Planetes

Planetes
3. o. Unexpected Guest


__ADS_3

⠀⠀⠀⠀15 April 20XX


Muraki Kazuto, anak tertua dari keluarga Magus terkemuka di Jepang, klan Muraki. Magus berbakat yang mencapai Rank Grand di Asosiasi Sihir Hitam.


Ranking tertinggi yang hanya sedikit sekali bisa mencapai ranking itu, bahkan Magus dengan keturunan ratusan atau ribuan tahun pun belum tentu bisa mencapai ranking tersebut.


Meski begitu, kini dirinya hanya bekerja sebagai pembuat boneka. Boneka realistis, yang nampak bagaikan orang hidup. Pria ini sering berpindah-pindah tempat, entah apa alasannya.


Namun sekarang pria itu berada di kota kecil pinggiran. Ia lanjut menjalankan bisnisnya sebagai pembuat boneka lagi. Saat ini ia sedang menikmati harinya dengan menghisap rokok. Entah rokok ke berapa, namun terlihat asbaknya sudah penuh dengan puntung rokok miliknya.


Sampai suatu ketika, ia mendengar suara langkah kaki. Diikuti dengan suara pintu terbuka.


"Maafkan, namun toko telah tutup, sampai jumpa lainー"


Wajah sang galih menunjukkan keterkejutan tatkala mendapati siapa yang mengunjunginya.


"Huft, aku tidak menyangka kau akan menemuiku setelah hilang tanpa jejak bagai di telan bumi..."


Kazuto membuka kacamatanya. Sepertinya untuk situasi ini, berbisnis dengan sosok di depannya bukan sebagai dirinya yang memakai 'kacamata'.


"...Benar begitu. Arcturus Xenos Mycenae?"


Suara yang sedari awal terdengar ramah, namun kini berubah seperti orang lain. Hening tercipta.


Menunggu sampai ada dari mereka bersuara, namun keheningan yang semakin lama ini membuat Kazuto kesal.


"Jika kau tidak ada niat untuk bersuara, kupatahkan kedua kakimu itu. Lalu akan kubilang ke adikmu jika kakaknya ada disini."


Ancaman serius pun Kazuto layangkan.

__ADS_1


Mematahkan kedua kaki masih tergolong baik bagi Kazuto. Namun, tampaknya sosok di depannya masih enggan bersuara. Hanya gerakan halus, mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.


Sosok pemuda berambut merah tersebut, membuka sebuah kotak hitam yang masih baru. Memperlihatkan isinya yang asing. Meletakkan di atas meja kerja Kazuto, tidak berapa lama akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara.


『Tolong perbaiki ini. Ini akan berguna untuk dirinya.』


Kazuto mematikan rokoknya, lalu ia melihat dengan teliti apa yang dibawa pemuda tersebut. Keterkejutannya terulang lagi, namun kini melebihi yang tadi. Tidak menyangka jika pemuda di sampingnya bisa menemukan sesuatu yang langka.


「Gorgon Breaker.」


Alat pusaka di mana benda tersebut yang bisa menghalangi kekuatan mata Gorgon, Mystic Eyes of Petrification.


『Kau ahli dalam pembuatan Mystic Eyes Killer, kan? Pasti tidak susah jika memperbaiki benda ini.』


Pemuda tersebut menjelaskan kemudian, membuat Kazuto menyeringai. Ia tidak keberatan mendapat sesuatu yang berharga seperti ini.


Tanya Kazuto dengan mengejek, ia sadar kalau sekarang dirinya terlibat dalam hubungan ーrumitー kakak-beradik Mycenae ini. Tangannya bergerak untuk menyalakan rokok kembali, mulutnya sepat tidak ada mengisi.


"Clarissa pasti lebih senang jika mendapati benda itu, dia Arkeolog yang hebat sekarang."


Kazuto masih lanjut mengejek pemuda tersebut. Jika boleh jujur Kazuto ingin sekali meninju pemuda di depannya ini. Clarissa masih menjadi muridnya dan ia tahu keadaan muridnya tersebut.


『Aku akan menunjukkan diriku saat ia sudah menjadi Gorgon.』


"Kau bercanda?"


『Tidak!』


"......."

__ADS_1


Jawaban pemuda berambut merah tersebut membuat Kazuto mengacak rambut frustrasi. Ia juga pernah bermasalah dengan adiknya, tapi tak disangka hubungan kakak-beradik di depannya lebih rumit dari pada dirinya.


"Aku akan menerima 「Gorgon Breaker」ini. Akan tetapi...." Menimbang-nimbang sebentar, apa memang tindakannya akan tepat di kemudian hari. "...Kau sudah terlarang berada di sini."


Tatapan mata Kazuto tertuju lurus pada iris kehijauan milik Arcturus. Jika boleh jujur pria berambut kelam ini cukup membenci pemuda itu. Namun respon sang pemuda hanya seringai kecil.


『Aku memang berencana tidak akan menapaki kaki ke sini lagi.』


Seraya berkata seperti itu, ia melangkah kaki hingga ke pintu.


『Ngomong-ngomong, tolong jaga Clarissa.』


'Blam.'


Tidak lama keheningan kembali tercipta tepat ketika sosok tersebut sudah menghilang. Kazuto tidak lagi mendengar atau pun merasakan sosok itu, ia kembali memakai kacamatanya. Menoleh ke arah benda yang baru saja diberikan padanya tersebut.


"Ini akan jadi pekerjaan yang melelahkan." ucap Kazuto yang terdengar seperti sebuah keluhan.


Ya, benda itu adalah pemberian dari kakak angkatnya Clarissa. Namun tentu saja Kazuto tidak akan sembarangan mengatakan pada Clarissa—atau dalam samarannya bernama Ryan, bahwa benda itu ia dapatkan dari Arcturus.


Jika ia sampai keceplosan, sudah bisa dipastikan Ryan akan mencari keberadaan Arcturus. Lalu terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan itu yang Kazuto harapkan.


Kembali ke masa kini, Kazuto menghela napas panjang. Perlahan, ia mengurut pelipisnya dan bergumam.


"Sekarang bagaimana kabarnya Clarissa, ya? Apalagi setelah tahu bahwa Elliot adalah Neptunus dan ada hubungannya dengan Poseidon." gumam Kazuto pada dirinya sendiri.


Ia tidak membenci Elliot, karena tahu pemuda itu tak akan menyakiti Clarissa. Namun, bagaimana dengan Clarissa? Gadis itu tidak stabil dan kapanpun bisa saja mengamuk. Bahkan berubah menjadi monster setelah Chylara terlepas.


"Berusahalah Neptunus—maksudku, Elliot. Nasib dan masa depan Clarissa ada di pundakmu."

__ADS_1


__ADS_2