Planetes

Planetes
2. k. The Murder, OTS 44


__ADS_3

Sejauh yang ia bisa ingat, ia hanya mengembara di ruang angkasa luas. Tanpa batas. Tanpa mengorbit bintang induk mana pun. Para ilmuwan menamainya dengan OTS 44. Nama itu adalah semacam nama kode baginya.


Yah, mungkin juga semacam nama yang dibuat secara sistematis layaknya penamaan makhluk hidup yang disebut binominal nomenclatur. Apapun itu, OTS 44 sendiri tidak terlalu peduli. Toh, ia hanya melayang dan mencari sesuatu yang bisa ia 'makan'.


Pertemuannya dengan sukma dari matahari—Mentari, cukup membuatnya terpesona. Sosok itu sama sekali tidak takut ia 'makan' (dalam artian harfiah) dan bahkan memasang sikap menantang terhadapnya.


"Apa maumu, Mentari?" sang planet ekstra surya itu mewujud menjadi seorang laki-laki berambut biru muda.


〈Saya hanya ingin meminta tenagamu, jika kau tidak keberatan.〉


"Kau sudah tidak waras kah? Meminta bantuan? Padaku? Kau sendiri tahu aku ini apa, kan?"


〈Tahu, memangnya kenapa?〉Mentari melipat tangan di depan dadanya. 〈Bagiku kau sama saja denganku.〉


OTS 44 menghela napas. Kuasanya memijat pelan pelipisnya. Sosok Mentari benar-benar aneh. Meskipun tubuh utamanya tidak sebesar Mentari, tetap saja ia akan berpendapat kalau ia akan menabrakkan dirinya dengan sukma Mentari maka bintang itu akan kehilangan sedikit kemampuannya. Sekali lagi, itu menurutnya.


Mentari menunggu respons dari bentala kelana di depannya. Ia tahu bahwa OTS 44 bukanlah sosok polos lugu yang mudah dibodohi. Maka dari itu, ia ingin menjadikannya sebagai sekutu.


OTS 44 sendiri sadar bila telah menggantungkan ucapan Mentari begitu lama. Akhirnya ia pun membuat keputusan yang begitu berani.


"Aku akan membantumu, katakan saja apa yang harus aku lakukan, Mentari." tetap waspada karena sosok Mentari tidak sesederhana yang terlihat. Salah bertindak, ia sendiri yang akan musnah nantinya.


Mentari menatap lurus sosok yang hanya berbeda beberapa senti darinya, untuk tinggi badan wujud manusianya maksudnya. Berdeham anggun sejenak sebelum berujar.


〈Aku ingin kau menghancurkan mayapada beserta isinya.〉


"Oke, aku tidak keberatan," mengangguk pelan sembari merapikan rambut belakangnya. "Tapi bukannya Bumi itu adalah anakmu? Kalau kuhancurkan, tidak masalah?"


〈Cepat atau lambat, Bumi akan kembali melebur denganku, OTS 44.〉jeda sejenak sebelum Mentari melanjutkan konversasi. 〈Kuubah perintahku jika demikian, musnahkan penghuni bumi, kecuali anak-anakku.〉


"Baiklah, artinya kau memintaku melindungi anak-anakmu. Begitu, kan?" OTS 44 memastikan kembali pada sang pusat tata surya itu. "Tidak masalah, toh aku juga butuh makanan."


Mentari menyipitkan matanya.〈Kau tidak bermaksud untuk memakan manusia, kan?〉


"Yang benar saja." OTS 44 memutar bola matanya. "Aku memang planet pemakan segala, tapi tidak berarti tubuh manusiaku ini juga memakan manusia. Memangnya aku ini kanibal apa."


Mentari tidak merespon, hanya memperhatikan bagaimana OTS 44 bersikap dan menanggapi dirinya.


"Kau tidak perlu khawatir, mereka akan baik-baik saja. Earthlings hina itu tidak akan berani macam-macam."

__ADS_1


OTS 44 tidak pernah menghargai manusia, ia akan memberikan panggilan sesuka hatinya tanpa memedulikan mereka akan tersinggung atau tidak. Ia hanya akan memanggil nama mereka jika dirasa orang tersebut layak dipanggil nama.


Tanpa banyak bicara, OTS 44 pun segera bertolak menuju ke bumi. Tentu saja dengan tubuh manusia yang sebelumnya ia tunjukkan pada Mentari.


Abad ke 16 Masehi, Amsterdam, Belanda. Memakai nama manusia 'Laurens Reynst', OTS 44 bertindak sebagai eksekutor dan juga mata-mata. Kemampuan membunuhnya tidak lazim dan tidak meninggalkan jejak, membuat para korbannya sering disangka dimakan hantu.


Begitu cepat dan bersihnya Laurens bekerja, sehingga ia pun mendapatkan kepercayaan untuk melakukan tugas-tugas sulit. Sembari mengawasi anak cucu dari Mentari, ia melakukan tugasnya dengan baik.


Suatu ketika, ia ditugaskan oleh seorang tuan untuk pergi ke Inggris. Tahun 1888, Whitechapel, East End, Inggris. Dinginnya malam tidak dirasakan oleh Laurens, hanya suasananya saja yang membuatnya merasa muak.


Perempuan-perempuan earthlings berlalu lalang mencari teman kencan, dan berkasih-kasihan di publik. Laurens merapatkan tudung nya, matanya memincing. Mengawasi setiap gerak-gerik yang lewat.


Perintah dari atasannya hanya mengawasi lalu hancurkan. Search and Destroy. Menurutnya itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.


Rungunya yang tajam menangkap suara teriakan tak jauh dari tempatnya. Dalam satu gerakan kilat, Laurens sudah berpindah ke tempat kejadian perkara.


Di sanalah ia melihat sosok asing dengan tubuh tinggi kurus berpakaian serba hitam tengah mengoyak tubuh korbannya. Laurens memunculkan semacam kristal di tangannya dan tanpa suara melemparkan ke tubuh sosok itu.


Tanpa dinyana, sosok itu mengeluarkan jeritan ganjil dan langsung kabur. Meninggalkan ceceran darah di tanah. Tanpa membuang waktu, bentala kelana itu segera mengejar.


Ia cukup percaya diri dengan kemampuannya dan yakin tak akan kalah begitu saja dari earthlings macam Jack The Ripper, sosok yang diburunya saat ini. Laurens melakukan ini bukan untuk menegakkan keadilan, pun bukan untuk membalaskan dendam para korban.


Target terkejar dan nasibnya sudah bisa diketahui saat berjumpa dengan Laurens alias OTS 44....


Laurens melaporkan hasil kerjanya pada sang tuan, lantas ia diberikan pengarahan singkat bahwa Laurens tidak perlu terlibat dengan hal-hal yang sekiranya membahayakan. Kendati Laurens penasaran dengan maksud dari perkataan sang tuan, ia tidak sebodoh itu bertindak gegabah.


Ia merencanakan semuanya dengan matang dan melakukan investigasi secara diam-diam.


(Subjek berharga telah datang ke laboratorium 2.)


[Apa yang akan diteliti mereka? Sepertinya diperlakukan hati-hati sekali?]


(Katanya itu adalah makhluk ajaib berwujud manusia. Para saintis itu tidak ingin sampai penelitian ini bocor karena sangat membahayakan.)


Makhluk ajaib? Laurens membatin. Samar-samar ia merasakan presensi makhluk celestial. Giginya gemeretak pelan.


Berani-beraninya mereka.... Tanpa pikir panjang, ia segera melesat ke fasilitas. Mencari keberadaan subjek yang dimaksud.


Berbekal dengan sumpitan yang sudah dilumuri obat bius racikannya, Laurens menerobos penjagaan. Barulah setelah memastikan semuanya beres, ia menyelinap masuk ke ruang percobaan.

__ADS_1


Pemandangan di ruangan gelap itu seketika diterangi cahaya misterius dari sosok yang tertidur dalam tabung kaca berisikan air. Semula Laurens mengira bahwa itu adalah mermaid, namun ketika lebih dekat ternyata sosok wanita berambut keunguan dengan tangan dan kaki dirantai.


Bukan saatnya untuk kagum. Begitulah yang terlintas di benak Laurens. Ia menggunakan asap tebal untuk menyelubungi dirinya dan gadis dalam tabung kaca itu. Lalu pergi menjauh dari fasilitas tersebut.


Laurens merawat wanita bertubuh mungil itu dengan hati-hati. Meskipun bukan manusia, pantang baginya untuk membuka pakaiannya dengan barbar. Ia menggantikan pakaian sang wanita yang kotor dengan mata tertutup.


Sosok mungil itu membuka matanya. Permata amethyst milik sang gadis menatap nanar sekitar, merasa asing dengan tempatnya sekarang.


"Kau sudah sadar?" Laurens bertanya dan mengambil tempat duduk di dekat sang gadis. "Jangan takut, kau aman di sini."


{Ini di mana?} tanya sang gadis dengan ekspresi ketakutan.


"Rumahku, jadi untuk sementara kau akan aman di sini, Uranus." Laurens pun akhirnya menyebutkan nama sang gadis. Mengabaikan ekspresi ketakutan gadis bertubuh mungil itu.


{Bagaimana kau tahu namaku? Auramu seperti makhluk celestial, tapi—}


"Aku memang makhluk celestial, tapi berasal dari konstelasi chameleon." Laurens menjawab dengan cepat. "Aku adalah OTS 44, para ilmuwan menyebutku Planet Pengembara. Sementara aku menyebut diriku sendiri sebagai Pembunuh."


{Kenapa?}


"Karena itu naturku."


{Apa kau juga akan membunuhku?}


"Mana mungkin. Kau anak Mentari, aku tidak mungkin mencelakai anaknya."


{Jadi, kalau aku bukan anak Mentari, kau akan membunuhku?}


"Tergantung." seperti inilah pembicaraan dengan Laurens, selalu saja membuat lawan tak berkutik. "Sebaiknya, kau istirahat, Cael. Kau kehabisan tenaga karena disekap di sana, kan?"


{KAU MEMATA-MATAIKU? BAGAIMANA—}


"Bukan urusanmu," sergah Laurens tanpa mengubah ekspresi dan nada bicaranya. "Oh, kau bisa memanggilku Laurens."


Uranus—kita sebut saja nama manusianya, Cael, terdiam. Ia tidak tahu apakah Laurens itu kawan ataukah lawan. Cael hanya bisa mempercayainya sekarang.


"Istirahatlah," sekali lagi Laurens menitah dan membuat Cael menurut.


Begitu Cael tertidur, Laurens mendengus. Satu dari delapan. Apakah ia akan menemukan anak-anak Mentari dalam kondisi begini juga nantinya?

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2