Planetes

Planetes
3. d. In Elliot House


__ADS_3

Neptunus—tidak, kita sebut saja dengan nama manusianya, Elliot, terlihat rikuh tatkala netranya memperhatikan gestur anak muda yang bernama Ryan ini. Sepertinya penjelasannya barusan diartikan lain? Sebenarnya bukan dirinya yang melakukan ritual tersebut, melainkan orang-orang terdekatnya. Kau bisa bilang teman kerja, kekasih, atau apalah.


Elliot hanya terseret dan pada akhirnya menjadi korban permainan mematikan itu. Ia tak tahu apakah harus bersyukur ataukah tidak dengan immortality-nya. Yang jelas, dampak dari permainan itu adalah kutukan yang harus ia tanggung.


Secara tidak langsung, kutukan itu menghambat kehidupannya di mayapada. Sebut saja aktivitas sehari-hari sebagai manusia, terhambat karena tiba-tiba Elliot patah tulang atau terluka dan tidak jua sembuh. Itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak kutukan yang ada pada dirinya.


Bersyukurlah Ryan sudah terduduk beberapa waktu, hingga tenaganya sudah pulih. Rasanya cukup untuk berjalan selama beberapa saat, jika rumah Elliot dekat seperti yang dibilang tadi. Berharap juga ia memang kuat hingga sampai sana.


"Aku masih kuat kok, hanya sajaー"


Ryan mulai meraba-raba sekitarnya, berharap mendapati sosok Elliot. Ketika ketemu, ia memegang baju milik Elliot. Setengah berharap Elliot tidak menyadari bahwa dia bukanlah pria. Akan menimbulkan kegaduhan nantinya.


"ーjika boleh, tolong tuntun dan biarkan aku setidaknya menggenggam bajumu untuk tumpuan. Mataku harus tertutup, jangan tanya kenapa."


Benar. Salah satu masalahnya bagi Ryan sekarang adalah matanya. Ia tidak tahu apa sang planet tersebut bisa terpengaruh oleh mata gaibnya ataukah tidak. Namun, Ryan lebih mengkhawatirkan Alter Ego-nya yang keluar.


"Tolong dan silahkan tunjukkan jalannya Tuan~"


Nada bicara Ryan berubah menjadi sangat manis, membuat Elliot mengerutkan dahi. Mengapa di saat begini Ryan terlihat seperti seorang gadis manja yang imut? Elliot segera mengenyahkan pikirannya.


Ryan adalah laki-laki, dan dirinya masih normal. Tidak boleh ada ketertarikan terhadap Ryan. Elliot nampaknya tidak tahu bahwa Ryan aslinya memang seorang wanita muda yang tengah menyamar.


"Kau benar-benar butuh istirahat saat ini, Monsieur." Elliot lantas membantu Ryan untuk berjalan.

__ADS_1


Karena perbedaan tinggi badan yang cukup signifikan, agak sulit bagi Elliot untuk memapah galih berhelai kelam itu. Namun toh, ia membiarkan tangan Ryan memegangi fabrik yang ia kenakan.


"Oui, Monsieur. Saya tak akan bertanya," masih dengan senyum terhias di peroman, ia pun melangkahkan tungkai kembarnya menuju ke kediamannya. "Ke arah sini."


Seusai ranumnya menguntai kata, Elliot pun membimbing earthlings ini menuju ke kediamannya. Tidak seberapa jauh, hanya berjarak 800m dari pantai tempat mereka bersua tadi. Sang bentala sembari memastikan bahwa Ryan masih bersamanya saat ia berjalan.


Ryan yang masih menggenggam baju milik Elliot, terlihat sudah sangat terengah-engah. Walau memang benar jaraknya dekat namun tubuh Ryan benar-benar tidak bisa diajak bekerjasama.


'Pemburu segel brengsek!'


Di pikirannya sedari tadi hanya menyumpahi mereka karena berhasil membuatnya seperti ini. Tangannya pada genggaman pada baju Elliot terlihat buku-buku jarinya sudah memutih, terlalu keras ia menggenggam, tapi jika tidak begitu Ryan bisa jatuh sewaktu-waktu.


"Sudah sampai?" Ryan bertanya untuk memastikan, perasaan lega merasuki dirinya, ternyata ia kuat juga sampai kesini. Padahal tadi ia ragu bisa sampai dengan selamat.


Belum selesai Ryan memberitahukan kondisinya, Ryan sudah kehilangan kesadaran duluan dan ambruk begitu saja ke tanah.


Jika Elliot memegang badannya, ia pasti akan menyangka Ryan meninggal karena badannya sudah mendingin bagai mayat. Walau napasnya masih ada. Padahal banyak yang Ryan ingin tanyai jika ia tidak pingsan.


Pengejawantahan dari planet Neptunus ini menoleh ke arah sang lanang yang masih berpegangan pada fabrik yang dikenakannya. Kondisi Ryan jauh dari kata baik. Suhu tubuhnya ia perkirakan menurun drastis.


"Sudah," kuasanya menjangkau gagang pintu yang tadi sudah ia buka kuncinya dan melenggang masuk ke dalam rumahnya. "Ke arah sini."


Kembali, Elliot melangkahkan tungkai kembarnya menuju ke destinasi yang disebutkan. Harus cepat! Begitulah yang ia pikirkan saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, selamat beristira—" sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Ryan sudah ambruk duluan. "Yare, yare...."


Elliot lantas membopong tubuh yang suhunya mendingin itu ke kamar yang sebelumnya telah ia sebutkan.


「Papa sudah pulang?」


Suara halus anak perempuan membuat Elliot merandek. Ia segera menghampiri anaknya dan berjongkok di depan putri kecilnya, Medeia.


"Sudah, Sayang. Kamu kok belum tidur? Mimpi buruk?" kuasanya mengusap-usap pucuk kepala Medeia dengan lembut.


「Medeia menunggu Papa pulang.」tatapan Medeia teralih pada kamar tamu yang masih terbuka. 「Itu siapa, Papa? Teman Papa?」


"Iya, Sayang. Namanya Ryan. Ia akan menginap di sini selama 3 hari." jeda sejenak, Elliot segera beranjak untuk menutup pintu kamar yang tadi masih terbuka. "Nah, sekarang ayo tidur."


Gadis kecil berambut biru dongker itupun berbalik dan menuju kembali ke kamarnya. Bentala berhelai kebiruan ini pun meloloskan ekshalasi.


"Sekarang bagaimana, ya?" kemam pun lolos dari celah ranum sang bentala.


Melihat Ryan tertidur pulas, Elliot meloloskan ekshalasi. Cermin sihirnya bereaksi, apakah ini artinya ia akan berhadapan dengan orang yang pernah ia ramalkan? Tapi, mengapa berbeda dengan orang yang pernah ia lihat siluetnya?


Ya, kenapa? Apakah mungkin Ryan adalah....


—bersambung

__ADS_1


__ADS_2