
Tirai kelam telah memberangus keindahan senja sejak lima menit lalu. Baik Elliot maupun Ryan kini berada di gedung kosong yang dulu dipergunakan Elliot untuk menolong rekannya, Slaughter House.
Ryan nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk ritual ini dan ia menatap lurus ke arah Elliot. Merasakan sedikit kejanggalan.
"El, kalau tubuhmu tinggi begitu bagaimana bisa menyesuaikan diri denganku?"
"Tidak perlu cemas," sesudah Elliot berkata demikian, ia pun menyesuaikan tingginya dengan Ryan. "Untung kekuatan supranatural saya sudah kembali, jadi ini sudah bukan lagi masalah."
Ryan menghela napas lega. Setidaknya masalah satu itu beres.
"El, kita tidak boleh bersuara di game ini, kan? Apa kau tahu cara agar aku bisa menghubungimu tanpa suara?"
"Kalau kamu bisa pakai telepati, bisa sih." jawab Elliot polos.
"Yang benar saja," Ryan memutar bola matanya. "Eh, bisa sih. Mungkin."
"Asalkan kamu bisa memusatkan pikiranmu dan tenang, tidak memerlukan Mana yang banyak, kok." Elliot menepuk pundak Ryan dengan riangnya.
"El, aku heran kenapa kamu bisa seceria itu padahal kita sedang berhadapan dengan bahaya," Ryan mendengus kesal.
Tidak mengerti dengan perilaku Elliot yang di luar batas nalarnya. Entah karena Elliot makhluk non-manusia atau karena pengejawantahan Neptunus itu memang bodoh natural.
Bagi Ryan sendiri, Elliot tidak lebih dari sumber Mana-nya saat ini. Kantong darah portable bila bagi bangsa vampire. Meski sebenarnya Ryan tidak mau mengakui bahwa dia ada rasa dengan pria yang memiliki 14 anak itu.
"Eh? Apakah salah?"
"SALAH! KAU MENYEPELEKAN KESELAMATANMU SENDIRI!" Ryan pun meledak. "El, kau tidak boleh melakukannya kalau kau memang menyayangi seseorang. Kalau kau sampai mati, aku akan membencimu sepenuh hati."
Elliot terdiam. Apakah artinya jika ia sampai mati, ia telah mengkhianati gadis dalam samaran pria itu? Tapi, sampai sekarang Ryan tidak pernah mengakui perasaan itu. Bersembunyi di balik kalimat 'tidak paham soal cinta' dan 'sudah membuang kemanusiaan'. Lalu dia harus bagaimana? Apa yang seharusnya ia lakukan?
__ADS_1
Elliot tersenyum. Satu tangan mengusap pipi Ryan dan berujar.
"Saya tidak akan mati, Clarissa. Percayalah." meskipun gadis ini seribu kali bilang tidak, tapi— "Saya akan menunggu dengan sabar. Jawabannya. Apapun hasilnya, saya tak akan menyesal pernah menaruh hati padamu."
Jujur, Ryan bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia ingin tetap bersama Elliot. Di sisi lain, ia tidak bisa melawan perintah Meliora. Bahkan jika atasannya itu memintanya menangkap Elliot sekalipun—
Ah, ia memang payah soal ini. Kebaikan hati Elliot benar-benar mengubahnya dan kini ia semakin bingung.
"Tolong..." Ryan membuka suara. "...hentikan kebiasaanmu melakukan skinship denganku, Elliot. Itu membuatku tidak nyaman."
Elliot segera menarik tangannya dan ia pun menundukkan kepalanya. "Maaf."
Sikap defensif Ryan yang terang-terangan diperlihatkan pada Elliot, jelas sekali membuat perwujudan planet Neptunus itu menyadari bahwasanya Ryan sedang menolaknya secara halus. Meskipun pada kenyataannya Ryan terus dan terus memanfaatkannya sebagai penyedia Mana.
Persiapan sudah beres. Kini tinggal memakai topeng dan membunyikan peralatan yang mereka bawa. Karena permainannya di mulai jam 12, Elliot memilih untuk keluar dulu dari gedung itu. Ia akan kembali setelah bisa menyamar dengan baik.
(Elliot, kau dengar aku? Tolong beritahu aku saat permainan hendak dimulai.) Ryan mulai mengontak Elliot melalui telepati.
〔Baiklah, kau tenang saja. Kau hanya perlu mengerahkan kekuatanmu saat ini.〕
(Tidak semudah itu sepertinya, aku butuh timing.)
〔Benar juga, berhati-hatilah. Ini permainan yang luar biasa gawat.〕
Ryan mengakali topengnya dan ia mempermudah dirinya untuk mempergunakan Mata Mistik. Sedikit curang dan juga membahayakan. Namun, sejak kapan ia peduli akan bahaya?
〔Clarissa! Sudah waktunya!〕
Suara Elliot menggema di kepala Ryan dan membuat sang gadis segera memegangi loncengnya dan membunyikannya tanpa henti. Apalagi telinganya mendengar suara lonceng yang lain.
__ADS_1
Ryan terus membunyikan loncengnya. Hal-hal aneh pun mulai terjadi. Udara mendadak berubah dingin di bawahnya dan atasnya menjadi panas. Kemudian ada bunyi aneh. Ryan tahu bahwa itu artinya permainan sudah bisa dimulai.
Ryan tetap membunyikan loncengnya hingga tiba-tiba suasana menjadi hening. Ryan lantas mulai mencari tempat bersembunyi.
Senter sudah ia siapkan di saku celana, namun Ryan tahu bahwa itu hanya bersifat sementara. Telinganya menangkap suara-suara berisik seperti geraman marah.
Ryan tahu bahwa mereka tengah mencarinya untuk mereka culik atau bunuh. Tiba-tiba saja ia mendengar suara ledakan tak jauh dari tempatnya berada.
Suhu mendadak turun drastis. Disusul angin kencang. Ryan menduga bahwa Elliot kini tengah mengamuk. Namun dadakan anginnya berhenti.
(ELLIOT ADA APA?!)
〔Mereka mencuri esensi jiwa saya. Sakit!〕
Rupanya hantu-hantu ini mencuri esensi jiwa Elliot dan menyebabkan pria itu melemah sedikit demi sedikit. Sekarang hantu-hantu itu menyerbu Elliot, apakah ia harus segera bergerak?
Bulu kuduknya meremang. Salah satu di antara hantu itu ada di dekatnya! Dengan segera, Ryan menyalakan senter dan menyorot ke arah hantu itu. Mengalihkannya sesaat.
Ryan mencari lokasi bersembunyi lagi sembari mengontak Elliot.
(Elliot, bertahanlah. Aku akan segera menyelamatkan dirimu.)
Tidak ada jawaban di kepalanya. Apakah Elliot pingsan?
Selagi Ryan bertanya-tanya dalam benak, suara geraman marah terdengar lagi. Ryan melepas 「Gorgon Breaker」nya dan seketika saja hantu-hantu di sekitarnya membatu.
Ryan melepaskan tembakan dan membuat hantu-hantu yang telah membatu itu pecah berhamburan bagaikan kaca. Meski hantu yang ada begitu banyak yang ia jadikan batu, namun ia merasa ini belumlah selesai.
Entah bagaimana dengan Elliot. Namun Ryan harus fokus pada pertarungannya sendiri. Pun dengan Elliot yang berjuang mendapatkan esensi jiwanya lagi.
__ADS_1