Planetes

Planetes
1.g. When I doing Part-Time in Everium (edited)


__ADS_3

Sudah lama Hans tidak mengirimkan sesuatu untuk sang adik kembarnya. Terutama bunga yang biasanya ia berikan setiap minggu.


Hans sempat melihat ada salah satu toko bunga yang telah dibuka sejak pagi. Kendati ia memutuskan untuk mendatangi langsung toko tersebut.


Kendaraan beroda empatnya pun dibelokkan ke arah berlawanan. Memutar mobilnya dalam sekali belok seperti sudah sering melakukannya.


Pedal gas Hans injak sekuat tenang agar dapat cepat sampai di toko tersebut. Di waktu siang hari tidaklah ramai seperti biasanya. Sehingga Hans tidak perlu khawatir akan terjebak dalam kemacetan. Beberapa menit telah terlewati, ia pun akhirnya tiba di toko bunga bernama Everium.


Hans memarkirkan mobilnya begitu tiba di tujuan. Ia keluar dari mobil dan menguncinya dari luar. Kuasa berpijak memasuki toko.


Retinanya menyapu toko berisikan beragam bunga yang akan ia pesan. Siapa sangka di sana terdapat kue yang dapat dipesan juga.


"Selamat siang, saya hendak memesan bunga dan kue." sapanya kepada penjaga toko yang sedang berjaga di sana.


Sungguh memalukan bagi sang bentala karena tertidur di saat tengah berjaga di toko. Namun Elliot sudah terbangun dan segar saat menerima beberapa pesanan lima menit setelah terbangun.


Elliot tengah merapikan rangkaian bunga yang ada di toko ketika seseorang mendatangi toko yang tengah ia jaga dan memasukinya.


"Selamat datang," Elliot menyapa sang pelanggan. "Silakan, Tuan. Tuan dapat memilih bunga dan kue di menu ini."


Kuasanya menyodorkan dua lembar buku menu Everium.


"Ah, apakah saya boleh tahu akan dikirimkan ke mana?" Elliot bertanya untuk memastikan pada Hans.


Hans masih belum menatap sang penjaga toko sebab retina tengah sibuk mencari bunga apa yang hendak ia pesan teruntuk sang adik kembar.


"Aku ingin memesan bunga untuk adik kembarku. Kau punya rekomendasi?" Hans bertanya yang kemudian sukses menolehkan kepala ke arah sang penjaga toko.


Dua buku menu disodorkan kepadanya. Kening Hans mengerut dalam namun kedua tangan tetap menerima buku tersebut tanpa bertanya lebih lanjut.


Buku menu kini telah berpindah tangan. Jari-jarinya memproses pencarian dengan membalik halaman demi halaman dari buku menu.


Buku yang Hans baca hanyalah buku menu khusus beragam kue yang tersedia. Indera pendengar kemudian menangkap pertanyaan penjaga toko.


"Dikirimkan ke United States teruntuk adik kembarku, Edith Heinrich. Apa ada biaya pengirimannya bila hendak mengirimkan beda negara?"

__ADS_1


Hans bertanya untuk memastikan lebih dulu. Retina yang sempat digulirkan untuk menatap sang penjaga toko kini mulai berpindah memperhatikan buku menu. Ia memutuskan untuk membeli kue yang akan disukai adik kembarnya.


"Tasty creamy layer cake with raspberries, itu kue yang aku ingin pesan. Lalu untuk catatan pengirimannya..."


Ucapannya terhenti dalam sekejap. Retina memandangi sekitar, mencari keberadaan kertas yang dapat ia tulis untuk meninggalkan pesan.


"Kau punya kertas?"


"Kalau untuk adik, bisa memilih bunga sunflower atau daffodil," Elliot menggaruk pipinya dengan satu jari. "Atau kalau yang lebih manis, bisa pilih baby breath."


Selarik senyum tergurat di ranum sang bentala tatkala menjawab tanya sang pelanggan. Tanya berikutnya membuat sang bentala mengerjapkan netranya.


Waduh, biaya, ya? Selama bekerja di toko bunga ini, Elliot hanya melayani seperti biasanya saja.


Tapi, Elliot tak lantas mendiamkan pelanggannya. Jeriji menari di atas gawai dengan cepat dan menekan tombol 'send'. Ia akan melayani pesanannya dahulu sebelum menjawab mengenai biaya.


Tak mau sembarangan menyebutkan harga, karena itu Elliot akan menunggu sembari melayani tamunya dahulu.


"Silakan kertasnya," Elliot memberikan selembar kertas notes yang apik pada sang pembeli. "Untuk kuenya akan segera saya siapkan, Tuan."


Elliot segera bergeser menuju ke arah etalase tempat di mana kue-kue terpajang rapi di sana. Mengambil satu sesuai dengan yang diminta oleh Hans, lalu membungkusnya dengan rapi.


Jerijinya menggulir di atas layar ponsel pintarnya dan menyimpannya kembali di saku celana. Elliot lantas menghampiri pelanggannya dan memberikan kue yang diminta.


"Untuk pengiriman beda negara, tentu saja ada biaya tambahannya, Tuan." ia menyebutkan berapa nominalnya pada Hans.


"Apakah untuk bunganya sudah anda pilih?" tanyanya pada Hans.


Bunga matahari menjadi pilihan dari sang penjaga toko. Namun dua saran lain nampaknya lebih bagus. Tetapi rasanya Hans pernah memberikan baby breath.


"Baby breath, bunga itu cukup banyak peminatnya. Tetapi rasanya aku pernah memberikan bunga jenis itu padanya."


Tangan yang masih memegang kendali penuh untuk dua buku menu tiba-tiba bergerak. Jarinya tergerak untuk mengetuk-ngetuk sampul buku.


Seolah sedang mempertimbangkan apa Hans akan memberikan bunga yang tadi disebutkannya teruntuk sang adik. Karena Hans juga belum mendapatkan jawaban mengenai biaya tambahan, Hans lantas menutup buku menu yang menyediakan beragam jenis kudapan manis.

__ADS_1


Kini Hans beralih membuka dan memperhatikan isi dari buku menu yang menyediakan beragam jenis bunga serta gambar agar tak menyulitkan pelanggan.


Sibuk mencari keberadaan bunga bernama daffodil tadi. Ketika retina menangkap nama bunga dalam buku, Hans dengan serius melihat jenis bunganya.


Senyum lebar tercipta ketika Hans telah sukses menentukan pilihan bunga. Namun sang penjaga toko malah memberikan selembar kertas notes untuknya. Buku menu ia tutup, meletakkannya di atas meja terdekat. Kemudian lembaran kertas diraihnya dengan tangan kiri.


Sebuah pena yang terselip di kantung kemejanya Hans ambil. Mengguratkan isi tinta dari pena ke atas lembaran kertas di atas meja.


Notes:


Dear my lovely sister, apa kabarmu baik-baik saja? Tidak ada kendala kan selama aku pergi? Lama tidak memberikan bunga untukmu jadi aku memesan ini secara khusus. Semoga kau menyukainya. Oh ya, kuenya jangan lupa dihabiskan!


Sincerely,


Your handsome brother, Hans Heinrich.


Begitu selesai menorehkan tinta di atas kertas, lantas Hans menyerahkan kertas tersebut dan memasukkan kembali penanya.


"Baik, akan ku bayar sekalian biaya tambahannya. Aku memilih bunga bernama daffodil tadi. Lalu ini catatannya."


Elliot menerima catatan dari lanang yang jadi pelanggannya, menatapnya sejenak dan menempelkannya di box kue. Buana berhelai kebiruan ini lantas membungkuskan bunga daffodil dengan apik.


Usai melakukan itu semua, Elliot menuliskan nota kontan berikut namanya di sana.


"Ini Tuan Hans pesanan Anda, berikut rincian biayanya," kuasanya menyodorkan selembar nota pada Hans.


Hans menyambar nota dari tangan Elliot dan membacanya sejenak. Alisnya sedikit mengerut ketika membaca satu nama tertera di sana. Elliot Le Verrier.


Hans segera meraih dompet kulit dari saku celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Cukup banyak menurut Elliot, dari sepenglihatannya.


"Lebihnya untuk tips-mu, Tuan Le Verrier." ranum Hans meliuk membentuk lengkungan bulan sabit.


Kuasanya menjangkau box kue dan buket bunga yang sudah disediakan oleh Elliot. Hans lantas menatap Elliot sebelum beranjak dari tempat tersebut.


"Jangan sungkan untuk berbincang-bincang denganku, Tuan Le Verrier. Aku menantikan saat itu tiba, kali ini aku permisi dulu." merundukkan tubuhnya, memohon diri pada Elliot.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Tuan Hans." ia melambaikan tangannya.


—Bersambung


__ADS_2