
Langit tiada menandakan kekelamannya, binar syamsu menerangi tiap khalayak yang tengah berembuk secara berkelompok, serta semilir angin berhembus dengan sejuknya. Kala itu, puan dengan tinggi semampaiโAylwen, melangkahkan kembar tungkai menyelusuri jalanan setapak, kembar ibu jarinya tampak menari diatas layar gawai hitam.
โ โ [Messages to Elliot ]
[๐ฐ๐ข๐๐ ๐๐] : Hey, apa kau telah
โ โ โ โ โ โ โ sampai di halte?
[๐ฐ๐ข๐๐ ๐๐] : ๐ป๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ apa
โ โ โ โ โ โ โ yang akan kita
โ โ โ โ โ โ โ kunjungi?
Pekerjaannya hampir selesai ketika dering pada gawai menyentaknya. Oh, keberadaan benda itu hampir terlupakan karena sibuknya Elliot bekerja beberapa waktu lalu.
Pesan dari kirana berhelai kelam dan bertato itu rupanya. Jeriji menari di atas touchpad. Mengetikkan balasan pesannya.
Meski Elliot sudah merapikan barang-barang untuk berwisata, ia belum beres-beres buku yang ada di meja kerjanya. Ringisan pun lolos.
[Messages to Aylwen ]
๐ฌ Aylwen, maaf saya baru balas pesanmu.
๐ฌ Ah, saya ada beberapa rekomendasi. Kau lebih suka hutan, pantai, atau tempat terbuka seperti taman bermain?
๐ฌ Ah, kau tengah menunggu di halte?
๐ฌ Dalam waktu 10 menit, saya akan tiba di tempatmu.
(send)
โ โ
Dengan gawai yang mendapatkan pesan masuk menggegar secara ringan sebagai tandanya, kembar netra kelam itu merendah tuk sekali lagi, mendapatkan sejajaran huruf dalam bentuk kalimat pertanyaan serta tujuan.
Sebelum jemari kembali menari di atas layar, bongkah pinggul dijatuhkannya pada bangku panjang halte, dan memosisikan raga senyaman mungkin.
โ โ [Messages to Elliot ]
[๐ฐ๐ข๐๐ ๐๐] : Hmm. . . Pilihan
โ โ โ โ โ โ โ yang cukup sulit.
[๐ฐ๐ข๐๐ ๐๐] : Bagaimana dengan โ โ โ
โ โ โ โ โ โ โ pantai? Sudah lama
โ โ โ โ โ โ โ juga saya tidak
โ โ โ โ โ โ ย dapat pergi kesana.
[๐ฐ๐ข๐๐ ๐๐] : Oh baiklah! Akan
โ โ โ โ โ โ โ saya tunggu. Dan
โ โ โ โ โ โ โ tolong hati-hati
__ADS_1
โ โ โ โ โ โ โ dijalan.
Bunyi pesan masuk ke gawainya mengalihkan atensi sang planet yang tengah memakai pakaiannya usai mandi. Diusaknya rambut basah dengan handuk selagi kuasanya menjangkau gadget dan kembali Elliot membaca pesan yang terpampang di sana.
Dari sekian banyak pilihan, entah mengapa pantai selalu menjadi pilihan pertama. Elliot tidak melarang sebenarnya, namun semua orang-orang yang berhubungan dengannya entah mengapa memilih tempat yang notabenenya adalah tempat keramat baginya.
Entahlah. Mungkin itu suatu kebetulan. Elliot segera berpakaian rapi dan mengenakan pakaian luaran agak tebal. Meminimalisir kecurigaan timbul sebenarnya. Karena ini masih musim dingin dan jika Elliot mengenakan pakaian tipis, otomatis akan timbul berbagai dugaan nantinya.
Elliot segera menuju ke halte tempat sang puan menunggu dengan motornya. Tak lupa membawa dua helm, satu untuknya dan satu lagi untuk Aylwen .
Sesampainya di sana, Elliot membuka helmnya dan bertanya.
"Apakah kau sudah lama menunggu saya, Aylwen?"
โ
Dalam diam tiada mengusik puan berambut kelam berasmakan Aylwen itu menunggu seorang teruna begitu tenang, sedikitnya helaian kegelapan disisipkan pada belakang daun rungu, atensi bergulir pada jalanan ramai dengan kendaraan berlalu-lalang tanpa henti barang sejenak.
โ โ
Tiada keterangan khusus dalam pemilihan destinasi, hanya ingin, sekedar menyejukkan akal dengan desiran semilir angin menyapu pesisiran pantai. Tampak terjatuh dalam lautan penalaran, Aylwen membiarkan dirinya melamun สนtuk menit-menitnya berlalu, hingga deru kendaraan milik Elliot singgah tepat pada hadapan puan tersebut meruntuhkan segala angan-angan.
". . .Entahlah, saya merasa itu tidak lama." Aylwen bangkit dari posisi duduknya, masing-masing tungkai melangkah mendekat; mengikis jarak yang tercipta dengan dirimu di sana.
โ โ
"Ini pertama kalinya saya melihat kau mengendarai motor." Dalam batin, Aylwen berdoa dirimu tidaklah memacu kecepatan dengan sangat tinggi. "Bolehkah saya meminta helmnya? Atau. . . Ellie ingin memakaikannya untuk saya?"
Dalam hati, sang planet menghela napas lega. Elliot bersyukur karena kirana ini tidak mengeluh karena dirinya yang /mungkin/ terlambat sampai di tempat ini.
"Oh ya?" galih berhelai kebiruan ini memiringkan kepalanya.
Elliot sendiri bukan tipe yang suka mengebut tatkala ia tengah membawa seseorang bersamanya. Sudah menjadi kode etiknya sendiri.
"Ah, maaf," Elliot segera memberikan helm untuk dipakai Aylwen.
Bukannya tak ingin memakaikan, namun Elliot meminimalisir rasa tak nyaman pedusi berhelai kelam ini karena ia pakaikan helm.
"Ayo, naik. Jangan cemas. Saya tidak akan mengebut," Elliot meyakinkan Aylwen bahwasanya ia akan menyetir dengan aman.
Ragu sempat tergurat di peroman sang hawa. Namun jejaka berjenama Elliot itu telah meyakinkan dirinya bahwa lanang berambut sebiru laut itu tidak akan mengingkari perkataannya.
"Baiklah," tungkai indah Aylwen melangkah, lantas mengambil posisi duduk di belakang Elliot. Tentunya usai ia kenakan helm yang diberikan oleh wira yang mengajaknya beberapa waktu lalu.
Bunyi deru kendaraan sekali lagi terdengar, dan kendaraan roda dua itu telah melaju di jalanan yang tidak begitu ramai. Pandangan Elliot fokus ke depan. Memastikan dirinya mengendarai motornya dengan aman.
Aylwen melingkarkan tangannya ke perut sang bentala. Kendati mereka bukanlah sepasang kekasih, namun kedekatan keduanya sering menimbulkan salah paham bagi siapapun yang melihat. Aylwen sendiri tidak terlalu peduli dengan kabar-kabar miring yang beredar.
Toh sang empunya rambut kelam bukanlah seorang pelakor. Aylwen mengetahui bahwasanya Elliot belum pernah menikah seumur hidupnya. Meski demikian, ia tetap bertanya-tanya dalam benak.
...'๐๐ช๐ป๐ฒ ๐ถ๐ช๐ท๐ช ๐ผ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ท๐ช๐ป๐ท๐๐ช ๐ช๐ท๐ช๐ด-๐ช๐ท๐ช๐ด๐ถ๐พ ๐ซ๐ฎ๐ป๐ช๐ผ๐ช๐ต?'...
Namun demi menjaga perasaan teruna berparas lembut itu, Aylwen menelan segala keingintahuannya. Ia akan menunggu hingga bilah bibir milik Elliot menceriterakan hal itu sendiri.
"Aylwen," suara bass milik Elliot menyentakkan puan jelita itu dari lamunan. "Kita sudah hampir sampai."
Retina jelita dara berjenama Aylwen itu tak kuasa menahan kedip. Apakah Elliot menepati janjinya untuk tidak mengebut? Bagaimana bisa mereka hampir sampai bila lanang empunya rambut biru ini tidak mengebut?
__ADS_1
"El, kamu tidak melupakan kalimat yang kau ucapkan padaku sebelum berangkat, kan?" gagal menahan kuriositas yang kian membuncah, akhirnya Aylwen pun bertanya.
"Lho?" ada nada heran terlukis dalam warna suara jejaka yang merupakan pengejawantahan Neptunus ini. "Saya tidak lupa. Ada apa?"
"Bagaimana kita bisa sampai dengan cepat jikalau engkau tidak mengebut?"
"Hah?" baiklah, Elliot kebingungan sekarang. "Saya tidak mengebut! Sungguh."
Meski roman tak dapat ia baca, Aylwen tahu bahwa Elliot serius. Rasa malu menyerbu benak karena telah menuduh jejaka ini yang bukan-bukan.
"Maaf," hanya itu yang terlontar dari ranum tipisnya.
Tiada untai kata yang terucap dari Elliot, membuat Aylwen mengira bahwa pria itu marah padanya. Sebab itu jualah, ia mengeratkan tangannya di pinggang Elliot.
"..." apakah Elliot telah berbuat salah? Padahal ia hanya ingin fokus. "Tidak apa-apa."
Akhirnya ia pun bersuara. Menepis rasa bersalah Aylwen padanya tadi.
"Kita sudah sampai," ucap Elliot sembari menepikan motornya.
Dara jelita berhelai kelam itu segera turun dari kendaraan beroda dua milik lanang dengan rambut yang warnanya mencolok berasmakan Elliot. Kuasa menjangkau helm yang dikenakan dan meletakkannya di stang motor.
Tungkai kembar Aylwen bergerak membawa diri mengikuti Elliot yang sudah lebih dulu melipir menuju ke arah pantai. Menyisiri tepiannya sembari membiarkan kaki-kaki telanjangnya basah tersapu ombak yang sesekali menghampiri bibir pantai.
"El," Aylwen memanggil sang bentala, ada keraguan dalam nada suaranya. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu belakangan ini?"
Elliot merandek. Rasanya ada sesuatu yang mengusiknya beberapa hari ini. Namun entah mengapa, Elliot memilih abaikan.
Merenung sesaat. Menimbang-nimbang sejenak sebelum Elliot akhirnya membuka suara.
"Saya tidak tahu, bagaimana caranya meyakinkan keluarga saya untuk kembali mempercayai Bunda." celah ranum Elliot mulai bersuara. Menceriterakan apa yang terbetik dalam benak. "Sudah lama sekali, semenjak kakak-kakak saya mengajak saya kabur dari amukan Bunda. Saya ingat sekali bila... sejak hari itulah saya tidak pernah lagi bertemu dengan Bunda."
Kendati Mentari bukanlah perempuan ataupun laki-laki. Namun bagi Elliot, Mentari tetaplah sosok Bunda baginya. Karena itulah, ia masih menaruh respek pada sosok tersebut. Meski sosok yang telah memberikannya tubuh manusia itu berubah menjadi Ibu yang bengis dan tanpa belas kasih.
Aylwen mendengarkan dengan penuh perhatian. Rasanya pria ini mengalami masalah keluarga yang serius. Namun ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya bisa menghibur wira yang senantiasa memancarkan kehangatan ini.
Kuasanya menjangkau tangan Elliot dan menggenggamnya lembut. Diberikannya pelukan nan menenangkan pada jejaka lembut hati itu.
"Aku tidak tahu cara terbaik untuk menghiburmu, El. Namun percayalah, semua itu akan berlalu dan kamu pun bisa bahagia."
Aylwen memang tidak tahu detilnya masalah Elliot. Bahkan Aylwen tidak mengetahui masa lalu pria ini.
Namun, Aylwen tidak mau dengan gegabah mengatakan ใAku memang tidak ada di masa lalumu, namun aku akan menemanimu di masa kini dan masa depanใpada Elliot. Ia tak ingin hubungan pertemanan dengan pria itu rusak oleh hubungan romansa.
Bukan apa-apa, Aylwen merasa jika Elliot bukanlah tipikal pria yang mencari pasangan hidup. Pria penuh kasih itu baik pada siapapun tanpa pandang bulu. Bukan hal buruk sebenarnya, namun sudah pasti akan membuatnya terbakar cemburu bila ia memutuskan menjalin kasih dengan Elliot.
Aylwen tidak mau mengekang pria itu, makanya ia memutuskan untuk membiarkan hubungannya tetap seperti sekarang. Tanpa pacaran, namun tidak segan saling berbagi afeksi.
"Merci beaucoup, Aylwen. Saya beruntung memiliki teman sebaik dirimu."
Ah, senyum itu. Aylwen selalu suka tatkala bilah bibir sang adam melukis senyum. Cahaya hangat yang menerangi hidupnya yang dingin dan sepi. Aylwen tak akan menemukan cahaya itu dari orang lain.
Biarlah perasaan itu Aylwen pendam tanpa ia ungkapkan pada sang jejaka. Hari itu Aylwen menemani adam berjenama Elliot di tepian pantai hingga matahari terbenam dan malam menjelang.
Tanpa Aylwen sadari, semua yang Elliot alami berkenaan dengan masa lalunya yang miris dan tragis.
โ bersambung
__ADS_1
โ โ โ