Planetes

Planetes
3. l. Devil's Mirror (2)


__ADS_3

Di dalam ruangan, Ryan memeriksa jam yang ada ponselnya. Menunjukkan waktu 10:38 PM. Berarti ia sudah bisa melakukan ritual.


Ryan mengikuti instruksi yang sudah dibacanya tadi siang, ia menusuk jari dengan jarum dan menuliskan namanya. Yang harus digunakan adalah nama aslinya, berarti —


'Clarissa.'


Setelah dirasa benar ーia tidak bisa melihat karena masih memakai 「Gorgon Breaker」ー Ryan menyalakan lilin. Ia agak meraba agar lilin tersebut menyala antara dirinya dan cermin besar yang ada di hadapannya.


Dirasa sudah benar, berarti kini yang akan ia lakukan hanya satu. Tersenyum lebar.


Jika boleh jujur, Ryan tidak begitu suka pada bagian tersenyum ini. Namun apa boleh buat, ia tersenyum selebar mungkin dan menghadap ke arah cermin.


Dibuka dulu 「Gorgon Breaker」miliknya, dan kini ia melihat bayangan dirinya sendiri di cermin tersebut. Tidak lupa ia sudah memasang stopwatch pada ponselnya agar tersetting 13 menit 28 detik pas.


Selama 13 menit itu, Ryan agaknya bersyukur karena bayangan atau hantu yang akan memburunya tidak bisa memiliki kekuatan mata Gorgon ini. Gurunya benar, mata ini yang menjadi kunci jawaban atas masalah Elliot.


Ponselnya berdering, menyadarkan dirinya dari lamunan sesaat tadi. Apa ritualnya berhasil?Cermin yang ada di hadapan Ryan kini masih tersenyum padanya. Berhasil.


Segera Ryan menendang cermin tersebut hingga pecah berkeping-keping. Ryan tidak membutuhkan lilin, ia sudah memakai mata mistik miliknya untuk melihat medan.


Perburuan di mulai.


「Arrggh!」


Ada suara erangan dari samping kanannya, hantu itu mendekat dengan cepat ke arah dirinya. Ryan langsung mengaktifkan kekuatan mata Gorgon miliknya.


Seketika hantu itu berhenti, Ryan langsung berbalik dan berlari.


'Hantu satu ini tidak langsung berubah jadi batu, berarti ia cukup kuat.'


Kini 6 jam 48 menit hingga matahari terbit.


Sang bentala telah memasukkan kembali cermin tangannya ke saku pakaiannya. Ranumnya meloloskan ekshalasi, Elliot tidak menguasai kemampuan menyembuhkan untuk dirinya sendiri. Sudah pasti patah tulangnya itu akan sedikit memakan waktu untuk sembuh nantinya.

__ADS_1


Merepotkan. Elliot lantas menatap ke arah ruangan yang dipasangi alat Rune tadi. Bunyi-bunyian di dalamnya cukup memberitahukan dirinya bahwa Ryan tengah berjuang melawan sosok makhluk astral itu.


Kalau dipikir-pikir, tak banyak dari paranormal game ini yang bisa dimainkan berbarengan. Rata-rata harus dilakukan sendirian dan otomatis Ryan nantinya akan lebih banyak memburunya sendirian.


Kadang Elliot berpikir, apakah akan sama keadaannya bila ia tak ikut campur ketika manusia-manusia yang bersamanya tak pernah memainkan permainan gaib tersebut? Entahlah. Meski ia dewa sekalipun, ia tak mampu mengetahui apa yang akan terjadi dengan pasti.


Di tengah-tengah suasana singup dan mencekam, Elliot dapat melihat bahwa sosoknya tiba-tiba berubah transparan. Hanya berlangsung selama beberapa sekon sebelum kembali ke semula.


"Lagi-lagi.... Mengapa kutukan-kutukan itu aktif bergantian, ya?" kemam pun tercetus dari celah ranum. Terdengar seperti sebuah keluhan.


Tatapannya tertuju pada ruangan tempat Ryan berkejar-kejaran dengan sosok astral yang telah mengambil kekuatan supranatural miliknya.


"Berusahalah, Clarissa. Saya tahu kamu bisa melakukannya."


4 Jam.


Sudah 4 jam lebih Ryan berlarian di rumah kosong ini. Setan yang satu ini tidak hanya kuat, namun juga cerdik karena ia mengambil sudut mati dirinya untuk mencoba menyerangnya. Sehingga ia tidak bisa menggunakan kekuatan matanya.


Ryan kini agak terengah-enggah karena terus bergerak dalam kegelapan seperti ini. Selain itu karena penggunaan lama Mata Mistik-nya juga mempengaruhi tenaganya.


Tampaknya, ia sedang berencana sesuatu. Jika ia perhatikan, selain setan satu ini menghindari kaca dari ia sempat baca. Tampaknya juga ada hal lain, yang kadang membuatnya ragu menyerang Ryan.


Meski tidak bisa menyebutkan apa, namun moment itu yang Ryan akan gunakan nantinya. Melihat kearah jam tangannya, 04.57 AM.


'1 jam 3 menit lagi rupanya.'


Apa ia mencari kotak yang dibungkus kertas kado sekarang saja? Mencari seantero rumah pasti butuh banyak waktu. Ya, benar. Seperti itu saja.


Lagi-lagi tubuh Elliot berubah transparan. Ah, benar-benar menyebalkan sekali kutukan satu ini.


Bibirnya bergerak berkomat-kamit merangkai mantera. Meminjam sedikit kemampuan Uranus untuk memanifestasikan diri ke alam fana. Usahanya berhasil, namun lagi-lagi efek Soul Drain membuat tubuhnya kelelahan dengan cepat.


Selagi mencoba memulihkan diri dengan lilin berwarna emas dan beberapa aromaterapi, rungunya mendengar suara-suara lagi dari ruangan tempat Ryan bertarung dengan makhluk gaib yang mengutuk dirinya dulu. Seingatnya makhluk itu sama sekali tidak kenal ampun dan juga licik.

__ADS_1


Itu sebabnya kekuatan supranatural miliknya terambil. Makhluk itu sebelumnya berulangkali mencoba menghabisinya. Sayangnya karena ia immortal, akhirnya makhluk itu hanya bisa mengambil kekuatan supranatural milik Elliot.


"Hati-hatilah, Clarissa. Dia sangat licik dan juga kuat, kalau kau kalah cerdik. Kau akan berada dalam bahaya," kemam pun kembali lolos dari celah ranum Elliot.


Ryan bergerak lagi, ia hanya berharap saja jika kotak nanti terbungkus warna hijau. Jika tidak, hidupnya berakhir disini.


Braak!


'Tch! Dia datang lagi!'


Ryan mengeluarkan pisau miliknya, ketika bayangan hitam itu akan menyerangnya, Ryan terlebih dahulu menyerangnya dengan pisau miliknya. Tidak bermaksud mengenai paling tidak setan itu melihat lagi Mata Mistik-nya.


'Kena!'


Tidak sia-sia ia menunggu kesempatan ini, dan seperti yang sudah di duga, pergerakan setan itu berhenti. Tapi pastinya hanya sementara, toh ritual belum selesai.


Ketika sudah berada di ruangan terakhir yang ia periksa. Ryan menemukan kotak yang terbungkus kertas kado ... berwarna hijau.


"Jackpot!"


Ryan mengeluarkan isi kotak yang tidak lain adalah ... Beretta 92 miliknya.


Bersamaan dengan itu, setan yang memburunya masuk ke ruangan ditempati Ryan dengan keadaan murka. Memang, selama permainan Ryan 'sengaja' membuatnya marah.


"Lama sekali dasar makhluk terkutuk yang tak diinginkan."


Nada bicara Ryan dingin, topeng keduanya keluar karena ia sudah lelah.


"Matilah."


DOR!


Dalam beberapa waktu kemudian, terdengar suara baku tembak dan juga barang pecah. Tidak—lebih tepatnya suara batu pecah. Apakah itu artinya Ryan berhasil memusnahkannya?

__ADS_1


__ADS_2