Planetes

Planetes
1.q. Family Reunion (Earth and Mars)


__ADS_3

Katakanlah bahwa nasib sang pengejawantahan Neptunus ini sedang sial karena lengannya tergores pecahan kayu saat tengah mengambil gambar di sebuah lokasi yang terbilang ekstrim dan membuat darahnya otomatis terus-menerus mengucur. Kutukan yang paling ia benci karena artinya Elliot akan kesulitan untuk membuatnya tertutup lagi.


Bukan karena trombosit dalam darahnya kurang. Pun bukan karena ia mengalami mutasi genetika. Andaikan memang begitu, Elliot tidak akan bersumpah serapah pastinya.


Konon katanya, itu adalah bukti bahwa Elliot telah melakukan sebuah dosa besar. Yang membuat alis Elliot keriting adalah dirinya sama sekali tidak ingat apa yang ia lakukan kala itu jika saja Poseidon tidak memberitahunya.


Mengenaskan? Iya. Bahkan Elliot sendiri tidak tahu caranya bisa menghancurkan kutukan itu. Sepanjang perjalanan pulang, Elliot terus menghela napas.


Bahkan ia tak sadar bahwa di dalam rumahnya sudah ada kakak perempuannya. Sang Bumi atau nama manusianya Freya.


"Ada apa gerangan, Neptunus?"


Demi Bunda Mentari. Nyaris sang bentala melompat dari tempatnya tadi.


"Umm," bagaimana mengatakannya, ya? Sejujurnya ia tak mau membuat kakak perempuannya ini khawatir. "Tadi lengan saya tergores dan darahnya tidak mau berhenti, Kak."


Freya ingin bertanya apa yang membuat adiknya ini terlihat terkejut, namun respon itu membuat raut wajah sedikit mengerut.


“Eh? Kamu tidak apa-apa? Terluka di mana?”


Pasalnya Freya tidak melihat ada luka pada tubuh sang adik. Apakah mungkin tersembunyi di balik pakaiannya yang lebar itu?


Segera saja buana berasmakan Elliot ini menyingkap lengan pakaiannya yang panjang dan menunjukkan lengan kirinya. Agak canggung karena sebenarnya Elliot tidak pernah melakukan hal semacam ini di hadapan kakak-kakaknya.


"Yang ini, Kak. Tadi tergores ketika sedang beres-beres di tempat kerja." senyum canggung pun terpulas di ranum.


Merutuki kebodohannya karena tidak berhati-hati sampai menimbulkan luka yang seserius ini. Namun itu sudah resiko pekerjaan, Elliot tidak bisa menyalahkan keadaan.


Dahi Freya semakin menambah kerut tatkala melihat apa yang terjadi pada lengan milik sang penyandang alias Neptunus itu.


“Tidak ingin diobati? Akan kubantu kalau mau.”


Akhirnya Elliot merepotkan lagi, kan? Padahal sang bentala sudah berhati-hati tadi.


"Tolong ya, Kak." Elliot pun akhirnya menyodorkan lengannya yang ia bebat asal dengan kain kasa tadi. "Saya kesulitan mengobatinya."


Meski ia seorang mantan dokter, akan kesulitan jika harus menjahit luka dan mengobatinya tanpa perlengkapan yang memadai. Luka Elliot tergolong perlu dijahit karena cukup lebar dan lebih lama terbuka menyebabkan iritasi.


Dalam hati, Freya bersyukur karena Elliot menerima tawarannya untuk diobati olehnya. Freya sendiri tak merasa direpotkan. Memang wajar, kan, mengkhawatirkan adik sendiri?


“Oh, tunggu sebentar.” Sang gadis yang merupakan pengejawantahan bumi itu segera mencari kotak P3K setelah melihat kondisi lengan tersebut. Apakah lukanya sempat diberi obat? Freya penasaran.


"Oui," Elliot menganggukkan kepalanya dan menunggu sang kakak mengambilkan kotak obat untuk merawat lukanya. Sempat penasaran juga, apakah kakaknya tahu di mana letak kotak obatnya?


Elliot sudah sempat memberikan obat pada lukanya, namun sepertinya tidak berhasil? Tanpa sadar ia menghela napas lagi.

__ADS_1


"Kakak sudah bertemu dengan Ismaya?" tanya Elliot saat Freya masih grasak-grusuk mencari kotak obat. "Ah, sekalian kakak nanti sediakan baskom air hangat, jarum dan benang, ya."


Ismaya adalah rembulan dari sang bumi sendiri. Satu-satunya satelit alam yang dimiliki kakaknya ini.


Jarum dan benang? Alis Freya mengerut lagi. Namun gadis perwujudan bumi ini tetap mengambilkan tanpa banyak tanya.


Setelah menemukan barang yang telah dicari, sang gadis bergegas kembali ke tempat awal. Membuka kotak itu, mencari-cari obat yang dipikirkan dalam benak.


Ketika sudah menemukan botol obat tersebut, sebuah pertanyaan membuat pergerakan Freya berhenti sejenak. Kepala ditekuk sedikit, pikiran sang bumi mencoba mencari nama yang disebut oleh adiknya.


“Ismaya...? Jangan-jangan gadis berambut perak yang ituー”


Maafkan kapasitas daya ingat sang bumi yang bisa dibilang terbatas ini. Freya tidak dapat mengingat jelas nama manusia setiap pengejawantahan dari saudara-saudaranya, pun anak-anak mereka. Termasuk jua anaknya sendiri.


"Oui, benar yang itu," Elliot mengiyakan ciri-ciri yang disebutkan oleh kakaknya. "Kakak sudah bertemu dengannya?"


Kepala pun dimiringkan. Menunggu jawaban dari planet kehidupan di hadapannya ini. Tentunya sembari menunggu luka lebar di lengannya diobati pula.


Karena entah mengapa darah yang keluar dari lukanya semakin lama semakin banyak. Kutukannya ini memang menyebalkan.


Freya melakukan sterilisasi pada jarum berbentuk kait yang akan digunakan untuk menjahit luka adiknya. Tak lupa mengeluarkan benang yang masih tersimpan rapi dalam plastik.


“Pernah, sekali. Tapi dia belum menampakkan diri lagi.... Semoga dia baik-baik saja.” Freya menjawab pertanyaan sang adik.


"Begitu rupanya," netra ia pejamkan sejenak. Kalau dipikir-pikir, ia jarang bercengkrama dengan benda langit lainnya.


Selagi menunggu proses sterilisasi, Freya membersihkan luka Elliot. Isi dari obat dituangkan ke atas kapas, lalu perlahan diusap ke area luka yang semakin deras mengucurkan darah.


“Bilang aku kalau sakit, ya.” untai kata terluntak dari celah ranum Freya.


"Ia akan baik-baik saja, menurut saya." ada jeda dari kalimat Elliot sebelum dilanjutkan. "Oui, itu sudah pasti, Kak." mengulas senyum di ranum.


Usai membersihkan luka Elliot, Freya mengambil jarum dan benang yang sudah steril dan dengan hati-hati mulai menjahit luka Elliot. Pengejawantahan Neptunus ini mengernyitkan alis tatkala ujung jarum itu menembus kulit. Memang sakit, itu sudah pasti.


Orang-orang yang juga harus dijahit lukanya juga pasti akan merasakan sakit yang sama. Proses penjahitan luka itu berlangsung dalam keheningan hingga suara Freya memecah keheningan.


"Sudah selesai, Neptunus. Tinggal kubebat saja lukamu," ucap Freya sembari membalut luka adiknya dengan kain kasa bersih.


Freya sendiri tak memiliki banyak kesempatan berbicara dengan saudara-saudaranya yang lain. Mungkin karena ia biasa menyendiri jua terpisah cukup lama, kali ini ia ingin mengeratkan kembali jalinan tali silaturahmi antar saudara yang merenggang.


Jika Elliot mampu membaca pikiran Freya, mungkin Elliot akan mengatakan bahwa itu semua bukan salah kakaknya ini. Adalah hal wajar bila terbiasa sendiri setelah terpisah sekian lama, karena Elliot pun seperti itu. Setidaknya itu yang dirasakannya sebelum keluarga dan teman-temannya datang mewarnai hidupnya yang monokrom.


"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Freya pada adiknya usai mengikat kain kasanya.


"Sudah tidak, Kak. Terima kasih banyak," senyum riang pun merekah di ranum Elliot.

__ADS_1


"Sama-sama, Dik. Oh ya, aku tak mungkin terus-menerus memanggilmu dengan sebutan Neptunus, kan? Siapa nama manusiamu?" sang bumi pun sepertinya lupa mengenalkan nama manusianya. "Kau panggil aku Freya, oke?"


"Kak Freya," Elliot mengulang nama itu dengan segera. "Nama saya Elliot Alexis Bouvard Urbaine Le Verrier. Tapi, Kak Freya panggil saja saya Elliot."


Freya mengerjapkan netranya beberapa kali. Kenapa adik bungsunya ini memilih nama sepanjang jalan kenangan begitu? Ia hampir-hampir tak bisa mengingat. Untung saja Elliot memberikan alternatif padanya sehingga Freya tak perlu bersusah payah mengingat semua nama itu.


"Baiklah, Elliot. Apa kau sudah makan? Mau kubuatkan bubur?" penawaran dari sang kakak membuat pengejawantahan Neptunus ini tertegun.


Apakah setelah ini ada perang bubur diaduk dan tidak diaduk?


— Mars


Ini kisah ketika Elliot pulang menuntut ilmu di pelatihan jurnalistik dan fotografi. Sebenarnya ia menyukai suasana sekolah tersebut, namun entah mengapa beberapa sesi malah membuatnya harus babak belur. Jika ditanya mengapa, itu karena ada saat-saat dimana Elliot diwajibkan untuk sparring dengan temannya atau 'sesuatu' yang disiapkan oleh pengajarnya.


Kebetulan saat itu ia masih tinggal bersama kakak laki-lakinya, Mars. Sehingga segala yang dialami oleh adiknya, Mars pun tahu. Betapa murkanya Mars—atau nama manusianya Mori Shigeo, ketika mendapati adiknya pulang-pulang dalam kondisi mirip korban begal.


"Elliot, rasa-rasanya aku mendengarmu masuk sekolah jurnalistik dan fotografi. Kenapa tubuhmu jadi babak belur begitu, hah?" kedua tangan Shigeo terlipat di depan dada, dan rautnya sudah pasti menyiratkan kekesalan yang luar biasa.


Elliot menelan ludah. Kakaknya ini jika sudah marah, pasti akan gawat. Bahkan tidak segan-segan menebarkan teror untuk para earthlings jika dirasa mereka keterlaluan.


"Ini luka-luka yang saya dapat ketika sparring di tengah-tengah proses pembelajaran," aku Elliot dengan jujur. "Tapi, tolong jangan labrak pengajarnya ya, Kak."


Shigeo mendengus. Bisa-bisanya earthlings hina itu memberlakukan cara pengajaran model begitu. Andaikan Elliot tidak memohon, Shigeo sudah meluluhlantakkan sekolah tersebut.


"Oke, aku tidak akan melabrak meski sekolahmu itu tidak beres." Shigeo menghela napas kasar. "Aku akan mencarikan sekolah jurnalistik terbaik untukmu. Jadi, kau tidak perlu mengalami luka-luka seperti sekarang."


"Benarkah, Kak?"


"Memangnya Mars pernah berbohong?"


"Terima kasih banyak, Kak—WADAW!" tiba-tiba mengaduh karena memarnya ditabok oleh Shigeo.


"Obati dulu lukamu, bego!" ucapan khas Shigeo pun meluncur mulus dari ranum.


Elliot pun akhirnya pasrah diobati oleh Shigeo sambil diceramahi panjang lebar. Meski serampangan, Shigeo adalah kakak yang baik. Setidaknya begitu menurut Elliot.


Kakak-kakaknya yang lain pun memiliki watak yang berbeda-beda. Meski demikian, ia sama sekali tidak memprotes.


"Ingat, sehabis ini jangan lagi berurusan dengan perkelahian. Sudah tahu lukamu susah sembuh, mau ditaruh di mana mukaku nanti kalau bertemu anak-anakmu, heh?" omelan Shigeo masih berlanjut.


"Saya mengerti, Kak. Saya akan berhati-hati ke depannya," sambil meringis pelan, Elliot menganggukkan kepalanya.


"Jangan cuma iya saja," Shigeo menatap lurus Elliot. "Dilaksanakan."


"Iya dilaksanakan, kok." Elliot pun akhirnya menggembungkan pipinya karena kesal.

__ADS_1


Ah, sepertinya hari ini terasa lebih panjang dari pada sebelumnya.


—bersambung


__ADS_2