Planetes

Planetes
2.c. Lost at Sea (3)


__ADS_3

Bosan. Menjemukan. Kehidupan macam apa ini? Batin Neptunus terus-menerus merutuk tidak puas. Kesehariannya yang diterpa rutinitas monoton membuatnya merasa jengah. Mungkin kehidupan macam ini akan didambakan setiap orang, dimana kalian akan dimanjakan dan dipenuhi kebutuhannya setiap hari.


Layaknya sesembahan, setiap hari ada saja yang mendatangi Neptunus dan menghadiahinya dengan barang-barang mahal. Tanpa jeda, dan membuat pergerakan Neptunus terasa terbatas.


Ia tahu bahwasanya di bumi ini dia dianggap sebagai sosok Dewa. Entitas yang memiliki kekuatan lebih dan juga berkuasa atas alam. Kendati bumi bukanlah rumah sang bentala, namun ia punya kewajiban yang harus ia tunaikan di sini.


Namun lihatlah kondisi saat ini, bagaimana mungkin Neptunus mampu menjalankan tugasnya bila ia diperlakukan layaknya burung emas dalam sangkar? Kehidupan terjamin bukanlah sesuatu yang ia inginkan, Neptunus adalah laut. Ia bebas melakukan apa saja. Tidak harus terkurung dalam ruang pemujaan seperti sekarang, di mana ia hanya duduk dan memberikan berkah bagi setiap orang yang datang.


"Darts, saya mau bicara," ujar Neptunus pada suatu hari pada sang Raja.


Posisinya yang lebih tinggi dari sang Raja membuat Neptunus menanggalkan embel-embel 'Yang Mulia' pada pria yang memerintah negeri ini. Meski demikian, sikap Neptunus tersebut dipandang tidak sopan dan kurang ajar bagi para prajurit maupun petinggi kerajaan yang lain. Terlepas posisi Neptunus yang merupakan Dewa yang mereka sembah.


「Katakanlah, Yang Mulia.」


Posisi mereka terbalik saat ini. Namun harus mereka akui bahwa Neptunus memang layak mendapatkan sebutan seperti itu.


"Apa maksudmu mengurung saya di tempat itu? Ingin membuat saya mati bosan?" segera saja Neptunus mengatakan semua ganjalan hatinya.


Darts terperangah sesaat. Sesembahannya ini mengeluhkan kebijakan yang ada, apakah ia berlebihan?


「Maafkan saya, Yang Mulia. Namun itu sudah ketentuan. Bagaimana mungkin Anda bisa meninggalkan ruangan tersebut? Bagaimana mereka bisa memohon sesuatu pada Anda?」


Astaga. Neptunus lantas menghela napas. Jawaban Darts sungguh mengecewakan. Ia kira, dengan mengatakan apa yang dirasakannya langsung pria ini akan mengerti.


"Kamu paham tidak, apa yang saya keluhkan?"


Istana terasa bergetar. Suasana hati Neptunus lagi-lagi tidak baik. Darts sekonyong-konyong menjatuhkan dirinya di hadapan Neptunus. Memohon ampun padanya.


「Ampun, Yang Mulia. Baiklah, hari ini Yang Mulia bebas untuk keluar dari ruangan itu. Tolong jangan hukum kami dengan murkamu.」


Darts khawatir jika negerinya akan hancur bila Neptunus sampai marah. Makanya ia memilih untuk mengalah sebelum istananya ambruk dan disusul bencana bertubi-tubi. Rakyatnya akan menghujatnya habis-habisan nanti.


Neptunus tersenyum penuh kemenangan. Ia pun berujar sebelum melangkahkan kaki ke luar istana.


"Anak baik, jika demikian saya keluar dulu."


Sepeninggal Neptunus, Darts menggeram kesal. Meski ini baru pertama kali terjadi di depannya, namun bagaimana bila nantinya Neptunus semakin melunjak? Harga dirinya sebagai Raja akan jatuh.


Tetapi, bagaimana caranya melawan Neptunus? Darts termangu. Mungkin ia akan bersabar dahulu saat ini. Bila memang Neptunus melakukan sesuatu yang melampaui batas, barulah ia akan bertindak.


Sebelum ia keluar istana, tentulah Neptunus mengenakan pakaian orang biasa. Diselubunginya kepalanya rapat-rapat agar rambutnya tidak terlihat. Siapapun akan mengetahui dengan jelas siapa dirinya bila melihat warna rambut itu.

__ADS_1


Selagi Neptunus berjalan-jalan di luar (nyatanya ia melanggar janji, bukannya sehari melainkan selama seminggu lebih), ia melihat perlakuan para majikan ke budak-budak mereka dengan tidak berperikemanusiaan. Hati sang bentala pun tergerak untuk menolong mereka, karena ia pun pernah merasakan hal yang sama.


"Hentikan! Jangan lakukan hal itu pada budak-budak kalian!" Neptunus segera menghardik mereka dan mencegahnya memukuli ataupun mencacimaki budak-budak itu.


Di luar dugaan, para majikan dari budak-budak itu memandang remeh dirinya. Sudah pasti karena Neptunus tidak memakai pakaian dari kerajaan, pun memperlihatkan sosoknya dengan jelas.


Terdengar suara tawa mengejek, bahkan telinga Neptunus dapat menangkap bagaimana mereka menghinanya sedemikian rupa. Tatapan mata Neptunus mulai menggelap.


"Kalian, lekas pergi dari sini." Neptunus menyuruh para budak untuk segera pergi. "CEPAT!"


Mereka dengan segera lari dari tempat itu dan tidak lagi menoleh ke arah Neptunus. Sementara itu Neptunus.... menganggap orang-orang di negeri ini sama saja dengan di beberapa kota yang disinggahinya beberapa waktu lalu.


Seketika cuaca pun berubah buruk dan petir menggelegar. Seolah langit sedang murka. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa itulah kekuatan Neptunus.


Getaran di istananya membuat Darts cemas. Apakah terjadi sesuatu di luar istananya?


「Apalagi yang Dewa itu lakukan?」 gerutu Darts sembari melangkah ke luar istana dengan tergesa-gesa.


Begitu ia sampai di luar, cuaca sudah sangat buruk dengan badai menerpa. Hujan turun dengan begitu derasnya. Ditingkahi petir yang menyambar-nyambar.


「YANG MULIA! YANG MULIA!」Darts berteriak-teriak memanggil sesembahannya itu.


「Yang mulia! Saya mohon hentikan murkamu! Yang Mulia!」


Itulah akhir dari peradaban Atlantis. Kalau Neptunus dianggap berlebihan, patut kalian ketahui bahwa perilaku orang-orang yang disaksikan oleh Neptunus sudah sangat keterlaluan.


Alih-alih sadar dan berusaha untuk menjadi lebih baik, mereka berkeinginan menghilangkan eksistensi Neptunus. Bagaimana Neptunus tahu? Ia sudah melihatnya lebih dulu melalui cermin air, dan semacam peringatan untuknya bahwa sang bentala harus berhati-hati terhadap Darts.


Setelah Atlantis hilang di tengah laut, bagaimana nasib Neptunus? Ia pergi ke sebuah tempat, Santorini bila di masa sekarang, dan di sanalah ia membagi dua dirinya.


Begini prosesnya. Neptunus saat itu menengadahkan kepalanya dan menatap lurus ke arah matahari di atasnya. Kedua tangannya ia ulurkan ke atas kepalanya dan berseru.


"Wahai Pencipta Alam Semesta! Saya telah melakukan dosa karena menghilangkan ribuan nyawa, bahkan yang tak berdosa! Hukumlah saya dan berikan saya kesempatan untuk menebus semua dosa ini!"


Tiba-tiba mendung menggelayut dan memberangus keindahan matahari siang. Menggantinya dengan awan-awan kelam ditingkahi petir menyambar-nyambar di sana. Hujan badai pun turun dan mengguyur daerah tersebut, lalu tubuh itu tersambar petir dan begitu badai itu reda... muncullah sosok lain dari Neptunus.


Ia berambut panjang hingga mencapai mata kaki berwarna biru dongker, mata semerah darah, dan raut wajah yang nampak tidak begitu bersahabat. Sebagian ingatan yang tidak diinginkan oleh Neptunus ada padanya, lalu sosok itu melangkah menuju ke tengah laut dan hilang di sana.


Sosok itulah yang di kemudian hari dikenal sebagai Poseidon. Bagaimana dengan Neptunus? Ketika Neptunus melakukan ritual pemisahan diri, tanpa sengaja ada seseorang yang memergokinya dan menganggap bahwa Neptunus melakukan ritual ilmu hitam.


Meski peristiwa pemisahan diri itu tidak sepenuhnya dilihat oleh orang tersebut, namun berita yang dibawanya ke warga setempat cukup membuat warga geram. Mereka pun berduyun-duyun mendatangi sosok Neptunus yang masih tergolek di pantai, menyeretnya ke sebuah tempat dan mengikatnya.

__ADS_1


Neptunus dibangunkan paksa dengan air dan cambuk. Namun ia tidak ingat apapun kejadian sebelum ia tergolek di tepi pantai itu. Ia hanya ingat bahwa ia memiliki tugas melindungi umat manusia dari antek-antek matahari.


"Kenapa saya diperlakukan begini?" tanya Neptunus tidak mengerti.


"Kenapa kamu bilang?" suara orang-orang yang berkerumun nampak bengis, dan tatapan mereka begitu marah. "Kau akan membawa kehancuran di negeri kami!"


Neptunus terkesiap. Benarkah? Apa yang telah ia lakukan?


"Apa maksud kalian? Saya tidak melakukan apa-apa." Neptunus nampak sangat bingung.


Terdengar salah satu dari mereka mendecih dan mulai bercerita.


"Empat puluh tahun lalu, kau datang ke kota kami. Lalu kau menghancurkannya tanpa basa-basi! Aku adalah salah satu dari orang yang selamat dari kejadian itu dan kau masih mengelak?!"


Neptunus terkejut mendengarnya dan ia mulai bertanya-tanya. Apakah benar ia sudah membunuh orang? Apakah ia sudah melakukan dosa besar?


Selagi Neptunus terdiam, orang-orang itu tersulut emosinya akibat cerita orang tua tadi.


"Sebelum kau datang, semua peristiwa aneh tidak pernah terjadi! Kami yakin bahwa kau pengguna ilmu hitam dan harus dihukum mati!"


Hukum mati? Apakah ini akhir dari kisah hidupnya?


"SERET IA KE TIANG GANTUNGAN!"


"YA, BUNUH DIA!"


Tanpa sempat melakukan perlawanan, Neptunus sudah diseret menuju ke sebuah tempat dengan anak tangga yang cukup banyak. Tempat tersebut menghadap ke arah laut, dan di puncaknya... terdapat sebuah tali melingkar yang terikat pada sebuah palang.


Tali itu lantas dilingkarkan ke leher Neptunus dan ia diberdirikan di sebuah kotak kayu besar.


"Ada kata-kata terakhir?" tanya sang algojo tanpa belas kasihan pada sang bentala.


"Saya hanya ingin kalian memaafkan saya. Apapun, akan saya lakukan sebagai penebusan. Bila ini menjadi jalan keluar, saya akan menerimanya dengan senang hati."


"LAKSANAKAN HUKUMAN MATINYA!" orang-orang mulai ribut berteriak.


Sang algojo menendang kotak kayu itu dan leher Neptunus pun terjerat tali. Sesak. Tak bisa bernapas. Perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya.


Di luar dugaan, petir menyambar tubuh Neptunus. Menciptakan kobaran api di sekeliling tempat hukuman mati tersebut. Membuat tubuh itu tergantung dalam kondisi hangus.


Para warga mengira bahwa riwayat pria berambut biru itu telah tamat. Namun, mereka tidak tahu bahwasanya Neptunus tidak mati. Ia hanya tertidur. Karena pengejawantahan planet tidak bisa mati, kecuali di tangan makhluk celestial sepertinya.

__ADS_1


Lalu tubuh itu dibiarkan tergantung di sana selama bertahun-tahun lamanya, hingga tempat itupun ditutup untuk umum. Bahkan hingga era berganti. Cerita mengenai Neptunus yang mengamuk dan menghancurkan kota serta peradaban pun tenggelam ditelan waktu.


—bersambung


__ADS_2