Planetes

Planetes
1.s. Family Problem (2)


__ADS_3

‶ Selama ini apakah kau pernah pergi berlibur? Seorang diri. Bagiku, mementingkan anak memang nomor satu tapi jangan sampai lupa untuk membahagiakan diri sendiri. Bagaimana anak bisa bahagia kalau orang tuanya tidak? ʺ


Secara teori memang semudah berucap, tapi begitu dipraktikan… Avisa juga mengalami kesukaran. ‶ Sulit, tapi semua usahamu tidak akan sia-sia, Elliot. Percayalah. Kau tidak perlu khawatir berlebih. ʺ


Memang untuk para earthling memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan dengan mengandalkan teknologi canggih. Sebut saja cloning, bayi tabung, atau apalah itu namanya. Sang bentala tidak terlalu paham dengan semua itu.


Namun pada intinya, semua itu adalah cara yang ditempuh oleh seseorang bila ingin memiliki keturunan tanpa harus melalui pernikahan. (Meski itu semua hanya berlaku bagi manusia bumi, dan bukan makhluk celestial seperti dirinya.)


Sepanjang ia bercakap-cakap dengan dara jelita yang merupakan atasannya ini, Neptune—mungkin mulai dari sini kita akan pakai nama manusianya, Elliot, memperhatikan bahwasanya Avisa pun mengalami kepenatan yang sama. Mungkin ada beberapa hal yang terjadi antara Avisa dengan sang anak. Begitulah yang ia tangkap.


"Aah, kalau benar-benar berlibur, rasanya belum pernah. Mengingat sebagian besar acara berlibur saya adalah dalam rangka bekerja. Untuk mengumpulkan bahan esai dan foto-foto tentunya." Elliot meloloskan ekshalasi kembali.


Kalau dipikir-pikir, Elliot seorang yang workaholic. Berkunjung ke sekian banyak negara dan tempat-tempat dengan view memanjakan mata pun semata-mata demi kepentingan pekerjaannya sebagai penulis esai dan fotografer. Tidak pernah benar-benar murni berlibur.


"Namun seusai mendengarkan perkataan Nyonya, mungkin saya akan memikirkan ulang untuk berlibur." Elliot akan meninggalkan pekerjaannya untuk beberapa saat dan benar-benar bersenang-senang.


"Lalu, pernahkah Nyonya dikatakan terlalu over dalam mencintai anak Nyonya oleh anak Nyonya sendiri? Maksud saya, entah dalam tindakan atau mungkin perkataan?" kembali Elliot bertanya pada Avisa .


Ketika Elliot pada akhirnya mengambil keputusan, kepala Avisa hanya mengangguk. Menyetujui apa yang telah menjadi pilihan lelaki itu. Tepi bibirnya dibasuh kain; punggung disandarkan ke sisi belakang kursi dan ia pun menikmati cawan teh. Agak dingin karena lama tak dijamah.


‶ Hmm, aku selalu merasa seperti itu. Terlalu memanjakan dan memenuhi apapun keinginan anak. Makanya sesekali aku perlu memberi jarak. Merelakan dia untuk punya ruang sendiri, sedang aku menyibukan waktu melalui pekerjaan. ʺ jeda diambil sebentar, lantas Avisa melanjutkan. ‶ Kau yakin tidak apa - apa Elliot? Maksudku, apabila merasa resah secara terlalu ─── ada baiknya segera berkonsultasi kepada yang lebih ahli. Sebab tiap orang tua, metodenya selalu berbeda. ʺ

__ADS_1


Avisa mulai mengkhawatirkan karyawannya ini. Di luar dugaan, Elliot yang biasanya ramah dan cerah ceria ternyata menyimpan masalah sedemikian pelik. Tentu saja Avisa jadi khawatir.


"Saya tidak tahu apakah pilihan saya sudah tepat," ada jeda di antara silabel yang teruntai, sebab sang buana harus menelan makanan di genggaman sesegera mungkin. Usai habis, barulah Elliot melanjutkan konversasi kembali.


"Nyatanya ketika saya memberi jarak antara saya dengan anak-anak saya, mereka tiba-tiba asing satu sama lain. Entah saya yang terlalu lama memberi jarak, ataukah kondisi sekitar yang membuat mereka demikian."


Satu teguk minuman botol cukup memberikan ruang untuknya bernapas sejenak. Nampaknya kerutan di keningnya bertambah. Penat? Sudah pasti. Namun bukan karena mengurusi anak-anaknya, melainkan memikirkan mengapa jarak antara dirinya dan anak-anaknya jadi sedemikian jauh?


Apakah Elliot sudah melakukan kesalahan? Apakah ia terlalu melepas anak-anaknya? Lolosan ekshalasi terdengar lagi.


"Sepertinya saya akan mempertimbangkan untuk konsultasi nantinya. Terlalu lembek seperti ini rasanya membuat saya merasa jauh dari mereka..." tuturnya pada Avisa yang terdengar seperti sebuah keluhan.



‶ Hu um. Sebaiknya memang berkonsultasi dengan ahli. ʺ Tangan dilipat di atas perut selagi memandang Elliot. ‶ Apakah kau pernah bertanya langsung kepada mereka? Mengapa mereka terasa begitu jauh? Atau menanyakan yang sedang mereka rasakan? Kurasa komunikasi dalam hubungan jenis apapun sangat penting. Daripada hanya menerka-nerka lalu tenggelam dalam pikiran sendiri. Dan apa yang kau pikirkan juga belum tentu benar. ʺ Sepertinya sang Evangeline mulai merasa gemas.


Rungu Elliot mendengarkan ucapan pedusi yang merupakan atasannya ini dengan seksama. Dicermati benar silabel demi silabel dan membuatnya refleks menarik fabrik celana yang Elliot kenakan. Menggigit bibir bawahnya sesaat seolah ia tengah berpikir keras atas tanya yang dilontar oleh sang interlokutor.


Bertanya pada mereka. Untai silabel itu bukannya tak pernah Elliot lontarkan pada anak-anaknya. Tapi—


"Saya bukannya tidak pernah bertanya pada mereka, Madame." akhirnya Elliot membuka suara usai terdiam selama beberapa saat. "Mereka lebih sering menyembunyikan banyak hal dan berkata tidak ada apa-apa. Sekalipun saya menekankan bahwa saya orang tua mereka dan saya berhak untuk tahu apa yang mereka inginkan atau pikirkan."

__ADS_1


Jujur, kadang Elliot takut. Apakah nantinya ia akan sama tirannya dengan sang bunda? Tapi—


"Saya akan coba mendudukkan mereka semua kembali dan mengajak bicara pelan-pelan. Semoga saja kali ini berhasil." Elliot pun meloloskan ekshalasi di akhir kalimatnya.


Avisa memandang puas akan jawaban yang diberi oleh sang lanang. Memang benar persoalan Elliot cukup rumit, namun tekad dari pegawainya ini tak bisa diremehkan. Sosok yang begitu kuat di balik sikap lemah-lembutnya itu menimbulkan kekaguman di benak sang Evangeline.


End of Flashback


Kenangan itu berhenti begitu saja tanpa ada kelanjutan dan Elliot pun menyeka peluh yang bercucuran. Satu kenangan berhasil ia selamatkan dari kutukan yang terus-menerus menggerogoti memorinya.


Netranya menatap cemas wadah yang menjadi penampung ingatannya itu. Sampai kapankah ia harus melakukan ini? Elliot pun khawatir bila benda ini rusak, bagaimana nasib ingatannya?


Perjalanan nya di mayapada masihlah jauh. Selaras dengan kehidupan bumi yang masih jauh. Mungkin Elliot harus melakukan ini selamanya, hingga waktu untuknya berakhir atau mungkin saat kutukannya sirna.


Entah kapan hal tersebut akan datang. Elliot hanya bisa menunggu dan terus menunggu.


—bersambung



__ADS_1


ㅤㅤ


__ADS_2