Planetes

Planetes
3. z. Door Mind (2)


__ADS_3

Kazuto membuat laboratoriumnya menjadi remang-remang dan menyediakan tempat tidur nyaman untuk digunakan Elliot. Tak lupa mempersiapkan alat untuk memantau apa saja yang ada di pikiran pengejawantahan Neptunus itu.


"Kazuto-san, apakah kekuatan matanya Clarissa bekerja di dalam sini?" Elliot menunjuk kepalanya.


『Hhh, aku tidak yakin juga. Masalahnya kau bilangnya kan dikutuk hantu, bukan dikutuk makhluk pikiran.』respons Kazuto yang terdengar seperti gerutuan.


"Saya juga tidak tahu kenapa bisa demikian," yang bersangkutan malah terlihat bingung.


『Aaah, sudah! Cepatlah kau berbaring!』Kazuto pun habis sabar.


Sementara Clarissa datang dengan beberapa barang yang digunakan untuk ritual kali ini. Tanpa banyak bicara, gadis itu meletakkan barang-barang dibutuhkan.


"El, kau sudah siap?" tanya Clarissa saat melihat Elliot memakai alat yang dibuat oleh Kazuto.


"Sudah," dianggukkan kepalanya dan menatap Clarissa. "Tolong, ya."


Clarissa lantas mulai membuat Elliot nyaman saat berbaring di atas pangkuannya. Ia lantas memulai ketika Elliot berada di ambang kondisi trance.


"Kamu berada di ujung sebuah koridor yang sangaaaat panjang. Di sisi kanan kirimu ada banyak pintu. Jelaskan padaku apa yang kamu lihat, pegang, dan dengar."


Elliot membuka mata nya di alam pikirannya dan ia melihat kanan dan kirinya ada banyak pintu. Seperti sebuah rumah sakit tua.



"Ini rumah sakit tua yang sudah ditinggalkan oleh pasien dan dokternya, lorongnya berdebu, dan ada lampu di setiap pintu menyala." Elliot mulai menjelaskan apa yang ia lihat di alam pikirannya.


"Berjalanlah, Elliot. Sampai kau bertemu dengan pintu berwarna kuning." Clarissa kembali memandu pengejawantahan Neptunus itu untuk mengeksplorasi alam pikiran.


Kendati Kazuto mampu mengawasi apa saja yang Elliot lihat di dunia pikiran, namun ada yang mesti ia waspadai di sini. Rasa curiganya masih belum menyurut meski Clarissa sejauh ini tidak menampakkan tindakan yang aneh.


Elliot mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tiba-tiba ia dikejutkan dengan adanya tangan-tangan yang keluar dari dalam masing-masing pintu di depannya. Perlahan ia mundur dan berkata.


__ADS_1


"Tiba-tiba ada tangan-tangan keluar dari balik pintu, dan ujungnya buntu!"


"Kamu sedang apa? Lari dari sana!" Clarissa pun membentak Elliot.


Elliot berputar dan meninggalkan lokasi itu, mencari pintu yang diminta oleh Clarissa. Jauh Elliot menelusuri hingga akhirnya ia tiba di pintu yang disebutkan sebelumnya.


"Claris? Pintunya dirantai...." ucapnya sembari menatap ke arah pintunya.



"Buka pintunya, kau membawa sesuatu di kantongmu? Atau apapun?"


Elliot merogoh kantongnya dan menemukan kikir. "Ada kikir dalam kantong baju saya."


"Bagus, gunakan itu untuk memotong rantai-rantainya! Kau bisa melakukan hal itu." Clarissa kembali memandu Elliot.


Meskipun di pintu itu ada tulisan dari darah, Elliot mengabaikan dan mencoba memotong rantai-rantai itu dengan kikir. Di luar dugaan rantainya lebih tipis dari yang terlihat dan dalam waktu cukup lama—tidak terlalu lama juga, hanya 30 menit. Elliot pun selesai memotong semua rantainya.


"Sudah terbuka!"


Elliot pun membuka pintunya dan begitu masuk, ia melihat pintu-pintu di kanan-kirinya. Di luar dugaan, isi pikirannya bagaikan labirin minotaur.


"Kamu berjalan terus di lorong itu, dan hindari pintu yang berisikan jam. Berikutnya cari pintu berwarna merah!"


Pintu berwarna merah. Elliot mengedarkan pandangan dan mencari-cari pintu warna merah sesuai arahan dari Clarissa. Begitu ketemu, ia merasa sedikit aneh.


"Clarissa, pintu ini hawanya aneh." ucap Elliot dengan polosnya. "Seperti ada sesuatu yang janggal. Apakah saya harus masuk?"


Clarissa terdiam untuk sesaat. Pintu merah yang ada di hadapan Elliot memang mencurigakan, namun bila tidak diatasi saat ini makin pelik masalahnya.


"Masuklah, El. Aku akan back-up." ucap Clarissa setelah berpikir.


Elliot pun memasuki pintu itu dan melihat seorang nenek mengerikan dengan bibir merah bagaikan darah dan matanya yang melotot horor. Ini yang Clarissa tunggu dari tadi, ia pun meletakkan tangannya di dahi Elliot dan berkata.

__ADS_1


"El, bayangkan aku ada di situ dan membantumu menghancurkan nenek itu!"


Elliot menuruti permintaan Clarissa. Meskipun Clarissa berkata demikian, nyatanya ia memindahkan kesadarannya ke dalam alam pikiran Elliot. Tanpa sepengetahuan Elliot tentu.


Nenek mengerikan itu meraung marah dan melayangkan tangan besarnya ke arah Clarissa dan Elliot. Mencoba menarik mereka ke dalam kegelapan tak berujung.


Clarissa mencabut pistol dari saku baju Elliot dan menembak nenek itu dengan peluru sihir. Elliot sendiri terkejut saat melihat Clarissa mengambil senjata itu.


"Kok bisa ada senjata di kantong baju saya?"


"Nanti kujelaskan! Sekarang aku harus melawan nenek jelek ini dulu!"


Clarissa menghindari serangan nenek itu dengan susah payah. Hingga ia menembak dari titik buta sang hantu.


Raungan sang hantu berwujud nenek tua itu pun terdengar begitu menyeramkan. Serangan sembarang pun dilancarkan oleh hantu tersebut. Itulah yang dinantikan oleh Clarissa. Dengan cepat, ia menggunakan kekuatan mata Medusa-nya untuk mengubah hantu tersebut menjadi batu.


Jerit mengerikan terdengar lagi. Rupanya hantu nenek tersebut masih bisa menyerang meskipun separuh badannya menjadi batu. Lengan kiri Clarissa terluka akibat serangan barusan. Amarah sang gadis memuncak.


"Beraninya kau!"


Dikuasai amarah, Clarissa tidak lagi dapat berlaku tenang. Dengan mengganas, ia menembaki hantu itu berulang kali.


"Clarissa, tenang! Tenangkan dirimu! Jangan menyerang seperti itu!" Elliot mencoba menghentikan.


"Enyah!" dengan tenaga tak biasa, Clarissa menampik Elliot yang menghalanginya menyerang hantu pikirannya itu dan Elliot terlempar.


[Di dalam pikiran, saya tak punya kekuatan. Sulit menahan Clarissa yang tengah mengamuk begini,] batin Elliot sembari menahan sakit akibat kepalanya yang terbentur tadi.


Nampaknya Clarissa puas mengamuk dan menghancurkan makhluk pikirannya. Namun entah mengapa, sosok Clarissa nampak begitu menakutkan di mata Elliot.


"El? Ada apa?" suara Clarissa menyadarkan Elliot dan entah bagaimana caranya, ia sudah kembali ke alam nyata. "Kau seperti tengah mimpi buruk?"


Sedikit terkejut karena nampaknya Clarissa tidak sadar dengan apa yang terjadi di alam pikirannya. Namun Elliot masih berpikiran positif, bahwa siapa tahu yang masuk ke dalam pikirannya itu adalah Chylara.

__ADS_1


"Tidak," Elliot memutuskan untuk bungkam. "Tidak ada apa-apa, Clarissa."


Paling tidak, satu kutukan lagi telah musnah kini.


__ADS_2