Planetes

Planetes
3. m. Unconscious Ryan


__ADS_3

Bersamaan dengan aktifnya Mata Mistik-nya lagi yang membuat setan itu kini menjadi batu seutuhnya. Sebelum menjadi batu, Ryan sudah menembak kepalanya terlebih dahulu dengan peluru perak yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Kini ia meraih ponselnya untuk menelepon Elliot. "El, disini sudah selesai."


Suara gawainya menyentakkan Elliot ke alam sadar. Segera saja kuasanya menjangkau benda tersebut dan menjawab telepon Ryan.


"Otsukaresama, Clarissa," ucap Elliot penuh syukur. "Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang? Membuka alat sihir tadi, kah?" tanyanya pada Ryan.


"Iya buka saja." jawab Ryan dari sebrang telepon sana. Kini ia menutup matanya, meminimalisir penggunaan Mystic Eyes miliknya.


Jika boleh jujur, matanya menjadi sangat sakit saat ini.


"El, nanti bisa tolong ambilkan 「Gorgon Breaker」 di ruangan ritual? Aku membutuhkannya. Segera." Ryan menekankan pada kata segera, mau bagaimana pun sepertinya ia sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi.


"Baiklah," ia pun membuka alat sihir tersebut dan seketika cahaya halus berbentuk benang berwarna biru masuk ke dalam tubuhnya.


Kekuatan Elliot kini telah kembali. Meski ada beberapa aspek yang belum kembali tentunya.


2 Ritual dalam satu hari. Dan Ritual yang ini langsung membuatnya kelelahan. Ia berpikir bagaimana dengan yang ketiga nanti.


Usai berkata seperti itu, Ryan menutup teleponnya. Lalu membiarkan dirinya terbaring.


Lagi.


Ia merasakan badannya mulai mendingin kembali. Sama seperti ia sewaktu berada di rumah Elliot. Sepertinya ia akan tumbang untuk 3 hari kedepannya. Lagi.


"Kutukan sialan!"


[Meski begitu kutukan ini yang membantu lho~]


Suara Chylara tiba-tiba merasuki pikirannya. Hal ini mau tidak mau membuatnya geram.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengendalikanku."


[Hm~ lihat saja nanti Clarissa. Suatu saat kau akan menerima keberadaanku dan menyadari jika kita itu satu.]

__ADS_1


"Tidak akan!"


Desis Ryan pada udara kosong. Ia ingin segera bangun, namun tubuhnya sudah tidak bisa diajak bekerja sama.


'Hahh... Ini sudah mencapai limit tubuhku.'


Ryan mulai menutup matanya hingga Elliot datang kesini.


"Sayangnya saya belum bisa terbang, ya?" gumamnya sembari menuju ke ruang ritual untuk mencari 「Gorgon Breaker.」


Ah, itu dia. Dengan segera, ia menyambar benda tersebut dan mencari keberadaan Ryan dari auranya.


"Clarissa! Sudah saya dapatkan, ini!" seru Elliot sembari menghampiri Ryan—maksudnya Clarissa, dengan tergopoh-gopoh.


Dilihatnya Ryan tengah berbaring dan membuatnya cemas.


"Clarissa, hei! Kau dengar saya?" guncangnya pada tubuh Ryan.


Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Apa harus membawanya ke rumahnya lagi? Tapi, tidak mungkin. Lokasinya sangat jauh.


Merasakan diri ini terguncang, Ryan yang tadinya mau pingsan jadi kembali sadar. Ia langsung bangun dengan mata tertutup tentu saja.


"Argh!"


Rasanya sakit sekali saat ia mencoba membuka matanya. Begitu tahu Elliot sudah berada disini, Ryan meraba-raba sekitar untuk mencari「Gorgon Breaker」 miliknya, ah, milik mata Medusa ini.


Melihat kondisi Ryan, otomatis Elliot merasa cemas. Karena menolongnya untuk memusnahkan kutukannya, Ryan sampai seperti ini.


Elliot jadi sedikit merasa bersalah. Apalagi mata itu sepertinya mengalami iritasi yang hebat. (Jika tidak, mana mungkin Ryan sampai berteriak kesakitan begitu, kan?)


Tapi, apa yang bisa ia lakukan?


Begitu Ryan mendapatkan apa yang ia cari, ia langsung merebut begitu saja dari tangan Elliot dan dengan cepat memakainya.


"Maafkan sikapku El, hanya saja rasa sakit ini tidak tertahankan."

__ADS_1


Ryan mengucapkan permintaan maafnya, ia juga mencoba berdiri. Jika untuk kembali beristirahat ia usahakan bertahan.


"Tidak apa-apa, saya memakluminya." ia tidak mempermasalahkan Ryan yang berlaku demikian tadi. "Saya paham bagaimana rasanya sakit yang tidak tertahankan."


"Ini, kunci motornya. Mungkin kita bisa ke hotel atau kembali ke tempat Master-ku. Atau ke mana terserah dirimu. Aku tidak tahu kapan akan pingsan." ujar Ryan dengan nafas berat.


Ryan sendiri tahu keringat dingin yang menuruni dahinya. Dadanya juga sakit, seperti jantungnya ditusuki pedang. Penggunaan sihirnya sudah melampaui batas yang bisa ia toleran.


Mendengar permintaan dari Ryan dan kunci motor yang disodorkan padanya membuatnya bingung. Ia harus ke mana? Kalau membawa Ryan dengan motor, tentu gadis ini tidak akan bisa istirahat sepanjang perjalanan, kan?


Tanpa banyak bicara, ia lantas mengusap area mata Ryan yang tertutup 「Gorgon Breaker」 dan mengucap mantera penyembuhan dalam bahasa asing yang tidak diketahui.


"Diam sebentar, saya akan mencoba mengurangi rasa sakit mu." ia memberitahu Ryan apa yang sedang ia lakukan. "Paling tidak bisa membuatmu bertahan sementara waktu sebelum kita berangkat."


Beruntung kekuatan supranatural miliknya kembali, meskipun kekuatan penyembuhnya tidak bisa digunakan pada dirinya sendiri. Setidaknya ia bisa menolong orang lain.


"Ayo, saya bantu kamu ke luar dari tempat ini." ia memapah Ryan menuju ke luar bangunan.


Mudah-mudahan gadis ini belum pingsan. Saat mereka sudah sampai di luar gedung, seorang pemuda berambut pirang dan gadis berambut merah menghambur ke arah Elliot.


「Papa! Papa baik-baik saja, kan?」Despoina, gadis berambut merah itu nampak cemas.


"Papa baik-baik saja, Despoina." netra Elliot melirik ke arah pemuda di samping Despoina. "Akhirnya kau datang, Triton."


Pemuda berambut pirang di samping Despoina, Triton, menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Ia adalah putra pertama Elliot, yang berarti merupakan kakak dari Despoina.


"Papa sebaiknya naik ke mobil bersama Despoina dan orang yang Papa bawa." ucap Triton seolah mengetahui kondisinya.


"Eh, tapi motor Papa bagaimana?" tanya Elliot bingung.


"Biar aku saja yang bawa," jawab Triton segera. "Omong-omong, kalau di depan orang lain panggil aku dengan nama 'William' ya, Pa."


"Baiklah, Papa mengandalkanmu, William." kesudahannya, Elliot memapah Ryan yang kesadarannya makin tipis masuk ke dalam mobil.


Mobil pun bergerak menuju ke arah selatan. Tempat di mana rumah William berada. Sementara Ryan telah pingsan. Tubuhnya begitu dingin ketika Elliot sentuh, sehingga membuat sang bentala menyelimuti gadis itu dengan mantel.

__ADS_1


"Bertahanlah, Clarissa."


__ADS_2