Planetes

Planetes
1.m. Small Chit-Chat with Wizard (edited)


__ADS_3

Di luar dugaan kepindahannya ke rumah baru cukup membuat Elliot sedikit kewalahan. Meskipun sang bentala menggunakan sedikit bantuan sihir, namun tetap saja menguras tenaganya.


"Aduh, rontok deh, badanku," ucapnya yang terdengar seperti sebuah keluhan.


Beruntung saat ini tidak ada siapa-siapa di rumahnya, sehingga tidak ada yang mendengar keluhan Elliot barusan. Jam berdentang menunjukkan pukul 12 siang.


"Sudah waktunya makan siang," jeda sejenak sebelum ia kembali berkemam. "Tapi, saya belum masak...."


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Elliot segera mengambil kunci rumah dan dompetnya. Bergegas menuju toko yang menjual makanan siap saji beserta penganan untuk teman minum teh.


Di perjalanan pulang usai dari konbini, Elliot melihat sosok yang tak asing tengah mengeluh bahwa sedang merasa encok. Di dekatinya sosok tersebut dan menyodorkan bungkusan koyo yang ia beli beberapa waktu lalu di konbini.


Sosok itu—Figgy, menatap curiga ke arah benda yang disodorkan oleh Elliot.


"....ini aman?" tanya Figgy seraya menatap lurus Elliot.


"Aman." Elliot mengacungkan jempol. "Monsieur bisa langsung pakai di bagian yang sakit."


"Oh, terdengar efektif! Terima kasih banyak." Barulah Figgy ambil bungkusan koyo dari tangan Elliot. "Mungkin nanti akan aku gunakan."


"Sama-sama, Monsieur Figgy." senyum ramah terulas di ranum Elliot. "Oh, tadi sedang apa?" murni bertanya.


Tidak mungkin Figgy sengaja berada di san untuk bertemu dengannya, kan? Bisa jadi mereka memang kebetulan bertemu kembali.


"Aku? ... Mmm〜 sedang mencari waktu santai, aku rasa. Belakangan ini pasienku banyak sekali rasanya..." ucap Figgy yang terdengar seperti sebuah keluhan.


Terkadang Elliot melupakan fakta bahwasanya pria berwajah sama dengannya ini adalah seorang dokter. Ia baru ingat kembali setelah Figgy mengucapkan hal tersebut. Sepertinya daya ingat Elliot sangat bermasalah.


"Setiap hari mereka berdatangan, kah?" Elliot memiringkan kepalanya. Nampaknya tertarik dengan cerita pria ini. "Mau minum sesuatu, Monsieur? Dengan demikian Anda bisa rileks sejenak."


"Tidak setiap hari, karena aku hanya dokter yang menangani pasien di tempat kecil." tutur Figgy bagai sebuah pengakuan.


"Oh, minum? Aku tidak menolak〜 Mau minum dimana?" segera saja ekspresi Figgy berubah kesenangan tatkala mendengar tawaran Elliot.


Netra Elliot mengerjap beberapa kali. Mencoba untuk mencerna ucapan Figgy. Untuk tempat minum, Elliot berencana ingin mengajaknya di rumahnya, sih. Karena ia dapat berbotol-botol alkohol dari putranya.


"Umm, tempat kecil itu... Semacam pedesaan?" sang planet mengonfirmasi.


Senyum Figgy mengembang mendengar pertanyaan itu. "Tepat sekali."


"Mau ke rumah saya?" tawar Elliot tanpa basa-basi.


"Oh, punya alkohol di rumahmu?" Figgy pun bertanya.


"Punya," sebuah anggukkan diberikan Elliot sebagai konfirmasi. "Cukup banyak dan tak mungkin saya habiskan sendiri."


Meski Elliot kuat minum sekalipun, ia tidak akan bisa meminum sebanyak itu sendirian.


"Sempurna! Kalau begitu tunggu apa lagi. Aku akan mengunjungi rumahmu sekarang juga〜" nada riang terdengar dari celah ranum Figgy.


"Ke arah sini," Elliot memberikan isyarat pada galih yang memiliki paras serupa dengannya itu untuk mengikutinya. "Kau nampak senang, ya?"


Mengekori pria lain, Figgy terkekeh lepas namun halus mendengar itu.


"Ahaha〜 Belakangan ini aku belum menyentuh alkohol. Perilakuku pasti terlihat jelas." Figgy tak nampak menyembunyikan apa yang ada dalam benak. Terang-terangan sekali seperti biasa.


Sang Planet menganggukkan kepalanya paham. Bisa Elliot mengerti walaupun alkohol bukanlah kebutuhannya.


"Monsieur kuat minum, kah?" ini wajib ditanyakan. Tak lucu jika baru beberapa gelas Figgy sudah tumbang.


"Lalu ada preferensi untuk jenis alkoholnya?" Maksudnya Wine atau spirits.


"Tentu saja kuat! Dokter Figgy tidak selemah itu pada alkohol〜" Dengan tingkat percaya diri yang tinggi, Figgy tersenyum lebar.


"Mmm〜 wine tidak masalah." apalagi jika yang berkualitas tinggi, Figgy akan lebih senang lagi.


"Dieu soit loué... (Syukurlah)" kebiasaannya Elliot yang satu ini tidak bisa terlepas kendati ia tak lagi tinggal di negara itu.

__ADS_1


Netranya menangkap siluet dari rumahnya, rumah yang seharusnya ia tempati bersama anak-anaknya.



"Nah, itu rumah saya." lantas ia menoleh ke arah pria yang diajaknya. "Mari masuk, Monsieur."


Melempar pandangan ke arah tujuan dalam waktu singkat, kepala Figgy diangguk sekilas.


"Tentu. Terima kasih sudah mempersilahkan aku." Bersikap santun, dari belakang, Figgy mengikuti kemana Elliot pergi— ke tempatnya singgah.


Sang planet memasukkan kunci ke lubang pintu rumahnya dan kuasanya mendorong pintu hingga terbuka. Memberi isyarat pada tamunya agar masuk ke dalam kediamannya.


"Anggaplah seperti rumah sendiri, Monsieur." ucap Elliot seraya melangkahkan tungkainya ke lemari penyimpanan minuman beralkohol. "Duduklah di mana saja yang Anda suka." ucapnya lagi.


Diambilnya beberapa botol, beserta gelasnya. Elliot lantas membawanya ke tempat di mana tamunya berada. Wine Chateau Petrus. Wine terbaik yang ia miliki.



"Silakan." Elliot menyodorkan gelas yang telah ia tuangkan wine pada Figgy.


Langkah kaki membawa Figgy masuk ke sebuah kediaman, dimana Figgy bersama kenalan barunya akan minum bersama. Sorot mata berkeliaran ke sekitar, memperhatikan sekilas isi dari rumah itu.


Rumah itu isinya tidak terlalu banyak. Hanya tumpukan kertas yang merupakan esai yang Elliot kerjakan tersusun di atas meja kerja. Fotonya bersama anak-anaknya terpajang rapi di dinding, mengingatkan ia pada mereka yang belum hadir di sini, di rumah ini. Sisanya hanyalah perabot rumah sederhana. Seperti itulah isi rumah Elliot.


Isi hati Figgy berasumsi bahwa pria itu—Elliot, memiliki atau sempat memiliki keluarga yang bahagia. Itu sedikit menyalakan api iri dalam diri dokter ini. Akan tetapi perasaan pribadi yang tertanam dikubur dalam-dalam dan memilih untuk menikmati alkohol yang disuguhkan, tanpa perlu diomeli salah satu anak muridnya yang terus menasihati Figgy agar tak terlalu banyak minum. Meski semua itu demi kesehatan, tetap saja pria tua ini lebih bebal dari anak kecil seperti sosok bernama Michiru.


Meskipun Elliot memiliki anak berjumlah 14 orang. Ya, tidak salah baca. Anaknya Elliot memang ada 14 orang, kesemuanya adalah satelit miliknya. Jika dicermati, dalam foto itu tidak ada satu sosok pun perempuan yang berumur.


Bukannya Elliot tak lagi memiliki istri, namun dalam sekian miliar tahun hidupnya. Elliot belum pernah menikah.


Elliot dulu pernah berpacaran beberapakali, namun kebanyakan dari mereka menjauh begitu tahu ia punya anak banyak. Pacar terakhirnya malahan meninggal akibat sebuah insiden.


Elliot tidak akan pernah lupa akan peristiwa-peristiwa memilukan itu sedikitpun. Tak akan pernah.


"Oh, baiklah. Terima kasih." Kemudian, Figgy mendudukkan diri di atas sebuah kursi, sementara tangan kanan disandarkan pada meja.


Segala perhatian teralih penuh pada botol wine yang bahkan dari luar saja sudah memanjakan mata. Antusiasme memuncak, Figgy memperbaiki posisi menjadi tegak.


"Cheers!"


"Sama-sama, Monsieur." Elliot lantas menuangkan wine ke gelasnya sendiri. "Tentu. Dengan senang hati."


Elliot mengambil tempat duduk tak jauh dari pria yang memiliki rupa sama dengannya itu duduk dan kuasanya meraih gelas wine yang tersaji di meja.


"Cheers~"


Bunyi denting gelas terdengar, dan Elliot pun meminum winenya.


"Bagaimana wine-nya?" tanyanya pada Figgy.


Dengan perasaan bahagia, Figgy mempertemukan bibirnya dengan bibir gelas sampai akhirnya alkohol diteguk.


"Ini sangat enak, Elli! Aha〜 Harapan untuk bisa minum tanpa diawasi rasanya ternyata sesantai ini." Ahh, benar-benar surga dunia!


"Grâce À Dieu, saya senang melihat Anda menikmatinya, Monsieur." ada senyum kebahagiaan terbetik di ranum Elliot. "Eh? Diawasi? Oleh siapa?" tanyanya pada Figgy karena penasaran.



Rasa alkohol menurut Figgy selalu memanjakan lidah, merilekskan tubuh dan menghapus stress dalam pikiran yang selama ini mengganggu. Sebagian orang dewasa pasti selalu bergantung pada alkohol ketika harus bersantai tanpa memikirkan sesuatu yang berat. Dan Figgy?


Entahlah. Figgy sudah hidup selama 2000 tahun dan masih bertahan dengan segala masalah atau lika liku kehidupan dari yang ringan sampai yang paling berat. Mungkin itu yang membuat Figgy menjadikan Alkohol sebagai kebutuhan. Tidak bisa berjanji untuk berhenti minum karena pasti janji itu akan Figgy ingkari selalu, alhasil penggunaan sihirnya akan hilang. Oleh karena itu Figgy tak bisa sembarang mengucap janji sebab ke depan bisa berakibat fatal.


Setelah tegukkan selanjutnya, Figgy mulai menjawab.


"Ada satu anak muridku." sembari bersandar, Figgy memusatkan perhatiannya pada Elliot. "Dia selalu menggerutu kalau aku terlalu banyak minum. Aku tahu ia sangat menghawatirkan kesehatanku, tapi bagiku sulit untuk jauh dari Alkohol." kemudian Figgy tertawa kecil.


Bagi sang planet sendiri—yang kini mengambil identitas sebagai seorang bernama Elliot di bumi ini, alkohol bukanlah kebutuhan. Pun bukan sesuatu yang bisa dijadikan pelarian saat stress.

__ADS_1


Kau bisa bilang bahwa Elliot seorang social drinker. Meminum alkohol hanya untuk menemani orang-orang dalam suatu acara. Baik acara formal maupun non-formal. Kehidupannya yang nyaris bisa dibilang absurd dan tidak masuk akal membuatnya tidak terlalu bergantung pada apapun di bumi.


Makanan dan minuman bumi bukanlah kebutuhan baginya. Sungguh. Elliot hanya melakukan semua yang biasa dilakukan oleh manusia atas dasar keinginan menjadi lebih manusiawi. Jangan sampai nantinya malah menimbulkan kecurigaan di kemudian hari.


(Meski demikian, pastinya sudah ada segelintir orang yang mengetahui identitas aslinya. Elliot sendiri tidak berniat untuk menyembunyikan hal tersebut)


"Murid, ya? Belajar langsung di klinikmu? Terdengar hebat," senyum secerah mentari merekah. Elliot selalu mengapresiasi orang-orang yang memiliki dedikasi. Contohnya pria ini.


"Saya mengerti alasannya mengapa muridmu cerewet soal itu tetapi saya juga tidak menyalahkanmu yang ketergantungan pada alkohol," Elliot memahaminya.


Memang sulit untuk melarang seorang pecandu alkohol. Elliot tahu itu.


"Muridmu terdengar seperti anak saya, Despoina." Elliot melirik ke arah foto anak perempuan di dekatnya.



Efek dari alkohol yang Figgy minum saat ini sungguh bekerja untuk menghilangkan beban pikiran. Karena akhir-akhir ini banyak yang terjadi, bahkan untuk seorang Figgy memiliki beragam masalah menumpuk di dalam kepala. Inilah kenapa Figgy menjadi salah satu dari sekian orang yang masuk ke ketergantungan alkohol. Meski kesehatannya sering memburuk, Figgy tak acuh akan hal tersebut. Terlepas dari usianya, masih ada sifat kekanakan seperti keras kepala dan sulit diatur. Selalu menerapkan cara hidup santai, enggan terlibat dalam perihal yang terlampau menyusahkan.


"Ahh.. Ya, begitulah." setelah teguk kesekian kali, Figgy tertawa ringan. Lagi-lagi menyembunyikan fakta bahwa sesungguhnya ia mengajar sihir pada mereka.


"Oh ya?" Setelah melihat kemana arah pandang Elliot pergi, sorot mata Figgy menyusulnya. Terdapat satu sosok di dalam foto itu, tentu asing. Namun diyakini adalah anak perempuan yang dimaksud.


"Dia sangat cantik. Kau hebat juga bisa memiliki anak-anak yang cantik dan juga tampan, Elli~" Lalu melirik kembali pria lainnya. "Cerewet? Ahaha. Terkadang itu yang membuat mereka menggemaskan. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan kita."


Selama menemani Figgy meminum wine-nya, buana berasmakan Elliot ini memperhatikan raut, gerak-gerik, hingga silabel yang terluntak dari celah ranum sang wira. Sepertinya Figgy memang membutuhkan alkohol sebagai pereda stress?


Jikalau menilik dari ucapannya yang mengatakan bahwa muridnya khawatir atau bahkan melarang pria ini untuk minum. Elliot sedikit banyak dapat mengetahui bahwasanya pria ini diperhatikan oleh muridnya.


"Terima kasih atas pujiannya," maksudnya atas ucapan Figgy yang mengatakan bahwa putrinya memang cantik.


"Tidakkah kau merasa bahwa orang tersebut menyayangimu, makanya ia melakukan itu padamu? Maksud saya ketika ia mengkhawatirkan dirimu," Elliot pun bertanya pada Figgy.


Tarikan bibir Figgy membangun senyum tipis digunakan sebagai pengganti respon melalui tutur bersuara. Goyangan kecil pada gelas di tangan membawa sisa air alkohol di dalam bergerak juga. Bukan untuk menutup percakapan, melainkan pribadi tengah menggali kalimat yang tepat untuk balasan perkataan Elliot. Meski tak juga terbenam lukisan senyum di wajah penyihir merangkap dokter ini—Figgy maksudnya.


"Kalau faktanya benar seperti itu, rasanya senang sekali." dengan kondisi wajah perlahan mulai ada samar-samar merah setelah minum beberapa gelas, Figgy terkekeh.


"Dan kalau faktanya benar seperti itu—" Seperti tali yang menggantung, lidah menahannya untuk terus melanjutkan. Beruntung, alkohol belum mengambil alih pikiran. Lantas pada akhirnya Figgy mencari alternatif lain.


"—Mungkin sesekali aku perlu mendengarkan mereka〜〜〜☆"


Sepanjang mendengarkan Figgy berbicara, entah mengapa Elliot merasakan ada yang disembunyikan oleh Figgy. Namun, bukan ranahnya untuk kepo akan permasalahan yang dihadapi oleh Figgy.


Sebisa mungkin ia tidak mengganggu privasi Figgy. Sebab ada waktunya temannya ini akan menceriterakannya sendiri padanya suatu hari nanti.


"Elli, bagaimana jika kamu menceritakan tentang dirimu? Rasanya aku terus yang menceritakan," senyum aneh Figgy dipampang, membuat Elliot rikuh.


Tapi, apa yang harus ia ceritakan padanya?


—bersambung










__ADS_1




__ADS_2