Planetes

Planetes
2. i. White Death


__ADS_3

Meksiko, negara yang tak pernah Elliot bayangkan akan disambangi olehnya. Konon negara ini masih kental dengan magis dan juga ilmu hitam.


Omong-omong soal ilmu hitam, ia teringat akan identitas Circe yang sempat ia cari di buku-buku yang ada di perpustakaan kota berbagai negara. Semuanya menyebutkan bahwa wanita itu adalah penyihir yang merupakan puteri dewa matahari Helios dengan peri laut Perse.


Jika lawannya adalah setengah dewa, Elliot membutuhkan sesuatu untuk mematahkan kutukan dari Circe. Kalau dipikir-pikir, Poseidon hanyalah jiwa tanpa tubuh. Sementara dirinya adalah tubuh tanpa jiwa, dan ia akan terus hidup selagi jiwanya terpisah darinya.


Namun tetap saja kutukan atau apapun yang berhubungan dengan Poseidon, akan berdampak pula pada dirinya selaku tubuh utama dari sang Dewa Laut. Memikirkan hal tersebut selagi ia dalam perjalanan menuju Meksiko membuat Elliot makin pening.


{Tuan, Anda mau menuju ke mana? Kita sudah sampai di pemberhentian terakhir, Malinalco City.} suara kernet bus menyentakkan Elliot ke alam sadar.


"Hah?! M, Malinalco?"


Mampus. Ia terlewat dari Campeche jauh sekali. Setengah meringis karena kebodohannya, Elliot membayar uang ongkos tambahan dan turun dari bus.


Apes betul ia sampai tiba di tempat keramat macam ini. Setahunya, Malinalco adalah sebuah kota yang kaya dengan legenda dan mendalami misteri serta sihir.


Kota ini pada abad pertengahan merupakan tempat penting bagi Mexica, atau Aztec, yang membangun kompleks garnisun untuk elit militer mereka. Sebuah kota yang terletak di antara pegunungan dan dikelilingi oleh hutan yang rimbun, kota ini menarik pengunjung karena flora dan fauna serta persembahan historis dan spiritualnya.



Karena sudah tiba di sini, Elliot mencari tempat penginapan dan beristirahat. Toh bagi sang bentala agak percuma juga jika harus menyetop bus lagi untuk mengantarkannya ke Campeche.


Jika dilihat-lihat, tempat ini tidak buruk juga. Selagi mencari penginapan, Elliot menyempatkan diri untuk mampir ke.pasar tradisional di sana. Dengan fasih, ia bertanya pada penjual barang-barang apa yang sekiranya bisa ia jadikan oleh-oleh.


Dengan senang hati pemilik toko yang dikunjungi Elliot menjajakan apa saja yang terlihat unik dan bernilai. Selagi bertransaksi, Elliot mendengarkan celotehan orang-orang di sekitarnya.


「Benarkah itu?」


「Iya, sosok urban legend di kota ini.」


「Hiiy, ngeri! Jangan sampai aku bertemu dengannya!」


"Tuan, apa yang mereka bicarakan itu?" tanya Elliot penasaran pada sang penjual. "Nampaknya mereka ketakutan sekali."


Di luar dugaan wajah pemilik toko langsung memucat dan menoleh kanan-kiri. Takut ada sesuatu yang mendengar.


{Demi Tuhan, Tuan. Tolong jangan memaksa saya untuk menceritakannya!} saking takutnya, Elliot dapat melihat pria gemuk itu nampak gemetaran.


"Kenapa?"


{Karena itu akan membahayakan jiwa saya.} sang pemilik toko menjelaskan alasannya. {Pokoknya, Tuan jangan meminta saya menceritakan ataupun Tuan mencari tahu tentang White Death. Demi keselamatan Tuan sendiri!}


"White Death?" Elliot mengulang dua silabel itu dengan keheranan.


Sadar bahwa telah melakukan kesalahan fatal, sang pemilik toko menutup mulutnya dengan kedua tangan. Beberapa saat kemudian, ia membukanya. Lalu membungkuskan semua barang yang dibeli oleh Elliot, menyodorkannya pada sang pemuda dan memberikan uang kembaliannya.


{Ini, lekas tinggalkan kota ini sebelum gelap!}


"Tapi...."

__ADS_1


{CEPAT! SEBELUM IA DATANG DAN MEMBUNUHMU!} pria itu membentak Elliot dan membuat sang bentala segera bergegas menuju ke luar toko.



Jangan mencari tahu tentang White Death katanya? Tetapi, White Death itu apa?


Karena Elliot sendiri bingung hendak ke mana dan juga tidak tahu mengenai bahaya yang dimaksud. Ia memutuskan untuk menghampiri perpustakaan kota. Mungkin ada buku-buku tentang urban legend yang dimaksud.


Selagi ia mencoba mencari informasi tersebut, rungunya menangkap suara tak jauh darinya. Melalui ekor matanya, Elliot melihat ada sekumpulan turis asing yang tengah menggeledah beberapa buku dan juga melihat adanya perlengkapan aneh tergeletak di atas meja.


[Mau apa mereka ini?] Elliot pun membatin.


(Tuan yang di sana, berkenankah untuk bergabung bersama kami?)


Elliot menoleh ke arah kanan dan kirinya, karena merasa ragu ia pun menunjuk dirinya.


(Iya, kamu. Ke marilah.)


Dengan perasaan ragu, Elliot pun menghampiri mereka. Lantas mendaratkan bokongnya di atas bangku yang tidak jauh dari mereka.


"Tuan-Tuan ada perlu dengan saya?"


(Benar,) salah satu dari mereka menyahut. Pria yang memanggilnya tadi, sepertinya merupakan pimpinan dari rombongan ini. (Sepertinya Tuan juga merupakan pelancong, bolehkah kami tahu tujuanmu ke mari?)


"Ah, sebenarnya saya tersasar ke sini karena ketiduran. Saya sedang mencari rute tercepat untuk bisa sampai ke Campeche." jawab Elliot tanpa ragu.


Toh ia tidak berbohong, karena setelah ia mencari informasi tentang White Death (sialnya, buku-buku itu hanya memuat informasi yang cukup sedikit dan membuat Elliot bingung), ia beralih ke peta geografis kota ini. Pria-pria yang ada di hadapan Elliot mengernyitkan alis mendengar jawaban dari pemuda berambut kebiruan ini.


(Namaku Ferdinand,) pemimpin kelompok itu memperkenalkan diri. (Yang itu Alonso, Eugeo, Ferguso, dan Nicholas.)


"Nama saya Elliot Le Verrier, salam kenal Tuan Ferdinand."


(Oh, Anda orang Prancis?) ada binar bahagia di ain kembar milik Eugeo. (Kalau boleh tahu, Tuan Elliot ke negara Meksiko dalam rangka apakah? Melancong?)


"Tidak, saya sedang dinas." aku Elliot sembari mengibaskan tangannya di depan wajah. "Sebagai dokter keliling."


(Ah, jadi Anda seorang dokter,) Ferdinand menganggukkan kepalanya. (Apakah Tuan Elliot tahu tentang White Death?)


"Tidak, tapi kepala toko tadi menyebutkan bahwa itu sesuatu yang berbahaya." Elliot menjawab dengan jujur. "Kalau saya boleh tahu, itu apa sebenarnya?"


(White Death adalah sosok iblis pendendam.) di luar dugaan, Alonso lah yang menjawab. (Awalnya ia adalah seorang gadis yang sangat membenci hidupnya dan melakukan bunuh diri. Lalu setelah itu, keluarganya ditemukan mati dengan kondisi terkoyak.)


"Mati?" alis Elliot naik sebelah. Bingung. "Kenapa?"


(Ada desas-desus yang mengatakan bahwa White Death akan datang ke setiap orang yang mencari tahu tentang dirinya dan membunuh mereka semua,) Nicholas menjabarkan dengan gamblang pada sang bentala.


(Tugas kami sebagai seorang eksorsis adalah memusnahkan makhluk astral yang membahayakan. Tak peduli masa lalu mereka seperti apa!) Ferguso menambahkan.


Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, Ferguso sama sekali tidak terlihat ramah. Wajahnya galak dan seperti hendak menerkam semua yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Umm, jadi intinya Anda sekalian datang ke sini untuk membasminya. Begitu?"


(Benar sekali!) jawab mereka semua bersamaan.


Aduh, berurusan lagi deh dengan hal merepotkan. Kenapa selalu begini saat ia bepergian?


(Sebentar lagi dia datang,) Eugeo memberitahu sembari meletakkan jari di bibir. Menyuruh Elliot dan rekan-rekannya untuk diam.


Elliot tidak tahu bagaimana Eugeo bisa mengetahuinya, namun aura tidak menyenangkan mendekat. Membuat Elliot mau tidak mau harus waspada.


Detik berikutnya, tanpa peringatan atau tanda apapun. Tiba-tiba saja Nicholas terhempas begitu saja dari tempatnya. Seolah didorong sekuat tenaga oleh sesuatu yang tidak kasat mata.


Lalu ada suara mengerikan membahana. Memekakkan telinga. Ferdinand dan kawan-kawannya segera memanjatkan doa-doa sembari sesekali memercikkan air suci.


Namun, hal itu sama sekali tidak berpengaruh. Entah karena iblis itu tuli atau doa para eksorsis ini tidak tersampaikan padanya, White Death mengamuk dan nyaris mencabut nyawa mereka bila saja Elliot tidak segera menahan serangan sang iblis dengan esnya.


"Jangan membunuh mereka, mereka tidak salah! Kenapa kau membunuh setiap orang yang mencari tahu tentangmu?!" basi, namun inilah cara Elliot untuk menenangkan setiap arwah penasaran.


【MEREKA MENGGANGGU! MEREKA HARUS MATI!】sepertinya sulit berbicara dengan roh ini, buktinya alasannya tidak masuk akal. 【MINGGIR! ATAU KAU JUGA AKAN MATI!】


Satu serangan menembus perut Elliot hingga terkoyak. Darah segar menetes memenuhi lantai, mengotori pakaian putih yang dikenakan oleh Elliot.


White Death tertawa mengerikan, namun tawanya berhenti saat melihat Elliot tidak juga mati. Padahal ia yakin bahwa serangannya tadi mengenai organ vitalnya.


【Heh, rupanya kau makhluk yang tidak bisa mati. Kalau begitu... KUKUTUK! KUKUTUK KAU MENDERITA SEUMUR HIDUPMU! HAHAHAHAHAHAH!!!】


Tawa melengking itu pun masih menggema dan hilang begitu saja bersamaan dengan pudarnya kesadaran Elliot.


Ruangan putih dengan bau tajam menusuk kembali menyapa indera penglihatan dan penciumannya tatkala bentala berambut kebiruan ini siuman. Entah sudah berapa lama ia tertidur, ia tidak tahu. Hal terakhir yang Elliot ingat hanyalah.... iblis itu mengutuknya.


Helaan napas pun lolos. Karma buruk yang ia tanggung bertambah lagi. Padahal ia bermaksud untuk menolong orang.


(Anda sudah sadar?) suara Ferdinand mengejutkannya. (Bagaimana perasaan Anda?)


"Lumayan sakitnya," maksudnya untuk luka di perutnya. Aduh, kalau manusia biasa auto berangkat ke akhirat secara instan, nih. "Tapi, saya bersyukur masih bisa hidup."


Ferdinand terlihat tegang dan menghela napas. (Tuan Elliot, bisa bertahan dari serangan makhluk astral itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Apalagi organ-organ tubuh Anda setelah itu memperbaiki dirinya sendiri.)


Elliot berjengit. Apakah identitasnya ketahuan?


Ferdinand menatap Elliot dengan tatapan yang sulit diartikan. (Jadi, kami memutuskan untuk membawa Anda ke laboratorium untuk diteliti.)


A, apa tadi katanya?


"Maksud Tuan Ferdinand?"


(Anda akan jadi percobaan kami. Objek penelitian kami.) senyum mengerikan terhias di bibir Ferdinand.


Seusai berkata demikian, beberapa orang dengan pakaian putih masuk ke ruang perawatan. Membawa Elliot ke sebuah ruangan tertutup. Detik berikutnya, terdengar suara yang menyayat hati dan mengibakan.

__ADS_1


Baru sekali ini dalam hidupnya, Elliot merasakan mimpi buruk yang sesungguhnya. Mimpi di mana ia harus berakhir di ruangan penuh alat-alat yang tidak ia ketahui dan membuatnya trauma berkepanjangan.


—bersambung


__ADS_2