Planetes

Planetes
3. e. After that....


__ADS_3

Tiga hari berlalu begitu saja, Ryan mulai mendapatkan kembali suhu tubuhnya. Dirinya yang masih tertidur pun bisa merasakan tubuhnya sudah lebih membaik.


Tidak bisa menyalahkan kepada pemburu segel sepenuhnya, karena sebelum mereka, Ryan sempat memakai kekuatannya. Hingga Mana-nya terus menerus berkurang.


Kelopak mata yang menyiratkan mata berwarna kuning keemasan pun terbuka. Ryan mengerjapkan matanya, mencoba memusatkan pandangannya yang masih samar-samar.


Sekilas ia mengira ada di kamarnya, namun Ryan merasakan keberadaan lain selain dirinya. Tidak mungkin ada orang masuk seenaknya ke apartemen miliknya.


Baru saja Ryan bangun untuk memastikan, namun rupanya ruangan yang di depannya sangat berbeda dengan yang berada di kamarnya.


"Dimana ... aku?"


Ugh. Bahkan kerongkongannya terasa amat sangat kering, berapa lama ia tidak sadarkan diri?


Ingatannya seketika kembali pada beberapa hari lalu, saat Ryan di serang, lalu ada pemuda yang bilang ia adalah planetー


Sebentar.


Planet?


Mengingat hal tersebut, Ryan terbangun dari tempatnya lalu mulai celingak-celinguk kanan kiri. Ia kira ia mendapat mimpi, tahunya apa yang di alami memang kenyataan. Sial. Seandainya saja ia masih dalam keadaan prima waktu itu.


"He-Heiー"


Dan sekarang suaranya juga yang mau hilang. Hanya bisa menghela nafas pelan. Sebelum ada orang datang ke kamarnya ini, Ryan harus merapikan kembali wig yang ia kenakan. Jika sampai ketahuan bahwa ia adalah perempuan yang menyamar menjadi laki-laki, kacau sudah misinya.


𝒯𝓊𝓀, 𝓉𝓊𝓀, 𝓉𝓊𝓀. Tungkai kembar milik gadis kecil berambut biru dongker berkepang dua melangkah menuju kamar tamu sembari membawa nampan berisikan jus elderberry. Bentala berhelai kebiruan pun mengekor di belakangnya dengan troli berisikan berbagai makanan dan minuman.


Elliot mengetuk pelan pintu tersebut sebelum masuk ke dalam kamar diikuti putri kecilnya.


"Ah, kau sudah sadar?"


Medeia beringsut menghampiri pria di atas tempat tidur itu dan menyodorkan nampan berisikan segelas jus elderberry.


"Tertidur selama 3 hari pasti membuat lehermu kering, minumlah. Ampuh untuk mengatasi tenggorokan kering." ranum sang buana menguntai silabel demi silabel dengan lancar.


Tidak ada kepura-puraan dalam warna suaranya. Ia mengatakan segalanya dengan jujur.


Agak terkaget dengan kedatangan Elliot beserta anak kecil yang membawakan nampan berisi jus. Ryan yang masih agak linglung menerima jus tersebut dengan canggung.


Ia merasa canggung terutama dengan anak kecil, karena kehidupannya tidak pernah ーatau mungkin jarang bersinggungan dengan anak kecil menyebabkan Ryan terkadang bingung dengan seorang bocah.

__ADS_1


"Omong-omong, ini putri saya. Laomedeia," ia memperkenalkan gadis cilik yang membawa nampan itu pada Ryan.


"Salam kenal ya, namaku Ryan Mycenae. Panggil saja Ryan." kata Ryan dengan nada canggung.


Tapi, tunggu. Dia bilang putrinya, sambil minum Ryan memperhatikan anak tersebut.


Planet mempunyai seorang anak rasanya tidak mungkin, kecuali ... anak itu bulan?


Sama seperti planet yang mempunyai Type, 'bulan' juga mempunyai Type juga. Bulan di bumi pun masuk ke kategori Type-Moon, atau lebih di kenal Crimson Moon.


"Dia ini ... 'bulan' bukan?" tanya Ryan dengan hati-hati, sambil menunjuk ke arah puan cilik di sebelahnya.


"Benar, anak ini adalah bulan. Salah satu dari 14 bulan yang saya miliki," sang bentala mengiyakan perkataan Ryan.


Medeia lantas menganggukkan kepalanya dan kembali melemparkan senyum pada sosok yang masih berada di atas ranjang.


Selesai menghabiskan minumnya, Ryan menaruh lagi di nampan tersebut.


"Ah, terima kasih ya." ucapnya masih terasa canggung. Lalu menatap Elliot kembali. "Anda juga, terima kasih sudah menolong dan mengizinkan untuk menginap di rumah anda."


tanpa sadar nada bicara Ryan menjadi sopan.


"Sepertinya ia suka berdekatan denganmu," Elliot membuka suara. Kuasanya menepuk-nepuk pelan pucuk kepala putrinya. "Anak ini biasanya malu-malu dan canggung bila bertemu dengan orang baru."


Kalau Medeia sampai tersenyum pada seseorang selain keluarganya, artinya putrinya merasa cocok, kan? Jarang sekali putrinya bersikap demikian pada earthlings yang ditemuinya.


"Sama-sama, Ryan. Saya sama sekali tidak keberatan membawamu ke mari. Apalagi saya beberapa malam lalu mengatakan bahwa saya memerlukan bantuan mu, benar?" tutur Elliot tanpa basa-basi, menyahut ucapan terima kasih Ryan sebelumnya.


Lantas Ryan pun teringat dengan kejadian 3 hari lalu, masalah kutukan.


"Ngomong-ngomong, mau kita bahas lebih lanjut lagi? Mungkin bisa diceritakan detail tapi tidak terlalu panjang." Ryan sambil melirik ke arah anak kecil, apa si anak boleh tau pembicaraan mereka atau tidak, apalagi ini menyangkut si Ayahnya sendiri.


Tatapan Elliot lantas teralih pada putri kecilnya.


"Medeia, Papa mau berbicara dulu dengan Kak Ryan. Medeia main di kamar dulu, ya?" pintanya sembari mengusak rambut ikal putrinya.


Tanpa banyak bicara, gadis cilik itu beranjak dari kamar tamu sambil membawa boneka kesayangannya. Elliot meloloskan ekshalasi dan kembali mengalihkan atensi pada tamunya.


"Bagaimana jika kita berbicara sambil sarapan? Kebetulan saya baru selesai memasak," ia menyodorkan sepiring risotto dengan taburan keju parmesan di atasnya. "Tiga hari tertidur pasti lapar, kan?" ujarnya lugas pada Ryan.


Anak itu suka padanya? Tidak pernah terpikirkan dalam diri Ryan jika bisa disukai oleh seorang anak kecil. Jika memikirkan ia biasanya memakai topeng baik hatinya, namun anak kecil lebih peka dari yang ia duga. Mereka menjauhi dirinya terlebih dulu, sebelum ia sempat mendekati.

__ADS_1


Karena itu Ryan cenderung menjauhi anak-anak karena mereka pasti tidak suka dengannya duluan. Namun saat anak itu menunjukkan sikap bersahabat dan dibilang suka dengan keberadaannya, membuat dirinya jadi sedikit tersipu.


Menggaruk pipinya yang tidak gatal, ia bisa merasakan wajahnya agak terasa panas.


Namun itu tidak lama, setelah ia mendapati jika sang bulan tersebut berpisah dari mereka, karena mereka akan berdiskusi serius.


Tapi rupanya dia diajak sarapan dulu, kalau boleh jujur jus yang dikasih olehnya tadi lebih dari cukup untuk mengisi perut kosongnya. Ryan memang suka memasak, tapi itu tidak lebih untuk mengasah survivabilitas-nya.


Ah, makanannya sudah disiapkan rupanya. Baru saja mau menolak, tapi jika sudah begini tidak enak untuk tidak menerima.


"Ah terima kasih."


Saat melihat hidangan risotto dengan taburan keju, membuat mata Ryan agak terbelalak karena ada makanan kesukaannya disini. Jika terimajiner, seperti kucing yang telingannya menegak setelah melihat sesuatu yang disukainya.


Cepat-cepat ia mengambil sendok, lalu menyendok kecil risotto tersebut. Saat makanan tersebut memasuki mulutnya, mau tidak mau ia merasa takjub lagi.


"Hoo, enak."


Pujinya tulus, tidak lama Ryan berdehem, karena ia harus bersikap seperti sehari-hari.


"Ehem, maafkan aku."


Sudah mulai agak informal, "Jadi, bisa ceritakan lagi?" tanyanya ulang sambil menatap Elliot.


Sang bentala terkekeh geli tatkala memperhatikan ekspresi lanang yang ada di atas ranjang. Ternyata ada saat-saat di mana pemuda ini bisa jujur dengan diri sendiri.


Apalagi ia baru menyadari bahwa pemuda ini menyukai masakan yang ia buat. Kemampuan memasaknya berarti tidak menurun.


"Ah, benar juga," buana berhelai biru itu mengambil kursi dan mengambil sepiring Ratatouille dan menyantapnya.


"Kalau diurutkan," Elliot mengambil kertas dan mencoret-coret di atasnya. "Beginilah urutan kutukan yang saya dapat."


Ia menuliskan kutukan berikut penyebabnya. Elliot menyendok makanannya lagi dan mulai bercerita.


"Ketika saya berhenti bekerja sebagai dokter rumah sakit karena suatu sebab, saya beralih bekerja sebagai penulis esai dan wartawan lepas. Saat itu ada rekan saya sesama pencari berita, memiliki hobi memainkan permainan paranormal," menjeda sedikit untuk menghabiskan makanannya.


"Beberapa kutukan tersebut adalah akibat dari ikut campur nya saya untuk mencegah makhluk-makhluk gaib itu mengambil nyawanya. Kau tahu, kutukan itu sifatnya mematikan bagi kalian para earthlings tapi efeknya berbeda jika yang kena adalah immortal." Elliot meloloskan ekshalasi.


"Kalau ada yang tidak kamu pahami, boleh ditanyakan pada saya, Ryan."


—bersambung

__ADS_1


__ADS_2