berangkat dari tempatnya Laurens.


{Semoga keberuntungan selalu menyertaimu, Putra Matahari.}


Alih-alih menuju Inggris dengan segera seperti ucapannya, Elliot menghabiskan waktunya di rumah sakit Amerika Serikat. Ternyata ia kekurangan uang untuk pergi ke sana. Meski ia bisa terbang, dengan cuaca buruk seperti sekarang akan mustahil.


[Pada akhirnya saya malah jadi membohongi Monsieur Laurens,] Elliot membatin.


"Dokter Le Verrier," seorang perawat memanggil Elliot. "Ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan."


"Ah, maaf!" tersadar kalau tengah melamun, ia pun segera berdiri. "Pasien yang mana?"


"Nona Lianna White," sang perawat memberikan data sang pasien.


"Saya akan ke sana, terima kasih, Fiore." dengan segera, Elliot melangkah menuju ke arah kamar rawat sang pasien.


Pemandangan ruang rawat ini sungguh membuatnya tidak nyaman. Hawa dingin dan tidak mengenakkan menyeruak. Seolah ia masuk ke dunia lain.


Netranya menangkap sosok pucat kurus di atas ranjang. Itukah pasiennya? Kok seperti tidak ada tanda kehidupan?


"Nona Lianna White?"


Tanpa diduga, sosok itu menoleh. Ain kembar sang puan begitu kosong. Benar-benar tak ada kehidupan terpantul di sana.


"Ya, saya, Dokter," suara parau menyahut. "Apakah Anda Dokter Le Verrier yang menangani saya?"


"Oui," sang bentala berdiri di samping ranjang pasien dan bertanya. "Suster saya sudah menyerahkan catatan medis Anda. Ada keluhan, kah? Dari pemeriksaan, sepertinya tidak ada masalah dengan janin dalam rahim Anda."


Sorot mata Lianna tidak nampak seperti seseorang yang berbahagia karena tengah hamil. Sorot matanya itu....

__ADS_1


"Dokter, kira-kira berapa lama lagi saya akan melahirkan?" alih-alih menjawab pertanyaan Elliot, Lianna berbalik bertanya.


"Jika semuanya lancar, sesuai prediksi kira-kira akhir bulan ini Anda akan melahirkan bayi perempuan yang cantik." jawab Elliot dengan tenang. Berusaha tidak terbawa perasaan karena melihat ekspresi pasiennya.


"Saya ada permintaan, Dokter."


"Katakan, Nona," Elliot bersiap menelinga.


"Rawatlah puteri saya," perkataan Lianna membuat netra Elliot membola.


"Tu, tunggu dulu! Saya bukan walinya dan bukan ayahnya, bagaimana—"


"Cuma Dokter yang saya percaya di sini, jadi tolong jadi wali bagi anak ini!" Lianna menyergah ucapan Elliot. Parasnya sudah ternoda oleh air mata.


"Maaf kalau saya lancang, tapi... ke mana ayahnya? Kalau saya merawat puteri Anda tanpa persetujuan suami Anda—"


Lianna bungkam. Tangannya menggenggam fabrik yang menyelimuti bawah tubuhnya dengan erat. Seketika Elliot merasa salah bertanya.


"Baiklah, saya mengerti. Saya akan merawat puteri Nona."


Perasaan Elliot mendadak kalut. Sebab ia bukanlah manusia. Jika anak manusia ini ikut dengannya, bagaimana nantinya?


"Terima kasih, Dokter." Lianna nampak bahagia mendengar ucapan Elliot.


"Sama-sama, Nona." oh, iya. Ia terlupa sesuatu. "Kondisi Nona teramat lemah, menurut catatan ini... ada kemungkinan proses persalinan ini beresiko pada nyawa Anda." tatapannya tertuju pada Lianna.


"Ah, Anda sudah memberinya nama?"


Lianna mengangguk pelan. Tangannya mengelus perutnya yang buncit karena hamil 9 bulan. "Namanya Alice, untuk nama keluarganya saya serahkan pada Anda, Dokter."


Proses persalinan pun berjalan lancar, bayi puan tersebut lahir dengan selamat. Tetapi tidak dengan ibunya. Napas Lianna terhenti begitu tangis Alice pecah.


Elliot mendekap lembut bayi yang baru lahir itu dan mengecup dahinya. Berbisik pelan di telinga sang bayi. "Selamat datang ke dunia, Alice."


Sepertinya jika nanti anak-anaknya melihat, mereka akan memprotesnya. Namun untuk sekarang, mereka belum hadir dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi, Elliot rasa tidak masalah.


Sesuai janji, Alice berada dalam pengasuhan Elliot. Demi puteri angkatnya itu, Elliot melakukan apa saja untuk menunjang kehidupan Alice. Masih terbilang wajar, tidak sampai ekstrim juga.


"Daddy," Alice menubruk Elliot yang sedang membaca jurnal dan memeluknya manja. "Sebentar lagi ulang tahunku, Daddy mau memberikan kado apa?"


Elliot meletakkan jurnalnya dan memasang pose berpikir. Waktu berlalu begitu cepat, Alice yang tadinya masih bayi kini telah tumbuh menjadi remaja 15 tahun yang cantik.



"Kalau Daddy beritahu sekarang, namanya bukan kejutan, dong." Elliot mengacak rambut hitam Alice dengan gemas.


"Ah, Daddy. Kok pelit, sih?" Alice mengembungkan pipinya. Mengambek.

__ADS_1


Elliot dengan iseng mencubit pipi puterinya dengan gemas. Ia tahu kalau Alice hanya pura-pura mengambek.


"Nanti Daddy kasih tahu, sekarang makan siang dulu? Daddy akan buatkan makanan kesukaan Alice." Elliot bangkit dari duduk dan menuju ke arah dapur, menyambar celemek, dan mengambil bahan-bahan di kulkas.


"Yeey! Alice sayang Daddy!" sang gadis kembali memeluk ayah angkatnya, lalu duduk di kursi makan sembari menunggu.


Makanan berbahan dasar apel pun seketika memenuhi meja makan. Elliot menuangkan susu low fat ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Alice.


"Makan yang banyak, ya? Sehabis ini Daddy harus ke rumah sakit," Elliot berujar sembari memakan pie apelnya.


"Un, tidak apa-apa, Daddy! Nanti kalau Daddy pulang, Alice akan buatkan makanan kesukaan Daddy!" Alice berujar dengan riangnya.


"Merci beaucoup," Elliot menandaskan makanannya dan mengusap lembut rambut kelam Alice. "Daddy berangkat dulu, ya?"


"Um! Hati-hati di jalan!" Alice melambaikan tangannya dengan riang gembira.


Elliot selalu merasa nyaman ketika melihat senyum puteri angkatnya. Rasanya apa yang hilang darinya kini hadir dan membuatnya bahagia. Sayangnya, siang itu adalah kali terakhir Elliot melihat senyum hangat Alice.


Ketika ia pulang ke rumah keesokan paginya, rumahnya sudah dipasangi garis polisi. Alice ditemukan telah tewas di kamar tidurnya dengan luka tusuk di bagian leher. Tidak ada jejak yang tertinggal selain tulisan aneh di samping tubuh Alice.


Aku akan segera menyusul.


Begitulah yang tertera. Tidak ada yang tahu tulisan siapakah itu.


Elliot meringkuk di sudut ruangan. Menyesal mengapa meninggalkan puteri angkatnya sendirian di rumah. Andaikan ia bisa membawa Alice ke rumah sakit atau mempekerjakan pembantu untuk menemani Alice, hal ini tidak akan—


"Dokter Le Verrier?" adalah satu polisi menghampiri Elliot yang masih menangis di sudut ruangan. "Kami butuh keterangan darimu mengenai kasus ini."


Segera saja Elliot mengusap air matanya dan memberikan keterangan sesuai dengan yang diminta oleh polisi. Meskipun kepolisian pada tahun 1900-an belum semaju sekarang, namun cukup untuk memberikan Elliot waktu untuk menelusuri dengan kekuatannya.


Begitu mendapatkan apa yang ia cari, Elliot segera melaporkannya pada pihak yang berwajib. Mereka pun bergerak dengan cepat ke lokasi yang disebut-sebut sebagai tempat tinggal sang pelaku. Namun, mereka harus menelan kekecewaan. Pelaku dari pembunuhan Alice telah ditemukan gantung diri di kamarnya.


Satu-satunya hal yang merujuk bahwa dia adalah pelaku pembunuhan itu adalah... kamarnya menyimpan banyak lukisan Alice dan juga terdapat surat-surat yang semuanya merupakan balasan dari Alice. Kasus pun ditutup.


Semenjak itu, Elliot berhenti menjadi seorang dokter. Ia beralih profesi menjadi traveler dan penulis esai. Trauma yang mendalam akibat meninggalnya Alice membuat Elliot tidak bisa lagi bekerja sebagai dokter, ia pun terus menerus dihantui oleh perasaan bersalah.


Suatu hari, rekan satu profesinya sesama penulis esai melontarkan sebuah topik yang luar biasa. Berpuluh-puluh tahun telah terlewat pasca Elliot melepaskan profesi dokternya, kini ia dihadapkan dengan sebuah bahasan yang membuatnya mengernyitkan alis.


Hide and Seek with Alice.


Permainan supranatural yang mengharuskan seseorang untuk kabur dari kejaran hantu wanita bernama Alice. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya Elliot berusaha menyembuhkan hatinya dari rasa kehilangan, kini ia harus mendengar lagi nama Alice.


"Saya akan mencoba mengulasnya, mungkin nanti akan bertanya-tanya pada player nya."


"Hati-hati, El!" temannya itu memperingatkan.


Karena itu adalah permainan supranatural, bukan tidak mungkin akan membahayakan jiwa, kan? Elliot tidak punya pilihan lain selain mengulasnya dan mengungkap fakta di balik Alice Game.

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2