Planetes

Planetes
2.e. Blood Rain


__ADS_3

Semenjak ditolong oleh dokter Michele, Elliot berpikir bahwa ia ingin menjadi sama seperti penolongnya tersebut. Sang bentala berjuang keras untuk mempelajari ilmu kedokteran, baik dari barat maupun dari timur. Sehingga ia pun menjadi dokter ahli yang dikenal supel dan mudah berinteraksi dengan para pasiennya.


Pasien yang ditangani oleh Elliot selalu pulih dengan cepat (tidak terlalu cepat juga, namun setidaknya bisa melewati masa kritis dan sehat kembali). Meskipun tidak 100% prima seperti sebelumnya, para pasien masih mampu mengerjakan sesuatu dengan segala keterbatasan mereka.


Waktu terus berjalan hingga suatu hari, mereka menyadari ada yang aneh dengan dokter berambut ganjil itu. Elliot tidak sedikitpun bertambah tua kendati sudah puluhan tahun berlalu.


Awalnya mereka mengira bahwa Elliot melakukan diet tertentu atau mengonsumsi makanan tertentu, sehingga ia selalu nampak awet muda. Namun melihat menu makanan Elliot setiap hari yang cenderung normal dan tampak wajar, timbullah perasaan aneh dan janggal.


Mulai tersebar isu-isu aneh mengenai Elliot dan tidak sedikit dari mereka yang takut saat berpapasan dengan sang dokter. Hingga suatu ketika....


「Semuanya cepat lari! Pasukan musuh sudah mencapai tempat ini!」


Elliot yang sedang mengobati pasien terluka terperangah ketika mendengar ucapan dari prajurit yang tiba-tiba saja masuk ke barak pengobatan itu. Perang? Di saat begini?


"Tapi, bagaimana dengan para pasien?" Elliot nampak cemas.


Bagaimanapun ia lebih mengutamakan keselamatan para pasien dari pada tujuan dari penyerangan itu sendiri. Tidak, itu tidak tepat. Mungkin tujuan penyerangan bangsa lain ke negeri tempat Elliot berada saat ini adalah memperluas kekuasaan. Namun, ia tidak mau bila keselamatan warga yang dirawat dalam barak pengobatan ikut terancam karena hal konyol tersebut.


『Ada tempat rahasia di bawah kasur. Cepat! Evakuasi mereka lewat situ!』


Dalam satu gerakan sigap, Elliot segera menggeser kasur dan melihat ada pintu rahasia di sana. Ia membukanya dan meminta mereka masuk ke sana.


"Kalian segera masuk ke sini, nanti saya akan menyusul." begitulah Elliot berpesan.


「Tapi dokter....」


"Tidak apa-apa, saya pasti selamat. Sudah, ayo kalian masuk ke sana." Elliot melempar senyum dan menepuk-nepuk pundak pasiennya.


Begitu para pasiennya sudah berlindung, Elliot menciptakan kembaran dirinya dari air di sekitar. Lantas memintanya untuk melindungi para pasien.


[Kau tahu tugasmu dengan baik, klon-ku?] Elliot mengirimkan telepati pada kembarannya itu.


Tanpa bersuara, sang kembaran langsung mengangguk dan menuju ke tempat rahasia yang dimaksud. Elliot sendiri melangkah menuju ke luar bangunan dan melihat betapa banyaknya orang-orang bertempur satu sama lain dan saling membunuh satu sama lain.

__ADS_1


Meriam ditembakkan dan satu bangunan hancur berantakan. Menyisakan hujan berupa darah segar yang mengotori baju dan rambut biru Elliot.


"Kalian ini...."


Desingan peluru kembali terdengar. Namun bagi Elliot yang immortal, ini bukanlah apa-apa. Ia segera membuat perisai dari es untuk melindungi dirinya sendiri dan mengepalkan tangannya.


Segera saja partikel-partikel dingin berkumpul di kepalan tangannya. Jurus yang cukup mematikan.


"Diamond Dust."


Seketika saja meriam-meriam itu membeku, dan beberapa detik kemudian pecah menjadi partikel-partikel kecil es. Jurus Elliot tadi telah membuat partikel dingin berhamburan dan menghancurkan benda-benda di sekelilingnya.


Teriakan kembali menggema. Bukan teriakan karena kesakitan ataupun histeris. Namun teriakan ngeri dengan apa yang mereka lihat saat ini.


Untuk sesaat, para penjajah itu menyadari satu hal. Mereka telah membangunkan iblis yang semula tengah tertidur. Sebab area tempat mereka bertempur sangat dekat posisinya dengan barak pengobatan dan juga rumah pemulihan.


Sayangnya, Elliot melupakan keberadaan rumah pemulihan. Sehingga korban jiwa dari bangunan tersebut tidak terelakkan lagi.


Merasa gagal menyelamatkan jiwa-jiwa itu, Elliot tidak dapat menahan murkanya. Ia pun menggunakan kekuatan supranatural miliknya untuk meluluhlantakkan para penjajah. Menyapu bersih mereka hingga tidak tersisa sedikitpun.


Sementara itu, orang-orang di tempat evakuasi terkejut melihat Elliot yang tiba-tiba melebur menjadi air. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Elliot itu sebenarnya.


Pelan-pelan mereka keluar dari tempat persembunyian, namun sosok dokter berambut panjang ikal kebiruan itu sudah tidak ada lagi di sana.


Tungkai kembar Elliot masih melangkah menyusuri jalanan yang entah menuju ke mana. Kadang, ia terpeleset karena jalanan yang ia lalui begitu terjal dan licin. Jika saja yang melalui adalah manusia, sudah dipastikan akan langsung menghadap Yang Maha Kuasa.


Namun ia adalah makhluk celestial, hambatan seperti ini bukanlah apa-apa baginya. Elliot tidak tahu ia harus apa dan ke mana. Baginya yang telah membunuh begitu banyak orang, satu-satunya tempat yang ingin ia tuju adalah laut. Tempat Poseidon berada.


Sayangnya, arah yang ditempuh Elliot malah membuatnya semakin menjauh dari destinasinya. Berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun ia lewatkan dengan singgah ke desa-desa yang ia temui di perjalanan. Mengobati penduduk yang sakit, atau terluka, lalu setelahnya melanjutkan perjalanan.


Langkah kakinya membawanya ke tempat yang sangat asing. Sejauh mata memandang terdapat warna hitam dan bangunan yang ganjil. Elliot merasa, ia tadi tidak terperosok ke sebuah lubang atau apa. Tapi ini di mana?


Cahaya di sini remang-remang, dan Elliot yakin bila penduduk yang ada di sini tak akan mampu melihat jelas dalam cahaya redup begini. Terdengar suara geraman yang asing di rungu sang bentala dan membuat Elliot bersiaga dengan belati es di tangan.

__ADS_1


(Aromamu seperti bukan manusia. Siapa kau? Beraninya menginjakkan kaki di wilayah kami!)


Aduh, raut dan suaranya nampak tidak bersahabat. Elliot tahu bahwa menggunakan kekerasan sama artinya memperburuk keadaan. Apalagi tempat ini ada di dalam tanah, artinya bila ia menggunakan kekuatannya. Bukan cuma makhluk-makhluk ini yang akan terkubur, ia juga.


Gumpalan abu-abu dalam kepala Elliot berpikir cepat. Ia harus bisa keluar dari situasi rumit macam ini.


"Saya tidak bermaksud untuk menginvasi wilayah kalian. Saya tidak sengaja masuk ke sini," jelas Elliot tanpa bermaksud menutup-nutupi. "Nama saya Elliot, Elliot Alexis Bouvard Urbaine Le Verrier."


Akhirnya ia menambahkan nama ilmuwan yang menemukan planet Neptunus ke namanya. Meski terdengar aneh karena ia punya nama sepanjang itu.


Makhluk-makhluk itu nampak mengelus dagu. Elliot melihat sosok mereka dengan seksama. Tubuh mereka tinggi besar, berkulit hijau gelap, berbau agak busuk, dan berpakaian kumal.


[Aduh, makhluk apa ini? Orc? Cyclops? Atau apa?] Elliot pun membatin.


(Kau pasti bingung kami ini apa, kan? Karena tempat ini tidak bisa dijangkau manusia, maka tidak ada yang mengetahui keberadaan kami.) makhluk-makhluk jelek itupun bercakap. (Kami disebut sebagai Frodice, penguasa dunia bawah tanah. Bukan Dwarf, atau apapun yang kamu tahu dalam dongeng.)


[Frodice? Makhluk macam apa lagi mereka?]


(Sekarang, jawab pertanyaan kami! Kau itu sebenarnya siapa?) salah satu dari Frodice itu melipat tangan di depan dada dan menatap lurus Elliot. (Kau bukan manusia, kan?)


Pernyataan itu membuat Elliot berjengit. Tapi segera sadar bahwa mereka ini bukan manusia, kan?


"Benar, saya adalah Neptunus. Perwujudan dari benda langit dengan nama yang sama dan putra ke delapan matahari." ia menghaturkan hormat pada Frodice di depannya. "Maafkan atas ketidaksopanan saya."


(Beristirahatlah sejenak di sini.) ucap sang pemimpin Frodice dengan arif.


"Terima ka—"


(Sebulan. Kau hanya boleh tinggal di sini selama sebulan. Setelah itu, pergilah!)


Kata-kata Frodice itu membuat Elliot terperangah sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih!"

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2