Planetes

Planetes
3. s. Hell Level Hide and Seek (2)


__ADS_3

Deru napas Elliot tiga kali lebih cepat dari pada sebelumnya. Sementara itu makhluk-makhluk tak kasat mata itu mencoba menerobos pelindung yang ia buat dengan kekuatannya.


[Sudah saya duga mereka tak akan mampu menembus pelindung ini. Namun, sampai kapan pelindung ini akan bertahan?]


(ELLIOT BAKA! KAU DENGAR TIDAK?!)


〔Clarissa?〕


(Dengar! Aku sedang menuju ke arahmu, kalau mereka berkumpul di satu titik, akan memudahkan aku untuk menghancurkan mereka. Bertahanlah sampai aku tiba, oke?)


Elliot menghela napas pelan. Gadis itu benar-benar tidak sabaran, ya?


〔Bertahan itu sudah pasti. Tapi...〕


(Tapi apa?!)


〔Lapisan pelindung yang saya buat sebentar lagi hancur.〕


(BILANG DARI TADI DONG, BEGO!)


Ryan mau tidak mau mempercepat langkahnya. Selagi berlari, ia menembak makhluk-makhluk itu dengan pistol berpeluru sihirnya. Ia harus cepat sampai ke tempat di mana Elliot berada. Jika tidak, sia-sia saja mereka melakukan semua ini sejak tadi.


'Makhluk-makhluk jahanam ini pasti menunggu kesempatan di mana kami bersuara atau memperlihatkan wajah.' Ryan membatin. 'Apapun yang terjadi, kami tidak boleh kalah!'


Sosok makhluk mengerikan berhasil mengejar Ryan dan membuat Ryan terpaksa langsung mengubahnya menjadi batu. Susah payah ia menahan emosinya agar tidak meledak.


Nyatanya, makhluk-makhluk dalam permainan ini sengaja memancing Ryan agar bersuara ataupun menampakkan wajah. Itu adalah hal terfatal dalam game ini.


Sementara itu, Elliot masih terdiam di dalam kubah energi yang baru saja dibuatnya dengan wajah tetap tertutup topeng. Tidak mungkin ia melepaskannya saat ini, terlebih makhluk-makhluk itu masih mencuri esensi jiwanya.


「Kadang, kita tidak tahu bagaimana akhir menyapa kita, benar?」suara Poseidon menggema di kepala Elliot.

__ADS_1


〔Possy, dari pada kamu mengejek saya, lebih baik bantu saya.〕Elliot memandang jengah ke dirinya yang satu lagi. Tentunya Poseidon tidak ada di sana, namun Elliot seolah-olah melihat sosok Poseidon di sana.


「Jadi, ujung-ujungnya aku juga harus turun tangan ya, Neptunus?」


〔Sebagian kekuatan saya kan ada padamu. Jadi, tidak ada salahnya bila kau membantu saya, kan?〕


「Baiklah, capek aku bersoal jawab denganmu.」Poseidon lantas muncul di hadapan Elliot, kemudian merasuk ke dalam tubuh Elliot dan berujar. 「Dengar, kita cuma punya waktu kurang dari 3 menit! Lebih dari itu akan berbahaya bagimu!」


〔Saya mengerti.〕


(Elliot! Apakah saat ini kau ada di dalam sebuah kubah energi?) tiba-tiba suara Ryan menggema di kepala Elliot.


〔Ah, iya. Saya membuatnya tadi. Apakah saya boleh keluar?〕


(Jangan, kecuali kau mau terkena dampak ledakan.)


〔Tidak apa, saya bisa menahannya.〕


Dengan kekuatan matanya, Ryan membuat semua roh yang ada di tempat tersebut menjadi batu dan menghancurkannya dengan sihir. Sedikitnya ini membuatnya kelelahan dengan cepat karena jumlah roh yang keterlaluan banyaknya.


Tepat saat matahari terbit, Ryan telah berhasil menghancurkan semua roh jahat yang tersisa di gedung itu. Napas Ryan terengah-engah. Mana-nya terkuras cukup banyak karena ritual kali ini membuatnya memakai sihir yang cukup besar.


"Clarissa, Clarissa?" Elliot mendekati gadis dalam samaran pria itu. "Kau bisa berdiri? Ada yang terluka?" wajah sang bentala memperlihatkan ekspresi cemas.


"Kau tak perlu khawatir, tidak ada luka serius." jawab Ryan sembari mengatur napasnya. "Sini."


Elliot pun agak canggung ketika Ryan memintanya untuk memeluknya. Rupanya masih terbayang dalam benaknya akan penolakan Ryan pada dirinya.


"Kau sedang apa? Aku butuh tambahan Mana saat ini." alis Ryan mengerut karena jengkel.


"Ah, iya! Silakan." Elliot pun memeluk erat gadis itu dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Ryan kembali menggigit bahu sang bentala dan kali ini Elliot merasakan sakitnya karena gigitan sang gadis begitu kuat. Kalau dipikir-pikir, ia jadi mirip tokoh wanita dalam animasi Jepang yang biasa ditonton oleh putranya. Bedanya wanita itu menghasilkan chakra dan bukan Mana.


Ryan melepaskan gigitannya dan melepaskan pelukan Elliot. Wajahnya nampak memerah.


"Kau tak perlu memelukku seerat itu, El."


"Eh? Maaf!" sang bentala nampak salah tingkah. "Anu, tadi.... yang membantu kita adalah Poseidon."


Ain kembar Ryan membola dan tiba-tiba saja ia merasa kesakitan. Tentu saja itu membuat Elliot khawatir.


"Clarissa?"


"JANGAN MENDEKAT!"


"Tapi—"


"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!" Ryan meraung marah.


Elliot menjauh beberapa langkah. Ia tidak berani melanggar karena tidak ingin gadis itu membencinya. Meskipun kondisi sang gadis mengkhawatirkan.


「Apakah dia hendak keluar?」suara asing di telinga Ryan pun membuat sang gadis mengalihkan pandangan ke sumber suara.


Kesadaran sebagai Ryan pun seketika hilang saat melihat sosok Poseidon, digantikan oleh seseorang yang tawanya mengerikan. Itulah Chylara, alter ego dari Ryan yang kejam dan juga tanpa belas kasih. Chylara menjilat bibir atasnya tatkala melihat sosok Poseidon.


"Clarissa?" meski Elliot sadar ada yang salah dari gadis yang ia suka, namun ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Siapa yang kau panggil Clarissa, ha? Aku Chylara!" sosok itu menghardik Elliot.


Astaga, bahkan Elliot baru sadar bahwa warna mata perempuan itu tak lagi kuning madu, melainkan ungu ametis. Poseidon maju ke depan, mengambil sikap melindungi Elliot.


「Jangan sakiti Neptunus, ia tidak tahu apa-apa tentangmu, Medusa. Kalau kau memiliki dendam, lampiaskan ke aku saja.」

__ADS_1


"He, menarik..." senyum menakutkan Chylara pun nampak dan tiba-tiba saja jari-jari gadis itu membentuk cakar. Ia menerjang ke arah Poseidon. "Bersiaplah untuk hancur, Poseidon!!"


__ADS_2