Planetes

Planetes
2. h. Lectisternium


__ADS_3

「Neptunus, buka matamu. Neptunus....」


Suara siapa itu? Rasanya familiar.


「Neptunus!」


Sang planet pun tersentak dan membuka matanya. Terduduk sembari mengusap matanya. Lantas Elliot mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Debur laut bersahutan ditingkahi suara camar laut yang berlalu lalang.


"Ada apa, Poseidon? Kau membangunkan saya tiba-tiba...."


Kuapan lolos dari celah ranum. Sementara netranya menatap lurus sosok yang ada di hadapannya. Ilusi? Bukan, sosok itu memang transparan. Namun sosok itu bukanlah hantu.


Semacam ektoplasma yang biasa digunakan untuk menghubungi dirinya. Elliot hapal benar alasan Poseidon mendatanginya seperti ini. Oh iya, tadinya ia mendatangi laut untuk melaksanakan Lectisternium yang tertunda, ya? Namun entah sejak kapan ia tertidur.


Poseidon menatap Elliot dengan ekspresi tidak senang. Seolah Elliot menyepelekan ritual tahunan mereka di sini. Transfer ingatan. Itu harus mereka lakukan agar pengejawantahan Neptunus itu tidak kehilangan kemanusiaannya. Perlahan, wujud Poseidon menjadi nyata dan tidak lagi transparan. Bisa disentuh layaknya manusia pada umumnya.


「Kau belum lupa tujuanmu datang ke sini, kan?」


Sosok berambut panjang itu menatap dalam-dalam Elliot.


"Mana mungkin saya lupa, Poseidon. Karena hal itu saya ada di sini, kan?"


Ingatan Elliot lantas melayang ke puluhan tahun sebelumnya. Saat Poseidon melakukan transfer ingatan untuk pertama kalinya pada Elliot.


Elliot dan Poseidon tadinya adalah satu orang. Namun karena kejadian pahit di masa lalu, Elliot membagi dirinya menjadi dua orang. Kalau dipikir-pikir lagi, rasa-rasanya ia hanya melarikan diri dari dosa yang seharusnya ia tebus.


「Kalau begitu, aku akan melakukan transfer ingatan lagi. Banyak hal yang sudah kau lewatkan, tahu.」


Aduh, rasa-rasanya kok ia seperti dimarahi eh kakaknya, ya?


"Saya mengerti. Maaf, Poseidon."


Seperti sebelumnya Poseidon akan meletakkan tangannya di wajah Elliot dan cahaya biru menyilaukan pun muncul. Kali ini Elliot tidak hanya melihat ingatannya sendiri, tetapi juga ingatan Poseidon.


Dalam penglihatannya itu, seorang gadis cantik telah dikutuk oleh seorang wanita menjadi berambut ular dan membuat siapapun yang menatap matanya menjadi batu. Namun, penyebab gadis cantik itu dikutuk adalah... karena Poseidon menggodanya di sebuah kuil.


Belum sempat Elliot memahami semua kejadian itu, pemandangan di hadapannya berganti. Kali ini ia berada di tengah laut.

__ADS_1


Lagi-lagi sosok wanita cantik hadir di sana, tetapi sepertinya berbeda dengan yang sebelumnya. Wanita itu ditolak oleh Poseidon. Lantas sang wanita mengucapkan kalimat kutukan.


Elliot tak dapat mendengarnya dengan jelas karena ia terlempar lagi ke alam sadar. Poseidon menatapnya dengan alis mengerut.


「Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu, Neptunus?」


"Ya," Elliot menghela napas kecil sebelum menatap lurus belahan dirinya itu. "Siapa wanita-wanita itu, Poseidon? Selagi saya berusaha menebus kesalahan saya, kau menambah panjang daftar karma saya?"


Poseidon membuang muka ke arah lain. Tidak mau membahas masalah itu di Lectisternium saat ini. Elliot pun tidak sabar dan terus mengejarnya.


"POSEIDON, JAWAB SAYA!"


「MEREKA ITU MEDUSA DAN CIRCE! PUAS, KAMU?!」


Poseidon menjawab dengan bentakan. Lepas kendali. Sepertinya Elliot tak akan melepaskannya begitu saja bila ia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Elliot.


"Mengapa? Medusa tidak bersalah, tapi gara-gara kamu, dia jadi dikutuk."


Elliot tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Medusa menanggung kutukan seperti itu. Andaikan dirinya yang bertemu dengan Medusa, apa yang akan dilakukan oleh wanita itu padanya?


Meski demikian, Elliot dapat melihat bias penyesalan pada air muka Poseidon. Dapat ia pahami bila Poseidon pun memikirkan wanita itu.


"Lalu bagaimana dia sekarang?" mendadak Elliot cemas dengan Medusa.


「Dia sudah mati, Neptunus. Perseus telah memenggal kepalanya.」Poseidon menjawab dengan penuh sesal.


"Ap—"


「Itu ulah Athena! Dia mengutus Perseus dan membuatnya memenggal Medusa! Tapi, Medusa sendiri sudah menebar teror, lalu aku harus apa?!」


Kehidupan Poseidon sebagai Dewa sepertinya tidak menyenangkan. Elliot tahu itu karena ia pun pernah berada di posisi yang sama. Setidaknya sebelum ia kehilangan ingatan masa lalunya seperti sekarang.


"Saya mengerti perasaanmu, Posei."


「KAMU TIDAK MENGERTI, NEPTUNUS. MANA PAHAM KAMU SOAL PERASAAN MANUSIA?!」


"SAYA PAHAM!"

__ADS_1


Dibentak balik oleh Elliot, Poseidon pun terdiam. Elliot nampak terbawa perasaannya saat ini sehingga ia memiliki tenaga untuk memarahi balik dirinya yang lain.


"Selagi saya kehilangan jati diri saya sebagai makhluk celestial, saya banyak belajar mengenai manusia." ada jeda sejenak sebelum pengejawantahan Neptunus itu melanjutkan konversasi. "Mengenai perasaan manusia, benci ataupun cinta juga saya paham, Posei. Jangan mentang-mentang saya adalah makhluk immortal, lantas saya tidak humanis."


Penuh sesal, itulah yang selama ini Elliot pikirkan. Andaikan ia bisa menahan diri, mungkin tidak akan banyak korban jiwa berjatuhan. Namun arogansinya saat itu lebih meraja, sehingga orang tidak berdosa pun terkena akibatnya.


「Lalu, apakah kau sudah mendapatkan cara untuk menebus semua itu?」


Elliot menggelengkan kepalanya. Poseidon hendak menghardik tubuh origin-nya itu, namun segera dipotong oleh Elliot.


"Saat ini memang belum ada, namun saya pasti bisa menemukan caranya."


Poseidon menghela napas dan mengacak rambut depannya. Tampangnya nampak frustrasi.


「Lakukan sesukamu, Neptunus. Aku mau tahu bagaimana caramu membujuk Circe.」


Tawa canggung Elliot pun berderai. Bagaimana caranya agar ia bisa menenangkan penyihir laut itu, ya? Sejujurnya ia belum pernah tahu cara menenangkan amarah seorang gadis.


Namun bukan berarti ia akan menyerah begitu saja, kan? Elliot akan berusaha, dengan segala hal yang bisa ia lakukan pastinya.


"Omong-omong, Posei... kita makan dan minum dulu? Hari ini adalah hari istimewa, kan?"


Poseidon menggerutu pelan. Namun Elliot tahu, itu adalah tanda bahwa dirinya yang satu lagi ini berkenan menerima tawarannya.


Segera saja Elliot menggelar alas di tepian pantai dan meletakkan mahkota daun oak, roti gandum terbaik, berbagai macam makanan, dan tak lupa anggur terbaik. Baginya yang hanya bisa menemui Poseidon di hari ini, ia beranggapan harus menyediakan segalanya dengan sesuatu yang istimewa.


「Kau menghamburkan uangmu demi menyenangkan diriku, Neptunus?」alis Poseidon mengerut dan tak dapat menahan kuriositasnya.


"Bukan begitu, saya hanya ingin menjadikan hari ini istimewa bagi kita berdua, Posei. Bagaimanapun kau adalah saya, dan saya adalah kamu, kan?"


「Sesukamu sajalah.」


Poseidon tak akan menang mendebat Elliot saat ini, jadi ia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Elliot dan menikmati semua sajian yang ada. Mereka berdua menghabiskan Lectisternium dengan bersenang-senang, tanpa tahu setelah ini kutukan demi kutukan akan menghampiri Elliot dikarenakan sifatnya yang terlalu berbelas kasih.


Bahkan Poseidon tidak tahu bahwa nantinya Elliot akan menghadapi pilihan sulit yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


—Bersambung

__ADS_1


__ADS_2