Planetes

Planetes
2. j. Ancient Research Laboratory


__ADS_3

Gelap. Dingin. Sakit. Mengerikan. Empat hal itulah yang Elliot rasakan ketika berada di dalam ruangan isolasi yang disebut-sebut sebagai ruang penelitian perilaku makhluk ekstra terrestrial. Meski kata gelap tidak sesuai dengan kondisi ruangan yang terang benderang, namun nyatanya ain kembar Elliot ditutup dengan kain hitam.


Tangan dan kakinya dibelenggu setiap saat, mencegahnya memberontak tatkala percobaan tengah berlangsung. Putus asa, sedih, marah, dan merasa terkhianati oleh para earthlings yang ia lindungi. Kini, ia malah berakhir di ruangan mirip penjara ini.


Meski demikian, Elliot sedikit bersyukur karena ruangan tempatnya dikurung bukanlah white room prison. Namun tetap saja ia bingung, bagaimana caranya untuk kabur dari sini?


Ketika Elliot tenggelam dalam lamunannya, rungu menangkap suara pintu dibuka dan suara orang-orang masuk ke dalam. Elliot memasang sikap waspada. Meski pergerakannya terbatas, ia harus tetap awas dengan kondisi sekitar.


(Wah, wah, tegang sekali. Ini akan jadi hambatan nantinya,) suara yang Elliot kenali pun berbicara, membuat sang bentala menggegat giginya dan membentak.


"FERDINAND, KELUARKAN SAYA! BERANINYA KAU MENIPU SAYA DAN MELAKUKAN SEMUA TINDAKAN KEJAM INI PADA SAYA!" ingin rasanya menghantam wajah pria itu, namun kedua kuasanya dibelenggu oleh rantai.


(Oya, oya, bukankah itu karena kamu terlalu bodoh? Sebab mempercayai orang asing di sekitarmu semudah itu?)


"KAU—"


Belum sempat Elliot meneruskan ucapannya, ia kembali dibius. Tubuh tingginya terkapar kembali di ranjang pasien dan Ferdinand memberikan isyarat pada orang-orang di belakangnya untuk membawa Elliot ke ruang percobaan.


Lampu-lampu menyilaukan dinyalakan, membuat Elliot yang baru saja tersadar terkejut. Kedua kaki dan tangannya dipasung, sehingga sang bentala tidak bisa melawan.


Detik berikutnya, jarum-jarum serupa suntikan menghujam tubuhnya tanpa ampun. Menyedot darah dari pengejawantahan Neptunus itu hingga beberapa kantong darah terisi.


"AAAAAGGHHHH!!"


Jerit kesakitan menggema memenuhi ruangan tersebut. Rasa sakit, perih, dan ngilu yang tidak terkira terasa di sekujur tubuhnya. Meski ini bukan pertama kalinya ia terluka, namun ini adalah kali pertamanya dihujam jarum yang menyedot darah secara langsung.


Mereka ini sudah benar-benar gila! Begitulah yang dipikirkan oleh Elliot. Tiada tawa yang meningkahi suara jeritan Elliot, namun Elliot dapat melihat senyum menjijikkan mereka—yang dikemudian hari Elliot ketahui sebagai Dark Scientist.


Tidak cukup dengan itu, mereka membedah tubuh Elliot dan menelitinya secara langsung. Membuat pengejawantahan Neptunus itu kehilangan kesadaran pasca lukanya kembali dijahit.


Usai semua prosedur penelitian selesai, Elliot dikembalikan ke ruangan isolasi. Tapi, kali ini tidak dibelenggu karena mereka yakin Elliot tidak akan bisa kabur ataupun sekedar menggunakan kekuatannya dengan kondisi lemah begitu.


Saat terbangun dari pingsannya, Elliot menggigil dan memeluk dirinya sendiri. Rasa takut yang luar biasa menyergapnya. Earthlings di tempat ini sudah gila!


Tubuhnya serasa ngilu dan sakit. Bahkan bekas jahitan lukanya bisa ia lihat dengan jelas.


"Dasar orang-orang barbar...." desisnya pelan.

__ADS_1


Ia lalu duduk menekuk lutut dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa kabur dari penjara mengerikan ini.


Elliot bukanlah seseorang yang suka berperang, apalagi menyakiti makhluk hidup. Tapi, manusia-manusia di sini—


Tunggu, ia teringat akan satu hal. White Death mengutuknya, kan? Kutukannya berupa apa, ya?


Saat berpikiran demikian, tiba-tiba saja tubuh Elliot terasa sakit semua dan membuatnya bergerak tidak beraturan di atas tempat tidur. Berisik sekali karena tempat tidurnya sampai bergeser dari semula.


Saat semua rasa sakitnya reda, Elliot melihat tubuhnya berubah transparan.


"Apa..." ia mencari permukaan yang bisa memantulkan dirinya, namun nihil. Cermin tidak dapat memantulkan bayangannya.


[Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah karena kutukan makhluk itu?] Elliot kembali membatin.


Ia menyentuh dinding dengan tangannya dan ternyata tembus. Elliot berpikir, apa saat ini ia berubah menjadi ektoplasma?


Tanpa membuang waktu lagi, Elliot segera mendobrak dinding-dinding tebal itu dan melarikan diri. Khawatir efek kutukan itu hanya sementara dan dalam beberapa waktu akan membuat dirinya mewujud kembali.


Suara alarm pertanda bahwa tahanan telah lari menggema ke seantero fasilitas. Ferdinand dan orang-orangnya heboh dan mencari sumber suara tersebut berasal. Lantas salah seorang dari mereka memberitahu bahwa Elliot sudah tidak ada di ruang isolasi.


Elliot sendiri akhirnya berhasil keluar dari fasilitas, dan dengan susah payah ia terbang. Selama ia bisa menjauh, tak apa-apa. Selama ia bisa....


Elliot mendapati dirinya tengah berada di sebuah ruangan putih besar dengan peralatan kedokteran yang lengkap. Pria berambut biru muda dengan tato aneh di lengan kirinya tengah menggulung perban di sudut ruangan. Tunggu, sudut ruangannya kok ada dapur juga?


"Kamu siapa?" sedikit waspada terhadap sosok yang membawanya ke tempat ini.


{Oh, kau sudah sadar, Neptunus?} pemuda itu menyebut identitas asli sang bentala, membuat Elliot membelalakkan matanya. {Tidak usah terkejut begitu, seharusnya kau tahu siapa aku, kan?} sosok itu mengenakan kemejanya, menutupi tato di lengannya.



Aura ini... makhluk celestial. Jangan-jangan....


"Kau OTS 44?" terkanya ragu.


Dalam hati, ia bingung. Bagaimana bisa sang pembunuh suruhan ibunya ini menemukan dan menyelamatkannya?


{Di sini kuharap kau memanggilku dengan sebutan Laurens, Elliot Le Verrier.}

__ADS_1


Astaga, bahkan pengejawantahan planet ekstra surya itu tahu nama manusianya. Elliot menganggukkan kepalanya dengan patuh.


{Laboratorium tempat kau disekap dan ditahan sudah hancur berkeping-keping,} OTS 44—atau kita sebut saja nama manusianya Laurens, mulai bercerita. {Sebelum kau bertanya, aku akan jelaskan mengapa.}


Sepertinya Laurens tidak membiarkan ceritanya diinterupsi, sehingga Elliot hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mendengarkan.


{Laboratorium itu berhubungan dengan sebuah organisasi bawah tanah. Mereka konon menyelidiki ilmu hitam bercampur pengetahuan. Kita sebagai makhluk celestial pun ada di catatan penelitian mereka, lalu mereka pun mulai memburu makhluk-makhluk seperti kita.} Laurens menyelipkan sebatang permen ke dalam mulutnya dan mulai menghisapnya perlahan. {Ibumu menyuruhku datang ke mari untuk memusnahkan mayapada, namun siapa sangka aku malah bertemu denganmu yang dalam kondisi menyedihkan seperti burung kehilangan sayap.}


Nada mengejek terlontar dari ranum sang planet ekstra surya, membuat Elliot menatap tajam Laurens. Namun Laurens tidak memedulikannya dan melanjutkan ucapannya.


{Intinya, aku menyelamatkanmu karena Mentari tidak mau kau berakhir dengan cepat. Lalu orang-orang itu... aku yakin mereka pasti tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali.} ada jeda tercipta di antara mereka sebelum Laurens melanjutkan konversasi. {Tetapi, fasilitas itu mereka hancurkan terlebih dahulu untuk menutupi jejak. Sehingga jika seandainya kau melapor pada pihak berwajib pun, akan sia-sia. Sebab mereka bermain dengan bersih.}


Ada suara meja digebrak keras terdengar di ruangan itu. Elliot kelepasan emosi dan memukul meja di sebelahnya.


"Sial. Sialan...." gerutunya pelan.


{Lebih baik kau simpan tenagamu itu, Elliot. Lukamu masih belum pulih benar, kan? Terlebih lagi, sulit sekali menghentikan darahmu yang terus-menerus merembes dari lukamu itu. Menyusahkan saja.} Laurens berkata seolah ia kerepotan dengan kondisi Elliot.


"Maaf, kau jadi kesusahan karena saya."


{Tidak usah merasa bersalah begitu, Elliot. Lagipula aku menolongmu karena kau adalah anak Mentari.} terdengar ranum milik Laurens meloloskan ekshalasi. {Kalau bukan, mana mau aku membantumu begini. Yang ada, kau sudah kumakan.}


"Umm, Monsieur Laurens," Elliot ragu untuk mengatakannya. "...Merci beaucoup."


{De rien,} ucap Laurens acuh tak acuh. {Sudah, kau istirahat saja dulu. Pulihkan luka-lukamu. Kau hanya akan menghambatku bila terus-terusan berbaring seperti orang jompo yang sakit.}


Seusai berkata demikian, Laurens keluar dari ruang perawatan. Ia hendak mencari alkohol untuk menenangkan pikirannya.


Di pembaringannya, Elliot masih bertanya-tanya dalam benak. Sebenarnya organisasi apa yang menangkapnya itu? Mengapa mereka terobsesi? Bahkan menghilangkan jejak, benar-benar mencurigakan.


Sementara itu di luar, Laurens melempar botol vodkanya hingga pecah berkeping-keping. Mulutnya menyemburkan makian kasar dan tak pantas di dengar.


{Bedebah-bedebah itu.... Jangan harap bisa kabur dariku! Berani-beraninya earthlings hina melakukan itu pada makhluk celestial. Tidak bisa kumaafkan!}


Entah apa yang akan dilakukan oleh Laurens, yang jelas ia tidak akan membiarkan mereka bersembunyi. Karena mereka telah mengusik apa yang tak seharusnya mereka usik.


— bersambung

__ADS_1


__ADS_2