Planetes

Planetes
1.d. New Neighbor (edited)


__ADS_3

Hari itu apartemennya kedatangan penghuni baru lagi setelah sekian lama pintu yang ada di sebelah kanan kamarnya kosong. Elliot saat itu tengah berpikir, topik apa yang kira-kira ingin ia bahas dalam esainya.


Selagi berpikir, tanpa sengaja netranya menangkap pantulan dirinya di cermin. Hampir saja Elliot lupa bahwa itulah sosok aslinya. Pria berambut ikal pendek kebiruan dengan netra unik. Parasnya terlihat lebih ramah dan bersahabat dari pada yang dulu, itulah yang ia nilai saat ini.


Ketukan halus di pintu terdengar, pengejawantahan Neptunus ini segera beranjak dari kursi kerjanya dan membuka pintu depan.


"Siapa?" tanya Elliot tanpa melepaskan tatapannya dari sosok yang berdiri di depan pintunya.


Seorang pria berambut gelap panjang dengan highlight cokelat muda. Sosoknya terlihat muda, berparas oriental, dan nampak begitu santun. Setidaknya itu kesan pertama Elliot pada lanang yang ada di depannya kini.


“Namaku Shen Guo, panggil saja Shen, mohon bantuannya.” ujarnya sambil menyodorkan sebuah keranjang berisi beberapa buah jeruk. “Silahkan terima bingkisan ini.”


Sang planet mengerjapkan matanya beberapa kali. Ah, orang Tionghoa. Tentu saja Elliot menghormati pria ini dan menerimanya dengan baik.


"Saya Elliot Alexis Bouvard Urbaine Le Verrier, Monsieur Shen. Panggil saya Ellie, atau Gege juga boleh."


Seingatnya itu panggilan yang pas.


Baru saja orang ini memperkenalkan diri, Shen merasa terpukau dengan kemampuannya buat menentukan panggilan yang pas.


“Padahal anda orang asing, tetapi sudah bisa mengenal budaya kami.” ujarnya sambil tersenyum. Bahkan Shen memilih kalimat formal. “Sebagai apresiasi, izinkan saya mengundangmu buat meminum teh bersama.”


Karena Elliot hidup sangat lama, tentulah kemampuannya dalam beradaptasi dengan budaya lain cukup tinggi. Maksudnya ia tidak tinggal dalam waktu singkat di sebuah tempat, makanya bisa familiar dengan budaya tersebut.


"Terima kasih atas pujiannya, Monsieur Shen," Elliot memberikan salam ala orang Tionghoa pada umumnya. "Dengan senang hati saya menerima ajakan Anda, Monsieur."


Senyum tergurat di ranum sang planet. Earthling satu ini nampaknya menarik. Karena itu Elliot pun menerima ajakan Shen untuk minum teh bersama.


“Bisakah saya mengetahui jadwalmu terlebih dahulu? Kebetulan saya kosong hari ini, dua hari ke depan, dan tiga minggu lagi.” ujar Shen sambil berusaha mengingat jadwal yang sudah dipersiapkan sebelumnya. “Saya mesti melakukan banyak pekerjaan.”


Data mengenai suatu kisah baru saja dikumpulkan. Tentu, ada baiknya Shen tidak menunda buat menganalisisnya.


"Hari ini kebetulan saya tidak ada pekerjaan apapun, jadi tidak masalah." tanpa ragu, Elliot menjelaskan kegiatannya hari ini. "Dua hari lagi masih kosong juga. Setelahnya saya pergi ke luar kota untuk proyek fotografi ke tempat-tempat eksotis."


Setelah meninggalkan pekerjaan sebagai dokter kandungan, Elliot beralih menjadi fotografer lepas. Sumpah dokternya, ia lupakan begitu saja.


Mau bagaimana lagi? Elliot tak akan bisa menjadi dokter lagi usai mengalami semua kejadian itu. Ah, Elliot sampai lupa dengan ajakan Shen tadi.


Segera saja Elliot menyambar jaket dan mengambil kunci apartemennya. Menguncinya sebelum berjalan beriringan dengan Shen.


"Ah, jika saya boleh tahu. Apakah pekerjaan Monsieur?" Elliot tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Kebiasaannya bercakap sembari berjalan sepertinya belum hilang.


“Menulis.” Shen kembali menjawab. “Menulis dan menyimpulkan sejarah, sejarawan tepatnya. Kebetulan hari ini sudah menyelesaikan bab tertentu. Karena itu kita bisa pergi minum teh sekarang.”


Langkah mulai dilakukan perlahan, menelusuri kota di sana.


“Teh apa yang biasanya anda minum?” tanya Shen mencoba memulai percakapan agar lebih akrab. “Memakai gula atau tanpa gula?”


Sejarawan. Profesi yang sangat mengagumkan menurut Elliot. Entah bagaimana ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada pria ini akan profesi yang dimilikinya.


"Pekerjaanmu sungguh hebat, Monsieur." Elliot pun memuji wira berasmakan Shen Guo itu dengan tulus. "Oui."


Elliot menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Shen. Netranya menyisir area yang mereka lewati. Siapa tahu saja ada yang menarik, begitu pikirnya.


"Ah, saya tidak memiliki preferensi tertentu untuk teh. Namun biasanya saya meminum teh Darjeeling atau Lapsang." sebisa mungkin ia menjauhi alkohol walaupun minuman tersebut tak akan berpengaruh apapun pada dirinya. Namun, lebih baik memilih minuman yang terbilang umum, kan?


"Tanpa gula, karena jika disajikan dengan penganan lebih tepat meminum teh yang tanpa diberikan gula."


Teh yang tidak diberi gula akan terasa manis bila dibarengi dengan memakan penganan. Begitulah yang Elliot tahu.


"Kalau Monsieur sendiri bagaimana?" tanya Elliot pada Shen untuk mengetahui preferensinya.


Penjelasan mengenai selera itu Shen dengarkan dengan serius. Kemungkinan, Shen pun tersenyum, “Saya meminum tanpa gula. Teh hijau, tanpa penganan apapun.”


Bagi Shen, yang terpenting dari sebuah teh itu rasa dan aroma. Jadi menurutnya, dengan adanya penganan akan merusak citarasa dari teh itu sendiri.


“Di tempat saya menyajikan teh itu dengan gelas dan mangkuk. Tetapi, karena kau bilang ingin penganan, pesan saja. Nanti saya yang bayar.”


Mendengarkan perkataan Shen Guo dengan seksama. Elliot tidak memaksakan preferensinya pada orang lain. Menurutnya semua orang memiliki kegemarannya masing-masing.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, saya menghargai preferensi Anda, Monsieur."


Karena adanya perbedaan budaya antara Asia dan Eropa, maka ia memahami bagaimana orang Tionghoa lebih mementingkan rasa dan aroma dari teh tersebut.


Akhirnya, kini mereka sampai di toko yang memang menyajikan teh. Shen berkata, “Silahkan pilih tempatnya.” Shen berencana mengikut saja, mengutamakan kenyamanan sang tamu, Elliot.


"Maafkan saya bila merepotkan Anda, Monsieur." Elliot merundukkan sedikit kepalanya ketika pria berhelai kecokelatan itu mengatakan akan membayarkan cemilannya.


"Permisi." ia mengikuti Shen memasuki kedai yang dimaksudkan dan duduk di salah satu tempat yang tersedia.


Setelah orang yang diajaknya duduk, tentu saja Shen pula yang akhirnya menyusul untuk duduk di hadapannya. Pelayan pun dipanggil dan dipesannya juga beberapa penganan manis.


“Sudah lama sekali saya tidak minum teh.” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Terakhir kali, mungkin dua bulan yang lalu. Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa nyaman di sini?” tanya Shen. Aroma khas ruangan ini begitu membuatnya merasa tenang.


Netra milik Elliot menerawang sekelilingnya. Tempat yang bagus, juga menyenangkan menurutnya.


Atensinya terdistraksi tatkala suara milik galih berasmakan Shen Guo ini menerpa gendang telinganya. Membuatnya menaruh atensi penuh pada wira yang telah mengajaknya ke mari.


"Oui, saya merasa sangat nyaman di sini, Monsieur. Merci," Elliot menganggukkan kepalanya disertai lengkungan bibir yang membentuk senyuman hangat.


"Ah, selama itukah?"


Tanpa sadar tanya pun lolos dari celah ranum. Menyuarakan keheranannya.


Agak sedikit bingung dengan ucapan pria ini namun, sepertinya itu memiliki arti yang bagus? Tentu saja Shen mengangguk dan tersenyum.


Setelahnya, barulah Shen menimpali, “Banyak hal yang harus dilakukan. Mulai dari memeriksa data, mencocokkan, dan juga menyesuaikan dengan ucapan narasumber dengan data dan fakta lapangan. Setelah itu membuat tulisan dan menganalisisnya. Menurutku itu butuh waktu yang lama dan penuh ketelitian.”


Shen kemudian menghela napas.


“Bahkan dua bulan saja rasanya terlalu cepat. Bagaimana denganmu? Mungkin kita bisa bertukar cerita.” kini Shen memusatkan perhatiannya pada Elliot.


Melihat ekspresi galih berhelai kelam di hadapannya membuat planet ke delapan dari tata surya ini tersadar. Sepertinya Elliot lupa bahwa tidak semua orang memahami bahasa Prancis.


Namun Elliot tidak pernah mengatakan hal-hal buruk. Jadi, tenang saja.


Didengarkan dengan seksama penjelasan Shen Guo mengenai bidangnya yang mirip dengan jurnalistik. Hanya saja ada perbedaan pada beberapa sisi.


"Terdengar begitu rumit dan butuh kesabaran serta ketelitian, ya? Namun saya salut karena Anda begitu berdedikasi pada pekerjaan Anda, Monsieur Shen."


Ada ekspresi kekaguman terlukis pada paras Elliot. Lantas rungu menangkap tanya dari rekannya ini.


"Saya berkunjung ke berbagai daerah bahkan negara untuk mencari pemandangan yang bagus untuk saya abadikan melalui lensa kamera." menjeda sejenak kalimatnya sebelum menambahkan. "Butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil yang bagus serta memuaskan. Tapi semua itu menyenangkan menurut saya. Sekaligus menambah ilmu baru juga saat berkunjung ke tempat lain yang belum pernah saya singgahi." tutur Elliot panjang lebar pada Shen Guo.


Sepertinya terdengar menyenangkan. Begitulah yang terpikirkan oleh Shen. Tawa terdengar sekilas dan kemudian, Shen menjawab, “Mungkin sesekali saya butuh keluar.”


Bisa jadi Shen akan mengajak seseorang. Menikmati pemandangan sendiri ke berbagai tempat sepertinya ada yang kurang.


“Dari ceritamu sepertinya kau mengalami hal menyenangkan.” Shen berkomentar usai mendengar cerita Elliot.


Teh kemudian disajikan setelah pelayan datang bersama dengan kue labu. Shen memesan itu dulu sebelum lanjut ke hidangan manis lainnya.


“Saya baru memesan satu macam penganan. Silahkan cicipi. Nanti jika cocok, kita coba yang lain.” sarannya.


Ranum milik sang planet biru ini pun melengkung membentuk seulas senyuman hangat. Respon dari sang kawan sangatlah menyenangkan dan Elliot merasa nyaman ketika berbincang dengan wira satu ini.


"Anda akan mendapatkan pengalaman luar biasa saat bepergian keluar, Monsieur."


Elliot pun menyuarakan opininya. Ia sendiri berjiwa bebas dan menurutnya, Elliot bebas melakukan apapun selama itu tidak merugikan pihak lain.


"Menyenangkan itu relatif bagi orang lain, Monsieur. Menyenangkan menurut saya, belum tentu menyenangkan bagi orang lain." Elliot menatap lurus sang wira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya tidak bermaksud buruk dengan mengatakan demikian. Saya berharap saat Anda berjalan-jalan keluar nanti, Anda mendapatkan hal-hal yang menyenangkan."


Bila kata-kata adalah doa, maka katakanlah bahwa Elliot baru saja mendoakanmu agar kau mendapatkan hal-hal baik di luar nanti.


Percakapan mereka terinterupsi oleh kedatangan pelayan yang membawakan mereka pesanan. Teh dan penganan segera saja terhidang di atas meja.


"Merci, Monsieur. (Terima kasih, Tuan)." kembali Elliot mengucapkan rasa terima kasihnya.


Kendati Elliot bukan penganut salah satu agama di bumi ini, ia tetap melakukan ritual berdoa sebelum makan. Kepada siapa Elliot berdoa, tidak perlu ditanyakan. Cukup ia dan /yang disembahnya/ saja yang tahu.

__ADS_1


"Selamat makan," jerijinya mengambil salah satu dari kue yang terhidang, menguntalnya sejenak sebelum menelannya. Tak lupa menyesap perlahan teh yang terhidang.


"Ini enak, Monsieur. Rasanya sangat pas untuk menemani acara minum teh kali ini," puji Elliot dengan netra berbinar.


Shen memperhatikan setelah sebelum meminum tehnya, tampaknya walau budaya mereka berbeda (mungkin) inti prosesinya tetap sama? Setelah itu, Shen pula yang melakukan dengan caranya sebelum meminum teh dengan mangkuk yang tehnya dituangkan dari gelas.


“Menikmatinya?” tanya pria itu pada Elliot. “Beruntung sekali. Nanti segera bawa manisan apel dari toko ini. Itu enak.”


Seharusnya ada seorang lagi yang Shen undang namun, orang itu tidak bakal keluar dari hutan.


“Jadi, bisa ceritakan negeri rekomendasimu untuk dikunjungi selama tiga hari?” tanya Shen usai meminum tehnya pada Elliot.


"Oui, tentu saja," kendati Elliot bukanlah kelahiran Prancis, ia tetap menggunakan budaya Prancis sebagai dasarnya.


Mungkin karena Elliot lama tinggal di sana dan terbiasa menggunakan bahasa itu sehari-hari. Alhasil ia tetap menggunakan bahasa itu, meski tentu saja terselip dengan bahasa lain.


"Kue berbahan dasar apel? Mon dieu, saya tidak tahu harus berkata apa karena Monsieur sudah membawa saya ke tempat semenyenangkan ini~"


Sungguh, Elliot tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya di netra uniknya itu.


"Ah, coba saya lihat sejenak," ia membuka jurnalnya dan melihat deretan nama negara yang pernah disinggahi olehnya.


"Kalau tiga hari, mungkin Monsieur bisa mendatangi Myanmar atau Vietnam. Di sana lokasi untuk berwisatanya juga tidak kalah menarik," tutur Elliot menjelaskan pada sang galih mengenai destinasi yang dimaksudkan. "Atau jika Monsieur menginginkan pemandangan pantai yang indah, Monsieur bisa mendatangi Maldives atau Fiji."


Karena planet satu ini hobi mendatangi berbagai negara dengan urusan yang berkaitan fotografi, jadilah Elliot tahu banyak.


Rekomendasi dari pria itu didengarnya dengan ekspresi serius. Shen mengenal beberapa negeri yang disebutkan namun, tidak untuk beberapa. Lagipula, menurutnya orang yang Shen ajak tidak akan tertarik dengan pantai?


“Apa ada tempat yang memiliki kesan teduh dan sejuk seperti hutan hujan tropis? Orang yang akan aku ajak ini memiliki kecintaan pada hutan.” jelas Shen. “Dan tempatnya kalau bisa bukan suatu tempat yang memiliki kesan ramai.”


Maria sepertinya tidak akan nyaman dengan keramaian, begitulah yang Shen pikirkan. Mangkuk teh pun segera diambil dan diteguknya teh sambil memikirkan gadis berambut orange itu sekaligus, Shen menunggu jawaban dari Elliot.


Mendengarkan dengan cermat permintaan dari sang interlokutor. Rupanya rekomendasinya yang Elliot utarakan beberapa saat lalu tidak cocok dengan orang yang akan dibawa oleh pria ini, ya?


"Sebentar," halaman jurnal lain Elliot buka dan memperlihatkan lokasi dengan pemandangan indah yang terperangkap dalam selembar foto. "Ini hutan Hallerbos di Belgia, saat musim semi, hutan ini akan berubah menjadi taman bunga bluebells."



Sang planet menjeda sejenak untuk menyesap tehnya berikut menguntal kuenya. Elliot lantas beranjak ke destinasi berikutnya.


"Hutan Otzarreta berada di Spanyol juga tidak kalah indah. Keduanya merupakan destinasi yang jauh dari keramaian dan pemandangan hutannya bagaikan negeri dongeng. Memanjakan mata."



"Atau Taman Nasional Sequoia di California, Amerika, juga bukan pilihan buruk." Elliot melempar senyum pada Shen yang tengah meminum tehnya.


"Bagaimana? Apakah ada yang sesuai dengan kriteria Anda untuk berlibur, Monsieur?"


Shen meletakkan mangkuk tehnya dan untuk sesaat, ia mengetuk-ngetukkan derijinya di atas meja. Menimbang-nimbang, manakah yang sekiranya akan ia kunjungi bersama Maria.


Helaan napas lolos dari celah ranum Shen. Sepertinya ia sulit untuk memutuskan. Kembali pria Tionghoa ini memanggil pelayan dan meminta dibawakan manisan apel serta teh lapsang.


Begitu sang pelayan pergi, netra sewarna batu ambar milik Shen tertuju lurus pada Elliot.


"Nampaknya saya akan mengunjungi Hutan Hallerbos terlebih dahulu, baru setelahnya ke Hutan Otzarreta. Maria pasti akan senang." tanpa sadar Shen menyebut nama tunangannya.


"Maria?" Elliot dengan polosnya bertanya.


"Tunangan saya."


"Oh."


"Saya berterima kasih padamu, Elliot. Kau benar-benar mengagumkan." puji Shen tulus.


Manisan apel dan teh lapsang pun kini terhidang di meja. Shen menuangkan tehnya dan menikmatinya.


"Ini belum seberapa, Monsieur." Elliot menanggapi dengan canggung. "Bila nanti Anda butuh rekomendasi untuk berwisata, saya akan berikan brosur atau booklet yang saya buat untuk Anda."


Setelahnya, Elliot kembali menikmati teh dan cemilannya. Jurnal yang sempat ia perlihatkan pada Shen, sudah ia simpan kembali.

__ADS_1


"Mungkin kau bisa bercerita satu atau dua pengalamanmu pada saya selama menjalankan tugasmu, Elliot?" ia bersiap mendengarkan untai kisahmu kini.


— Bersambung


__ADS_2