
Bumi pada abad ke 6 sebelum masehi adalah tempat yang asing bagi sang bentala. Sepanjang mata memandang, ia melihat sekerumunan makhluk yang begitu aktif dan berenergi.
Kata Bunda Mentari, mereka disebut 'manusia'—makhluk yang menghuni planet bumi dan memiliki intelegensia yang tinggi. Sesungguhnya ia tengah bingung. Mengapa tempat ini begitu asing?
Terlebih, ini di mana? Neptunus menebar pandangan. Ia sulit memahami apa yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Hanya gaung dari pikiran mereka yang dapat ia dengar. Namun, kebanyakan dari mereka menatap aneh dirinya.
Jika dipikirkan sekarang, memang aneh untuk ukuran manusia sepertinya. Rambut biru pudar ikal dengan biru pucat pada ujung-ujungnya, mata abu-abu dengan pupil berwarna hijau berbentuk berlian.
Perlu diingat bahwa Yunani pada abad ke 6 sebelum masehi belum mengenal yang namanya pewarna rambut. Sehingga mereka tiada berpikir bahwa bisa saja warna rambut sang bentala diwarnai.
Terlepas dari semua itu, penampilan Neptunus saat itu jauh dari kata bersih. Jubah berwarna tidak jelas yang compang-camping. Noda tanah pada kulit wajah dan tangan. Sekilas menimbulkan kesan jijik saat memandang sosok sang buana.
Selain penampilannya yang berbeda dengan orang kebanyakan. Entah mengapa ada aura yang membuat orang merasa aneh bersisian dengannya. Dengan semua itu, pastilah membuat orang berpikir ada makhluk asing bertandang di tempat mereka.
Tidak salah bila mereka berpikir demikian. Neptune memang bukan manusia. Namun di tempat ini, dia didefinisikan sebagai apa?
Tuk!
Sebongkah kecil kerikil menyapa dahinya. Mula-mula satu. Lalu bertambah menjadi banyak.
Oh, rupanya ia ditimpuki kerikil? Apakah ia melakukan sebuah kesalahan? Tapi apa?
Ia tidak memahami kalimat mereka. Namun perlahan, ia mendengar apa yang mereka katakan. Tidak secara langsung, namun lebih seperti gemerincing lonceng.
Kurang lebih beginilah yang terdengar oleh Neptunus.
「Pergi sana! Orang asing hanya akan membawa masalah!」
Masalah? Saya? Neptunus nampak kebingungan.
"Masalah apa?" ia mencoba bertanya.
Mudah-mudahan mereka mengerti apa yang ia katakan.
__ADS_1
「Kedatanganmu hanya membawa bencana ke tanah ini! Lihat, warna rambut dan matamu berbeda dari kami!」
「Benar! Kamu pasti datang untuk menjajah wilayah kami!」
Menjajah? Tunggu, ia bukan Mentari yang berkeinginan semua tunduk padanya. Ia benar-benar hanya ingin membantu para manusia bumi ini.
Namun, mengapa ia diperlakukan seperti ini? Padahal ia baru menginjakkan kaki ke mayapada. Tunggu, baru? Sesungguhnya sudah cukup lama, namun Neptunus kehilangan hitungannya.
Kembali rungu mendengarkan caci-maki orang-orang di sekitarnya. Lalu kerikil kembali menyapa kepala dan tubuhnya. Membuat darah merah menodai kulitnya, bercampur warna cokelat tanah. Menimbulkan sensasi nyeri dan perih.
Perlahan luka yang ia alami pun sembuh secara ajaib. Ia menatap orang-orang yang tadi menimpuknya.
"Saya tidak pernah berkeinginan untuk menguasai suatu wilayah." suaranya nampak bergetar karena menahan marah.
Sebagai konsekuensinya, air yang ada di daratan pun mulai mengamuk dan cuaca berubah buruk. Ah, suasana hatinya benar-benar tidak bagus sekarang.
"Kalian akan terima akibatnya." itulah kali terakhir orang-orang itu mendengar ucapan Neptunus yang kemudian menghilang entah ke mana.
Orang-orang yang mulanya berkerumun mulai membubarkan diri dengan panik saat menyadari ada yang tidak beres. Air bah datang tiba-tiba dan menghancurkan tempat itu segera. Dalam waktu beberapa jam saja, tempat tersebut hancur tersapu air.
[Mereka menolak saya. Mereka menganggap saya ancaman. Bunda, apa salah saya?]
Selagi Neptunus berjalan di keramaian kota, pikiran itu terus-menerus menghampiri. Tudung dirapatkan, menyembunyikan paras sang bentala yang kotor akibat darah dan tanah yang belepotan di sana.
「Pengemis jorok!」
Byur!
Siraman air mengguyur sekujur tubuh Neptunus, membuatnya sedikit gelagapan. Beruntung tidak ada luka yang terbuka, sehingga tidak ada rasa perih dan sakit yang menyiksa.
「Lekas pergi!」
Bentakan orang yang menyiramnya tadi membahana. Tanpa banyak bicara, Neptunus pun segera menyingkir sebelum orang lain berkerumun dan kembali mengeroyoknya.
Disembunyikan rapat-rapat helaian biru di kepalanya dengan tudung. Neptunus berharap tidak ada yang menyadari bahwa rambutnya berwarna biru. Sebiru lautan yang bersih dan dalam. Meski sudah pasti iris matanya yang unik itu akan mengundang tanya siapapun yang melihat.
__ADS_1
Ah, siapa pula yang akan mengamati matanya tatkala ia menundukkan kepalanya? Tidak akan ada.
Omong-omong, semenjak Neptunus datang ke bumi.... Ia tidak pernah ditanya soal namanya. Lagipula, apakah ia harus mengatakan bahwa namanya Neptunus?
Bunyi ringkik kuda menyapa indera pendengaran sang pengejawantahan Neptunus itu dan derap langkah tegap hewan gagah itu berhenti tepat di depannya. Ada apa ini?
Orang-orang berpakaian rapi merunduk memberi hormat padanya. Bahkan beberapa di antara mereka memintanya untuk ikut bersama mereka.
Alis Neptunus mengernyit. Mereka sengaja mencarinya, kah?
"Kalian mencari saya? Untuk apa?" akhirnya Neptunus tidak kuasa menahan kuriositasnya.
『Raja kami ingin bertemu dengan Anda. Karena itu Anda harus ikut kami.』
Sejujurnya Neptunus keheranan dan kebingungan. Bagaimana mungkin petinggi wilayah ini ingin bertemu dengannya? Bahkan ia tak mengenakan sepatu, dan pakaiannya jauh dari kata layak.
"Kalian tidak salah orang? Mengapa Raja kalian ingin bertemu dengan pengemis kotor seperti saya?"
Prajurit-prajurit itu tertegun. Lantas saling berpandangan tatkala mendengar tanya dari Neptunus.
Kalau dipikir-pikir, pakaian yang dikenakan oleh pria tinggi itu berupa terusan kumal yang warnanya tidak jelas dan bernoda tanah bercampur darah—akibat luka-luka yang diterimanya beberapa waktu lalu, tali kain melilit di pinggangnya—mungkin berfungsi selayaknya ikat pinggang di masa sekarang, tudung kepala menyelubungi hampir sebagian besar wajahnya sehingga agak sulit juga melihat paras sang bentala, dan kakinya hanya berbalutkan kain serupa perban. Tanpa sepatu.
Benarkah pria ini yang dicari-cari oleh Raja mereka? Para prajurit tidak tahu. Mereka hanya mematuhi perintah sang Raja. Kendati penampilan orang yang dicari oleh Raja mereka ini jauh dari kata bersih dan sedap dipandang, namun mereka tetap harus membawa pria ini.
『Kami hanya mematuhi perintah Raja kami, Tuan. Tolong, ikutlah dengan kami.』
Sebenarnya jika bisa, mereka ingin menggunakan cara kasar dan memaksa. Namun, Raja mereka telah mewanti-wanti bahwasanya pria yang akan mereka temui bukanlah orang biasa. Sedikit tersinggung atau menyakitinya akan mengakibatkan petaka. Itu sangat fatal tentunya.
Neptunus terdiam selama beberapa saat. Menimbang-nimbang apakah ia harus ikut dengan mereka atau tidak. Akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia akan ikut dengan mereka.
『Sebelum itu,』mereka mengeluarkan sepasang sepatu dari kulit dari buntelan kain yang mereka bawa dan diberikan pada Neptunus. 『Mohon Anda kenakan ini, Tuan.』
Neptunus menerima sepatu tersebut dengan senang hati dan mengenakannya. Lalu para prajurit memintanya untuk naik ke dalam tandu. Neptunus pun mengiyakan tanpa banyak bicara.
Para prajurit itu beserta Neptunus berangkat menuju ke kerajaan mereka. Mungkin kalau sekarang, kalian mengenalnya sebagai Peradaban Atlantis yang Hilang.
__ADS_1
—bersambung