Planetes

Planetes
1.p. Family Reunion (Saturn)


__ADS_3

Sesungguhnya Elliot tidak merencanakan semua ini. Namun, secara kebetulan ia bertemu dengan kakak-kakaknya.


Saat ia berencana untuk keluar dari rumah, tanpa sengaja ia bertemu dengan Saturnus—atau panggil saja dengan nama manusianya Chronos.


"Kak Saturnus?" setengah tidak percaya ia mengerjapkan netranya demi melihat sosok berambut pirang di hadapannya.


Chronos nampak tidak senang. Ia seorang yang tegas dan menjunjung tinggi tata krama. Chronos menilai sikap Elliot sangat buruk saat menyambut tamu.


"Kau pikir siapa lagi, Neptunus?" Chronos melipat tangannya di depan dada. "Lalu kau mau membiarkan aku di depan pintumu sampai kapan?"


Ucapan Chronos membuat Elliot tersadar.


"Maaf, Kak. Ayo, silakan masuk." ajaknya pada sang kakak sembari membuka lebih lebar pintu rumahnya.


Chronos menghela napas dan melangkahkan tungkai kembarnya untuk masuk ke dalam kediaman sang adik. Planet ke enam dari tata surya itu menebar pandangan ke sekeliling dan melempar tanya pada sang adik.


"Ada tanda-tanda earthlings pernah ke mari, kau mengajaknya datang ke tempat ini?" sebelum beralih ke pertanyaan selanjutnya, Chronos menambahkan. "Panggil aku dengan nama manusiaku, Tsuchiyama Chronos."


"Kalau begitu, Kakak bisa memanggil saya Elliot." segera saja pengejawantahan Neptunus ini menyahut. "Umm, ya benar. Seorang dokter aneh bernama Figgy."


Alis Chronos mengerut demi mendengar ucapan adiknya.


"Dokter aneh? Bisa-bisanya kau mengundangnya ke sini. Apa kau tidak khawatir ia akan membahayakan keselamatanmu?"


Tentu saja Chronos khawatir berat. Bagaimanapun ia tahu bahwa adiknya ini teramat polos dan mudah diperdaya. Jangankan oleh earthling, oleh keluarganya sendiri saja Elliot mudah diperdaya.


"Tidak, kok? Figgy baik dan sampai sekarang saya baik-baik saja, Kak Chronos." jawab Elliot dengan ekspresi keheranan tergambar di wajah.


Entah mengapa sifat kakaknya yang mudah curiga ini tidak jua berubah. Namun bisa ia pahami sebabnya. Jadi, Elliot tidak banyak bertanya.


"Kamu terlalu naif, Elliot." ucapan Chronos terdengar seperti sebuah keluhan. "Lupakan soal itu, kudengar kau bertemu dengan Mentari. Apa itu benar?"


Pertanyaan Chronos membuat Elliot tersentak. Bagaimana kakaknya ini bisa tahu? Tapi mengingat anak-anak kakaknya ini kebanyakan bekerja sebagai Intel ataupun pembunuh bayaran, tidak heran jika informasi sekecil apapun mampu didapat.

__ADS_1


"Melihat ekspresimu itu, artinya apa yang kutanyakan itu benar, eh?" Chronos menghela napas lagi. "Sampai kapan kamu mau mempercayai bahwa Mentari itu sosok ibu yang baik untukmu, El? Apa kau lupa bahwa dia hampir meleburkan kita semua ribuan tahun yang lalu?"


Elliot terdiam di tempatnya. Tangannya meremas fabrik pakaiannya. Apa yang harus ia katakan? Di satu sisi, ia sangat sayang kakak-kakaknya. Di sisi lain, ia juga tak mau memusuhi ibunya seperti yang dilakukan oleh kakak-kakaknya.


"Saya tidak berpikir bisa membenci Bunda seperti kalian, Kak." dengan ragu, Elliot mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Mungkin Bunda adalah musuh kita, namun beliau juga adalah seorang ibu yang penuh cinta kasih terhadap anak-anaknya."


"Penuh cinta kasih katamu? Elliot apa kau sudah tidak waras?" nada bicara Chronos naik tiga oktaf. Sontak Elliot pun berjengit kaget. "Dengar, apapun yang Mentari lakukan padamu itu tak lain dan tak bukan adalah untuk mengalihkanmu ke pihaknya. Jujur saja, kau sangat labil dan sensitif. Meski demikian, kekuatanmu berbahaya di bumi ini."


Elliot tidak bereaksi, ia hanya terdiam sembari menatap lantai di bawahnya. Tidak berani menatap Chronos.


"Elliot, aku tahu jika aku terlalu keras terhadapmu. Namun mengingat sifatmu, aku ragu dengan kehidupan keseharianmu di bumi."


Apakah Chronos juga sudah tahu jika dirinya kini tak lagi memiliki jiwa? Jika demikian, apa yang harus ia katakan?


"Kutukan yang kau tanggung, semuanya ada berapa?" pertanyaan Chronos membuat Elliot merasa mendengar sambaran petir di siang bolong.


"Darimana—"


"Darimana aku tahu maksudmu?" menghela napas kasar. "Itu tidak penting, El. Jawab saja ada berapa."


"Dua belas...." Seharusnya tiga belas, namun ia sendiri tidak mampu mengingatnya.


"Apa saja yang kau perbuat hingga terkena begitu banyak kutukan? Kau membunuh manusia?"


"Dulu," Elliot menggigit bibir bawahnya gugup. "Tapi setelahnya tidak lagi, sisanya karena saya berurusan dengan makhluk gaib..."


"Astaga, El." Chronos menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Kita memang hidup di tengah-tengah manusia, namun pantang bagi kita untuk turut campur dalam urusan mereka."


Chronos tidak habis pikir, bagaimana bisa adiknya ini sebegitu bodoh sampai terkena kutukan karena urusan manusia. Tentu saja Chronos tahu bahwa makhluk gaib itu tidak langsung mendatangi Elliot melainkan melalui orang terdekat Elliot. Rasa simpati dan empati adiknya itu telah menimbulkan petaka.


"Berapa kali harus kukatakan kalau kau tidak boleh terlalu terikat dengan manusia? Kau boleh menyukai mereka, namun tetap tahu batasan. Kau tidak boleh mengorbankan apapun apalagi melakukan apapun untuk mereka!"


Setelah sekian lama, ia akhirnya kena marah kakaknya lagi. Elliot hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus menyahut bagaimana.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa melindungi mereka jika kekuatanmu tersegel begini? Kau tahu, kita tidak sepenuhnya abadi, El. Jika tubuh manusia kita hancur, kita tidak akan bisa memilikinya lagi."


Kata-kata Chronos itu membuat Elliot tersadar bahwa selama ini ia terlalu meremehkan nyawanya sendiri. Mungkin karena selama ini ia tidak jua mati setelah sempat dihukum gantung ataupun di tombak. Tapi, bagaimanapun pada akhirnya tubuhnya harus tetap utuh demi keberlangsungan hidup di mayapada.


Jika saja ia mengalami cedera fatal ataupun membuatnya nyaris kehilangan nyawa, itu sedikit banyak akan membuat tugas utamanya terhambat. Elliot adalah pelindung, tugas utamanya adalah melindungi umat manusia dari segala macam ancaman.


Namun Elliot malah menjadi ancaman bagi penghuni bumi itu sendiri. Meskipun ingatan itu terhapus dari memorinya, namun apa yang ditunjukkan oleh Poseidon beberapa waktu lalu—meski pada kenyataannya 'beberapa waktu lalu' bukanlah istilah yang tepat karena sudah sangat lama, cukup membuat Elliot menyesali dirinya tak mampu mengendalikan emosi.


Satu wilayah luluh lantak akibat amukannya. Kalau sudah begini, bagaimana bisa Elliot melabeli dirinya sebagai pelindung bumi?


Chronos sadar bahwa semenjak kedatangannya ke rumah ini, ia terlalu banyak menekan Elliot. Seharusnya ia tidak melakukannya, terlebih emosi Elliot tidak sestabil kakak-kakaknya yang lain.


"Maaf, mungkin aku terlalu banyak membebanimu, El. Duduklah, aku akan membuatkan sesuatu untukmu," tanpa menunggu persetujuan sang empunya rumah, Chronos langsung melenggang menuju ke arah dapur dan tak berapa lama terdengar suara orang memasak.


Aroma sedap nan menggugah selera segera merebak. Elliot akui bahwa kakaknya ini memang ayah teladan bagi anak-anaknya, berbeda dengan dirinya. Hasil asuhan Chronos dapat terlihat dari sikap anak-anak kakaknya itu yang rata-rata keras dan barbar.


「Papa? Ada tamu?」Despoina yang baru terbangun menghampiri Elliot bersama Medeia.


"Benar, Paman Chronos datang, Despoina, Medeia." kuasa sang pengejawantahan Neptunus terulur dan mengusap pucuk kepala kedua anak gadisnya. "Kok kalian bangun? Keberisikan, ya?"


Medeia menggelengkan kepalanya. Tangan mungil itu memeluk sang papa.


『Tidak kok, Pa. Tapi... Papa terlihat tertekan.』


Ah, apakah ekspresinya terlihat sejelas itu? Padahal Elliot tidak ingin membuat anak-anaknya ini cemas.


"Papa tidak apa-apa kok, Sayang. Jangan cemas, ya?" Elliot pun berbohong.


"Ho, keponakan-keponakanku yang manis sudah bangun, ya? Kebetulan, mari kita makan bersama," suara Chronos mengejutkan mereka.


"Baik~" mereka bertiga pun beranjak menuju ke ruang makan dan menyantap makanan yabg disajikan oleh planet ke enam dari tata surya tersebut.


Sembari makan, Elliot terbenam dalam renungannya. Apakah setelah ini semuanya akan baik-baik saja? Atau malah sebaliknya?

__ADS_1


—bersambung


__ADS_2