Planetes

Planetes
3. f. Going To The Truth


__ADS_3

Ryan membaca dengan seksama kertas yang dikasih, ia tidak menyangka akan segini banyaknya. Dan sepertinya ia salah mengira beberapa malam lalu, ia kira Elliot yang melakukan ritual-ritual ini. Ternyata manusia yang bersamanya yang melakukan ritual, namun Elliot hanya melindungi mereka.


Sedikit bersimpati kepada sang Planet, sewaktu dibilang kalau mereka ada dan akan melindungi manusia ternyata benar kenyataannya. Namun untuk manusia-manusia ini ....


"Manusia-manusia bodoh." bisik Ryan, ingin sekali ia mengeluarkan kata-kata makian khas negaranya untuk mereka.


Bagi Ryan, manusia biasa yang menjalankan ritual amat sangatlah bodoh. Meski Magus sepertinya ーatau mungkin juga yang lainー tidak terlalu memperdulikan ritual pemanggilan setan yang banyak beredar di dunia manusia. Toh pada akhirnya ini bersinggungan dengan pelajaran ilmu hitam yang ia pelajari, 'pertukaran setara'.


Mereka yang melakukan, jadi mereka harus bersiap mengambil resiko. Menghela napas panjang, ini tidak akan mudah.


Kalau dipikirkan sekarang, Elliot memang kurang jeli dalam bergaul dengan manusia. Earthlings yang ia temui rata-rata ambisius dan seolah tidak peduli akan dampak yang ditimbulkan dari hasrat mereka.


Kutukan yang dialami oleh pengejawantahan Neptunus itu adalah bukti bahwa Elliot harus menanggung konsekuensi dari segala ritual yang dilakukan oleh para manusia itu. Pengecualian untuk empat—eh? Tunggu, sepertinya ia salah hitung? Atau memang terlupa?


Baiklah, anggap saja tiga terdahulu adalah kutukan yang ia dapatkan bukan dari ritual. Yang dua akibat karma, dan satu lagi akibat Elliot diceritakan sebuah urban legend yang tak seharusnya ia dengar.


Sekali lagi, Elliot berpikir. Apakah ia harus bersyukur dengan immortality-nya ataukah tidak? Yang jelas, ia memang terhindar dari kematian. Namun kutukan yang didapat sungguh menyiksa.


"Mereka ingin menguji keberuntungan mereka sekaligus memperoleh bukti bahwa mereka lebih superior dari pada makhluk gaib," Elliot merespons ucapkan Ryan dengan tenangnya.


"Tapi, manusia tidak sepantasnya berlaku seperti itu. Akan ada ganjaran bagi mereka yang merendahkan makhluk lain. Terlebih jika mereka mengusik wilayah yang tak seharusnya mereka jamah."


Mengatasnamakan penelitian, mereka lantas mengusik hal-hal yang tak seharusnya ditapaki. Dengan dalih mendapatkan kejayaan, dan didorong rasa ingin tahu mereka yang di luar batas, mereka rela melakukan hal-hal terlarang semacam itu.


'Ganjaran bagi mereka yang merendahkan mahkluk lain.'


Kata-kata Elliot terngiang di kepala Ryan, namun sayangnya meski ia tahu benar makna tersebut, pada akhirnya lingkungan tempat ia tumbuh memang tidak jauh dari hal tersebut.


'Kumpulan orang brengsek.'


Jika Ryan sebut demikian tentang Organisasi tempat ia bernaung sekarang, para Magus sangat berdedikasi dengan penelitian mereka. Guna mencapai yang di sebut 'eternity', estetika sihir mereka 'indah' jika dipikirkan. Mewarisi penelitian mereka kepada penerusnya, indah bukan?


Ryan sendiri juga punya tujuan untuk penelitiannya, meski hanya masih sebatas mencari tahu. Tapi, bukan berarti ia tidak akan sama seperti Magus lain. Memikirkan hal itu, Ryan membuang mukanya dari Elliot, entah kenapa ia tidak berani menatap sang planet biru tersebut.


"Kalau boleh jujur, hal seperti ini diserahkan oleh pihak Gereja Suci." komentar Ryan jujur.


Tapi sedikit ekstrim sih, bagaimana kalau mereka tahu pada akhirnya Elliot bukan manusia? Apa diburu juga sama seperti dirinya yang seorang Magus?


"Apakah gereja suci akan menerima eksistensi seperti saya?" Elliot menatap lurus ke arah Ryan.


Ada rasa khawatir bercampur takut membalur di benak. Teringat akan peristiwa ratusan tahun lalu.

__ADS_1


"Sebetulnya tidak. Gereja Suci cukup ekstrim terutama terhadap makhluk non-human. Namun, jika beruntung kau bisa ketemu 1-2 anggota mereka yang bersedia membantu tanpa mengkhawatirkan asal-usulmu."


Seketika teringat dengan gadis berambut pirang yang sempat Ryan temui beberapa waktu lalu.


"Begitu, ya?" sepertinya akan sulit meminta bantuan gereja suci. "Tidak apa-apa. Saya mengerti."


Kendati ia terlihat seperti seorang penganut katolik, Elliot bukanlah pengikut agama manapun. Sudah pasti ia tidak akan diterima orang-orang itu.


"Tapi karena aku sudah berjanji, aku akan membantu sampai tuntas. Dan seperti yang aku pernah bilang sebelumnya, aku tidak bisa menyelesaikan ini sendiri. Dan akan meminta bantuan."


Ryan mulai mencari ponsel miliknya, ia berniat menelpon seseorang. Gurunya, Muraki Kazuto. Telpon tersambung namun butuh beberapa waktu hingga ada yang mau mengangkatnya.


Mendengar ucapan Ryan tersebut, Elliot merasa sedikit lebih tenang.


"Merci beaucoup, Ryan. Saya merasa senang sekali," ungkapnya dengan sukacita. "Tidak apa-apa, kamu menolong saya saja sudah membuat saya merasa tenang."


『Hallo, dengan Muraki Kazuto disini.』


Ah, akhirnya ada mengangkat.


"Guru, ini aku Ryan."


『Aa, rupanya itu kau. Rasanya baru kemarin aku mendengar kabarmu, ada apa kau menghubungiku kali ini? Yang pasti bukan berita baik, 'kan?』


"Yah, begitulah. Ini berhubungan dengan Supernatural, guru kan ahli bidang ini."


Ryan tampaknya mengetahui jika sang guru sedang dalam mode tanpa kacamatanya.


『Sejak kapan aku ahli semua bidang. Yah, tapi itu tidak penting, kebetulan aku berniat menghubungimu karena ada sesuatu yang mau aku perlihatkan. Aku baru membuka kantorku di tengah kota, kau pasti segera tahu jika melihat barrier yang selalu kupasang. Aku akan menunggumu.』


Dan setelah itu telpon ditutup, menyisakan keheningan dan rasa penasaran Ryan. Tidak biasanya ia mau dipanggil gurunya, dan kesan dari gurunya juga ... terburu-buru?


"Tampaknya kita bersiap sekarang." Ryan segera bangkit dari tempat tidur, ia masih menghindari kontak mata dengan Elliot.


Melihat Ryan yang mengalihkan pandangannya darinya membuat Elliot merasa bahwa ia telah salah memilih kalimat. Namun ia bukan seorang yang suka menyembunyikan sesuatu. Pun mengkonfrontasi seseorang.


Elliot hanya menjelaskan dengan gamblang apa yang ia alami, dan ia rasa ia harus mengutarakannya, kan? Namun sekali lagi ia sadar, bahwa earthlings dengan dirinya adalah dua makhluk yang berbeda. Wisdom baginya belum tentu sama dengan wisdom orang lain.


「Percuma mengharapkan manusia dapat memahamimu, Neptunus. Tidak akan pernah terjadi.」


Suara Poseidon menggema di kepala sang bentala. Elliot memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


〔Saya tahu. Namun saya ingin percaya, Possy. Apa salahnya?〕


「Bermimpilah.」


Setelahnya tidak lagi terdengar gema di kepalanya. Ia membuka netranya dan menatap lurus ke arah Ryan yang masih membuang muka. Namun tetap menelinga apa saja yang disampaikan oleh pria itu.


Setelahnya, buana berhelai kebiruan ini menunggu Ryan selesai bercakap dengan gurunya. Sepertinya sangat serius. Hingga sambungan telepon berakhir dan Ryan mengajaknya untuk bersiap-siap.


"Tunggu sebentar," ia segera memanggil putrinya yang lain untuk menghampirinya. "Despoina, Papa akan pergi sebentar, ya? Jaga Medeia. Jika Proteus pulang, hangatkan masakan yang ada di kulkas."


Sang puan berhelai merah muda itu menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Ryan dengan tatapan aneh.


「Pastikan Papa pulang dengan selamat, Terran.」ucap Despoina sebelum berlalu.


Elliot meringis mendengar ucapan anaknya itu. Terdengar seperti seorang yang fathercomplex.


"Kalau terburu-buru, kita naik motor saya saja. Kau bisa menyetir? Karena kau yang tahu alamatnya." ia segera bergegas menyambar jaket, kunci motor dan helm sebelum beralih pada Ryan yang ada di dekatnya.


Ryan menerima jaket, kunci motor dan helm tersebut dari Elliot.


"Tidak masalah." jawabnya singkat, ia memang cara mengendarai beberapa alat transportasi untungnya. Pesawat pun sedang ia pelajari, berjaga-jaga untuk pekerjaannya.


"Syukurlah bila demikian," sang bentala merasa sedikit lega karena ia tak harus menyetir motornya. Bukan apa-apa, akan sangat merepotkan bila ia harus banyak tanya karena ia tidak tahu jalannya.


Setelah memakai semua itu, ketika hendak keluar rumah, ia merasakan tatapan dari salah satu anak Elliot. Gadis berambut merah muda tersebut ーDespoina, jika tidak salah dengarー memandang Ryan dengan tatapan aneh, yang langsung saja membuat Ryan kikuk lagi. Dia salah apa?


"Ah, maafkan putri saya itu. Dia agak... tidak menyukai earthlings." tanpa diminta, ia mengutarakan permintaan maaf pada Ryan.


Merasa tidak enak juga karena beberapa dari keluarga celestialnya memang tidak terlalu suka dengan manusia bumi. Jika ditanya alasannya, cukup panjang ceritanya.


Ryan mengangguk paham terhadap anaknya yang satu itu. Benar juga, yang berbeda entitas biasanya ada saja yang tidak disukai. Yang sama saja sering terjadi konflik.


Hingga di garasi, ponsel milik Ryan berbunyi lagi, segera ia melihat ponselnya lagi yang berisi alamat lengkap di mana Kazuto membuka tokonya sekarang.


"Kau tidak masalah aku ngebut?" tanya Ryan memastikan, tapi diiyakan atau pun tidak ia akan tetap ngebut di jalan.


"Tidak masalah, saya juga sering mengebut, kok." buana berambut kebiruan ini mengacungkan jempol.


Usai berujar demikian, segera Elliot duduk di belakang Ryan. Membiarkan galih berhelai kelam itu mengendarai motornya.


Segera setelah menyalakan motor milik Elliot, dan mereka berangkat bersama. Ryan ngebut di jalan, namun berusaha tidak menarik perhatian polisi. Hingga akhirnya mereka sampai di bangunan tua yang terlihat sudah sepi.

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2