
Sudah berapa lama mereka berjalan? Neptunus yang berada dalam tandu hanya bisa bertanya-tanya. Akan dibawa ke mana dan ke arah mana, ia tidak tahu. Neptunus hanya bisa mempercayai para earthling yang tengah bersamanya ini.
"Masih jauhkah?" sang bentala akhirnya tidak kuasa menahan rasa penasarannya.
『Mohon bersabar, Tuan. Setelah melewati hutan, kita akan sampai.』
Karena kuriositasnya yang meraja, akhirnya Neptunus melongok ke luar tandu. Benar saja, hutan lebat di depan sana menanti mereka.
『Beristirahatlah dahulu, Tuan. Perjalanan masih cukup jauh. Anda harus menyimpan tenaga Anda.』
Kalimat lembut salah satu prajurit berusaha membujuknya. Kalau dipikir-pikir, semenjak ia meluluhlantakkan kota di Yunani beberapa waktu lalu... ia sama sekali tidak tidur. Mungkin jika manusia biasa akan mati karena tidak tidur selama itu, namun Neptunus bukanlah manusia.
Neptunus sendiri enggan tidur karena satu dua hal. Pertama, dia adalah ancaman para earthling. Jadi, bukan tidak mungkin bila beberapa orang di antara mereka akan berniat mencelakakannya saat ia tengah lengah. Kedua, ia sulit mempercayai orang lagi semenjak kejadian di tengah kota di Yunani.
Meskipun lukanya sudah menutup, namun jujur ia masih takut bila ia mendapatkan perlakuan yang sama lagi. Sepertinya nasib sedang ingin mempermainkan sang bentala. Kendati ia menolak keras tertidur, nyatanya ain kembarnya perlahan-lahan menutup dan ia pun tertidur pulas.
Entah berapa lama ia tertidur, yang jelas saat ia terbangun ada suara-suara keras dari luar. Neptunus kembali melongokkan kepalanya ke luar tandu dan ain kembarnya melihat bangunan besar nan megah di depannya. Ah, apakah mereka sudah sampai?
『Tuan, sudah bangun?』salah satu dari prajurit itu bertanya.
Neptunus menganggukkan kepalanya dan bertanya.
"Sudah berapa lama saya tertidur?"
『Kurang lebih 5 hari, Tuan. Selama itu, kita sudah sampai di ibukota.』
"LIMA HA—" nyaris saja Neptunus membentur atap tandu saking terkejutnya. "Astaga, maaf.... saya sungguh terkejut."
Dalam hati, Neptunus merutuk. Bagaimana bisa ia seceroboh itu? Beruntung ia tidak dicelakai.
Prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Tiada kata yang terucap dari ranum mereka. Hanya gerak yang mengisyaratkan Neptunus untuk segera turun dari tandu dan memintanya untuk masuk ke dalam istana.
__ADS_1
Selagi memasuki istana untuk menuju ke balairung, netra Neptunus dimanjakan oleh kemegahan istana tersebut. Pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kau pun pasti tahu seperti apa ruang angkasa, kan? Warna hitam di mana-mana, dan hanya ada cahaya temaram.
Namun lihatlah di sini, begitu terang dan berkilauan. Neptunus pun dibuat berdecak kagum.
『Baginda, pria yang Anda cari telah tiba.』suara salah seorang prajurit menyentak Neptunus ke alam sadar.
Ain kembar milik sang bentala pun segera teralih ke arah sosok yang disebut para prajurit itu sebagai 'Baginda'. Seorang pria dengan pakaian serba gemerlap dan megah. Jadi, dialah Raja mereka-mereka ini?
"Hamba menghaturkan hormat pada Yang Mulia," Neptunus pun segera mengikuti cara para prajurit itu memberikan penghormatan pada sang Raja.
Pria muda berambut pirang di singgasana menatap Neptunus lurus-lurus. Memberikan penilaian pada sosok tinggi kumal itu.
Apa istimewanya pria ini sampai ditakuti? Perawakan yang tinggi? Hm, tapi pria ini cukup kurus. Bahkan wajahnya sukar dilihat karena tertutup tudung. Tudung? Mungkin itu yang harus ia ketahui. Sosok yang tersembunyi di balik tudung itu.
「Perlihatkan wajahmu. Jangan menyembunyikan apapun di hadapan Raja.」
Ada nada angkuh dalam titah sang Raja. Namun Neptunus memahami, bahwasanya setiap penguasa memanglah demikian. Kuasanya menjangkau tudung yang menyelubungi sebagian besar kepalanya dan menurunkannya perlahan-lahan.
Awalnya orang-orang di ruangan itu berekspresi biasa saja. Namun ketika Neptunus menurunkan tudungnya, mereka pun tercengang. Di balik tudung kumal itu, terlihatlah sosok pria tampan berambut ikal panjang berwarna biru muda. Warna yang sama dengan warna laut. Netranya berwarna abu-abu dengan pupil berbentuk berlian berwarna hijau muda.
Brengsek. Sang Raja mengumpat dalam hati. Pria yang diundangnya memiliki kharisma lebih darinya. Kendati penampilannya kumal.
「Namamu?」Sang Raja pun bertanya usai menenangkan dirinya dari rasa iri dan dengki.
"Nama hamba Neptunus, Yang Mulia." dengan suara jernih nan lembut, pengejawantahan planet ke delapan dari tata surya itu memperkenalkan diri.
Sang Raja—Darts, mengelus dagunya sesaat. Nama yang aneh, pikirnya. Bahkan perawakan pria ini pun terbilang aneh.
「Seorang tamu Raja haruslah berpakaian pantas,」ungkap Darts sesaat setelah mencium aroma tidak sedap dari busana yang dikenakan oleh Neptunus.
Ia lantas menepukkan tangannya tiga kali dan para dayang istana pun menghampiri.
__ADS_1
「Bersihkan dan dandani pria ini dengan pakaian yang pantas. Kalian harus memastikan bahwa ia sudah dalam keadaan bersih sebelum makan malam tiba.」kembali Darts menitah.
Neptunus yang masih termangu di tempatnya pun segera dibawa oleh para dayang ke kamar mandi. Tentunya untuk membersihkan pengejawantahan planet itu dari noda tanah dan darah.
Setelah bersih, rambut biru Neptunus yang ikal panjang itupun disisir rapi. Ia bahkan diberi pakaian yang bersih dan indah.
Ini kali pertama bagi sang bentala mengenakan pakaian yang layak semenjak ia menginjakkan kakinya ke bumi. Sebelumnya? Jangan ditanya, apakah kau berpikir Neptunus mengenakan pakaian di luar angkasa sana?
Kesampingkan dulu masalah itu. Seusai Neptunus membersihkan diri dan memakai pakaian rapi, ia diminta untuk menghadiri jamuan makan di mana sang Raja—Darts, dan penghuni istana lainnya berkumpul. Neptunus tidak mengetahui apa sebutannya karena kosakatanya tidak begitu banyak.
Kendati demikian, ia bisa belajar dengan cepat pengetahuan baru. Sehingga Neptunus mampu menguasai bahasa setempat tanpa memakan waktu lama.
Perjamuan makan sama sekali tidak seramai ruangan tempat balairung sang Raja berada. Mereka makan dalam diam, membuat suasana menjadi sangat canggung dan kaku.
Barulah ketika perjamuan makan selesai, Darts membuka suara.
「Hari ini, kita kedatangan tamu agung.」
Orang-orang yang mendengar ucapan Darts saling berpandangan satu sama lain. Tamu Agung katanya? Lantas seluruh tatapan tertuju pada sosok Neptunus yang tengah menyesap minumannya perlahan.
Tentu saja tatapan itu membuat Neptunus langsung merasa tidak nyaman karena seolah tatapan mereka menusuk dan menembus relung jiwanya. Darts membuat gestur agar semua orang yang hadir diam dan menaruh atensi terhadapnya.
「Beliau adalah Dewa yang turun dari langit. Hormati beliau dan perlakukan beliau dengan baik. Aku tidak ingin tanah ini terkena bencana karena murka beliau.」
Kata-kata Darts membuat ain kembar milik Neptunus membola. Jadi, Darts sudah tahu bencana yang ia timbulkan beberapa waktu lalu?
Tunggu, beberapa waktu lalu itu bukan frasa yang tepat. Pun ia tidak melakukannya sekali.
Terkesan arogan? Tiran? Neptunus hanya tahu bahwa itulah caranya mempertahankan diri. Ketika earthling mengancamnya, apakah salah bila ia membela diri?
Sebelum Neptunus tenggelam dalam pikirannya lebih jauh, netranya melihat orang-orang itu berbondong-bondong bersujud di kakinya. Melontarkan kalimat-kalimat pujian. Memohon berkah darinya. Memperlakukannya seperti selayaknya sesuatu yang harus disembah.
__ADS_1
Saat itulah Neptunus merasa kehidupannya serupa dengan sang Bunda, Mentari.
—bersambung