Planetes

Planetes
1.a. Snow Blizzard (edited)


__ADS_3

Salju telah turun selama sekitar setengah jam sekarang, tetapi itu tidak menghentikannya—kita sebut saja Albertelli, maupun Fuusetsu untuk mendaki gunung yang curam di pinggiran kota. Kalau dipikir-pikir, itu ide yang buruk. Tapi di ujung jalan, seharusnya ada kabin kayu milik bosnya yang bisa mereka gunakan untuk berteduh dari salju, bersantai, dan melakukan apapun yang mereka mau.


Sayangnya, yang tadinya hanya hujan salju ringan berubah menjadi rentetan salju yang mengganas. Jarak pandang mereka kini terbatas hanya beberapa meter ke depan.


Tapi di ujung penglihatannya, Albertelli tiba-tiba melihat sesosok berdiri di luar jalan setapak. Setelah menyipitkan matanya, dia dapat melihat bahwa itu adalah orang sungguhan dan bukan hantu. Seorang wanita, kalau dilihat dari panjang rambutnya.


Khawatir wanita itu akan berada dalam bahaya apabila terus-menerus di luar, ia membalik badannya dan menunjuk ke arah wanita.


"Hei, Fuusetsu. Apa menurutmu wanita itu baik-baik saja? Haruskah kita pergi menemuinya?"


Yang ditanya hanya merapatkan jaket sembari menggigil kedinginan. Memang benar ia yang memiliki ide gila untuk mendaki gunung. Seorang berpikiran pendek yang segera menyesali keputusannya.


"Brrr..... Dingin...." Fuusetsu sudah menggigil kedinginan rupanya. Padahal pakaiannya lengkap berupa jaket tebal berlapis, kupluk yang nyaman, sarung tangan, celana panjang, sepatu yang cocok dengan gunung. Aduh, bagaimana ya caranya agar bisa segera sampai di kabin yang hangat sekarang juga?


"Hm?"


Mata kehijauannya melihat arah yang dimaksud oleh sang rekan, Albertelli.


"Kau sinting...? Mana ada wanita di tempat seperti ini. Apalagi dalam keadaan baik-baik saja. Atau jangan-jangan...."


Yuki onna?!


Gemetarnya kian bertambah, kali ini juga karena ketakutan.


"... a... aku tunggu di sini saja, deh. Kau saja yang ke tempatnya," ujarnya seraya berjongkok di tempat. Aih, takut kalau ternyata sesuatu.


Di tempat lain, sang bentala—Neptunus, menebar pandangan ke sekitar dan menghela napas pelan. Rasanya badai makin mengganas sejak beberapa waktu lalu ketika ia sampai ke sini.


Sebagai perwujudan dari planet yang memiliki suhu dingin luar biasa disertai badai yang luar biasa gila, Neptunus sama sekali tidak terganggu dengan badai salju yang tiba-tiba saja datang. Hanya saja, ia khawatir jika earthling yang kebetulan mendaki di gunung ini akan membeku karena perubahan cuaca yang tiba-tiba.


Secara kebetulan, Neptunus menangkap adanya siluet seorang—tidak, ada dua orang tengah berusaha untuk menerjang badai. Alisnya menghenyit. Apakah mereka baik-baik saja? Atau malah menemui masalah?


Segera saja planet ke delapan dari tata surya ini bergerak mendekat membawa diri untuk menghampiri mereka. Tidak sulit baginya bergerak dalam badai ini.


"Kalian butuh bantuan?"


Sementara itu di tempat para pemuda earthling berada, Albertelli hanya menaikkan alisnya mendengar pernyataan Fuusetsu. Bingung karena menurutnya mungkin saja wanita itu juga berpikiran sama seperti mereka.


“Alright the—“ Baru saja Albertelli hendak melangkah dan mendekati wanita itu, ia dikagetkan dengan gerakan dari wanita itu, diikuti dengan suara yang... Sepertinya pria?


“Hey! Hey! Are you alright, man?” Albertelli pun berteriak sambil berlari pelan ke arah sosok yang bersuara itu dan melambaikan tangannya. Saat ia sudah agak dekat dengan sosok tadi, dapat ia lihat kalau ini hanyalah seorang pria yang memakai.... Baju yang tipis. Aneh.


Albertelli berhenti di depan pria itu dan membalik badannya, melambaikan tangan kepada Fuusetsu lagi. Mengajak Fuusetsu mendekat.


Fuusetsu mencicit pelan demi merespons Albertelli. Namanya memang berarti "badai salju". Tapi bukan berarti kehadirannya harus mengundang hal ini bukan? Sungguh, ia tak tahan dingin. Sampai rasanya seperti akan membeku ketika diam di tengah cuaca.


"Hah?"


Berat sekali rasanya ketika harus mendekat menuju Albertelli. Mungkin rasanya ada salju yang menumpuk di atas punggung dan kepalanya.


Tiba juga ia berdiri di samping Albertelli. Setelah melemparkan tatapan penuh tanya, ia baru menatap ke arah sosok sesungguhnya yang mereka maksud tadi.


Sepertinya bukan hantu. Hanya orang aneh. Tapi ia sendiri juga aneh. Ya sudahlah, sahut dan beri salam saja.


"Selamat siang, Tuan atau Nona!" serunya pada sosok berambut panjang biru dongker itu agar tidak tertelan suara salju yang turun dengan deras.


Alis sang planet mengernyit. Mengapa ada embel-embel 'Nona' di belakangnya? Perasaan dia tidak cantik.

__ADS_1


"Très bien, Monsieur. Merci. (I'm fine, Sir. Thank you)" jawab Neptunus sopan.


Neptunus sadari memang sangat aneh karena memakai pakaian tipis. Hanya pakaian serba putih dan tidak memakai mantel atau sejenisnya. Siapapun pasti akan mengira dirinya adalah makhluk aneh atau kalaupun dianggap manusia, pastilah dikira tidak waras.


"Kalian butuh bantuan, benar? Saya bisa membantu kalian menembus badai ini," jeda sejenak sebelum sang bentala menambahkan. "Kemanakah tujuan kalian? Saya akan memandu hingga kalian sampai di sana dengan selamat," tanyanya sopan pada sosok berambut orange dan pemuda berambut kecokelatan di belakangnya.


Dalam hati, Albertelli berterima kasih kepada teman-temannya yang mengambil elective Bahasa Prancis di sekolah. Setidaknya ia tahu bahwa pria ini mengatakan terima kasih.


Tapi... Dia kan belum melakukan apa-apa selain menyapa pria ini?


“Apa tidak terbalik? Saya kira malah kamu yang tersesat di sini. By the way, apa kamu tidak kedinginan? Hold on...—“ Katanya sambil melepas sarung tangannya yang tebal, menyisakan sarung tangan yang tipis. Walaupun terlihat tidak kedinginan, tetap saja akan berbahaya kalau pria ini terkena frostbite. Albertelli lalu menyodorkan sarung tangan tebalnya ke pria itu.


“Sebenarnya kami ke sini untuk berpetualang dan mampir ke kabin punya bos saya. Di sana ada perapian, makanan, dan board games—dan karena berpetualang... Saya tidak yakin kami butuh dibantu. But the more, the merrier! Menurutmu bagaimana, Fuusetsu?” Albertelli bertanya sambil menyikut pelan pinggang kawannya.


"Ah, ummm," ucap Fuusetsu sedikit terkejut ketika Albertelli menyenggolnya di tengah pikiran kosongnya.


Fuusetsu mengerutkan dahi. Kalau dipikir-pikir lagi, si pria berambut panjang tidak seaneh itu, mungkin? Di dunia ini kan, ada macam-macam orang dengan kemampuan yang berbeda-beda. Tidak terkecuali dirinya sendiri, bisa jadi.


"Boleh, boleh. Tapi kalau boleh memastikan.... Apa kita... masih mau melanjutkan perjalanan?"


Fuusetsu hendak memastikan saja. Habis, ia rasa ia sudah mau membeku sekarang juga. Penghangat tubuh sepertinya sudah tidak terasa.


"Tuan bisa membantu kami? Betulkah itu? Bagaimana caranya?" tanyanya perlahan pada sang pria berambut panjang, Neptunus—atau mulai dari sini kita panggil saja dia dengan nama manusianya, Elliot.


Bulir air khayalan membayang di belakang kepala Elliot. Sesungguhnya, ia sama sekali tidak tersesat. Hanya saja kebetulan ia berada di gunung ini untuk suatu tujuan, dan berakhir melihat kalian yang tengah menembus badai.


Hampir saja Elliot melepaskan tawa ketika ditanyakan apakah ia kedinginan atau tidak. Naturnya sebagai planet Neptunus adalah planet yang luar biasa dingin. Tentu saja ia tidak akan merasa kedinginan di tengah badai salju yang mengganas ini.


Namun sang bentala menerima saja sarung tangan yang disodorkan oleh pria yang menyapanya dengan bahasa campursari tadi.


Setelah tahu tujuan mereka, Elliot teringat kalau sempat melewati bangunan yang mereka maksud. Berarti tidak terlalu jauh dari sini.


"Berdirilah di belakang saya," Elliot memberikan isyarat agar mereka berdua melakukan apa yang ia pinta. "Saya akan membuatkan pelindung agar kalian tidak terkena terpaan badai ini."


Rasanya ada yang terlupa. Oh, benar.


"Saya Elliot Alexis Bouvard Urbaine Le Verrier, perwujudan dari planet Neptunus. Kalian siapa?" tanyanya pada Albertelli dan Fuusetsu.


Karena terbiasa dengan dunia yang normal, Albertelli hanya menatap pria ini aneh — sampai akhirnya pria ini menyebutkan namanya.


Dalam benaknya, Albertelli berpikir mungkin yang pria ini—Elliot tentu saja, maksudkan dengan pelindung adalah dengan berbaris, panas tubuh dapat terdistribusi dengan baik dan menambah probabilitas mereka bertahan hidup.


“Oh! Jadi kamu foreigner ya! Nice to meet you, Elliot! Namamu benar-benar keren dan lebih keren lagi karena kamu bisa menghafal semuanya.” Albertelli pun akhirnya memperkenalkan diri sambil berdiri di belakang Elliot.


“Nama saya Albertelli Vinny, tapi kalau mau panggil saya Vinny, that’s fine too. Whatever floats your boat!” Ia kemudian menarik pelan Fuusetsu yang terlihat out-of-it sedari tadi agar berdiri di sebelahnya.


Kemudian Albertelli menaikkan satu alis ke arah Fuusetsu dan menggumamkan, “Kamu tidak apa-apa?” tanpa suara.


"Ah, tidak apa-apa!" mata Fuusetsu mengerjap menandakan kembalinya pikiran. Rupanya ia tengah melamun tadi.


"Salam kenal, Elliot-san...."


Entah apa nama belakangnya tadi? Panjang sekali. Ia tidak bisa mengingat nama kebarat-baratan yang terlalu panjang.


"Namaku Fuusetsu Kai, panggil saja Kai." Sepertinya ia benar-benar sudah pulih dari kebingungannya, kali ini berbicara lebih lancar.


Matanya lalu melempar pandang ke arah Albertelli dan mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, langsung saja? Aku sudah ingin cepat menyamankan diri." Fuusetsu sudah membayangkan kabin yang hangat dengan pemandangan putih bersih di luar jendelanya.


"Jadi... kami hanya perlu berlindung di balik punggung Elliot-san, bukan?" Fuusetsu melangkah mendekati Elliot, ke arah tubuh bagian belakangnya.


Baiklah, Vinny dan Kai, ya? Sang planet sudah mengingat nama keduanya dengan baik. Satu gerakan jemarinya membentuk semacam setengah lingkaran yang terbentuk dari partikel es.


"Ayo, kita jalan," ajak Elliot sembari mulai melangkahkan kakinya. "Lebih tepatnya berlindung di balik ini," ia menunjuk perisai atau entah apalah itu namanya yang ia buat tadi.


"Ayo, lekas bergerak. Kalian bisa jadi hidangan beku kalau berlama-lama di sini."


Matanya yang awas, bisa melihat lebih jelas dalam badai ini. Tidak sulit untuknya memandu kedua earthling ini menuju ke kabin yang dimaksudkan.


"Kalian masih sanggup bergerak, kan?" tanya Elliot pada Albertelli dan rekannya selagi mereka berjalan.


Yang diajak berjalan sempat sekali cengo melihat perisai yang dibuat oleh Elliot. Untungnya Albertelli cepat menyadarkan diri dan berjalan mengikuti Elliot. Jadi penasaran sesuatu....


“By the way—Neptunus itu di negara mana ya? Apakah di Romania? Saya dengar di sana banyak penyihir dan sejenisnya di Romania.”


Fuusetsu hanya perlu mengikuti dua orang ini, apa saja asalkan dia bisa menghangatkan diri secepatnya.


"Kau tidak tahu, Vin? Neptunus kan nama dewa laut dalam mitologi Romawi."


Dari tempat mereka saat ini, kabin kayu itu mulai terlihat. Eksteriornya yang berwarna coklat terang membuatnya mudah dilihat di badai salju yang mulai mengganas.


Albertelli mencari kunci kabin itu lebih dulu dan akhirnya menemukannya di kantong jaketnya. Begitu sampai, ia langsung membuka kunci serta pintunya, menunjukkan interior yang dapat dibilang cukup modern.


Ada beberapa sofa yang di sekitar perapian di ruangan utama, serta dapur yang menyatu dengan ruang utama. Terlihat pula beberapa pintu kayu yang memisahkan beberapa kamar lainnya dari ruang utama.


“Oh sebentar. Saya menyalakan generator dulu.” Kata Albertelli sambil melangkahkan kakinya yang masih menggunakan sepatu.


“Saya mau menyalakan generator dulu. Kalian bisa tolong nyalakan perapian dulu? Thanks!” usai Albertelli berucap demikian, pria itu lalu berlari ke belakang kabin untuk melakukan apa yang dikatakannya tadi.


"Elliot-san suka makan apa?" tanya Fuusetsu berbasa-basi membuka obrolan sambil memasuki kabin. Kemudian matanya mengamati sekeliling, bagus sekali! Terlihat nyaman.


Baru saja ia mencoba duduk di sofa ruang utama, Albertelli meminta bantuan. Lekas Fuusetsu kembali berdiri.


"Di mana kayu bakarnya disimpan? Apa ada di belakang?" tanya Fuusetsu sedikit berseru sambil berjalan ke arah yang dimaksud agar Albertelli bisa mendengar. Meninggalkan Elliot yang belum sempat menjawab pertanyaannya tadi.


Sementara waktu mungkin mereka perlu menghentikan obrolannya. Padahal Fuusetsu masih ingin beristirahat sejenak, tapi tak apalah, kalau semuanya sudah dipersiapkan, istirahat mereka bertiga akan lebih nyaman.


Elliot terkekeh pelan dan berkelakar selagi dirinya menggeledah lemari pendingin di kabin itu.


"Jika ada cheese fondue dengan red wine, rasanya akan nikmat."


Begitu Albertelli sampai di belakang kabin untuk menyalakan generator, tertuju pada sebongkah kayu bakar di sebelah generator. Ternyata kayu bakar itu ada di sini. Wajar saja Fuusetsu bertanya tadi.


Pertama-tama Albertelli membersihkan permukaan generator itu dari salju terlebih dahulu, kemudian barulah ia menuangkan bensin dari kaleng di sebelah generator ke dalam tangki bensin, lalu menyalakan mesin tersebut. Awalnya belum berhasil, hingga akhirnya percobaan ketiganya berhasil dan bunyi raungan mesin memenuhi tempat itu dan beberapa lampu di dalam kabin menyala.


Melihat pekerjaannya di situ sudah selesai, Albertelli pun membungkuk dan memapah kayu bakar tadi di tangannya, membawa kayu itu ke dalam agar Fuusetsu bisa menyalakan perapian dan mereka bisa cepat bersantai.


Ketika masuk, Albertelli melihat Elliot sedang membuka-buka kulkas. Ia berasumsi Elliot sedang mencari makanan, dan untungnya banyak makanan di situ yang memiliki daya tahan yang lama, seperti spam, oatmeal, beras, dan rempah kering.


Albertelli meletakkan kayu bakar itu di dekat perapian dan melihat bahwa salju nampaknya belum akan mereda selama beberapa jam. Dan dengan niatan ingin bersantai untuk menghabiskan waktu, ia langsung duduk di salah satu sofa yang agak berdebu.


"Ngomong-ngomong..." Albertelli membuka obrolan. "Ada yang punya cerita hantu yang seru?"


— Bersambung

__ADS_1


__ADS_2