
Abad ke lima belas. Sebuah tempat terbengkalai di Santorini, Yunani. Di sana terdapat onggokan berwarna hitam tak berbentuk yang entah dari kapan dibiarkan saja tergantung di tempat yang sepertinya merupakan bekas tiang gantungan.
Onggokan itu sudah lama tidak dipedulikan oleh orang-orang dan menganggap bahwa onggokan itu tak lebih sebuah sampah. Hingga suatu hari tiang pancang itu patah dan onggokan itu jatuh ke laut dengan bunyi keras.
[Gelap. Dingin. Ini ada di mana?]
Neptunus tidak tahu saat ini dirinya ada di mana. Yang ia ketahui terakhir kali adalah tubuhnya terbakar api dari sambaran petir.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Neptunus tidak tahu. Ia kehilangan hitungannya.
Suara berisik di dekatnya menyapa indera pendengaran. Entah apa itu, Neptunus tidak tahu. Hanya sebagian yang bisa ia tangkap.
Mereka berkata bahwa tubuhnya terbakar dan sepertinya ia masih hidup. Lalu setelah itu tubuhnya dibawa entah ke mana.
Kepala Neptunus terasa berat, belum lagi ada sesuatu yang menahan geraknya. Perlahan, ia membuka matanya. Ruangan ini penuh kain putih dan aromanya agak aneh.
Dia ada di mana? Dengan pergerakan terbatas, ia melihat bahwa sekujur tubuhnya terbalut perban. Dalam hati, Neptunus bersyukur bahwa ia masih hidup. Meski terbetik rasa penyesalan bahwa ia pernah melakukan dosa yang entah apa.
Neptunus tidak ingat apa yang ia lakukan sebelum tergolek di pantai Santorini kala itu dan pemandangan terakhir yang ia lihat hanyalah petir yang membakar tubuhnya. Lalu setelah itu semuanya gelap.
「Kau sudah sadar? Syukurlah, nyawamu masih bisa diselamatkan!」
Orang ini menggunakan bahasa yang tidak ia ketahui, namun sekali lagi Neptunus mampu memahami barang satu atau dua. Apa yang terbetik dalam benak orang ini—nampaknya wanita, tersampaikan padanya seperti denting lonceng yang bening.
Neptunus hendak membuka mulut dan duduk di kasur, namun seketika rasa sakit menyebar dan membuatnya mau tidak mau mengerang kesakitan.
[Astaga, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum!] Neptunus pun membatin.
「Ah, jangan banyak bergerak dulu. Lukamu cukup parah, namun ajaibnya kau masih bisa selamat.」
Wanita itu segera mengerti kondisi pasiennya. Neptunus pun menyandarkan kepalanya kembali ke bantal.
「Namamu boleh kutahu? Karena tidak ada sebuah barang pun yang menunjukkan identitasmu selain tato aneh di pectoralmu.」
Wanita itu mengetahui Neptunus belum bisa menjawab pertanyaannya secara lisan, jadi ia memberikan secarik kertas berikut pena. Neptunus bingung, apakah ia harus mengenalkan nama aslinya? Tapi, ia tidak mau diseret ke tiang gantungan lagi.
__ADS_1
(Elliot)
Nama itulah yang ia tulis di kertas yang disodorkan oleh sang dokter. Entah bagaimana caranya ia melihat kertas nama yang terpajang agak jauh darinya. Namun matanya Neptunus memang setajam itu.
「Elliot saja? Tidak ada nama keluarga?」
(Iya.)
Kembali Neptunus—mulai dari sini kita panggil saja dia dengan nama barunya, Elliot, menuliskan jawabannya. Sekali lagi, ia hanya bisa mengetahui sepenggal dua penggal kata dari sang puan.
「Luka-luka seperti itu kau pasti mengalami trauma, ya. Jangan cemas, aku akan merawatmu, Elliot! Oh ya, namaku Michele Corvisart. Panggil saja aku Michele, ya!」
Itulah pertama kalinya Elliot mengenal tenaga medis yang di kemudian hari menginspirasi dirinya menjadi seorang dokter. Tempat itu mungkin belum layak disebut sebagai rumah sakit. Namun setidaknya cukup memadai untuk sekedar mengobati pasien-pasien yang membutuhkan pengobatan.
Setelah Elliot pulih dari luka-lukanya, ia merasa ada yang memanggilnya. Memanggilnya? Benar, meski secara tidak langsung. Melainkan melalui telepati.
Tungkai kembar Elliot lantas membawa diri menuju ke arah—laut? Pantai tempatnya ditemukan, kan?
"Siapa di sana? Kenapa memanggil saya?" suara Elliot memecah keheningan—tidak benar-benar hening sebenarnya, karena ada suara debur ombak laut.
Rasanya ia mengenal sosok ini, namun di saat yang sama ia tidak jua mengenalinya. Entah mengapa, ia merasa takut ketika berhadapan dengan sosok ini. Namun tungkai kembarnya tidak juga bergerak dari posisinya.
「Tatapan itu.... kau tidak mengenaliku, Neptunus?」
"Jadi, kau mengenali saya?" Elliot terkesiap. "Siapa kau sebenarnya?"
「Aku adalah Poseidon, Dewa penguasa lautan.」sosok yang mengenalkan dirinya sebagai Poseidon itu menjeda ucapannya sebelum melanjutkan konversasi. 「Sekaligus dirimu yang lain.」
Kalimat itu sukses membuat Elliot membulatkan matanya secara sempurna. Apa tadi katanya? Dirinya yang lain? Bukannya Elliot tidak memahami silabel tersebut, melainkan ia bingung. Sebab sosok Poseidon ini tidak ada kemiripan dengannya sama sekali.
"Saya tidak paham," Elliot nampak benar-benar heran dan tidak tahu harus bereaksi apa selain menanyakannya seperti sekarang. "Apa maksudmu dengan kau adalah diri saya yang lain? Kita tidak terlihat seperti anak kembar."
「Bukan anak kembar, Neptunus.」Poseidon menghela napas. Kuasanya terulur dan memegangi kepala Elliot. 「Akan kubantu kau untuk mengingat.」
Cahaya biru menyilaukan pun memenuhi tempat itu dan membuat Elliot tidak dapat melihat apapun selain cahaya tersebut. Beberapa saat kemudian setelah cahaya itu menghilang, berbagai kejadian di masa lalu berkelebat di dalam benaknya dan membuatnya seketika histeris.
__ADS_1
"UWAAAAAAA!!!"
Saking terkejutnya, Elliot pun terjatuh di atas pasir dan wajahnya memucat. Tangannya memegangi wajahnya dan keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya.
"AAAARRRGHHH!!"
Ingatan itu bukanlah ingatan yang menyenangkan. Ingatan di mana Neptunus menjatuhkan hukuman bagi warga Yunani dan Atlantis. Membuat mereka semua terbunuh dalam murkanya.
Poseidon menatap Elliot dengan iba. Ia tahu benar bahwa ingatan tersebut bukanlah hal yang diinginkan oleh Neptunus. Namun, ia harus transfer ingatan tersebut karena Elliot sebagai pengejawantahan Neptunus harus ingat tujuannya datang ke mayapada.
「Sudah ingat, Neptunus? Apa kau lupa tujuanmu datang ke bumi?」
"Mana mungkin saya lupa, Poseidon. Saya datang ke sini untuk melindungi earthling dari serangan anak buahnya Bunda."
「Tapi, yang kau lakukan bukan melindungi mereka. Melainkan memusnahkan mereka. Jadi, mengapa tindakanmu kontradiksi dengan misi yang kau emban? Mana yang benar?」
Kata-kata Poseidon membuatnya terpekur. Lama. Ia tahu benar bahwasanya tidak semestinya ia terbawa emosi dan melakukan pemusnahan massal seperti itu. Apalagi banyak di antara mereka adalah orang baik yang tak tahu apa-apa.
Seketika Elliot merasa berdosa. Rasa-rasanya mati pun tidak akan bisa menebus semua itu. Untung saja ia tidak mati saat dihukum di tiang gantungan saat itu, namun dengan apa ia bisa menebus semua kesalahannya?
"Apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua ini, Poseidon?"
「Pikirkan saja sendiri. Kurasa gumpalan abu-abu di kepalamu itu bukan sekedar hiasa kan, Neptunus?」
Habislah sudah. Ia kini merasa terpojok dengan ucapan Poseidon.
「Aku akan menemuimu lagi, Neptunus. Sampai nanti.」
"Tung—"
Terlambat! Poseidon sudah melangkah masuk ke dalam air dan menghilang di tengah lautan. Meninggalkan Elliot yang masih nampak kebingungan.
Kini ia sudah terbangun di masa yang jauh dari waktu saat ia melakukan pemusnahan. Lalu? Apa yang harus ia lakukan?
Hati Elliot terasa lebih lega tatkala tungkai kembarnya melangkah menuju ke balai pengobatan. Menolong orang-orang yang sakit dan terluka akibat peperangan.
__ADS_1
—bersambung