Planetes

Planetes
3. q. Enmity


__ADS_3

"Elliot," Ryan memanggil sang bentala tatkala mereka sedang makan siang.


"Oui?"


"Rasanya aku menyuruhmu membawaku ke tempat Guru. Kenapa malah ke sini?" Ryan menatap jengah orang-orang di sekelilingnya.


Rumah besar ini memiliki paling tidak 100 orang pembantu. Terdiri dari maid, butler, gardener, house keeper, chef, dan lain sebagainya. Tentunya bukan suasana rumah yang disukai oleh Ryan, namun apa boleh buat. Putra Elliot yang bernama Triton—atau nama manusianya William Lassel Le Verrier, adalah seorang CEO suatu perusahaan.


Sepertinya Elliot memaklumi suasana hati Ryan yang jauh dari kata baik. Jadi, ia mencoba memberikan pengertian.


"Kan kamu yang mengatakan bahwa saya boleh membawamu ke mana saja." Elliot menelan makanan yang ia kunyah. "Kebetulan Tri—maksud saya William, datang dan mempermudah saya membawamu ke mari. Tempat yang terdekat. Supaya kamu cepat pulih juga."


Ryan menghela napas. Suasana rumah ini mengingatkan dirinya pada Mansion keluarga Mycenae, dan ia membenci itu.


"Aku akan keluar dari rumah ini nanti malam," Ryan menegaskan pada Elliot. "Kau mau ikut? Aku tak akan memaksamu jika kau ingin tinggal."


Aduh, ancaman secara halus, ya? Elliot seketika berkeringat dingin. Beberapa butir berlian berjatuhan di atas meja makan. Ya, kalian tidak salah membaca. Keringat dari pengejawantahan Neptunus ini memang berupa butiran berlian. Untungnya rumah ini merupakan salah satu lokasi aman baginya.


"Saya ikut," Elliot langsung menjawab cepat. "Lagipula kita harus bertemu dengan Poseidon, kan?"


"Yah," Ryan menghabiskan makan siangnya. "Bersiap-siaplah, Elliot. Permainan kali ini benar-benar mempertaruhkan nyawa, kan?"


Elliot menganggukkan kepalanya. Ryan lantas membereskan peralatan makannya dan berujar.


"Terima kasih atas makanannya. Aku mau berjalan-jalan dulu di sekitar sini," usai berkata demikian, Ryan lantas meninggalkan ruang makan.


"Tunggu." Elliot meletakkan peralatan makannya dan mengekori sang gadis.


Kejadian tersebut tentu mengundang reaksi penghuni rumah tersebut. Terutama dari anak-anak Elliot.


"Ya ampun, diakah calon istri Papa? Mengerikan sekali~" anak perempuan berambut perak panjang dengan mata berwarna magenta berkomentar.


"Ssht, kecilkan suaramu, Kak Nereid! Nanti dia dengar!" Proteus, anak dari Elliot yang lain menukas ucapan anak perempuan tadi, Nereid.


"Tapi, aku setuju dengan Kak Nereid. Perempuan itu memang mengerikan," anak keempat, Thalassa, ikut menimpali.


"Ehem," William menghentikan segala pergunjingan itu sebelum suasana makin keruh. "Beliau adalah tamu kita. Tamu Papa. Tolong hargai beliau selagi beliau ada di sini, oke? Kalian tidak ingin Papa bersedih karena sikap dan perilaku kalian ini, kan?" William menegur adik-adiknya.


"Tapi, Kak—"


"Tidak ada tapi-tapian, Naiad!" William tetap pada pendiriannya. "Pikirkan perasaan Papa."


Diam adalah reaksi wajar mereka usai diceramahi oleh sang kakak tertua. Nereid dan adik-adiknya tidak berani menentang perkataan William. Apalagi William selalu mendahulukan kepentingan ayah mereka dari pada perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Dinding bertelinga, dan orang yang bersama Papa bukanlah orang biasa. Apa yang dirasakannya nanti bila mengetahui anak-anaknya Papa menggunjingkannya begini?" William melanjutkan wejangannya. "Aku berharap, kalian tidak mengulangi kejadian hari ini."


Perlahan tapi pasti, anak-anak Elliot meninggalkan ruang makan dan memulai aktivitasnya masing-masing. Sementara itu, William melangkah ke luar dan menuju ke arah hutan yang tak jauh dari mansionnya.


"Aku tahu kau memata-matai rumah kami sejak pagi. Keluarlah!" William pun berseru sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Tak ada jawaban. William masih menanti dengan sabar sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di lengannya.


"Selagi aku masih sopan, kuminta kau untuk keluar dari persembunyianmu. Kau tidak bisa menyembunyikan auramu dariku."


Sosok pria berambut merah dengan mata hijau keluar dari balik semak-semak. Ya, William sudah mengetahui bahwa ada yang mengawasi mereka sejak Ryan terbangun. Makanya ia melarang adik-adiknya untuk membicarakan Ryan selagi wanita itu masih di rumah mereka.


"Kurasa setiap rumah memiliki peraturan tak tertulis, Tuan. Kau memasuki wilayah pribadi seseorang tanpa izin." William mulai mempermasalahkan etika pria di hadapannya. "Ada sesuatu yang membuatmu tidak memiliki sopan santun bertamu?"


Pria yang tengah diajak bicara oleh William, Arcturus Xenos Mycenae, sesungguhnya bukanlah pria yang tidak tahu sopan santun. Namun entah mengapa beberapa tahun belakangan, ia jadi semakin mirip orang barbar yang tidak beretika.


"Pentingkah membicarakan itu saat ini, Direktur William Lassel Le Verrier?" senyum Arcturus nampak begitu mengerikan. "Oh, apa seharusnya kupanggil kau Neptunus I, Triton?"


"..." William tidak terpancing dengan provokasi Arcturus, ia nampak tetap tenang.


Arcturus nampak tidak puas. Rupanya bulan yang ada di hadapannya ini kebal terhadap serangan verbal. Cukup membuatnya kagum dan sepertinya predikat sebagai bulan agung milik Neptunus itu bukan sekedar predikat.


"Sungguh orang yang membosankan ya, kau ini...." Arcturus pun melontarkan keluhan pada William. "Oh, aku lupa kalau kau itu bukan orang."


William tetap tenang. Ia tak mau terpancing emosi saat ini. Karena ia tahu benar, jika ia salah bertindak sudah pasti bumi akan hancur.


"Nona Clarissa sudah bukan anak-anak lagi. Untuk apa Anda mengawasinya sepanjang waktu? Lalu...." William menatap tidak suka pada pria berambut merah itu. "....caramu mengawasinya sungguh tidak estetik. Buruk sekali." kritik pedas pun meluncur dari birai jejaka berambut pirang itu.


Seolah tak peduli dengan perkataan William, Arcturus nampaknya hendak melakukan sesuatu. Membuat Neptunus I harus mempersiapkan diri dari bahaya tak diinginkan.


Benar saja! Beberapa pisau terbang menghambur dan menerjang ke arah William tanpa ampun. Untungnya refleks William cukup baik sehingga bisa menghindar.


Pisau tersebut mengenai pepohonan dan seketika pohon itupun meranggas.


"Senjata beracun." William menyipitkan matanya. "Kau berniat membunuhku?"


"Hanya memberikan peringatan pada ayahmu itu agar tidak menyentuh apa yang jadi milikku." jawab Arcturus secara gamblang dengan senyum mengerikan.


"Ayahku tak semudah itu bisa dibunuh olehmu." William menggertakkan giginya.


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan kutukan yang ia miliki? Bukankah itu secara tak langsung dapat membunuhnya?" mata Arcturus berkilat licik.


"Kuperingatkan kau, earthlings." nada bicara William nampak berbahaya. "Jika kau berani menyentuh ayahku seujung rambut saja," langit tiba-tiba menggelap. Jelas sekali bahwa William sedang marah. "Kuhancurkan kau tanpa sisa. Aku tak akan menahan diri."

__ADS_1


"Hee? Jadi tadi kau menahan diri?" ucapan Arcturus terdengar mengejek. "Aku akan mundur saat ini. Tapi, camkan kata-kataku tadi."


Arcturus mengenakan kembali tudungnya dan bergegas meninggalkan hutan mansion itu. William mendengus.


"Aku tak akan membiarkannya. Lihat saja nanti."


Pemuda berpakaian rapi itu kemudian beranjak masuk ke dalam mansion. Sementara itu, Ryan tengah mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan di kamarnya.


Permainan kali ini lebih rumit dari pada yang ia bayangkan dan lebih berbahaya. Bila saja ia salah langkah, sudah pasti dirinya akan mati. Ryan memang berkeinginan untuk menolong Elliot, tapi....


"Adakah cara untuk menangkal makhluk-makhluk itu selain memakai senter?" gumam Ryan disertai helaan napas.


Tok, tok!


"Masuk." ucap Ryan saat rungu mendengar suara ketukan di pintu.


"Anda membutuhkan sesuatu lagi, Nona?" William masuk ke dalam kamar Ryan dan membawa kantong kain entah berisikan apa.


Ryan menatap kesal anak laki-lakinya Elliot itu dan berujar. "Apakah ayahmu tak pernah memberitahu mu, jika dilarang menyebutkan gender asliku di tempat umum begini?"


"Maaf," William bersungguh-sungguh minta maaf. "Kuharap...." ia menyodorkan kantong kain pada Ryan. "...ini bisa membantu Tuan Muda ke depannya."


Ryan menerima kantong kain itu dengan keheranan. "Apa ini, William?"


"Pusaka keluarga celestial kami. Jupiter yang Agung dulu memberikannya pada Papa untuk mengatasi kutukan-kutukannya." William bertutur pada Ryan seolah memberikan penjelasan. "Aku mempercayakan benda-benda ini pada Anda, Tuan Muda."


Alis Ryan mengerut demi mendengarkan permintaan dari putra tertua Elliot ini. Apa tidak salah? Bukannya memberikan ini padanya akan memperbesar peluang untuknya mencelakakan Elliot? Apa William lupa dirinya ini siapa?


"William, kau.... belum lupa kalau aku ini siapa, kan?" Ryan menguji William dengan menanyakan hal itu.


"Aku tahu jika Anda adalah orang yang mewarisi mata dan jiwa Medusa." ada jeda di antara mereka sebelum William melanjutkan ucapannya. "Tetapi, aku percaya kalau Anda tak akan melakukan hal buruk pada Papa. Makanya aku memberikan pusaka itu pada Anda."


Ryan menepuk dahinya dan ekspresinya terlihat lebih tertekan dari pada sebelumnya. Ia sudah melakukan kesalahan besar, namun ia tak bisa menarik semua perkataannya.


"Aku akan terima semua pusaka ini, William," Ryan akhirnya pasrah dan mengambil pemberian sang putra Neptunus. "Kalau... nantinya aku ternyata mencelakakan ayahmu, kau akan melakukan apa?" ia nampak ragu saat bertanya hal itu pada William.


"Aku tak akan berbuat apa-apa," William menjawab cepat dan melempar senyum pada Ryan. "Karena Poseidon pernah melakukan hal buruk pada Medusa di masa lalu, anggaplah itu sebagai pembalasan akan hal yang terjadi saat itu."


William dapat melihat ekspresi keheranan dan kekagetan tergambar di raut Ryan, namun ia hanya tersenyum. "Lagipula, kalau kami membalas.... Mau sampai kapan drama balas dendam ini berlangsung? Tiada gunanya juga. Hanya menimbulkan kehancuran dan kesedihan berbagai pihak."


Mendengar ucapan William membuat Ryan mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatap sang putra Neptunus. William mafhum dengan hal tersebut dan berujar.


"Aku berharap, Anda bisa menjaga Papa dan menyelamatkannya, Tuan Muda." ada ekspresi aneh yang tak bisa dijelaskan tergambar di raut William. "Meskipun hal buruk menghadang.... kuharap kalian berdua baik-baik saja."

__ADS_1


Ryan tidak memahami kalimat yang dilontarkan oleh William barusan. Namun saat hendak bertanya, pria itu telah meninggalkan kamarnya dan membuat Ryan tenggelam dengan segudang pertanyaan.


"Apa maksudnya?"


__ADS_2